Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Terkejut
“Jadi, apa yang terjadi pada Agnes, Adrian? Cepat jelaskan!” desak Tuan Darius.
Adrian menundukkan kepalanya sejenak. Wajahnya tampak berat seolah apa yang akan disampaikan sangat sulit untuk diucapkan. Menarik napas sejenak, kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Darius dan Nyonya Viony secara bergantian.
“Maafkan saya, Tuan... Nyonya. Laporan yang saya dapatkan dari tim saya bukanlah kabar baik.”
Jantung Mama Viony berdegup semakin kencang.
“Cepat katakan, Adrian,” ucapnya dengan suara bergetar.
Adrian menghela napas pelan.
“Hari ini, terjadi insiden besar di sekolah SMA Prima Navara. Terdapat beberapa buah video yang dibagikan oleh seseorang. Dalam video itu, melibatkan Nona Agnes beserta ketiga temannya.”
“Insiden apa maksudmu, Adrian! Cepat jelaskan! Jangan setengah-setengah!” desak Mama Viony.
“Nona Agnes beserta ketiga temannya telah melakukan perundungan terhadap teman-temannya. Selain itu, mereka juga telah melakukan pencekokian minuman beralkohol terhadap temannya di sebuah kamar hotel. Bahkan Nona Agnes juga telah melakukan tindakan asusila.”
Mama Viony terkejut begitu juga dengan Tuan Darius.
“Putriku Agnes tidak mungkin melakukan hal seperti itu, Adrian!” jerit Mama Viony.
Sedangkan Tuan Darius, ia masih mencerna apa yang ia dengar.
“Awalnya saya juga tidak percaya, nyonya. Tetapi, video yang telah beredar menunjukkan bahwa Nona Agnes beserta ketiga temannya benar melakukan hal itu. Jika nyonya dan tuan tidak percaya, saya bisa menunjukkan videonya.”
Adrian pun mengeluarkan ponselnya dan membuka video yang telah dikirimkan oleh tim nya. Adrian berjalan mendekat ke arah meja Tuan Darius dengan memegang ponselnya. Setelah berada di depan meja, Adrian langsung memberikan ponselnya pada Tuan Darius.
Tuan Darius pun menerima ponsel itu, dan langsung menyalakan video itu. Video itu terus berjalan melihatkan video bagaimana Agnes membully teman-temannya, kemudian video itu memperlihatkan bagaimana Agnes dan teman-temannya menyuruh temannya itu untuk minum alkohol yang sudah dituangkan ke dalam gelas.
Mereka melihat, teman yang di tengahnya itu, nampak enggan untuk meminumnya, tetapi Agnes dan teman-temannya terus merayu temannya itu, hingga akhirnya temannya itu meminum alkohol itu.
Temannya itu, langsung terlihat menggelengkan kepala, sedangkan Agnes dan teman-temannya terlihat gembira melihat temannya yang sudah mulai terlihat pusing. Agnes pun langsung membopong temannya yang sudah sempoyongan itu keluar, setelah jauh dari kamar yang mereka tempati, terlihat Agnes tengah menelepon seseorang. Hingga akhirnya temannya itu di dudukkan di lantai. Sedangkan Agnes, ia pergi begitu saja.
Video itu terus berjalan, hingga akhirnya terlihat Agnes tengah berada di sebuah kamar, kemudian datang 2 orang laki-laki. Awalnya terlihat biasa, tetapi setelah beberapa saat, video itu menunjukkan Agnes yang mulai menggeliatkan tubuhnya hingga akhirnya, ia menarik laki-laki itu untuk mendekat. Dan akhirnya, video Agnes yang melakukan hal tak senonoh langsung terlihat begitu jelas tanpa sensor.
Tuan Darius mengeratkan tangannya pada ponsel milik Adrian, sedangkan Mama Viony, ia tidak kuat lagi melihat video itu, hingga akhirnya, ia merosotkan tubuhnya ke lantai.
Wajah Tuan Darius langsung memerah, menahan amarah sekaligus kekecewaan yang begitu besar pada putrinya. Putri yang selama ini ia banggakan, dengan teganya melemparkan kotoran ke wajahnya.
Beberapa saat kemudian, Adrian kembali berbicara.
“Masih ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan, Tuan.”
Tuan Darius perlahan menurunkan amarahnya dan kemudian menatap Adrian.
“Apa lagi?”
“Pihak SMA Prima Navara telah mengambil keputusan resmi.”
“Keputusan apa?”
“Nona Agnes, Nona Frenda, Nona Riany dan Nona Grace telah resmi dikeluarkan dari SMA Prima Navara. Dan keputusan itu diberitahukan pada banyak media yang datang ke sekolah akibat penyebaran video mereka.”
Kalimat itu terasa bagai petir di siang bolong.
Tuan Darius terlihat semakin mengeraskan wajahnya, menahan amarah yang mungkin sebentar lagi akan meledak.
Mama Viony kembali menangis semakin keras.
“Dikeluarkan...?”
“Putriku... dikeluarkan... dari sekolah...”
Ia menundukkan kepalanya sambil menangis tersedu-sedu.
“Selama ini... mama selalu memberikanmu kasih sayang... selalu memberikan apapun yang kamu mau... tetapi... kenapa... kenapa kamu tega melakukan ini, nak... kenapa kamu melemparkan kotoran kepada mama dan papa, sayang... apa kurangkah kasih sayang yang diberikan oleh kami kepadamu, nak...” ucapnya lirih dengan air mata yang terus mengalir.
Tua Darius mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar ucapan lirih istrinya.
Ia sama sekali tidak menyangka, putri yang selama ini dibesarkan dengan penuh kasih sayang justru melakukan tindakan yang begitu kejam dan juga tindakan tak senonoh seperti itu.
Sementara Adrian hanya berdiri diam.
Ia tahu, berita itu menjadi pukulan yang sangat berat bagi kedua orang tua Agnes.
...🪷🪷🪷...
Di sisi lain...
Sebuah mobil mewah berwarna hitam perlahan memasuki gerbang utama Mansion Navara.
Para penjaga segera memberi hormat ketika kendaraan itu berhenti tepat di depan pintu utama.
Pintu belakang terbuka.
Xavier turun lebih dulu dengan wajah yang masih tertutup topeng.
Tak lama kemudian, Violet ikut turun di sampingnya.
“Selamat datang, Tuan Muda, Nona Muda,” sapa para pelayan serempak sambil membungkukkan badan.
Xavier hanya mengangguk tipis.
“Kembali ke pekerjaan kalian. Kami akan membersihkan diri kami terlebih dahulu. Dan siapkan makanan untuk makan malam di meja makan,” ucap Tuan Xavier.
“Baik, tuan.”
Setelah memberikan perintah, Xavier dan Violet langsung ke lantai 2 menggunakan lift.
Lift pun tiba di lantai dua. Mereka berjalan bersama, ketika sampai di depan kamar Violet, Xavier kemudian berbalik menghadap Violet.
“Kamu masuklah dulu, istirahat sejenak lalu bersihkan diri. Saya juga akan langsung beristirahat,” ucapnya sambil mengusap kepala Violet.
Violet yang kepalanya disentuh oleh Xavier, mendadak terdiam, tak lama kemudian, ia kembali pada kesadarannya. “Baiklah. Terima kasih karena sudah membantuku di sekolah tadi.”
Xavier menjawab dengan anggukan.
“Kalau begitu, aku mau masuk kamar dulu. Sampai jumpa nanti,” ucap Violet yang kemudian masuk ke dalam kamar.
Setelah memastikan Violet masuk kamar, Xavier pun berjalan menuju arah kamarnya.
Ketika masuk, terlihat kamar itu begitu gelap namun masih terlihat terang karena gordennya dibuka. Dinding kamar itu di dominasi dengan warna hitam dengan sedikit sentuhan berwarna perak. Di sana, terdapat kasur berukuran king size, dengan sprei, selimut, sarung bantal dan guling berwarna hitam.
Xavier berjalan ke arah jendela, tak lama kemudian ponselnya berdering. Ia pun langsung mengeluarkan ponsel itu dalam saku celananya. Dan terlihat nama Kelvin di layar.
Xavier segera mengangkat panggilan itu.
“Halo, Tuan.”
“Ya.”
“Saya ingin melaporkan bahwa keempat orang itu sudah berada di dalam markas.”
“Pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melarikan diri. Nanti malam saya ke sana,” jawab Xavier dengan dingin.
“Baik, tuan.”
Setelah itu, panggilan itu pun terputus.
Xavier menatap ke arah jendela dengan dingin, dan perlahan ia membuka topeng yang selama ini menutupi wajahnya.
...To be continued ......