Callista terkejut bukan main, kala dirinya mendapati kembali jika dirinya telah kembali ke lima tahun lalu..
Dimana dia kembali pada awal pernikahan dengan Darius suami yang di di cintai secara ugal-ugalan.
Namun kini cinta itu telah berubah menjadi kebencian, segala perbuatan Darius di kehidupan lalu selalu di ingat nya.
Kini hanya akan hidup untuk membalas kan dendam nya di masa lalu.
Akan kah Callista mampu membalas dendam nya, yuk kita simak aja cerita nya sama-sama.
Warning, mungkin akan terdapat beberapa typo dan flashback di cerita Mak ini, jadi jangan heran ya😅.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makmisshalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Jebakan dan Memori Kelam
Waktu bergulir tanpa ampun, membawa roda kehidupan berputar cepat hingga tanpa terasa tiga minggu telah berlalu dalam sekejap. Selama rentang waktu tersebut Darius merasa dirinya adalah raja dunia, pemegang piala kemenangan mutlak yang tak tertandingi, seorang penguasa yang melenggang bebas di atas panggung sandiwara.
Padahal, jika ia memiliki sedikit saja kepekaan, ia hanyalah seorang pencundang bodoh yang sedang menghitung detik-detik terakhir kebahagiaannya sebelum hancur lebur menjadi debu.
Tiga minggu itu ia habiskan dengan kesombongan, menumpuk rasa percaya diri yang palsu, sama sekali tidak menyadari bahwa jerat tali karma telah siap melingkar di lehernya.
Pagi itu, suasana ruang makan tampak tenang namun sarat dengan kepalsuan. Darius duduk di kursi utamanya, menikmati sarapan pagi sambil sesekali melirik wanita yang duduk di seberang mejanya.
Callista, hadir dengan penampilan yang sengaja dirancang untuk menguji batas kewarasan Darius.
Seperti biasa, Callista menyembunyikan paras cantiknya di balik gaya busana yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa mual.
Kacamata bulat berbingkai tebal bertengger kaku di hidungnya, tak pernah sekalipun ia copot.
Pakaiannya longgar, tidak berbentuk, menutupi lekuk tubuhnya dengan kain murahan yang kedodoran.
Rambutnya dikepang dua secara asal-asalan, jatuh di kedua bahunya. Belum lagi pulasan bedak padat yang warnanya jauh lebih terang ketimbang kulit aslinya, membuat wajahnya tampak belang dan pucat seperti topeng porselen retak, dipadu dengan gincu merah terang yang dipoles secara sembarangan di bibirnya.
Bagi seorang pria seperti Darius—yang merupakan penggila seks akut dan pecinta estetika kecantikan—pemandangan di hadapannya ini adalah siksaan batin yang luar biasa.
Setiap kali ia menatap wajah Callista, perutnya bergejolak hebat, rasa mual merayap naik ke kerongkongannya, dan ia ingin sekali berteriak menyuruh wanita itu enyah dari pandangannya.
Namun, Darius adalah seorang bunglon ulung. Ia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengenakan topeng kemunafikan kapan pun ia butuhkan.
Di balik rasa jijik yang luar biasa mengoyak hatinya, bibir Darius tetap menyunggingkan senyuman paling manis, menampilkan sosok suami teladan yang penuh cinta, lembut, dan seolah tidak ada wanita lain di dunia ini yang lebih ia hargai selain istri sahnya.
"Sayang... makanlah yang benar, jangan hanya diaduk-aduk begitu sarapannya," ucap Darius dengan nada suara yang begitu lembut, merdu, dan penuh kehangatan palsu yang sanggup mengecoh siapa saja yang mendengarnya.
Di dalam hati: "Ya Tuhan, makhluk apa sebenarnya yang duduk di depanku ini? Jijik sekali! Wajahnya benar-benar mirip badut pasar malam yang kurang ajar. Setiap detik aku harus melihat tampang jelek dan bau bedak murahan ini rasanya aku ingin muntah di atas meja makan! Sialan, cepatlah mati atau enyah dari hadapanku, wanita sialan!"
Callista mengangkat wajahnya di balik kacamata tebalnya, menatap sang suami dengan tatapan polos yang dibuat-buat, sementara sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang menyembunyikan lautan kebencian.
Dalam hati Callista: "Teruslah memasang wajah manis itu, Darius. Nikmati setiap detik kebohongan yang kamu ciptakan sendiri. Kamu pikir kamu adalah predator yang paling lihai, padahal kamu tidak lebih dari seekor tikus busuk yang sedang berjalan menuju perangkap mautku. Aku tahu persis apa isi kepalamu yang kotor itu, dan aku tidak sabar melihat bagaimana senyuman palsu di wajahmu berubah menjadi kepanikan luar biasa.")
"Iya, Suamiku... aku makan ," jawab Callista, terdengar begitu naif dan penurut.
"Ada apa pagi-pagi begini wajah mu tampak begitu serius? Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku?"
Darius tersenyum hangat, memotong roti tawannya dengan anggun sebelum kembali menatap istrinya dengan tatapan penuh perhatian yang memuakkan.
"Begini, Sayang. Kemarin pihak Tuan Julian menghubungi perusahaan kita kembali. Mereka meminta agar kita—khususnya kamu sebagai pemegang saham penting di proyek itu—hadir dalam pertemuan makan malam nanti malam untuk menandatangani dokumen final kerja sama proyek besar kita. Ini kesempatan emas, Callista. Dan karena ini menyangkut citra keluarga besar kita, aku ingin kamu tampil berbeda malam ini."
Darius merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak velvet elegan berwarna merah marun dan mendorongnya pelan di atas meja ke arah Callista.
"Aku sudah membelikanmu gaun malam yang sangat indah dan sepasang sepatu hak tinggi yang serasi. Kenakan itu nanti malam, ya? Aku ingin kamu tampil cantik di hadapan Julian dan rekan bisnis lainnya, agar mereka tidak lagi meremehkan istriku tercinta."
Dalam hati Darius: "Pakailah gaun itu, wanita bodoh. Di dalam segelas anggur yang akan kusiapkan untukmu nanti malam, sudah tercampur obat bius dosis tinggi. Begitu kamu tidak sadarkan diri, aku akan menyerahkanmu kepada Julian sesuai dengan rencana busukku, dan aku akan merekam semuanya untuk menghancurkan kalian berdua sekaligus menguasai seluruh aset yang kamu miliki!"
Callista melirik kotak velvet itu sekilas, lalu mendongak menatap Darius dengan binar mata tertegun palsu.
Dalam hati Callista: "Rencana yang sangat klasik dan memuakkan, Darius. Kamu masih saja menggunakan cara-cara kotor yang sama persis seperti di kehidupan lamaku. Kamu ingin meracuniku, menjebakku, lalu menghancurkan masa depanku demi ambisi serakahmu. Sayang sekali, semua kelicikanmu itu sudah kuhafal di luar kepala."
"Wah... sungguhkah, Suamiku? Kau sangat baik sekali padaku..." ucap Callista dengan nada terharu yang dibuat-buat, jemarinya pura-pura meraba kotak tersebut dengan ragu.
"Baiklah, demi Suamiku, nanti malam aku akan berdandan secantik mungkin dan mengenakan gaun pemberian mu."
"Baguslah kalau begitu," balas Darius, senyuman penuh kemenangan terukir di balik wajah manisnya.
"Sekarang habiskan sarapanmu, aku harus bersiap berangkat ke kantor dulu."
Percakapan pagi itu usai, namun bagi Callista, nama "Julian" yang disebut oleh suaminya seketika membuka kotak Pandora berisi memori kelam yang amat menyakitkan dari masa lalunya—sebuah kepingan masa lalu yang membuat darahnya mendidih sekaligus membuat sekujur tubuhnya merinding hebat.
Ingatannya melayang mundur ke sebuah malam di kehidupan lamanya, malam jahanam di mana jebakan itu menghancurkan seluruh kewarasannya, yang berakhir dengan nyawanya yang di ambil paksa.
Di masa lalu, sebelum ia terbangun kembali dengan kesadaran penuh dan tekad balas dendam, ia pernah terjebak dalam malam pertemuan itu.
Malam di mana ia dibius, dibawa ke sebuah kamar hotel mewah, dan dipaksa menyerahkan mahkota berharganya kepada seorang pria asing yang dingin dan menakutkan: Julian.
Flashback on...
Pusing yang luar biasa menghantam kepala Callista begitu ia menjejakkan kaki di kamar suite hotel tersebut malam itu.
Tubuhnya terasa lemas, panas, dan pandangannya mulai kabur. Di tengah sisa-sisa kesadaran yang menipis akibat racun bius di dalam minumannya, ia melihat sosok pria berbadan tegap berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam yang menghujam. Pria itu adalah Julian—musuh besar suaminya.
Callista, yang di kehidupan lamanya terbutakan oleh rasa cinta yang begitu gila, obsesi yang sakit jiwa, dan kepatuhan mutlak kepada Darius, sama sekali tidak mengenali siapa pria di hadapannya.
Dalam kabut halusinasi dan sisa kesadaran yang sekarat, di dalam dekapan pria asing itu, batin Callista meronta histeris karena ia telanjur mengira bahwa pria yang tengah merengkuhnya adalah suaminya sendiri: Darius.
"Suamiku... Darius... kumohon..." racaunya di sela napas yang memburu panas, air mata penyerahan tumpah ruah di pipinya.
Suasana kamar itu dipenuhi oleh desahan napas berat dan erangan putus asa. Sentuhan-sentuhan asing yang menuntut membakar kulitnya yang sensitif.
Suara desahan halus lolos dari bibir Callista, berpadu dengan kecupan-kecupan panas yang mendarat di leher jenjangnya.
"Ssshhh... tenanglah..." bisik suara bariton yang dalam dan dingin, menggema di telinganya.
Suara kulit bergesekan dan suara kulit bertabrakan dalam tempo yang lambat menciptakan irama yang intim di atas ranjang yang temaram.
Aroma parfum maskulin yang tajam bercampur dengan keringat memenuhi indra penciumannya.
"Ahhh... perlahan... kumohon, Suamiku..." rintih Callista dengan suara bergetar hebat, air matanya semakin deras mengalir saat rasa sakit yang luar biasa menusuk bagian intim tubuhnya.
"Ini... ini yang pertama untukku... sakit... kumohon, jangan terlalu cepat..."
Ciuman-ciuman menuntut kembali membungkam bibirnya, meredam setiap isak tangis dan racauan kesakitan.
Sentuhan kasar namun memabukkan itu terus berlanjut, mencabik-cabik kepolosan Callista dan menyeretnya ke dalam pusaran kenikmatan kelam yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya.
Flashback off...
Lamunan Callista buyar seketika. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat saat bayangan malam itu kembali berkelebat di kepalanya. Kepalan tangan di bawah meja mengeras hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.
Dalam hati Callista: "Malam ini... sejarah kelam itu tidak akan pernah terulang kembali dengan cara yang sama. Dulu aku adalah wanita bodoh yang bisa dipermainkan, diseret ke dalam jurang kehancuran oleh kebejatan Darius dan ketidaktahuanku. Tapi sekarang... aku akan mengembalikan keadaan. Darius, bersiaplah. Panggung sandiwara ini akan segera runtuh di atas kepala dan aku tak membiarkan Julian ku jatuh kembali pada jebakan mu."
Callista menarik napas dalam-dalam, menepis segala sisa bayangan masa lalu itu dari benaknya.
"Julian Doryy aku tidak akan membiarkan kita kembali jatuh dalam jebakan Darius.. "