Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BALIK PROFESIONALISME
“Kalau suami kamu sudah memilih orang lain... tapi masih mau kamu tetap di sampingnya.”
Ia berhenti sebentar.
“Menurut kamu... itu masih bisa dipertahankan?”
Ruangan kembali sunyi.
Nisa menarik napas pelan. Ia tidak ingin salah bicara.
“Kalau dari saya, Bu...” ucapnya hati-hati, “rumah tangga itu bukan cuma soal bertahan.”
“Kalau sudah tidak ada saling menghargai... dan Ibu terus yang harus mengalah...”
Nisa berhenti sejenak, “itu bukan mempertahankan, Bu. Itu... bertahan sendiri.”
Kalimat itu terasa tepat.
Eva terdiam. Tangannya saling bertaut di pangkuannya.
“Kadang... yang perlu dipikirkan bukan cuma dipertahankan atau tidak,” lanjut Nisa pelan, “tapi... apakah Ibu masih dihargai di dalamnya.”
Eva terdiam sejenak. Pandangannya kembali ke arah jendela. “Noya itu... dekat sekali sama ayahnya,” ucapnya pelan.
Nisa mendengarkan.
Eva melanjutkan. “Aku lihat sendiri... cara dia mendidik, menghadapi Noya... sabar.”
“Ada perubahan di Noya. Lebih mandiri. Lebih ceria.” Ia menarik napas pelan. “Soal itu... aku akui, dia hebat.”
Kalimat itu keluar jujur. Tanpa ditahan.
Namun setelah itu--ia terdiam lagi. Ada jeda. Lebih lama. “Tapi...” lanjutnya akhirnya, “kalau soal perasaan dia ke aku...”
Eva menggeleng kecil. “Aku nggak tahu.”
Tatapannya kosong.
Ia tidak lagi yakin. “Aku nggak tahu dia masih benar-benar memilih aku... atau karena Noya.”
Nisa terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan Eva.
Ia tampak ragu.
Seperti menimbang apakah pertanyaan itu pantas diucapkan atau tidak.
Namun akhirnya ia tetap bicara--pelan, hati-hati.
“Bu... boleh saya tanya sesuatu?”
Eva menoleh sedikit.
“Apa?”
“Apakah... sebelumnya perhatian Ibu ke Bapak mungkin... berkurang?”
Kalimatnya tidak langsung. Terasa dijaga.
“Maksud saya...” lanjutnya cepat, “bukan menuduh, Bu. Saya hanya mencoba melihat dari sisi lain.”
Eva tidak menyela.
Nisa melanjutkan, masih dengan nada hati-hati. “Ibu kan wanita karier. Pasti sibuk. Kadang... tanpa sadar, pasangan bisa merasa ditinggalkan.”
Ia menunduk sedikit. “Saya minta maaf, Bu kalau salah... saya cuma bertanya.”
Hening.
Eva tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu--tidak nyaman. Tapi juga... tidak bisa langsung ditepis. Ia menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi.
Menarik napas panjang. Seolah sedang memutar ulang sesuatu dalam pikirannya.
Beberapa detik berlalu. Baru kemudian-- ia bicara.
Ia menatap meja di depannya sebentar, lalu menghela napas pelan.
“Aku akui... di awal mungkin memang salahku,” ucapnya akhirnya.
“Aku sibuk. Fokus ke kerjaan, ke banyak hal... mungkin tanpa sadar aku kurang hadir buat dia.”
Nisa diam, mendengarkan.
Eva melanjutkan.
“Tapi kalau memang dia merasa kecewa... harusnya dibicarakan dari awal.”
Nada suaranya mulai lebih tegas. “Itu namanya komunikasi.”
Ia menggeleng kecil. “Bukannya diam... lalu menyimpan semuanya sendiri.”
Ada jeda.
Tatapannya kembali kosong.
“Yang aku rasakan sekarang... dia seperti memendam sesuatu terlalu lama. Seolah ada banyak hal yang tidak pernah ia ungkapkan. Entah takut, entah nggak mau ribut... aku juga nggak tahu.”
Eva menarik napas lagi.
“Tapi pada akhirnya... dia memilih jalan sendiri.”
Ia menatap Nisa.
“Berselingkuh.”
Satu kata itu diucapkan tanpa ragu. Tanpa ditutupi.
“Dan itu sudah jadi pilihan dia."
Eva terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Aku itu... bukan nggak bisa memaafkan,” ucapnya pelan.
“Kalau sekadar perselingkuhan biasa... mungkin masih bisa aku maafkan.”
Eva menunduk sebentar. “Tapi ini...” ia berhenti, memilih kata, “ini sudah di luar batas.”
Ia tidak melanjutkan lebih jauh. Tidak menjelaskan detail. Namun nada suaranya sudah cukup menjelaskan semuanya. Ada hal yang tidak perlu diucapkan--karena terlalu pribadi. Terlalu dalam.
Nisa menangkap itu. Ia tidak bertanya lagi.
Hanya mengangguk pelan. “Saya mengerti, Bu...”
Jawabannya singkat. Namun cukup.
Eva kembali menyandarkan tubuhnya. Matanya kembali kosong.
“Kalau sudah sejauh itu... rasanya beda.”
Bukan sekadar kecewa. Tapi... sesuatu yang sulit dikembalikan.
Tanpa terasa, waktu berjalan cepat.
Eva melirik jam di pergelangan tangannya.
09.30.
Ia menarik napas pelan. Waktunya menjemput Noya.
Pembicaraan itu terhenti begitu saja.
Bukan karena selesai--tapi karena harus dihentikan.
Eva berdiri dari kursinya. Meraih tasnya.
“Maaf, Nisa. Aku harus pergi dulu,” ucapnya singkat.
Nisa mengangguk.
“Iya, Bu. Hati-hati.”
*
Purbaya tiba di kampus saat matahari sudah cukup tinggi.
Beberapa mahasiswa berlalu-lalang. Suasana tidak terlalu padat. Obrolan kecil terdengar di sudut-sudut taman, sebagian duduk di tangga gedung, sebagian lagi berjalan cepat menuju kelas.
Ia memarkir mobilnya, lalu turun.
Purbaya melangkah masuk ke area fakultas.
Beberapa mahasiswa yang berpapasan sempat melirik.
Ada yang berbisik pelan.
“Itu Pak Purbaya, kan?”
“Iya, katanya baru balik...”
Sebagian hanya memperhatikan dari jauh.
Namun satu dua mahasiswa yang pernah mengenalnya atau sekadar lebih berani --menyapa dengan ragu.
“Pagi, Pak...”
Purbaya mengangguk singkat.
Ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.
Dikenal... tapi tidak benar-benar dekat.
“Selamat pagi, Pak Purbaya.”
Ia membalas dengan anggukan ringan.
“Pagi.”
Sederhana.
Profesional.
Seperti biasa.
Namun tidak berhenti lama. Langkahnya langsung menuju ruangannya.
Pintu dibuka. Ruangan itu masih sama. Rapi. Tenang. Seolah menunggu ia kembali.
Tas kerja diletakkan di meja. Laptop dikeluarkan.
Ia duduk.
Menyalakan layar.
Beberapa email masuk. Undangan rapat dari fakultas. Pengingat jadwal mengajar minggu ini. Di layar juga tertera pembagian kelas baru.
Jurusan Teknik Industri. Beberapa mata kuliah inti kembali menjadi tanggung jawabnya--perencanaan produksi, manajemen operasi, hingga sistem kerja.
Nama-nama kelas tertera. Sebagian mahasiswa baru. Sebagian mungkin pernah mendengar namanya.
Rutinitas itu kembali.
Namun belum sempat ia benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya--ketukan terdengar di pintu.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Seorang perempuan berdiri di sana.
Masih muda.
Berpakaian rapi.
Namun jelas bukan mahasiswa.
“Maaf, Pak... saya mengganggu?”
Purbaya mengangkat wajahnya.
Sedikit mengernyit.
Ia tidak langsung mengenali.
“Saya dosen baru di sini, Pak,” lanjut perempuan itu.
“Saya Rania.” Ia tersenyum sopan.
“Saya diminta Pak Kaprodi untuk koordinasi dengan Bapak... terkait mata kuliah Teknik Industri yang akan saya pegang.”
Purbaya mengangguk pelan.
“Silakan masuk.”
Perempuan itu melangkah ke dalam.
Sementara Purbaya memperhatikannya sejenak.
Awal yang sederhana.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄