NovelToon NovelToon
Untuk Kehidupan Kedua Kami

Untuk Kehidupan Kedua Kami

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Fantasi / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: sila

Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.

Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.

Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.

secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Profesor Lay yang tidak menduga akan masih ada masalah membuatnya mengernyitkan dahinya karena bingung.

Dan mereka bahkan masih mengamuk setelah sihir penyembuhan disebarkan, mereka seolah tidak terpengaruh dan memiliki kesadarannya sendiri.

Hewan-hewan itu menyerang dengan membabi buta, bangunan akademi yang hancur kini semakin hancur akibat amukan mereka yang tidak terkendali.

Seolah sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya tengah mengendalikan mereka dengan sempurna.

Tidak terpengaruh bahkan dengan kekuatan penyembuhan dari elemen cahaya sekalipun.

Alisa, yang semula tersenyum lebar kini menatap dengan mata terbelalak, ia panik, karena dalam pikirannya, seharusnya itu sudah selesai dan tidak seharusnya ada yang kedua.

Vione dengan cepat mengedarkan pandangannya keseluruh area akademi hanya untuk mencari keberadaan Caily yang tidak terlihat sama sekali.

Rosetta masih terus melawan hewan-hewan lepas kendali itu bersama Fenrir, keduanya mati-matian menahan amukan mereka agar itu tidak sampai menyerang area tenda darurat dimana ada banyak murid yang sedang beristirahat pasca pengobatan.

Vione juga sibuk membantu agar bangunan akademi tidak benar-benar hancur sepenuhnya.

Profesor Lay yang sudah tidak punya petunjuk lagi hanya bisa ikut menyerang agar pihak akademi tetap bisa bertahan.

Para guru lainnya pun tak kalah sibuknya, mereka menyerang sembari menciptakan sihir pertahanan dibeberapa tempat.

Disisi lain, Caily yang jauh berada diatas atap gedung lain, gedung laboratorium lama akademi yang sudah tidak terpakai.

Gadis itu mengatur napasnya karena sedari tadi terus berlari menghindari serangan para monster, bahkan kini ada iblis tumbuhan yang ikut mengincarnya.

Caily yang tidak memiliki pertahanan apapun tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa, untuk memanfaatkan kemampuan matanya, ia harus mendapatkan setidaknya satu hewan kuat sebagai tameng.

Namun jarak Caily dan gedung utama akademi sangat jauh, mustahil seseorang akan datang membawa hewan kontraknya untuk menolong dan membuatnya bisa memanfaatkan hewan kontrak itu.

Beberapa hewan dan tumbuhan iblis mengepung atap tempat Caily bersembunyi.

Gadis itu menggigil sambil menggigit jarinya karena panik, saat matanya berputar kemana-mana dia melihat dilangit ada banyak burung dan dibeberapa tempat diatas rumput dan pohon, kupu-kupu berterbangan.

Setidaknya manfaatkan apapun itu untuk pertahanan diri, hasil akhirnya akan ditentukan setelah usaha dikerahkan.

Caily mendongak lalu membuka penutup matanya, menatap tajam kearah langit, tepatnya pada mata burung-burung itu.

'DEG'

Semua, tak satupun burung yang berterbangan pergi, mereka turun dan mengelilingi Caily seperti sebuah tameng.

Lalu gadis itu mengalihkan pandangannya, dan sekali lagi, semua kupu-kupu mendekatinya.

Segerombolan kupu-kupu terbagi menjadi tiga, mereka bergerak kearah tanaman iblis untuk menarik perhatiannya.

Dan sesuai yang direncanakan, tumbuhan iblis itu memutar arah dan lebih memilih mengejar kupu-kupu.

Disisi lain, segerombolan burung terbagi menjadi dua kelompok.

Satu kelompok menyerang pemandangan para hewan-hewan dan satu kelompok lainnya masih mengelilingi Caily, membantu gadis itu untuk mencari titik aman pelarian.

Beberapa menit kemudian, Caily sampai digedung utama akademi dan melihat semua kekacauan itu.

Dia segera bersembunyi dibalik reruntuhan, mengamati sejauh mana pertahan mereka semua untuk menghalau serangan semua hewan-hewan itu.

Caily menatap tepat pada mata Fenrir, dan hewan legendaris itu menoleh pada titik persembunyian nya seolah ia merasa terpanggil oleh sebuah perintah.

Rosetta merasakannya hal yang sama, ia menyadari jika itu Caily, namun ia tetap fokus menyerang dan tidak berniat menoleh kearah Caily, karena mungkin saja ada beberapa orang yang menyadarinya dan apa yang mungkin sedang direncanakan oleh Caily bisa saja gagal karena dirinya.

Sedangkan Caily, ia perlahan menarik napas panjang, ia bertaruh pada dirinya sendiri, kasarnya, ia mungkin mengorbankan dirinya sendiri.

Mencoba mengendalikan semua hewan kontrak yang sedang lepas kendali karena kekuatan asing yang mungkin saja kekuatan itu berasal dari dunia iblis, terasa mustahil tapi Caily akan tetap mencobanya.

Matanya yang merah menyala menatap semua hewan itu satu persatu tepat dimatanya.

Sesuatu dalam diri Caily seolah meluap, ia merasa ingin muntah karena kekuatan itu.

Tapi ia tetap memaksakannya, dan lagi-lagi karena memaksakan diri, darah mengalir dari mata dan hidungnya.

Yang tidak terduga, beberapa hewan itu berhenti bergerak, mereka tampak kebingungan seolah sesuatu yang tidak terduga menarik seluruh atensi mereka.

Dan lagi, kini hampir semua hewan itu dapat dikendalikan oleh mata merah Caily, mereka berhenti bergerak dengan pandangan bingung.

Semua orang kebingungan dengan tingkah laku hewan-hewan itu, mereka waspada dengan serangan lainnya sehingga segera menciptakan pelindung hampir diseluruh akademi.

Hewan-hewan itu masih kebingungan, mereka bergerak secara acak seolah sedang mencari sesuatu, beberapa dari mereka bahkan membongkar reruntuhan bangunan, ada yang mencabut pohon sampai ke akarnya, bahkan mengintip kaca-kaca akademi seolah benar-benar mencari sesuatu.

Dan semua tingkah mereka benar-benar membuat pihak akademi bingung kecuali Rosetta, dan Vione yang akhirnya sadar.

Caily yang ternyata sudah berpindah tempat persembunyian kini mengatur napasnya, lalu secara perlahan ia membuka mulutnya, tampak menggumamkan sesuatu.

Lalu hewan-hewan itu berhenti bergerak, asap hitam dimata mereka perlahan menghilang dan menjadi pupil normal mereka.

Mereka semua kini tampak benar-benar kebingungan karena mencari tuan mereka, bukan lagi karena sedang mencari sesuatu seperti sebelumnya.

Dari kejauhan, Caily yang baru saja mengatur napasnya duduk bersandar diatas dahan pohon, ia membersihkan darah dimata dan hidungnya.

Namun ternyata cairan merah itu juga mengalir dari telinganya, membuat sapu tangannya kini kotor karena darahnya.

Mata merahnya kembali menjadi warna biru, lalu ia kembali menutup matanya menggunakan kain sutra putih yang selalu dia bawa.

.

.

.

Kini semua orang bersorak gembira dan merasa lega karena pertarungan aneh itu berakhir.

Vione dan Rosetta duduk lesehan diantara Reruntuhan bangunan dengan profesor Lay berada didekat mereka.

Profesor Lay tampak melamun, tentu saja yang dipikirkannya hanya pertarungan barusan, pertarungan yang berakhir begitu saja juga terasa aneh, tingkah laku hewan dan murid-murid itu juga aneh, semuanya terlalu aneh.

Dia melirik kearah Rosetta dan Vione yang tampak santai, mereka bahkan tidak terlihat kebingungan sedikitpun.

Malah, mereka terlihat bangga dan puas.

"Apakah mereka tahu sesuatu tentang dibalik serangan itu?" Pikir Profesor Lay dengan tatapan curiga dan waspada.

Vione mengerutkan keningnya saat sayup-sayup mendengar suara dari kejauhan, pemilik elemen angin memang memiliki pendengaran yang cukup tajam karena bantuan elemennya.

Saat ia menoleh, ia melihat Alisa yang sedang dikelilingi oleh beberapa orang.

Mereka tampak tersenyum bahagia sambil berterima kasih, bahkan menyanjung, memuja dan memberinya gelar pahlawan.

Suasana bahagia mereka menarik perhatian beberapa orang lainnya, mendekat dan ikut menjadi bagian dari orang yang berterima kasih pada Alisa dan menyebutnya pahlawan.

Vione mengerutkan kening, ia menyenggol lengan Rosetta dan gadis itu juga menoleh, mengikuti arah pandang Vione, namun ia tidak terlalu mendengar jelas dan hanya melihat ada banyak orang yang mengelilingi Alisa sambil bergantian menjabat tangan gadis itu.

1
Dewiendahsetiowati
kapan ketahuan belangnya si biang kerok Alisa
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah untuk salah satu MC nya
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Dia Fitri
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!