Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.
Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.
Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.
Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nagato
Wira dan tiga anak buahnya tidak bisa berkata-kata menyaksikan keterampilan beladiri Vincent. Mereka heran dia hanya berada ditahap body strength tingkat lima, namun masih bisa menghindar ketika diserang dari segala arah. Bahkan berhasil menghajar salah satu dari mereka hingga terbang keluar arena.
"Kalian semua! Berikan energi kalian padaku!" Teriak Wira.
"Baik bos!" jawab tiga bawahannya yang secara reflek menempelkan telapak tangan ke tubuh Wira.
"Haha... Tunggu saja kau vedevah kecil, akan kuhancurkan kau dengan satu pukulan." Tawa jumawa Wira begitu menjengkelkan seakan Vincent telah babak belur olehnya. Namun tak dapat dipungkiri auranya begitu meledak-ledak setelah menerima transfer energi dari tiga anak buahnya.
"Seni jiwa kapak merah: KAPAK PEMBELA GUNUNG."
Wira menerjang Vincent dengan tinju telapak tangan yang telah menciptakan manifestasi jiwa berbentuk kapak setinggi dua puluh meter, aura yang dipancarkan seperti membelah udara di sekitarnya.
Vincent menatap santai, berdiri tak mundur satu jengkal pun. Ia tersenyum bergerak perlahan sambil mengepalkan tangan. Bersiap meninju.
BAMM
Suara menggelegar ditelinga ketiga bandit gunung membuat mereka meringkuk diatas arena dengan memegang kepala. Kapak merah berhasil ditahan Vincent, namun ia terdorong ke belakang hingga sepuluh meter dengan membentuk jejak kaki di lantai.
Tidak ada rasa takut atau pun cemas meski dirinya terpojok, Vincent tersenyum saat tangannya mulai mencengkram manifestasi jiwa kapak.
BLARR
Kapak merah milik Wira hancur oleh cengkraman yang terlihat biasa saja, namun mampu menghancurkan manifestasi jiwa milik kultivator Spirit tingkat dua yang telah menerima energi aura dari bawahannya.
"Bos!!" teriak trio bandit gunung ketika melihat pemimpin mereka muntah banyak darah. Tetapi mereka tidak mampu menolong karena takut mengalami hal sama seperti bos mereka, ketiganya hanya bisa memperhatikan dari jauh.
'Sialan...! Apakah dia masih seorang manusia?' tubuhnya begitu keras.' Wira menatap segan dan mulai muncul rasa takut dalam dirinya.
"Kau ini apa?"
Alis Vincent terangkat mendengar pertanyaan aneh. "Aku? Terserah apa yang kau pikirkan,' jawabnya yang malas menjelaskan pertanyaan tak jelas tersebut. Seperti berjalan tanpa bayangan, Vincent melangkah mendekati Wira yang sebelumnya berjarak sepuluh langkah.
BUGH
Satu pukulan tak terduga mendarat tepat di ulu hati sang bos bandit gunung hingga tersungkur jatuh pingsan. Sudah jatuh tertimpa tangga, Wira yang tak sadarkan diri langsung ditendang keluar hingga menabrak tembok pembatas.
"Bos!!!" Teriak ketiga bawahan setianya mengejar keluar arena dan mengakhiri perlawan mereka.
Suara mendesing...
"Hai kawan... Kulihat kemampuan beladirimu cukup unik dan kuat, bolehkah kita saling bertukar pukulan? Aku penasaran kekuatanmu yang sesungguhnya bukan hanya itu saja kan?" ujar seseorang yang terbang menghadang Vincent.
'Huh... Apakah dia tau? Hmm... Spirit tahap enam, cukup menarik untuk orang yang tidak berada dibawah naungan sebuah sekte ataupun prajurit kerajaan.' Vincent memperhatikan lawan yang menantangnya.
"Kuperingatkan pada anda untuk berpikir dua kali tentang konsekuensi melawanku." lanjutnya.
"Huh... Benarkah? Bicara itu mudah, tindakan lebih nyata dari pada omong besar belaka. Lagipula bukankah seorang kultivator sejati harus bisa melewati setiap rintangan dan selalu siap menghadapi siapapun lawannya dalam keadaan apapun tanpa takut sebelum bertarung. Kalau tidak, kita tak akan bisa berkembang."
Vincent tersenyum mendengar kata-kata dari pemuda yang usianya tidak jauh berbeda. Tapi keberanian dan pandang tentang jalan beladiri membuatnya kagum.
"Oh ya? Bukankah jika kau mati dalam pertarungan hanya membuatmu mati sia-sia belaka? Kau tidak akan mempelajari apapun jika kau mati," ucap Vincent.
"Kau benar, tapi aku tetap merasa puas meski harus kehilangan nyawa dan itu membuktikan jika aku masih lemah dalam dunia beladiri." Tatapan tegas tanpa rasa ragu membuat Vincent kagum dengan perkataannya. Ia merasa malu jika dibandingkan dirinya dulu yang selalu mengeluh karena kelemahannya.
"Menarik. Baiklah akan kuladeni kau dengan sungguh-sungguh, tapi sebelum itu. Aku ingin tau siapa nama saudara?" Vincent mulai melakukan kuda-kuda.
"Terimakasih! Panggil saja Nagato," Senyum terkembang karena senang tantangannya dipenuhi. Nagato pun mulai melakukan hal yang sama.
BLARR
"Arrghh..."
Teriak peserta lain yang hendak menyerang Vincent serta Nagato. Namun keduanya menghempaskan sisa petarung lain dengan ledakan energi, sehingga di arena lima hanya tersisa mereka berdua.
Nagato berinisiatif memulai serangan. Ia tidak ingin bertele-tele dan langsung menggunakan teknik terkuatnya
"EARTH DRAGON CLAW"
Suara raungan energi berbentuk siluet naga hijau bergema dibarengi cahaya mengalir berwarna hitam ketika Nagato melepaskan tinju tangan kirinya.
"Astaga!! Anak itu mempunya soul yang langka!"
Semua penonton kagum melihat soul power manifestasi milik Nagato, termasuk ketiga kepala sekte dan perdana mentri Hector.
"Seorang
"Kesatria Liu Feng dari mana asal anak itu?!" Tanya perdana mentri.
Kesatria Liu Feng langsung memeriksa biodata Nagato.
"Anak itu berasal dari distrik yang terletak di gunung kramat bagian selatan kerajaan Serena.
"Distrik gunung kramat? Bukankah disana hanya dihuni oleh klan tradisional yang jarang berinteraksi dengan dunia luar," timpal ketua sekte Hao Beng melirik ke arah ketua sekte Marcus dimana distrik gunung kramat berada di wilayahnya.
"Jangan tanya diriku, aku ini hanya sekte penjaga wilayah selatan dan tidak tahu detail setiap klan yang ada di sana. Apalagi klan yang jarang terekspos seperti mereka, tanya saja pada Duke Jaeger." ucap
"Kau benar, klan gunung mempunyai peraturan peraturannya sendiri. Mereka jarang sekali keluar dari wilayah gunung kramat selama ratusan tahun, kecuali ketika acara hari panen raya yang diadakan satu tahun sekali. Dimana saat itu mereka akan berbondong-bondong berjalan kaki ke wilyah Duke untuk memberikan hasil bumi sebagai bentuk apresiasi atas perlindungan," ungkap Duke Jaeger.
"Aku jadi penasaran kenapa anak ini bisa keluar dari sana? Mungkin aku harus menemuinya setelah pertandingan ini," lanjutnya.
"Ketua sekte Radit! Apa kau juga tertarik pada pemuda klan gunung itu? Sepertinya bakal cukup sulit, apalagi tempat tinggalnya berada di wilayah Duke Jaeger dan wilayah perlindungan sekte bintang. Kau harus menawarkan yang menarik seperti batu jiwa tingkat atas mungkin," ucap ketua sekte Hao Beng ketika melihat ketua sekte Radit memperhatikan kedua petarung begitu seksama.
"Huh? Aku pun sadar akan hal tersebut. Dia pasti memilih menjadi prajurit kerajaan atau masuk ke sekte bintang," ucap Radit dengan nada ketus.
Sementara itu di atas arena.
Vincent melihat serangan Nagato dengan penuh waspada dan bersiap menyambut pukulan berenergi kuat tersebut.
"Terimakasih... Aku begitu senang, karena pukulanmu cocok untuk menjajal teknik baruku," ucap Vincent. Meski begitu ia tidak langsung menggunakan kekuatan maksimal pada teknik barunya ini.
"THROWING STYLE: SOARING THE WOODEN DRAGON"
Raung tak kalah menyeramkan terdengar bersamaan dengan munculnya naga kayu yang melesat menyambut pukulan naga bumi milik Nagato. Semua orang yang menyaksikannya takjub dan melihat fenomena yang Vincent ciptakan
BAMM
DUARR
Dua pukulan yang saling bertemu menciptakan suara ledakan besar sampai membuat arena lima hancur berkeping-keping.
"Siapa yang menang?" Penonton bertanya-tanya karena pandangan mereka terhalang oleh debu berterbangan.