NovelToon NovelToon
GADIS POLOS MILIK MAFIA KEJAM

GADIS POLOS MILIK MAFIA KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elizabeth antika

Seorang gadis polos/biasa (kemungkinan Tika) secara tidak sengaja terlibat dengan seorang bos mafia atau pria berkuasa yang kejam/dingin (kemungkinan Robert).
Keterlibatan ini bisa karena hutang, perjodohan paksa, atau insiden tertentu.
Awalnya, Robert bersikap kasar, kejam, atau dingin, namun seiring berjalannya waktu, sifat polos Tika meluluhkan hati Robert, dan ia mulai memanjakan Tika habis-habisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elizabeth antika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33 kota jinga

 Ia melirik mixer kecil di sudut dapur. "Dan jangan membuat remah-remah di mana-mana. Aku benci kotor."

Robert berbalik, melangkah menuju pintu keluar apartemen.

 Dua pengawal berbadan besar sudah menunggu di dekat lift.

Tika mematung, menatap amplop cokelat di samping mug kopinya, dan kemudian pada punggung Robert yang menghilang.

Tika merasa dadanya sesak. Robert, si Mafia kejam yang dingin, ternyata memberinya uang belanja dan... sebuah nasihat untuk keselamatan? Atau itu sebuah ancaman terselubung?

Ia mengambil amplop itu, merasa tangannya sedikit gemetar.

Robert membenci kotor, tapi ia tidak membenci dirinya.

Tika menggigit bibirnya. Ia tahu, tinggal bersama Robert adalah seperti berada di atas bom waktu.

Tapi di pagi yang dingin ini, ia merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang hangat dan berbahaya, mulai merayap pelan di antara jarak yang

Setelah kepergian Robert, apartemen penthouse itu terasa sunyi, namun anehnya, terasa lebih luas dan mencekam.

 Robert membawa pergi semua bahaya bersamanya, tetapi ia juga meninggalkan kekosongan.

Tika mencoba mengusir pikiran aneh itu.

Ia adalah karyawati biasa, dan hari ini adalah hari presentasi proyek besar.

Ia harus fokus.

Ia mandi, berpakaian, dan bersiap-siap. Saat ia hendak menyambar tasnya, matanya tertuju pada amplop cokelat dari Robert.

Ia membukanya. Isinya bukan hanya uang, tetapi ada secarik kertas kecil yang terselip di antaranya.

Tulisannya cepat dan tegas, hanya dua kata: “Pintu belakang.”

Pintu belakang? Tika memutar otak.

 Apartemen ini memang memiliki pintu darurat di belakang dapur, yang mengarah ke tangga layanan.

Robert tidak pernah mengizinkannya mendekati area itu.

Tika bergidik. Ini bukan sekadar jaga-jaga, ini adalah peringatan. Sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Ia memasukkan kertas itu ke saku celana kerjanya.

Tika tahu ia tidak bisa bertanya lebih jauh, tapi naluri bertahan hidupnya mengatakan ia harus mematuhi peringatan itu.

Tika melalui hari kerjanya dengan perasaan gelisah.

 Presentasinya sukses, tetapi pikirannya terus tertuju pada mata kelabu Robert dan perintahnya yang singkat. Ia pulang lebih awal dari biasanya.

Saat Tika tiba di lobi mewah, dua pengawal Robert, yang biasanya berdiri tegap seperti patung, tidak ada.

Keheningan yang tak biasa langsung menyergapnya.

Jantung Tika mulai berdebar kencang. Ia segera menekan tombol lift ke lantai teratas.

Saat pintu lift terbuka, Tika disambut oleh pemandangan yang membuat darahnya surut.

Pintu utama apartemen mereka, yang terbuat dari baja tebal, telah dibongkar paksa.

 Engselnya rusak, dan serpihan kayu serta besi berserakan di lantai.

Di dalam, ruang tamu minimalis Robert yang biasanya rapi kini berantakan.

Bantal-bantal sofa terlempar, lukisan abstrak di dinding miring, dan yang paling mengerikan, ada noda gelap seperti bekas cairan yang mengering di karpet Persian mahal.

Ini pasti ulah Mafia lain.

Kaki Tika lemas. Ia tidak memikirkan barang-barangnya. Ia hanya memikirkan Robert.

Apakah Robert baik-baik saja? Apakah noda itu miliknya?

Tiba-tiba, ia teringat pesan di kertas: “Pintu belakang.”

Tika memaksa dirinya untuk bergerak.

Ia menyelinap masuk melalui celah pintu yang rusak dan langsung menuju dapur.

 Sesuai pesan Robert, ia membuka pintu darurat di belakang pantry.

Pintu itu terbuka ke tangga layanan yang gelap dan berdebu.

Tika menuruni dua anak tangga, dan di sana, tersandar di dinding kotor, ia menemukannya.

Robert.

Ia tidak mengenakan setelan jasnya yang rapi lagi.

 Ia hanya mengenakan kemeja putih yang kini robek di bahu dan lengannya.

Darah segar mengalir deras dari luka tusukan di sisi tubuhnya, membasahi kemeja dan celana panjangnya.

Ia memegang sebuah handuk kecil yang sudah merah pekat, berusaha menahan pendarahan.

Robert mengangkat kepala perlahan. Matanya—mata kelabunya yang biasanya dingin dan cuek—kini memancarkan rasa sakit yang dalam dan keputusasaan yang samar.

"Kau kembali," bisiknya, suaranya lemah dan parau, terdengar seperti suara serak yang bergesekan dengan batu. Ia nyaris tidak bisa bicara.

Tika menjatuhkan tasnya. Ia berlari menghampirinya tanpa mempedulikan bau anyir darah.

"Ya Tuhan, Robert! Apa yang terjadi?" Tika berlutut di sampingnya.

"Aku harus memanggil ambulans!"

"Jangan." Robert mencengkeram lengan Tika dengan kekuatan yang mengejutkan.

 Cengkeraman itu dingin, penuh peringatan.

 "Jangan. Panggil. Ambulans."

Ia terbatuk, darah menyembur sedikit di sudut bibirnya.

"Mereka... mencariku. Kalau kau memanggil ambulans, mereka akan tahu di mana aku."

"Tapi kau berdarah! Kau akan mati di sini!"

 Tika merasakan air mata mulai memanas di matanya. Rasa cuek yang selama ini ia jaga runtuh seketika.

Robert memejamkan mata sebentar, mengumpulkan kekuatannya.

 "Aku perlu... disembunyikan. Kau harus membawaku ke... kamarmu."

Tika tertegun.

Kamarnya adalah satu-satunya tempat di apartemen itu yang benar-benar menjadi miliknya, ruang kecil yang ia kunci dengan hati-hati setiap malam.

"Tapi..."

"Tika," Robert memanggil namanya dengan nada berat, yang terdengar lebih intim dan mendesak dari yang pernah ia dengar.

"Kau adalah satu-satunya kesempatan yang kumiliki."

Tatapan mata kelabu itu tidak lagi cuek. Itu adalah tatapan seorang pria yang mempertaruhkan nyawanya pada seorang wanita yang bahkan tidak ia anggap teman..

Melihat keputusasaan di mata pria itu, Tika tidak bisa menolak.

 Robert adalah bahaya, ya, tapi saat ini, ia adalah pria yang terluka dan membutuhkan pertolongan.

"Baik," kata Tika, suaranya bergetar tetapi tegas.

"Aku akan membantumu. Tapi kau harus lakukan apa yang kukatakan."

Dengan susah payah, Tika menyangga tubuh Robert yang jauh lebih besar dan berat darinya.

Robert menyandarkan sebagian besar bobotnya padanya.

Setiap langkah terasa seperti memanggul beton. Darah Robert menodai pakaian Tika, tetapi ia tidak peduli.

Mereka bergerak lambat, menyusuri koridor yang rusak, menghindari pintu utama.

 Tika membuka pintu kamarnya, memasukkan Robert ke dalam, lalu segera menguncinya.

Ia membaringkan Robert di atas kasur lipatnya yang kecil.

 Robert langsung ambruk, napasnya memburu.

Tika bergegas ke kamar mandi, mengambil kotak P3K dan alkohol. Saat ia kembali, Robert menatap langit-langit, wajahnya pucat.

"Kenapa... kau menolongku?" Robert berbisik.

Tika merobek kemeja Robert untuk melihat lukanya. Luka itu dalam.

"Karena..." Ia menahan suaranya agar tidak bergetar.

 "Karena aku tidak terbiasa meninggalkan orang yang sekarat di tangga layanan, Robert."

Tika mulai membersihkan luka itu.

 Robert menggertakkan giginya menahan sakit. Untuk pertama kalinya, Tika melihat kerapuhan di balik benteng baja Robert.

Dalam keheningan kecil di dalam kamar yang terkunci itu, dua dunia mereka tidak lagi terpisah oleh keacuhan.

 Mereka dipersatukan oleh darah, bahaya, dan sebuah janji tak terucapkan untuk bertahan hidup.

Kamar Tika, yang kecil dan penuh dengan buku, sketsa desain, dan peralatan memasak, kini menjadi tempat persembunyian seorang pria paling berbahaya di Jakarta. Robert terbaring tak berdaya di kasur lipatnya yang empuk, membuat ruangan itu terasa sempit sekaligus penuh tekanan.

1
Ning Dhiroh
Hebat banget, thor ini pintar bikin pembaca penasaran!
Rini Antika: Thank You 😊😊akan ada part selanjutnya
total 1 replies
Rubí 33-12
Oke bangett
Rini Antika: terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!