NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Di Medan Perang

Lahir Kembali Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Seorang pria modern yang gugur dalam kecelakaan misterius terbangun kembali di tubuh seorang prajurit muda pada zaman perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Meskipun tentara Belanda melawan sekuat tenaga, laskar Republik menyerbu seperti gelombang pasang. Dalam hitungan menit, barisan pertahanan Belanda di jembatan pecah, dan kedua pihak terjerat dalam pertempuran jarak dekat.

Jika sebelumnya mereka hanya saling menembak dari jauh, maka kali ini, pertarungan bayonet dan tangan kosong menjadi ujian kemanusiaan.

Bima menolak dalam hatinya. Lawan di hadapannya hanyalah seorang prajurit asing yang bahkan tidak dikenalnya. Tidak ada kebencian pribadi, namun sekarang keduanya harus memutuskan hidup atau mati.

Namun Bima tahu, inilah perang. Rasa kasihan dan keraguan hanya akan membuatnya mati. Terlebih, tentara Belanda di depannya sudah menukar magasin senapan mesin ringannya.

Dengan teriakan keras, Surya menancapkan bayonetnya ke dada lawan. Ia bisa merasakan gesekan kasar antara logam dengan tulang rusuk, getarannya membuat tangannya hampir melepas senapan.

Namun ia bertahan. Ia harus bertahan. Dalam kepalanya ia terus mengulang satu hal: kalau aku ragu, aku mati.

Tentara Belanda itu merintih dan spontan memeluk tubuh Surya, mencoba meraih apa pun karena rasa sakit yang teramat. Surya bisa melihat keputusasaan itu di matanya.

Surya menggertakkan gigi, menendang keras dada lawan hingga tubuh itu terhempas ke tanah. Ia mencabut bayonetnya yang sudah berlumuran darah.

Di telinganya seakan ada dua suara:

Yang pertama lirih, penuh iba, menyesal, hampir menangis.

Yang kedua dingin, rasional, berdarah: ini perang, bertahanlah.

Dan suara kedua itulah yang akhirnya menang.

Surya melangkah lagi, menghantamkan bayonet ke punggung seorang Belanda yang sedang mencekik kawannya. Lawan itu jatuh tersungkur, sementara kawannya yang hampir tercekik bisa bernapas kembali.

Tidak ada aturan di sini. Serangan diam-diam, tikaman dari belakang semua sah. Bersimpati pada musuh berarti kejam pada diri sendiri.

Bima terus meyakinkan dirinya: Aku harus melakukannya. Aku harus hidup.

Tiba-tiba, seorang tentara Belanda menyerbu ke arahnya dengan bayonet terhunus. Refleks, Surya mengangkat senjatanya dan menarik pelatuk.

“Bang!”

Peluru menembus kepala lawan, dan tubuh itu ambruk seperti balon yang bocor.

Sebelumnya Surya percaya ucapan orang tua-tua pejuang bahwa menembak jarak dekat sering keliru mengenai kawan sendiri. Tapi sekarang ia tahu, itu hanya omong kosong. Dalam jarak segini, yang ada hanyalah naluri bertahan hidup. Kau hanya peduli satu hal: bunuh atau terbunuh.

Akhirnya, Belanda mulai mundur. Mereka terdesak ke tengah jembatan, berharap bisa menyeberang dan bertahan di sisi lain. Namun kenyataannya lebih kejam laskar juga sudah menekan dari arah seberang.

Tentara Belanda menumpuk di dek jembatan yang sempit. Rentetan senapan mesin dari dua arah membuat mereka berguguran seperti batang padi saat panen. Darah mengalir deras ke celah papan jembatan, menetes ke sungai dan terbawa arus ke hilir.

Perlahan, suara tembakan dan jeritan berkurang.

Kini para pejuang lebih berhati-hati. Mereka tahu, sisa suara tembakan bisa saja berasal dari kawan sendiri.

Dari arah belakang, Mayor Wiratmaja muncul dengan terompet kecil di tangannya. Ia meniup nyaring, lalu berteriak ke sisi lain jembatan:

“Saya Kapten Wiratmaja, komandan laskar Lempuyang! Siapa di sana?”

Suara gembira menjawab dari seberang, “Saya Komandan Zulfan, Laskar Tugu! Kawan-kawan, kita berhasil!”

Sorak sorai meledak. Laskar dari dua sisi berlari ke tengah jembatan, berpelukan erat, ada yang menangis, ada yang tertawa. Bahkan Surya, yang masih gemetar dengan darah menempel di tangannya, ingin ikut menangis dan memeluk kawan seperjuangannya.

Hanya mereka yang pernah melewati neraka pertempuran dan kemudian bersatu kembali yang benar-benar bisa merasakan arti kemenangan itu.

Namun tentu saja, ini bukan akhir dari penderitaan.

“Komandan Zulfan!” Mayor Wiratmaja bergegas melapor, “Rencana kita berubah. Belanda sudah tahu jalur utama kita ke utara, mereka sudah pasang penyergapan di sana. Karena itu, kita harus menerobos lewat tengah kota, langsung menuju benteng mereka di sisi lain sungai!”

Pernyataan Mayor Wiratmaja membuat Komandan Zulfan dan para laskar tertegun.

Awalnya mereka mengira operasi ini hanya untuk merebut jembatan dan menahan Belanda sementara, bukan untuk menerobos jauh ke dalam kota.

Komandan Zulfan mengernyit. “Kau bilang terobosan? Ke mana arahnya?”

Mayor Wiratmaja mengeluarkan peta lusuh dari sakunya. Di bawah cahaya temaram lampu karbit, ia menunjuk sebuah titik.

“Di sini. Di belakang gereja lama Kotabaru. Menurut informasi dari Pak Petrus warga setempat yang diam-diam membantu kita Belanda hanya menaruh satu peleton kecil di sana. Sebagian besar pasukan mereka berjaga di benteng dan jembatan utama.”

Zulfan menatap lekat-lekat peta itu, lalu mengangguk pelan. “Masuk akal. Belanda tidak menyangka kita bisa menyeberangi sungai malam-malam begini. Fokus pertahanan mereka ada di pusat benteng dan jalur utama. Daerah pinggir seperti ini memang hanya dijaga seadanya.”

Memang benar. Tentara Belanda cukup banyak, tapi wilayah yang harus mereka kawal di Yogya juga luas. Mereka harus menjaga benteng Vredeburg, pusat administrasi, gudang logistik, juga jalan utama ke luar kota. Untuk pinggir sungai, mereka hanya menaruh pasukan kecil sebagai penjaga. Fungsinya pun lebih sebagai mata-mata: kalau ada tanda laskar menyeberang, tugas mereka hanya melapor dan menunggu bala bantuan.

Sebelumnya hal itu tidak jadi masalah, karena laskar dianggap tak punya cukup peralatan untuk menyeberangi sungai besar di malam hari.

Tapi kini situasinya berbeda. Setelah kekuatan laskar dari Lempuyang dan Tugu bergabung, mereka punya cukup orang untuk menekan musuh sekaligus berani mencoba menyeberang.

“Kita kekurangan rakit atau perahu untuk menyeberang!” kata Komandan Zulfan ragu.

“Kami sudah siapkan,” jawab Mayor Wiratmaja sambil memberi isyarat. Tak lama kemudian, sekelompok laskar muncul dari balik pepohonan dengan membawa rakit bambu yang sudah diikat erat dengan tambang. Ada juga beberapa batang pohon kelapa yang bisa dijadikan alat apung darurat.

Zulfan tersenyum puas, lalu menepuk bahu Wiratmaja. “Bagus sekali, Mayor. Jujur saja, tadi aku khawatir rencana ini hanya gertakan belaka. Tapi ternyata kau sudah memikirkannya matang. Dengan cara ini, peluang kita menembus jantung kota benar-benar terbuka.”

Mayor Wiratmaja tertawa kecil. “Komandan mungkin tak percaya, tapi sebenarnya bukan aku yang mengusulkan rencana ini."

1
RUD
terima kasih kak sudah membaca, Jiwanya Bima raganya surya...
Bagaskara Manjer Kawuryan
jadi bingung karena kadang bima kadang surya
Nani Kurniasih
ngopi dulu Thor biar crazy up.
Nani Kurniasih
mudah mudahan crazy up ya
Nani Kurniasih
ya iya atuh, Surya adalah bima dari masa depan gitu loh
Nani Kurniasih
bacanya sampe deg degan
ITADORI YUJI
oii thor up nya jgm.cumam.1 doang ya thor 3 bab kekkk biar bacamya tmbah seru gt thor ok gasssss
RUD: terima kasih kak sudah membaca....kontrak belum turun /Sob/
total 1 replies
Cha Sumuk
bagus ceritanya...
ADYER 07
uppppp thorr 🔥☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!