𝐌𝐞𝐠𝐮𝐦𝐢 𝐘𝐮𝐞, 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐤𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐤𝐡𝐮𝐬𝐮𝐬 𝐝𝐢𝐛𝐮𝐫𝐮 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐨𝐫𝐠𝐚𝐧𝐢𝐬𝐚𝐬𝐢 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐝𝐚𝐦𝐩𝐚𝐫 𝐝𝐢 𝐭𝐞𝐩𝐢 𝐬𝐮𝐧𝐠𝐚𝐢. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚, 𝐬𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐝𝐞𝐬𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐜𝐮𝐫 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐫𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐫𝐮𝐧𝐲𝐚. 𝐓𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐭𝐮𝐧 𝐗𝐢𝐚𝐨 𝐋𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐘𝐮𝐞 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐤𝐚𝐩𝐚𝐫. 𝐈𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐤𝐭𝐞 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫 𝐝𝐢 𝐁𝐞𝐧𝐮𝐚 𝐃𝐚𝐭𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐩𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝐏𝐮𝐥𝐚𝐮 𝐄𝐬.
𝐒𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐛𝐚𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐚𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐤𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐛𝐚𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐚𝐭𝐚 𝐣𝐢𝐰𝐚 𝐝𝐞𝐰𝐚. 𝐃𝐮𝐠𝐚𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐧𝐤𝐚𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐞𝐰𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐭𝐮𝐧 𝐘𝐮𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑾𝒆𝒍𝒂𝒔 𝑨𝒔𝒊𝒉, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UBK #4 ~Menyerah Begitu Saja?!
"Kemampuan tiga jenius super memang sangat mengagumkan" celetuk An Qui ditengah hujan serangan Wei Yan.
"Apa kau menyerah? Katakan dengan lantang kalau kau menyerah!" sahut Wei Yan sedikit sinis.
"Hahaha... Sepertinya aku memang tidak bisa menang, tapi biarkan aku kalah dengan terhormat." timpal An Qui dengan mantap.
Wei Yan berdecak kesal, saat ini ia hanya ingin duduk sendiri dan menyelesaikan benang kusut di kepalanya. Sedangkan An Qui, ia tentu saja sudah mempertimbangkan kekalahannya. Namun, sebagai murid dalam ia harus kalah dengan terhormat.
KLANG!
Pedang An Qui terlempar keluar arena. An Qui menghela nafas dalam. Ia menyadari waktunya sudah habis. An Qui mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Lan Tao melompat ke atas arena menengahi keduanya.
"Baiklah, pertandingan ketiga berakhir dengan Wei Yan sebagai pemenang." seru Lan Tao mengangkat tangan kanan Wei Yan sebagai simbol kemenangan. "Jun Hua tengah dalam perjalanan menuju sekte. Jadi pertandingan berikutnya akan digantikan oleh Shiro Shota dan Ru Jie." lanjutnya menunjuk Shiro Shota dan Ru Jie di barisan penonton.
"Apa? Kenapa Jun Hua berada di luar sekte?"
"Kudengar karena ujian pertama ada yang seri, maka wasit mengumumkan bahwa ada satu murid inti yang akan menambah posisi yang kosong"
"Benar, karena satu pasangan lainnya didiskualifikasi oleh tetua. Katanya mereka sama-sama menggunakan senjata rahasia."
"Ada juga yang mengatakan bahwa beberapa murid lain diketahui menggunakan senjata rahasia."
Riuh murid-murid saling berbisik menebak situasi. Sebab dalam ujian pertama ada beberapa murid yang tertangkap menggunakan senjata rahasia setelah ujian berakhir. Hingga tanpa diduga, salah satu juara tertangkap basah ketika mereka tiba di kediamannya.
Seharusnya murid yang lolos ujian pertama berjumlah 11 orang sebab Fu Yan dan Shiro Shota berakhir seri. Namun akhirnya 2 murid lainnya tertangkap menggunakan senjata rahasia tersebut.
"Ketua, sepertinya apa yang anda khawatirkan sekarang benar-benar terjadi" celetuk Jiang An melirik Qin Ming.
"Huffttt.....Kita tidak punya pilihan lagi, memasukkan murid inti dalam ujian memang sedikit keterlaluan. Tapi kekosongan posisi akan lebih merugikan bagi peserta lainnya." jawab Qin Ming dengan tegas.
"Tapi, ketua, yang menjadi lawannya adalah muridku." timpal Xiao Li yang kini duduk tetap disamping Qin Ming.
Jiang An dan Qin Ming menoleh bersamaan seraya mengerutkan keningnya. "Ada apa denganmu?!" tanya keduanya serempak.
"Y-yah... Ti-tidak apa-apa. Aku hanya memberi tahu ketua saja, hehehe." sahut Xiao Li cengengesan. "Memangnya apa yang aneh dengan ucapanku?!" lanjutnya bertanya dengan polosnya.
"Kau aneh!" jawab keduanya kembali bersamaan.
Xiao Li tercekat mendapat jawaban mereka. Xiao Li tidak menyadari bahwa sejak awal dirinya menginginkan Yue untuk berpartisipasi dalam misi besar, namun kali ini Xiao Li malah memberikan komentar atas keputusan ketua untuk mebuat Yue melawan murid inti.
Qin Ming dan Jiang An menggelengkan kepalanya bersamaan dan kembali menatap arena. Pertandingan Shiro Shota dan Ru Jie sudah berlangsung.
Shiro Shota bertarung dengan penuh semangat, ia melesat kesana kemari menghujani Ru Jie dengan jurus-jurus yang ia kuasai. Ru Jie pun tidak mau kalah, ia menebas jurus demi jurus yang datang padanya dengan gesit.
"Senior, mohon jangan menahan diri. Bimbinglah aku dalam pertandingan ini." ujar Shiro Shota.
"Tidak, kemampuanmu memang cukup bagus. Kau bahkan mampu mengimbangi Fu Yan, aku tidak berani bermain-main atau aku akan kalah sejak pertandingan dimulai.
Shiro Shota tersenyum tipis, ia menyadari tindakannya di ujian pertama menimbulkan dampak yang seperti ini. Karena terlalu khawatir, nafas Shiro Shota menjadi tidak terkontrol. Ia mencoba menenangkan diri, ia sadar bahwa mereka yang berada dibawah status jenius bukan berarti mereka lemah.
Ru Jie mencoba berbalik menyerang Shiro Shota, ia mengincar titik vitalnya untuk membuatnya menyerah. Namun dengan lihainya Shiro Shota menepis tusukan demi tusukan yang diarahkan Ru Jie.
Shiro Shota melompat ke udara mencoba mengerahkan kekuatan penuhnya dalam jurus tersebut. Menyadari apa yang akan dilakukan Shiro Shota, Ru Jie melompat kesana kemari mengacaukan arah pandang Shiro Shota padanya. Dengan putus asa, Shiro Shota kembali ke permukaan arena tanpa mengeluarkan jurus.
"Shiro, jurus yang sama tidak akan mampu membuatmu berkembang. Aku menonton pertandingan dari awal, langkah kakimu masih terlihat kaku. Lalu cobalah menggunakan cara lain dalam penggunaan teknik." seru Ru Jie ketika keduanya berhadapan.
"Ahh.. Benar, aku masih perlu belajar. Terimakasih atas petunjuknya, namun pertandingan kita belum selesai" sahut Shiro Shota dengan raut wajah heran.
Bukan tanpa sebab, Ru Jie tampak menyimpan pedangnya kembali di tengah pertandingan. Siapapun pasti tahu sikap tersebut hanya dilakukan ketika mereka hendak menyerah dalam pertandingan.
"Ohh?! Aku menyerah!" ujar Ru Jie dengan wajah polosnya mengangkat kedua tangannya.
Murid-murid dan para tetua yang menonton pertandingan tercengang dengan apa yang dilakukan Ru Jie. Pertandingan baru dilakukan beberapa menit yang lalu, namun Ru Jie sudah menyerah begitu saja.
"Ada apa senior? Apa anda tidak puas bertarung denganku karena aku terlalu lemah?" tanya Shiro Shota benar-benar tidak habis fikir.
'Apa yang dipikirkan Senior Ru Jie? Disaat yang lain mati-matian berjuang untuk menjadi juara, ia malah menyerah begitu saja di babak kedua?!' batin Shiro Shota terheran-heran.
Para tetua mungkin memahami tindakan Ru Jie. Namun berbeda dengan murid-murid lainnya yang minim pengalaman, mereka cenderung berfikiran sama seperti apa yang Shiro Shota fikirkan.
"Ahhh... Yaahh... Sulit untuk menjelaskannya, anggap saja aku tidak mengejar posisi tiga teratas. Itu mustahil, hahaha..." sahut Ru Jie mengangkat kedua bahunya. "Saat waktunya tiba, kau akan mengerti apa yang aku lakukan. Lagi pula Senior Jun Hua sudah tiba. Mempersingkat waktu lebih baik." lanjutnya menepuk pundak Shiro Shota yang termenung ditempatnya.
Mendengar ucapan Ru Jie, mata semua orang tertuju pada pintu masuk paviliun, dimana seorang pria bertubuh tinggi tengah berjalan. Wajah tampannya membuat para gadis terdiam mematung, tak sanggup berkata-kata.
Bahkan Yue ikut terpesona memandang Jun Hua yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Mereka tak menghiraukan pengumuman yang tengah diberikan oleh Lan Tao.
Jubah biru muda dengan corak bunga lotus di tengah kedua pedang yang bersilang menghiasi jubahnya. Pedang berwarna serupa menggantung di pinggang Jun Hua. Yue benar-benar terpaku memandang Jun Hua tanpa berkedip sekalipun.
Melihat reaksi Yue, Chen Qin merasa tersaingi. Tidak pernah sekalipun Yue memandangnya seperti itu, bahkan Wei Yan bereaksi serupa dari kejauhan.
"E-ekhemm... Tolong Senior Jun tidak menghalangi pandangan Adik Yue" dehem Chen Qin memecahkan keheningan.
Pipi Yue sedikit memerah, ia segera menunduk mendengar teguran Chen Qin. Jun Hua meminta Fu Yan untuk membiarkannya duduk disamping Yue, Chen Qin memberi kode agar Fu Yan tetap tinggal. Namun ia sadar diri tidak akan sanggup melawan kehendak Jun Hua.
gaspooool pokoke up nya 🤗🤗👍☕😇
💪💪☕💪💪