NovelToon NovelToon
Istri Kedua

Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: gustinara

Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32 MENYADARI KESALAHAN YANG SAMA

Anggara dan keluarga sudah sampai di lokasi lahan yang akan perusahaannya akan beli. Disana juga sudah berdiri beberapa batang pohon kelapa sawit.

Anggara dan Bintara berkeliling sebentar dengan pak Cipto orang yang akan menjual lahannya pada perusahana Gibson. Sedangkan Luna dan Lia duduk bersama di pinggiran sembari mengasuh sikembar. Keduanya saling memperhatikan kedua suaminya berkeliling dari jauh.

"Gimana? Anggara baik kan?" tanya Lia pada Luna yang sedang mendatap Anggara.

"Eh, ba-baik kok bule" ucap Luna.

"Awalnya bule mengira kamu wanita yang antagonis gitu, ternyata kamu baik dan hangat juga penyayang sama anak-anak. Adelio betah digendong sama kamu" ucap Lia. Luna hanya bisa tersenyum.

"Anggara pertama kali loh bawa istri ke acara keluarga. Biasanya dia sendirian aja." ucap Lia, Luna membulatkan mulutnya.

"Dilihat-lihat juga kamu lebih baik lah dari Silvi. Maaf ya aku menilai kamu terlalu dini" ucap Lia menyesal.

"Maksudnya bule?" tanya Luna penasaran. Lia terlihat menhela nafasnya sebentar.

"Kakak iparku, mertuamu itu ingin banget punya cucu. Dan Silvi belum siap buat program katanya" ucap Lia. Luna mendengarkan dengan seksama.

"Ngertikan maksud bule? Bukan menyuruh kamu bersaing dengan Silvi, tapi kalau kamu hamil mungkin mertuamu bakal lebih bahagia dan Anggara juga" ucap Lia. Jujur Luna sangat tidak mengerti topik pembicaraannya ini. Yang ia tahu hanya Lia menyuruhnya agar cepat hamil dan itu membuat semburat merah dipipi Luna.

"Aduh pengantin baru memang ya.. Jangan malu gitu Lun" ucap Lia sembari tertawa. Luna hanya tersipu malu.

"Ohiya bule, susah enggak rawat sikembar sekaligus begini?"

"Susah susah gampang sih Lun. Sampe bule juga harus punya asisten buat bantu sedikitnya" terang Lia dan Luna mengangguk paham.

"Memangnya kamu gak mau gitu punya anak Lun?" tanya Lia.

"Mau banget bule, apalagi kalau kembar. Sekaligus dua kan hihi" jawab Luna antusias.

"Mmm mau tahu sesuatu gak?" ucap Lia.

"Apa tuh bule?"

"Tips biar anak mu kembar" ucap Lia dan menyuruh Luna untuk mendekatkan telinganya. Lia membisikan sesuatu sampai wajah Luna matang memerah bebarengan dengan Anggara yang datang bersama Bintoro. Keringat didahi Anggara membuat ketampanannya menjadi bertambah bagi Luna.

"Ih bule.." ucap Luna kepada Lia dan Lia hanya tertawa.

"Kamu sakit?" tanya Anggara yang melihat wajah Luna memerah.

"Hah, umm enggak mas" ucap Luna.

"Itu wajah kamu merah gitu, nih minum" ucap Anggara sembari menyodorkan botol air mineral bekasnya. Luna langsung menyambar botol tersebut dan meminumnya.

"Kamu kepanasan ya?" ucap Anggara lagi. Saat Luna akan bersuara, Lia malah lebih dulu.

"Iya tuh mas kepanasan pengen punya dedek bayi" ucap Lia. Luna langsung mematung tak karuan. Adelio yang berada di pangkuannya ikut tertawa melihat orang tuanya tertawa.

"Iya nanti kita bikin." ucap Anggara yang menggoda Luna. Langsung tawa semuanya pecah kecuali Luna yang menunduk menahan malu.

Setengah jam mereka terjalin obrolan ringan. Bintara dan istrinya tak henti-henti menggoda keponakannya. Berbeda dengan Luna yang salah tingkah, Anggara terlihat sangat menikmati obrolan itu.

Setelah dari sana, mereka melanjutkan perjalanan ke pusat perbelanjaan di Palembang. Karena merasa lelah untuk berkeliling, Anggara dan Bintara memilih untuk diam di cafe dan menjaga sikembar. Kebetulan juga Adelio tertidur.

Luna dan Lia yang akan berkeliling. Anggara memberikan kartu kredit miliknya untuk dipakai oleh Luna. Asalnya Luna tidak mau menerima, tetapi aktivitas mereka disaksikan oleh paman dan bibinya.

Dua ibu rumah tangga itu memasuki toko pakaian pesta. Lia sangat suka belanja dan tahu fashion, apalagi melihat tubuh ramping Luna. Dirinya gatal ingin memilihkan.

"Luna coba yang ini, bahannya adem" ucap Lia. Ini sudah keempat kalinya Luna mencoba pakaian.

Sedangkan di cafe, Anggara terlibat obrolan sedikit serius dengan pamannya. Bintara sempat menyimpan tanya dari awal. Mengapa keponakannya ini ingin berpoligami. Dan akhirnya Anggara membuka suara, menceritakan semuanya pada pamannya itu. Paman yang paling dekat dengan Anggara memang dirinya.

"Jadi kamu nikah itu biar Silvi kapok begitu?" tanya Bin meyakinkan. Anggara mengangguk dan meminum sisa jus mangganya.

"Terus kamu dengan Silvi bagaimana?" ucap Bintara.

"Kami baik-baik aja. Bahkan Silvi nerima kalau aku udah terlanjur poligami. Kasian juga Luna yang lagi kesusahan buat biaya orang tuanya"

"Tapi tetap aja dia itu istri kamu Ngga. Malah pakle lihat mah Luna better dari Silvi. Maaf bukan mau membandingkan tapi--"

"Jadi Angga harus gimana pakle? Cerai begitu?"

"Bukan begitu juga Le. Kamu selidiki lagi lah, dengar kata bundamu itu." ucap Bin. Anggara terlihat menarik nafasnya dalam.

"Yaudah aku bakal selidiki lagi kalau begitu" ucap Anggara. Bintara mengangguk.

"Kamu ingat tadi cerita pak Cipto? Kadang dia merasa bersalah melihat wajah istri masing-masing. Tapi karena dua-duanya ikhlas, maka semua berjalan dengan baik. Coba dekati Luna dengan anggapan bahwa dia memang benar-benar istri kamu juga."

"Tapi alasan aku menikah juga karena iba"

"Kamu bayangkan deh kalau punya anak perempuan dibegitukan seperti Luna. Dijamin ayahnya Luna gak akan terima. Perceraian itu hal yang dibenci oleh Allah. Apa salahnya mencoba"

"Nanti gimana sama Silvi?"

"Kamu tuntun dia pelan-pelan. Udah resiko kamu toh, pakle gak mau jadi paman yang tidak mengingatkan keponakannya."

"Nanti Angga bakal coba ya pakle."

Semoga saja kamu menemukan titik terang le. Batin Bintara.

"Ohiya waktu itu pakle ke Bandung kan? Ngapain?"

"Oh.. pakle ada kopdar di Bandung sama anak mobil pakle. Pakle juga LIHAT Silvi di cafe titik kumpul tapi gak tahu juga beneran dia atau bukan"

'Hah? Serius?"

"Iya, tapi sama cewe kok tenang" ucap Bintara. Anggara mengangguk.

Tapi pakle juga tau yang lain Ngga. Maaf pakle gak mau jadi perusak. Batin Bintara.

Luna sudah beres dengan kostumnya untuk malam ini. Mereka berdua melanjutkan acara belanjanya ke toko lain untuk membeli oleh-oleh. Langkah Luna terhenti di salah satu  toko kain songket. Seketika mata Luna berbinar melihat betapa indahnya kain-kain ini.

"Mbak jalan kesitu dulu yu" ucap Luna. Lia mengangguk.

Luna memilih beberapa kain yang harganya memang terhitung mahal hingga jutaan. Lia juga menyarankan untuk oleh-oleh dari Palembang adalah kain.

Setelah semuanya terbeli dan kedua tangan mereka sudah penuh, mereka memutuskan untuk kembali ke cafe dimana para suami menunggu. Anggara melihat ke arah Luna yang kelelahan membawa banyak barang bawaan dari jauh. Dengan sigap Anggara menghampirinya dan membantu keduanya untuk membawakan barang-barang tersebut.

"Ini beli apa aja Lun?" tanya Anggara terheran.

"Kita sekalian beli pempek disini tadi. Dari pada harus berenti-berenti lagi" ucap Lia. Anggara mengangguk paham.

Dua keluarga itu sudah tiba dihotel tempat mereka menginap. Anggara dan Luna pun sudah tuntas membawa barang-barang Luna kekamar. Langsung Luna menggantungkan kebaya berwarna hijaunya dan rok songketnya agar tidak kusut.

"Ini kebaya yang bakal kamu pake?" Anggara melihat warna kebaya itu.

"Iya mas"

"Wah saya juga kebetulan bawanya batik hijau loh Lun" ucap Anggara.

"Ohiya? Ini bule yang pilihkan" ucap Luna. Anggara sedikit sedih karena bukan Luna yang memeilih sendiri dan kebetulan warnanya serasi.

"Mas mau mandi duluan?"

"Mau istirahat dulu sebentar" ucap Anggara sembari mencoba merebahkan tubuhnya di sofa.

"Yaudah.. Kalau gitu aku mandi duluan ya" ucap Luna.

"Kamu gak cape?" Tanya Anggara.

"Sedikit mas"

"Yaudah istirahat dulu. Masih siang juga ko ini" ucap Anggara. Akhirnya Luna megangguk pasrah dan duduk di samping Anggara sembari memainkan ponselnya yang belum sempat ia cek.

Anggara memperhatikan Luna yang tersenyum sendiri. Ia teringat bahwa ada lelaki lain yang mengirim pesan kepada Luna tadi pagi.

"Lun.."

"Iya?"

"Bisa mijit?" tanya Anggara.

"Bisa, kenapa mas?" kini Luna menatap Anggara.

"Bahu aku pegal" ucap Anggara yang berpura-pura merintih. Sebenarnya bahunya baik-baik saja, hanya saja ia tak suka melihat Luna tersenyum oleh lelaki lain. Ntah mengapa dirinyapun tak mengerti.

"Ohiya? Yaampun" ucao Luna mengkhawatirkan. Langsung saja Luna meletakan ponselnya dan mulai memijit pundak Anggara. Anggara tersenyum puas.

Seketika Luna dan Anggara saling diam. Mereka menikmati waktu kebersamaan yang hangat ini. Hati keduanya menghangat dan degup jantungnya berirama kencang. Tapi Anggara takut terjadi kecanggungan, makanya ia memikirkan topik pembahasan untuk mengobrol.

"Ayah kamu baik-baik aja Lun?"

"Alhamdulillah mas. Sekarang pengambilan darahnya udah pindah ke leher" ucap Luna.

"Kamu itu cuma dua bersaudara?"

"Iya."

"Sama kalau begitu ya"

"Iya cuma saya anak bungsunya"

"Tapi kamu gak keliatan kayak bungsu ah" ucap Anggara. Luna mengerutkan dahinya bingung.

"Memangnya aku kelihatan kayak gimana?" ucap Luna yang masih terfokus pada pijatannya.

"Gak kayak gimana-gimana sih. Cuma kan anak bungsu tuh biasanya manja, gak mau kalah dan lain lain. Kayak Adit" ucap Anggara. Luna langsung tertawa.

"Eh serius, saya juga pernah pacaran sama cewek yang bungsu, manjanya minta ampun" ucap Anggara. Luna langsung terdiam dan memajukan bibirnya.

Kok dia malah bahas mantan sih. Batin Luna

"Mas belum kenal aja sama aku, aku juga dulu manja sama pacar" ucap Luna tak mau kalah. Kini darah Anggara sedikit menaik.

"Tapi kan saya suami kamu, bukan pacar" ucap Anggara. Seketika jemari Luna berhenti memijat. Anggara langsung membalikkan badannya menghadap Luna.

"Luna" ucap Anggara lembut.

"Iya?"

"Ini memang diluar dugaan. Tapi kalau untuk bercerai, tuhan kita benci itu" ucap Anggara.

"Lalu?"

"Kenapa kita gak mulai hubungan yang lebih dekat? Saya mampu kok adil sama kamu dan Silvi" ucap Anggara. Luna langsung menundukkan kepalanya.

"Maksud mas Anggara apa?" ucap Luna pelan.

"Maksud saya, saya mengajak kamu untuk lebih dekat layaknya suami istri. Saya jamin kamu tidak akan kekurangan dan kurang perhatian. Oke jujur kamu tahu kan tadi kita ketemu pak Cipto? Dia punya dua istri dan aku belajar satu hal darinya. Sebagai imam yang baik dan apalagi suami sah dengan pernikahan yang baik pula, aku harus sepenuhnya bertanggung jawab. Maka dari itu saya mau kamu-- benar-benar menjadi istri saya. Bukan istri yang cuma selewat aja" ucap Anggara menegaskan.

"Walaupun awalnya kamu sebagai alat balas dendam, tapi kalau statusnya sudah istri, kamu adalah tanggung jawab saya"

"Tapi kan memang mas Anggara selama ini mempertanggung jawabkan aku. Apanya yang mau disangkal?"

"Hati. Perasaan kita. Dan ketegasan kamu sama orang lain. Tadi pagi gak sengaja saya lihat ada pesan masuk di ponsel kamu."

"Mau mas Anggara kayak gimana memang?"

"Melengkapi. Itu udah cukup Lun. Dan saya juga ngerasa nyaman kok sama kamu"

"Terus nanti perasaan bu Silvi gimana?" ucap Luna. Seketika hati Anggara seolah terhantam bola besar yang menyala.

"Jangan bahas dia, ini tentang saya, kamu dan tuhan." ucap Anggara tegas.

"Luna cuma takut aja mas"

"Takut apa?"

"Takut kalau aku udah bergantung sama mas, mas ninggalin Luna" ucap Luna menunduk.

"Insyaallah. Mas bakal mencoba adil. Kita jalanin dulu aja ya. Kamu gak takut dosa memang mempermainkan pernikahan?" ucap Anggara. Luna berfikir keras tentang itu. Mengapa Anggra menanyainya baru sekarang.

"Kontrak gimana?"

"Itu urusan belakang, kan kita coba dulu. Kalau kita memang gak cocok, baru balik lagi ke kotrak. Gimana?" ucap Anggara. Luna menghela nafasnya.

"Kalau gitu Luna bakal coba" ucap Luna. Anggara langsung tersenyum dan mengacak rambut Luna.

"Yaudah sana gih mandi. Kamu bau matahari" ucap Anggara. Lagi-lagi Luna memajukan bibirnya dan melangkah kesal ke arah kamar mandi.

Saat Anggara baru saja keluar kamar mandi, ia melihat Luna yang tengah berdandan duduk di kursi depan kaca. Ia melihat pakaian Luna yang terbuka di bagian kaki.

"Rok nya memang belah gitu?" ucap Anggara. Luna yang serius dengan bulu matanya mengangguk.

"Jangan jauh-jauh dari saya ya nanti" ucapnya. Luna terheran. Ada apa lagi dengan suaminya ini.

Satu jam bersiap, Luna sudah tuntas membereskan acara dandannya. Anggara yang menunggu Luna di sofa sangat terkesima melihat Luna yang baru saja keluar dari kamar. Namun wajah sukanya menghilang kala meilhat bagian rok Luna yang menampilkan sebelah pahanya.

"Aduh.. jangan dibuka-buka gitu" ucap Anggara menunjuk pada rok Luna.

"Ini memang modelnya begini mas" ucap Luna terkekeh. Anggara menghela nafasnya.

"Yaudah hayu lah" ucap Anggara yang langsung keluar kamar hotel. Luna merasa dirinya ditinggalkan begitu saja.

Bintara dan keluarga sudah berada di gedung lokasi pernikahan duluan. Luna dan Anggara kembali mengendarai mobil sedan milik Lia. Mereka disambut hangat oleh keluarga besar Lia.

"Oh ini istrinya mas Anggara itu" ucap ibunda Lia. Luna tersenyum.

Banyak sekali mata yang menatap Luna dengan terang-terangan. Membuat Anggara ingin cepat-cepat pergi dari ruangan ini. Tapi tidak enak juga bila dilihat oleh keluarga Lia.

Tak lepas lengan Anggara merangkul pinggang Luna dengan posesif. Luna sangat tidak nyaman dan tidak terbiasa dengan sikap Anggara seperti ini.

"Lain kali kalau ke pesta nikahan jangan pake rok yang begitu ya. " ucap Anggara berbisik. Luna akhirnya mengangguk paham. Hatinya seketika menghangat karena sikap Anggara yang posesif seperti ini. Mereka terlihat semakin dekat.

Namun belum saja acara selesai, Anggara sudah mengajak Luna untuk keluar dari gedung. Beralsan karena panas, padahal Anggara tak tahan dengan mata-mata lelaki yang menatap Luna intens. Untungnya Bintara bisa menerima alasan Anggara.

Anggara menarik lengan Luna dengan kencang ke parkiran. Sedikit meronta dan tidak terima dengan tindakan suaminya, Luna berkali-kali mencoba melepaskan genggaman kencang tersebut.

"Mas ini kenapa sih?" ucap Luna saat sudah berada di dalam mobil.

"Kenapa? Coba kamu liat ke diri kamu sendiri" ucap Anggara kesal sembari mencoba memakai safetybelt nya.

"Memangnya aku kenapa? Dari tadi juga kan dipinggir mas terus" ucap Luna tak mau kalah.

"Dandanan kamu mengundang hasrat laki-laki! Kebaya ini memang mahal tapi kamu jadi keliatan murah tau enggak?" ucap Anggara.

Luna sangat terkejut mendengar lontaran kata yang dileuarkan oleh Anggara. Wajahnya langsung memerah padam menahan amarah. Namun apa daya dirinya hanya bisa memendam dan menelan kekesalannya sendiri. Percuma juga bertengkar disini.

***

Baru juga mulai, Anggara udah galak gitu ya serem

Harap sabar yang menunggu Anggara tahu Silvi selingkuh, karena Anggara baru bergeraknya sekarang he he.

Like ya!!

tbc-

1
Amilawati
cerita versi pelakor ini,,,pelakor ttp pelakor yg menjijikan TDK ad pelakor baik, cerita ini hanya hayalan seorang pelakor
Siska Siswanto
kapan ni up-nya?
🐧 Pororo 🐧
please, jangan stop lagi yah kak 🙏
Zenecka
ah happy bgt novelnya lanjut lg... sehat selalu kaaaa /Kiss/
Yovita Sintadewi
ya selalu aku lihatin, tidak ada kelanjutannya, dah hampir 1 thn thor
Tiwik Firdaus
emang udah diurus surst cerai terus udah diserahkan kembali kepada kefua orang tuanya dan menjelaskan semuanya bahwa anak yang dikandung silvi bukan anaknya
Tiwik Firdaus
ceraikan saja silvi udah selingkuhan kamu aja katanya diselidiki kok ngak ketauan2 sekingkuh to silvi kapan terbongkarnya masak nunggu sampai lahir baru ketsuan
Tiwik Firdaus
kebanyakan mikur anggara jadi bodoh sekarang
Tiwik Firdaus
makanya jadi laki jangan diam saja seperti kambing congek selidiki yang serius mana ada wanita hamil diantar kedokteran suaminya ngak mau masuk akal ngak hadi oria bodoh banget kamu katanya pinter jadi ceo kok bodoh jadi suami
Tiwik Firdaus
jangan percaya anggara kalau kamu udah lama ngak berhubungan badan sama dia kan twrus katanya kamu mengawasi silvi tau dong kalau silvi sering ketemuan sama mantan pacarnya
Tiwik Firdaus
biasa ngak ada tampan2nya sama sekali
Qorie Izraini
karena terlalu cinta kang Angga jd begi dan labil

kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Qorie Izraini
si jalang kena karma 😀😀😀
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
Qorie Izraini
lah udah taumlm pertama ny sama silvi jln tol, msh saja cinta setengah mati, gsk bisa mov on lg.
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
Qorie Izraini
dasar jd suami kok bego amat
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
Qorie Izraini
dasar istri jalang...
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
Qorie Izraini
sombong banget kang anggara, bikang gak tertarik.ntar bucin baru tau rasa.atau....
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.
nino
thor ini upnya 2 tahun lagi ya
amalia
keren bgtt cerita nyaaa👏👏👏👏👏
amalia
apa suami nya nadine.selingkuh sm silvi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!