Shandra Hasanah, diusianya yang hampir kepala tiga selalu dikatain perawan tua dan dikatain memiliki wajah yang tidak cantik. Hingga suatu ketika ia dimintai menikah dengan mendiang suami adiknya, Athaya Besmana, karena sang adik yang bernama Alika dikabarkan mengalami kecelakaan dan Athaya sangat terpukul dengan kepergian sang istri.
Tak ingin membuat Athaya terus bersedih, orang tua Athaya justru meminta Shandra menjadi istri dari mendiang suami adiknya. Lalu, apa Shandra menerima permintaan orang tua Athaya?sementara Athaya masih sangat mencintai adiknya, Alika.
Ikuti kisah Shandra _Pemilik Hati Suamiku _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memasak
Kehidupan rumah tangga Shandra dan Atha kini jauh lebih hangat dibanding awal pernikahan mereka dulu. Tak ada lagi sikap dingin atau jarak yang dulu sering Atha tunjukkan. Lelaki itu sekarang justru memperlakukan Shandra dengan penuh perhatian, seolah istrinya adalah sosok paling berharga dalam hidupnya.
Seperti sore ini. Atha pulang kerja lebih awal. Ia sengaja meminta izin pada atasannya karena ingin menyiapkan makan malam untuk Shandra yang hari ini harus lembur di sekolah.
Saat tiba di rumah, Atha langsung menggulung lengan kemejanya dan masuk ke dapur. Beberapa bahan masakan sudah tertata rapi di atas meja. Ada ikan segar, kentang, wortel, daun bawang, dan berbagai bumbu dapur yang sudah ia siapkan.
Rencananya malam ini ia akan membuat sop ikan kesukaan Shandra dan perkedel kentang.
Suasana dapur terasa tenang. Sesekali terdengar suara pisau yang beradu dengan talenan. Tangan Atha bergerak cekatan memotong wortel dan kentang, lalu membersihkan ikan dengan hati-hati. Wajahnya terlihat serius, meski sesekali senyum kecil terbit di bibirnya saat membayangkan reaksi Shandra nanti.
“Apa dia bakal senyum lebar lagi ya?” gumamnya pelan sambil mengaduk kuah sop yang mulai mendidih.
Aroma bawang putih dan lada perlahan memenuhi dapur. Atha lalu membentuk adonan perkedel satu per satu sebelum menggorengnya hingga berwarna keemasan.
Shandra pun akhirnya pulang. Baru saja ia turun dari motor, Atha sudah berdiri di depan pintu dengan senyum hangat yang selalu berhasil membuat lelahnya sedikit berkurang.
“Capek?” tanya Atha lembut seraya merangkul pundak Shandra dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Lumayan,” jawab Shandra pelan sambil berjalan perlahan menuju ruang tengah. Bahunya terasa pegal setelah seharian mengajar.
Atha menatap istrinya itu penuh perhatian.
“Mau makan dulu atau mandi dulu?”
“Mandi dulu deh biar seger,” jawab Shandra sambil tersenyum tipis.
Atha mengangguk paham. “Ya udah. Air hangatnya udah aku siapin.”
Shandra langsung menoleh kaget. “Serius?”
“Iya. Tadi aku pulang lebih cepat, jadi sekalian siapin semuanya buat kamu.”
Hati Shandra langsung terasa hangat mendengarnya. Dulu, ia bahkan tidak pernah membayangkan Atha akan berubah sedetail dan seperhatian ini.
“Terima kasih,” ucap Shandra tulus.
Atha tersenyum kecil lalu mengusap puncak kepala istrinya pelan. “Cepat mandi sana. Setelah itu kita makan bareng. Aku masak sendiri, lho.”
“Masa?” mata Shandra langsung membesar penasaran.
Atha terkekeh kecil. “Walaupun mungkin rasanya gak sebagus masakan kamu.”
Shandra ikut tertawa pelan untuk pertama kalinya sejak pulang kerja. “Kalau mas yang masak, aku pasti makan banyak.”
Ucapan itu membuat sudut bibir Atha terangkat. Lelaki itu menatap Shandra beberapa detik dengan tatapan hangat yang penuh rasa sayang.
“Kalau begitu aku harus sering-sering masak buat istri aku.”
Pipi Shandra langsung memerah samar, beruntung Atha tak melihatnya karena masih terhalang selembar kain di wajahnya. Ia segera berjalan menuju kamar mandi sebelum Atha semakin menggoda dirinya.
Sedangkan Atha hanya tersenyum kecil melihat tingkah malu istrinya itu. Rumah yang dulu terasa sepi kini perlahan berubah menjadi tempat paling nyaman baginya.
Beberapa saat kemudian, Shandra keluar dengan pakaian rumah yang lebih santai dan wajahnya terlihat jauh lebih segar. Aroma masakan yang memenuhi ruangan langsung membuat perutnya kembali terasa lapar.
Kini ia sudah duduk manis di depan meja makan.
Atha segera mengambil piring, lalu menyendokkan nasi hangat, sop ikan, dan perkedel kentang ke atas piring milik Shandra dengan telaten.
“Semoga rasanya nggak mengecewakan,” ucap Atha sambil meletakkan piring itu di hadapan istrinya.
Shandra tersenyum menatap wajah suaminya itu. Perhatian sederhana tersebut entah kenapa selalu berhasil membuat hatinya menghangat.
“Masakannya kelihatan enak banget,” puji Shandra pelan.
“Kelihatan aja atau memang enak?” goda Atha sambil duduk di kursi sebelahnya.
Shandra terkekeh kecil. Ia lalu mencoba sesendok sop ikan buatan Atha. Baru saja kuah hangat itu menyentuh lidahnya, matanya langsung sedikit membulat.
“Enak,” jawabnya jujur.
“Beneran?”
“Iya. Aku nggak bohong.”
Senyum Atha langsung mengembang puas mendengar pujian itu. Rasanya lebih menyenangkan daripada mendapatkan pujian dari siapa pun.
“Kalau gitu besok aku masak lagi.”
“Jangan tiap hari juga, Mas. Nanti capek.”
“Capek dikit nggak masalah,” balas Atha santai. “Selama istri aku makannya lahap begini.”
Shandra langsung menunduk malu sambil menyembunyikan senyumnya. Suasana makan malam sederhana itu terasa begitu hangat. Tak ada lagi kecanggungan seperti dulu. Yang tersisa hanyalah kenyamanan kecil yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Selesai makan, Shandra langsung membereskan meja. Piring dan gelas kotor bekas mereka makan segera ia bawa ke dapur lalu dicuci satu per satu.
“Aku bantu, ya,” ucap Atha yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
“Gak usah. Mas mending duduk aja,” jawab Shandra tanpa menoleh.
Namun bukannya menurut, Atha justru melangkah lebih dekat. Dalam satu gerakan cepat, lelaki itu nyosor mencium pipi Shandra.
Cup!
“Ups! Maaf, bibirku kepleset,” ucap Atha santai sambil menahan senyum jahil.
Shandra membelalak kaget. Wajahnya langsung memerah hingga ke telinga.
“Mas Atha!” tegurnya malu sambil menepuk pelan lengan suaminya.
Atha malah tertawa kecil. Ia lalu menyandarkan dagunya di pundak Shandra, memperhatikan istrinya yang kembali sibuk mencuci piring.
“Kenapa sih sekarang Mas suka godain aku terus?” gumam Shandra lirih.
“Soalnya lucu kalau kamu malu,” jawab Atha tanpa rasa bersalah.
Shandra men de sah pelan. Tangannya terus bergerak membilas piring, meski jantungnya sejak tadi berdetak tidak karuan karena ulah Atha.
Bukannya menjauh, Atha justru semakin lengket. Ia mengambil lap kering lalu membantu mengeringkan piring di samping Shandra.
“Nah, gini kan lebih cepat,” katanya santai.
Shandra diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. Hangat sekali rasanya melakukan hal sederhana seperti ini bersama Atha.
Dulu, ia tak pernah membayangkan lelaki yang pernah begitu dingin padanya kini malah selalu ingin dekat.
Saat semua piring selesai dicuci, Shandra hendak menyimpan lap ke gantungan. Namun tiba-tiba Atha menarik pelan pergelangan tangannya.
“Apalagi sekarang?” tanya Shandra curiga.
Atha menatap istrinya lekat-lekat dengan senyum tipis di bibirnya.
“Aku cuma lagi mikir…”
“Mikir apa?”
"Mikirin kalau selanjutnya kita bobo aja."
aihhh jangan lah sampai kaya drama Indosiar ya Thor
aiahhh ,,semoga otak nya terbuka si atta bukanya gelap mata ingin memiliki nya kembali terus kamu di tinggal
kan
akhirnya kebongkar juga...
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya
ayo???
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya