Pria, 30 tahun. keturunan gelap dari pewaris utama klan, terpaksa menikah untuk memangkas opini keluarga tentang kehidupannya dan demi kesepakatan-kesepakatan lainnya demi menjaga kehormatan klan.
"Bagian mana dari tubuhku yang membuatmu tak pernah berselera untuk menyentuhnya," protes Dorrota sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Aku bukannya tak berselera, tapi..."
"Jadi benar kabar yang kudengar, kamu memiliki wanita lain. Ah, bukan! tapi Pria lain!"
"Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ingat batasanmu!" ucap tegas Math Male meninggalkan Dorrota yang terisak dalam kemarahan dan kekecewaannya.
mampukah Dorrota mengambil hati Math Male?
ataukah Math Male akan menemukan hati yang lainnya?
.......
Hallo reader, karya ini hanya berdasarkan imajinasi author sepenuhnya. jika ada kesamaan nama tokoh, latar atau kejadian, hanya merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
selamat membaca,
Salam, author Yoshua,
Semoga Semua Bebahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 33
Mesh Mayya merebahkan badan di samping sang adik yang telah terlelap lebih dahulu. Ia memiringkan badan membelakangi sang adik. Bayangannya kembali melayang ke tempat lain. Mengingat bagaimana sosok Math terlihat baik-baik saja cukup membuatnya lega.
"Orang itu... hebat juga dia bisa mengalahkan semua bandit." Mesh melipatkan kedua tangannya dan menjadikannya bantalan pipi yang memerah tersipu di detik selanjutnya.
Angan Mesh Mayya kembali melayang ke beberapa hari lalu, saat ia pertama bertemu, dan malam panjang yang dilaluinya bersama Math.
.......
"Kamu gadis murni pertama yang membuatku kewalahan," ujar Math dengan napas menderu menyaingi permainan napsu Mesh Mayya.
"Tubuhmu bagus, cukup membuat semua wanita akan terpesona dan menginginkan sesuatu yang lebih seperti ini."Mesh Mayya terus menyerang dengan tenaga dan irama yang luar biasa.
"Lekukanmu tak kalah membuatku terbuai dan tak ingin menyudahi dengan cepat."
.......
Mesh tersipu mengingat berbagai ekspresi Math di malam panas itu. Gerakan-gerakan lambat dan semua sentuhan Math yang membuat Mesh melambung masih begitu jelas dalam ingatannya. Namun pertemuan hari ini membuat Mesh harus kembali sadar dan kembali pada kehidupan yang sebenarnya
"Sudah ku duga dia akan menjadi pewaris klan," gumam Mesh menghela napas, "Dan dia sudah menikah." ekspresi murung kembali menghiasi wajah Mesh. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba membuat dadanya terasa berat dan sesak. "Tapi aku bukan siapa-siapa, dan tak punya apa-apa."
Desahan napas Mesh begitu berat kali ini. Ada rasa yang sulit diabaikan, namun ada banyak hal lain yang harus dipertimbangkan. Di masa itu, tak mudah memang seorang gadis biasa bisa menjadi istri utama dari keluarga terhormat. Jika saja kebetulan salah satu pria dari klan itu menyukai gadis desa, mereka hanya akan bisa menjadikannya sebagai selir.
Dalam setengah lamunannya, Mesh mulai merasakan kantuk, beberapa kali ia menghela napas, sedikit membayangkan kemungkinan yang sebenarnya sulit untuk ia dapatkan.
...
"Aku mencintaimu, aku jatuh cinta padamu, kamu satu-satunya milikku." Math menatap lekat mengunci seluruh wajah Mesh, membuatnya salah tingkah.
"Aku juga begitu, penyelamatku," sahut Mesh sedikit mendongak membalas tatapan hangat Math.
"Hanya takdir peperangan dan kematian yang akan memisahkan kita."
Mesh mengangguk merasakan betapa dalam cinta yang ia terima, keduanya larut dalam perasaan menggebu yang sangat dalam, Mesh memejamkan mata, merasakan betapa lembut Math mengusap wajahnya dan menghujani ciuman di pipi dan dahinya.
...
"Kakak dari mana saja? Kenapa semenjak di sini, kakak sibuk terus dengan tuan Miltus? Apa kakak menyukainya?" ujar Liricca sambil mencubit pipi Mesh, membuat Mesh yang tertidur sayup-sayup menjadi terbangun.
Mesh terdiam sesaat, mengingat dan mengumpulkan kesadaran, rasa pening di kepala dan jantung yang berdegup lebih cepat, membuatnya menyadari ia telah bermimpi melampaui dari khayalan gadis-gadis remaja.
"Kak!" Liricca kembali menepuk pipi sang kakak yang masih terdiam tak segera menyahut.
Mesh membalikkan badan menghadap sang adik, "Ah, maaf Liricca, kakak hanya sedang membereskan beberapa hal bersama Tuan Miltus, dia juga yang membantu kakak menemukan ibu."
"Tapi kakak terlalu sering bepergian dengannya dan meninggalkan aku di sini," protes Liricca membulatkan kedua pipinya.
"Jangan cemburu seperti itu, Sayang. Kakak hanya ...."
Tak selesai Mesh dengan kalimatnya, melihat Liricca terisak menyebut nama sang ibu, membuat hatinya kembali hancur. Dipeluknya sang adik, seraya menyanyikan lagu indah dengan suaranya Mesh yang begitu merdu. Lagu pengantar tidur yang biasanya juga dinyanyikan ibu mereka saat menemani anak-anaknya tidur.
Sementara itu, di halaman tak jauh dari pondok yang ditempati Mesh, Miltus duduk di depan perapian, menyandarkan punggungnya di sebuah bangku, menatap langit yang sedikit mendung. Senyum tipis tersungging, memperjelas rahang Miltus semakin menonjolkan ketegasan dan ketampanan wajahnya.
"Suaranya...," gumam Miltus samar-samar mendengar lantunan merdu Mesh Mayya.
"Ya, Tuan?" Bernaz yang duduk tak jauh dari Miltus menyahut.
"Hm? Ah, bukan apa-apa." Salah tingkah, Miltus membenahi duduknya berpura-pura membenahi ikatan sabuk di pinggangnya.
"Aku juga mendengarnya, Tuan," sahut Bernaz dengan wajah serius.
"Oh, benarkah? Suaranya memang semerdu itu ya," ucap Miltus kembali duduk di posisinya semula.
"Merdu? Mak-maksud Tuan Miltus?"ekspresi bingung sangat kentara di wajah Bernaz.
"Hah? Oh, e... langit! Aku membicarakan langit!" Dengan tergagap Miltus menyahut.
Bernaz tak begitu mengerti ucapan tuannya, "Tuan Miltus merindukan keluarga kah?" Bernaz menambahkan kayu bakar ke dalam perapian, sambil memperhatikan ekspresi tuannya yang tampak sedikit bingung bercampur sedikit kesedihan, ada semacam putus asa, namun tersenyum pada sebagian sisinya. "Atau masih memikirkan kepergian Tuan Taddeus?"
Miltus menatap langit semakin dalam, "Patah hati ini datang bersamaan. Aku hanya merasa... ah, entahlah masih ada banyak hal yang harus kita kerjakan."
"Tidak ada yang tahu Tuan, suatu saat aku yakin Tuan Miltus akan menemukan kedamaian dan akhir dari setiap tujuan. Pahit yang sekarang akan menjadi buah manis di hari yang telah ditentukan. Alam tidak akan membiarkan kita sendirian," ucap bijak Bernaz.
"Sudah malam, aku harus tidur barang sebentar, besok harus bergerak mencari penembak sialan itu," pamit Miltus beranjak menuju pondoknya.
Miltus berjalan dengan sengaja melewati pondok Mesh, sepi dan sangat tenang. "Mungkin sudah tertidur, maaf aku belum membicarakan kesalahanku kemarin. Rasa canggung ini sangat mengganggu. Aku tidak ingin membawamu terlalu jauh." batin Miltus memandangi pintu pondok Mes.
Disaat yang sama, pintu itu terbuka, membuat Miltus salah tingkah.
...****************...
To be continue...
Makasih juga buat bang yosh,keren novelnya, walaupun kadang2 bikin pengen demo wkwk 🤣 semangat terus bang,ditunggu karya2 selanjutnya 😄 jangan bikin yang sad ending Mulu bang hehe
tapi masih kurang sebenarnya... masih belum sebanding sama kejahatan yang dilakukan Kallida 😣