NovelToon NovelToon
Rose And Orchid

Rose And Orchid

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa-Percintaan bebas / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:88.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Jiel Ruu

Bagaimana jika kamu menjalankan kehidupan yang sama tapi semuanya tidak serupa lagi?

Ini adalah kisah dari Gill, wanita muda yang mengalami jatuh bangun di kehidupannya saat harus memilih antara jujur atau menyembunyikan identitasnya sebagai ibu muda dari seorang anak di luar nikah.

Apakah semua ini sudah digariskan oleh takdir?

Saat Gill harus terpuruk kembali oleh perbuatan sang mantan, dia mendapatkan pertolongan dari pria bernama Vince, orang yang memiliki latar belakang yang kuat dan ternyata juga telah memiliki seorang anak.

Vince menghadapi permasalahan yang melilitnya dan tepat disaat itu, dia juga membutuhkan wanita yang bisa membantunya.

Apakah Vince hanya mengambil keuntungan dari Gill dengan mendekatinya? Atau adakah yang Vince inginkan lebih dari itu?

Kisah keduanya seperti anggrek dan mawar. Yang satu bertahan hidup untuk tumbuh di berbagai medan sulit dan berusaha untuk mekar, dan yang satunya lagi terlihat cantik mempesona, tapi durinya yang tajam bisa melukaimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jiel Ruu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 Benang yang terhubung bagian (6)

Di hari yang sama kemudian

"Aah maaf Dokter Federick, saat ini Gill tidak ada di toko," ujar Renata yang membawa buku agenda.

Federick yang selesai dari pekerjaannya langsung mampir ke tempat kerja Gill untuk menemuinya. Beberapa hari yang lalu dia belum sempat mengabari Gill karena sibuk.

"Apa dia sedang tidak masuk kerja?" tanya Federick.

"Bukan~ Gill sedang bertugas di tempat lain,"

"Begitu ya, sepertinya lain kali saya harus mengabarinya dulu," lanjut Federick dengan wajah sedikit kecewa.

Yang benar saja Gill, masa cowok sebaik Dokter Federick dibiarin lewat gitu saja?! Tenang saja sobat, Renata sahabatmu ini akan membantu kalian supaya bisa lebih lengket lagi!

Renata berencana mendekatkan Gill dengan Federick, dia sangat mendukung mereka berdua dari awal dan sekarang adalah kesempatan yang baik.

"Sebenarnya saya ngak tega banget lho sama Gill," ucap Renata memulai aktingnya.

"Y-Ya?" jawab Federick bingung.

"Semalam Gill pulang kehujanan dan sepertinya pagi ini dia kurang sehat. Dia datang ke toko saja dengan kondisi memprihatinkan seperti itu,"

"Apa dia sedang sakit?!"

"Sepertinya begitu, wajahnya sudah pucat seperti gelas keramik dan tubuhnya juga panas seperti termos air," lanjut Renata.

Gill maaf! Aku harus lebih mengarang semua ini demi kemajuan hubungan kalian!

"Astaga, apa separah itu?! Anda tidak memintanya untuk berobat?" ujar Federick yang mulai khawatir.

"Sebenarnya sudah, tapi Anda juga tau Gill itu keras kepala akan sesuatu. Dia terus bilang tidak apa-apa dan menolak untuk istirahat, saya juga jadinya tidak bisa berbuat apa-apa,"

"A-Anda benar juga, sepertinya saya harus membelikan beberapa obat dan mengantarkannya ke rumah, kalau tidak pasti dia akan menolak lagi," ucap Federick.

"Benar, benar. Gill itu harus dipaksa baru akan menurut karena sifatnya sudah begitu," terus Renata sambil mengangguk.

"Nona Renata, saya sangat berterimakasih atas informasi yang Anda berikan. Saya pamit dan akan segera ke apotek,"

Federick langsung bergegas keluar, Renata yang terkejut mengejar untuk menghentikannya.

"H-Hoi! T-Tunggu! Anda mau kemana?!" kata Renata menarik tangan Federick. Dia benar-benar kaget karena pria ini langsung kabur begitu saja.

"Eeh? Saya mau ke apotek membeli obat dan mengantarkannya ke rumahnya Gill," jawab Federick dengan wajah polos.

Sumpah ini orang! Walau dokter sekalipun logikanya sudah ngak jalan kalau sudah jadi bucin, bisa berantakan rencanaku kalau kamu main pergi saja!

"Anu ehem, sebenarnya saya mau minta tolong sama Anda," ucap Renata sambil memendam kekesalannya.

"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Federick.

"Begini, sebenarnya pekerjaan saya belum selesai disini dan saya tidak bisa memantau ke tempat lainnya,"

"Jadi bisakah Anda yang menjemput Gill? Saya sudah janji akan mengantarnya ke rumah saat pulang nanti, apalagi dengan kondisinya sekarang yang membuat saya khawatir," lanjut Renata lagi.

Federick langsung sigap, dia merasa sangat senang Renata memintanya bahkan sebenarnya tanpa diminta pun dia pasti dengan suka rela melakukannya.

Renata mengatakan bahwa Gill sedang bertugas di Panti Asuhan Gabriella dan menurut jadwal, mereka akan selesai sekitar malam pukul 8 nanti.

Federick mengucapkan terimakasih pada Renata dan memintanya untuk tenang saja karena dia akan mengurus Gill. Dia pamit dari tempat itu dan langsung menuju lokasi Panti Asuhan.

"Waah~ Itu bukannya gebetannya Gill ya Ren?" tanya Yuanita yang mendekat setelah Federick pergi.

"Hohoho, aku sedang membatu sobat kecil kita biar makin lengket," jawab Renata dengan bangga.

"Kamu bilang apa ke dia sampai perginya buru-buru banget?"

"Ada deh~ ini adalah rencana terbaik Renata! Jadi semuanya pasti beres,"

"Pffft, apa-apaan percaya diri begitu. Kalau kamu bilang yang aneh-aneh dan ketahuan sama Gill, bisa habis kamu," lanjut Yuanita.

"Bwahahaha! Kali ini Gill akan berterimakasih sama aku karena aku mengirim pangerannya ke sana!" ucap Renata dengan percaya diri.

Panti Asuhan Gabriella

Semuanya telah berjalan lancar, dekorasi dan pengaturan set sudah selesai. Para anak dan seluruh suster Panti Asuhan juga turut membantu. Mereka begitu bersemangat untuk acara amal dan natal bersama yang akan diadakan.

"Nona, Anda sudah bekerja keras jadi istirahatlah sebentar," ucap seorang Suster yang mendatangiku.

"Aah terimakasih Suster, saya akan istirahat setelah ini selesai," ucapku.

Aku menyelesaikan pemasangan lampu hias dan mencatat agenda yang ada. Semua orang sedang bersuka cita saling membantu dan aku juga merasa sangat senang akan hal ini.

"Nona sepertinya sangat menikmatinya ya," ucap Suster yang menemaniku sambil tersenyum.

Dia adalah Suster Grace, seorang biarawati senior yang diutus untuk merawat panti. Kehadirannya di panti ini sudah 30 tahun lamanya dan dia sangat menyukai tempat ini.

"Iya, saya sangat senang akan kegiatan ini. Rasanya semua lelah hilang begitu saja ketika para anak-anak bergembira dan berbaur dengan yang lainnya," ucapku.

Saat aku kecil dulu, aku sangat senang dengan natal bersama. Semua orang berkumpul, bernyanyi, bercerita dan beberapa memberikan pertunjukkan drama atau tarian. Tapi dari semua itu, yang paling ku tunggu adalah musik yang mereka bawakan. Suara instrumen yang menghanyutkan hati, mengalir dengan melodi yang luar biasa

"Saya bisa melihat kesedihan dan harapan untuk bangkit dari mata Nona," ucap Suster Grace padaku. Perkataannya sedikit aneh, tapi tidak tau kenapa aku bisa mengerti.

"Saat Nona memasuki Panti ini, saya sudah bisa melihat aura yang istimewa dari Anda, sebuah semangat," lanjutnya lagi.

"Sepertinya Suster sedikit berlebihan, saya hanya sebuah mangkuk yang mengikuti arus sungai,"

"Nona mangkuk yang cantik. Mungkin sedikit lancang, tapi saya berdoa semoga Nona menemukan kebahagian segera,"

"Suster seperti bisa membaca pikiran saya saja," ujarku lagi.

"Setiap orang memiliki kisahnya, ketika berniat untuk bangkit dan bersemangat maka jalan baru akan terbuka. Kesedihan hanya akan membuat seseorang lebih terpuruk,"

Semua yang dikatakan oleh suster Grace benar. Sewaktu kamu masih hidup, jalani dan lakukanlah yang terbaik paling tidak untuk dirimu sendiri. Sekarang aku jadi berpikir, sepertinya Suster Grace punya kemampuan istimewa untuk membaca masalah hati seseorang?

"Saya tidak memiliki kemampuan untuk membaca hati kok Nona,"

"E-Eh?! Suster tau apa yang saya pikirkan?!" ucapku dengan kaget.

"Saya hanya sering memperhatikan. Kemampuan untuk merasa, melihat dan mendengar adalah anugrah terbesar. Nona juga bisa melakukannya kok, itulah yang namanya firasat dan semua hanya tebakan yang beruntung,"

"Suster benar-benar punya tebakan beruntung yang besar ya,"

"Hahaha, hanya itu yang bisa saya lakukan Nona. Bersemangatlah, kerja keras anda akan diupah dengan buah yang manis,"

Walaupun sebenarnya obrolan ini tidak nyambung dan aku juga tidak mengerti arahnya kemana, tapi aku sangat berterimakasih pada Suster Grace. Sekali lagi, seseorang membuka mataku untuk terus berjuang.

"Terimakasih banyak Suster, anda sangat membatu saya,"

Aku kembali melanjutkan pekerjaanku karena waktu tidak akan menunggu. Ini sudah pukul setengah 7 malam dan kami selesai lebih cepat dari perkiraan.

"Uuuhh, sepertinya pusingnya kambuh lagi. Apa karena tadi sedang sibuk sampai aku bisa lupa kalau sedang flu? Aah, hidungku berair dan rasanya sungguh tidak enak sekali," ucapku sendiri sambil berjalan ke aula tengah.

"Gill!"

Seseorang memanggil dan mendatangiku, dia adalah Louis yang sedang membawa catatan kegiatan hari ini.

"Oh Tuan Louis?"

"Saya mencari kamu kemana-mana, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Louis kemudian karena melihatku sedang menutup hidung dengan tisu.

"Saya sedikit flu, apakah jadwal yang lain sudah selesai?" tanyaku.

"Ya semuanya sudah beres sesuai rencana, bagaimana dengan bagian yang kamu tangani?"

"Sudah siap dengan baik,"

"Baiklah, kamu bisa menyerahkan pendataannya pada saya. Ngomong-ngomong kamu beneran hanya flu? Wajahmu pucat sekali,"

"Tidak apa-apa, ini sudah biasa terjadi kok," jawabku.

Aku memang sedikit mengalami anemia dan dari awal tekanan darahku juga rendah, sepertinya flu kali ini jadi lebih berat karena itu.

Aku mengikuti Louis ke aula tengah dan yang lainnya sudah berkumpul, bersiap untuk pulang. Sepertinya Renata tidak bisa menjemputku, dia mengirimkan chat dan katanya dia mengirim sesuatu yang spesial.

Huh? Sesuatu yang spesial? Anak ini tidak sedang mengerjai aku kan,

"Gill, sepertinya Anda akan kembali dengan saya," ucap Louis.

"Sepertinya tidak ada pilihan lain, terimakasih sebelumnya," ucapku.

Saat aku sedang menunggu Louis selesai, seorang rekan lainnya menghampiriku. Dia seperti sedang tergesa-gesa mencariku.

"Aku cariin kamu kemana ternyata ada di sini,"

"Huh? Ada apa memangnya?"

"Di luar ada yang menjemput kamu, katanya dia dimintai Renata kesini,"

"Kalau Renata yang suruh rasanya tidak apa-apa, jadi bagaimana Gill? Mau menunggu sebentar lagi?" ucap Louis kemudian.

Sebenarnya aku tidak enak meninggalkannya, tapi pusing yang menyerangku semakin kuat dan sekarang aku benar-benar sesak karena hidungku mampet.

"Mendingan kamu pulang lebih cepat saja deh Gill, wajahmu makin pucat lho," tambah rekan kerjaku yang tadi.

Louis juga mengatakan hal yang sama tapi sepertinya memang benar. Aku mulai tidak kuat berdiri dan rasanya tubuhku sangat lemas.

Aku berpamitan pada mereka dan berjalan keluar. Dari perkataan rekanku yang tadi, orang yang menjemputku itu menunggu di gerbang depan.

Aku memperhatikan sekeliling dan sepertinya tidak ada orang yang dimaksud itu. Tidak lama kemudian sebuah mobil putih berjalan mendekatiku dan rasanya tidak asing, kaca depannya pun turun.

"F-Federick?!" ucapku kaget.

Apa yang dia lakukan di sini dan kenapa dia bisa tau aku disini?!

"Gill masuklah, aku akan mengantar kamu pulang," katanya kemudian.

"A-anu maaf Federick, aku sedang menunggu seseorang yang diminta Renata untuk menjemput," ucapku.

"Apa Nona Renata tidak bilang kalau aku yang akan jemput kamu?"

"A-Apa? Renata yang minta?"

"Tadi aku ke toko dan kamu tidak ada di sana, Nona Renata sedang sibuk jadi dia memintaku untuk menjemputmu," jawab Federick.

Jadi ini maksudnya kiriman spesial?! Astaga Renata itu apa sih yang ada dipikirannya

Pada akhirnya aku ikut dengan Federick, dia mengemudikannya mobilnya meninggalkan Panti Asuhan dan sekarang dia berhenti di sebuah apotek dan turun.

Aku tidak sempat bertanya apa yang dia lakukan karena kepalaku sangat pusing, jadi aku hanya terduduk di kursi depan sambil bersandar.

Uuugh, aku harap bisa cepat sampai rumah. Rasanya sudah tidak nyaman banget, malah jalannya jauh lagi

Aku memejamkan mata sebentar agar perasaanku menjadi lebih enak dan tidak lama kemudian Federick kembali ke mobil.

"Gill minumlah ini dulu," katanya sambil memberikan secangkir air hangat padaku.

"Aah terimakasih,"

"Apa anda sudah makan?"

"Iya, tadi sudah sore tadi," jawabku. Aku sudah tidak bertenaga untuk mengatakan hal yang lain.

"Habis minum sedikit air hangat, minum pil yang ini," ucap Federick yang membuka beberapa bungkus obat-obatan tablet.

"P-Pil?"

Tunggu, kenapa dia memberikan aku ini?

"Wajahmu benar-benar pucat sekali, harusnya kamu tidak memaksakan diri,"

"Tapi aku tidak apa-apa kok,"

"Jangan bilang tidak apa, aku sudah dengar dari Nona Renata kalau kamu sakit tapi ternyata lebih parah dari itu,"

"Tapi aku sungguh hanya flu ringan saja dan sepenuhnya sehat kok," kataku. Aku tidak mau membuatnya menjadi kerepotan di sini, setelah sampai rumah aku bisa mengurusinya sendiri.

Federick meletakkan bungkusan obat di dashboard mobilnya, dia sedikit bergeser dan sekarang mendekatkan tubuhnya kearahku.

"T-Tunggu! Apa yang kamu lakukan?!" ucapku yang sedikit panik.

"Jangan bergerak sebentar,"

Federick mendekatkan wajahnya dan menempelkan keningnya ke keningku. Wajahnya dekat sekali, aku benar-benar gugup dan hanya menunduk malu sambil memejamkan mataku dengan berat.

"Panas tubuh kamu juga sepertinya tinggi, apa kamu kedinginan?" tanya Federick kemudian kembali ke posisi duduknya.

A-Apa wajar mengetes suhu tubuh dengan menempelkan kening? Wajahnya itu sampai dekat banget lho, aku saja hanya pakai punggung tangan buat ngetes. Duuh bukannya demam lagi, tapi bisa-bisa aku kena serangan jantung dadakan

1
anan
lanjut tor
Hiu_Ramah
ko dikit amat udh tamat..
@Lala
hahahahahahahahahahahahahahahahahahaahahahahaahahahahaha
✦:𝓦⃟֯𝓓𝐞𝐥𝐯𝒚𝒐𝒐𝒏𝒂𐀔¡!
Kerenn🤩
✦:𝓦⃟֯𝓓𝐞𝐥𝐯𝒚𝒐𝒐𝒏𝒂𐀔¡!
Ceritanya bagus kakヾ(^-^)ノ
Jika berkenan, novel saya menunggu kehadiran author untuk mampir sejenak. Aleesya: My Hubby, My KetBok datang memberi bintang 5 untuk kakak. Semangat ya, GBU😇🙏🏻
Yukity
Hadir Thor..

salken dari GADIS TIGA KARAKTER
Dhina ♑
Besok lanjut lagi
Dhina ♑
Author
Dhina ♑
Dah nangis kan
Dhina ♑
Thor
Dhina ♑
Eh eh
Dhina ♑
Eeeeee
Dhina ♑
Oiiiii
Dhina ♑
Hey Author
Dhina ♑
Author
Dhina ♑
Boleh yaaaaa
Dhina ♑
jawab sih Thor
nuna_ruu: aa.... ada apa ya? 😅
total 1 replies
Dhina ♑
apa harus marah dulu
Dhina ♑
Please ya Thor
Dhina ♑
Boleh ga Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!