"Kamu itu milik saya, seluruh tubuh kamu juga milik saya! Hanya saya yang boleh menikmatinya."
~ Vicky Salvino
•••
Azila Anastasya, sosok gadis cantik berusia muda itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya merupakan incaran dari sosok lelaki yang tak lain adalah ayah sahabat dekatnya sendiri. Azila tentu tak percaya, kehadirannya ke rumah sahabatnya justru menjadi awal mula malapetaka ini terjadi.
Vicky Salvino, duda tampan kaya raya yang telah bertahun-tahun ditinggal sang istri itu sudah lama tak merasakan kenikmatan duniawi. Sebab itulah Vicky mengincar Azila, teman dari anaknya. Sejak lama Vicky mengagumi gadis itu, bahkan ia bertekad memiliki Azila seutuhnya.
Mampukah Vicky mewujudkan keinginannya?
Atau justru Azila dapat kabur dari kejaran lelaki itu?
Baca yuk kelanjutan kisah mereka disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon patrickgansuwu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Terakhir kali
Azila masih bersama Vicky di sebuah cafe tempat dimana mereka melaksanakan meeting dengan salah seorang klien di kantor, mereka baru saja selesai berbincang dan sang klien pun telah pergi dari tempat itu karena semuanya sudah usai.
Kini hanya tinggal mereka berdua saja, Vicky sontak menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan gadis itu. Ya bahkan dengan sengaja, Vicky merapatkan tubuh mereka sambil sesekali tersenyum menatap wajah gadis cantik itu.
"Umm, aku izin ke toilet dulu ya om? Daritadi aku tahan-tahan karena gak enak sama klien kita, untungnya sekarang beliau udah gak ada jadi aku bisa pergi ke toilet," ucap Azila.
"Hahaha, oh daritadi kamu gugup tuh karena tahan pipis? Ya ampun sayang, harusnya kamu bilang aja gapapa kok! Saya yakin beliau juga pasti mengerti, daripada kamu tahan-tahan begini," ucap Vicky.
"Gapapa om, yang penting semuanya lancar kan. Sekarang aku mau ke toilet dulu ya om?" ucap Azila.
"Okay, mau saya antar?" tanya Vicky.
"Hah? Gausah om, aku bisa sendiri kok. Om jangan khawatir, pasti aku bakal balik lagi kesini nanti!" tolak Azila.
"Baiklah, saya percaya sama kamu. Tapi, jangan lama-lama ya Azila!" ucap Vicky.
Azila mengangguk saja, kemudian bangkit dan membawa tasnya untuk pergi ke toilet yang ada disana. Sementara Vicky tentu tetap berada di tempat duduknya, namun tak sedikitpun berpaling dari sosok Azila dan terus memperhatikannya.
Saat Azila berjalan, bahkan Vicky terus memandangi lekuk tubuh gadis itu. Ia menjilat bibirnya sendiri, ada keinginan yang begitu besar di dalam dirinya untuk menikmati setiap bagian tubuh Azila tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
Vicky merasa kecewa setelah Azila menghilang dari pandangannya, ia menghela nafasnya dan berusaha menahan diri dengan cara meminum minumannya. Tapi entah kenapa, rasanya Vicky sulit sekali berjauhan dari gadisnya itu.
"Haaaahh, saya benar-benar gak sabar mau menikahi kamu Azila!" ujarnya.
•
•
Tanpa disadari keduanya, tampak Max tengah duduk di tempat yang tak jauh dari meja Vicky serta Azila. Bahkan, pria itu dapat melihat ketika Azila pergi ke kamar mandi dan hendak mengikutinya. Ya ini adalah kesempatan besar baginya, Max ingin menyelamatkan gadis itu dari tangan Vicky.
Dengan cepat Max beranjak dari tempat duduknya, lalu menyusul Azila ke toilet di cafe tersebut. Ia berhenti melangkah tepat saat ia sudah berada di depan pintu toilet itu, ya Max berdiam diri disana sambil berharap Azila segera muncul.
"Ayo Azila, kamu harus cepat! Ini semua demi keselamatan hidup kamu!" gumamnya.
Ceklek
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Max langsung tersenyum lebar saat melihat Azila keluar dari sana. Sontak Azila terkejut bukan main, ia tak menyangka Max akan muncul di depannya saat ini.
"Hah? Max, ngapain kamu disini? Kenapa bisa kamu tahu kalau aku ada di tempat ini?" tanya Azila terheran-heran.
"Udah, itu kita bicarakan nanti aja ya zila! Sekarang ayo kamu ikut aku, kita harus cepat pergi dari sini sebelum laki-laki itu lihat! Aku gak mau kamu menderita," ucap Max.
"Ta-tapi Max, aku gak bisa pergi gitu aja! Aku udah terlanjur tandatangan kontrak dengan om Vicky, gak mungkin aku bisa lepas dari dia sekarang," ucap Azila.
"A-apa? Kontrak? Kok bisa kamu mau disuruh tandatangani itu sih zila?" kaget Max.
"Aku gak punya pilihan lain Max, aku akui ini semua emang salah aku. Harusnya aku lebih teliti lagi waktu melamar kerja," ucap Azila.
Max menepuk jidatnya, ia tak mengira masalahnya akan menjadi serumit ini. Jika begini, mana mungkin ia bisa membawa Azila pergi dari sana. Pastinya Vicky akan menggunakan surat kontrak itu sebagai senjata untuk menahan Azila bersamanya.
"Terimakasih banyak atas keperdulian kamu sama aku, Max. Tapi maaf, aku gak bisa ikut sama kamu sekarang! Aku harus kembali ke tempat om Vicky, permisi!" ucap Azila.
Rasanya hati Max begitu hancur mendengar itu, ia tahu betul Azila sangat tertekan dan terpaksa melakukan semua ini. Namun, ia sendiri juga belum tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk menolong gadis itu.
Sementara Azila kini melangkah melewati tubuh pria itu, lalu kembali menemui Vicky di depan sana. Max tak mencegahnya, sebab ia tak mau membuat Azila terlibat masalah yang lebih besar nantinya.
"Haish, kalau begini aku harus cari cara lain untuk bisa bawa pergi Azila. Mungkin mencuri surat kontrak itu," gumam Max.
•
•
Ceisya mendatangi suatu tempat bersama managernya, atau yang biasa ia panggil dengan sebutan Linda. Ya gadis itu kini pamit pada sang manager, karena ia harus mengurus urusan pentingnya disana.
"Mbak, aku turun sekarang ya? Makasih udah anterin aku sampai sini, nanti pulangnya aku bisa sendiri kok!" ucap Ceisya.
"Hm, sama-sama cei. Tapi, emangnya kamu ada urusan apa sih disini?" heran Linda.
"Eee....gak ada apa-apa mbak, aku cuma mau ketemu seseorang aja. Aku pilih tempat ini supaya gak banyak orang yang lihat aku," jawab Ceisya.
"Oh okay, aku ngerti perasaan kamu. Yaudah, kamu hati-hati loh ya! Kalau butuh apa-apa, call aja aku!" ucap Linda.
"Siap mbak!" Ceisya mengangguk patuh.
Setelahnya, Ceisya bergegas turun dari mobil dan melambaikan tangan ke arah Linda. Ya tepat saat mobil itu pergi, kini Ceisya pun meraih ponselnya dari dalam tas dan terlihat menghubungi seseorang.
"Halo! Gue udah di lokasi, tunjukin muka lu sekarang!" ucap Ceisya di dalam telpon itu.
Benar saja, setelah ia memastikan telpon dan meletakkan ponselnya kembali, tampak seorang pria muncul di depannya sambil tersenyum ke arahnya. Ya pria itu adalah Leon, alias kekasihnya.
"Hahaha, halo Ceisya sayang! Ada apa sih kamu ajak aku ketemuan disini, hm? Biasanya juga kamu langsung transfer semua uang yang aku minta," ucap Leon.
"Ck, gue kesini mau serahin uang yang lu minta. Sekaligus gue juga pengen minta sama lu, supaya jangan ancam-ancam gue lagi atau peras uang gue!" sentak Ceisya.
"Hah? Mana bisa begitu Ceisya, sampai kapanpun tetap aku bakal minta uang dari kamu. Aku ini kan butuh modal loh buat ini itu, masa kamu gak mau kasih?" ujar Leon.
"Jangan gila kamu Leon! Ini gue bawa uang 30 juta buat lu, sengaja gue lebihin karena ini terakhir kalinya gue kasih uang buat lu. Pokoknya gue minta sama lu, jangan pernah lagi lu hubungi gue atau ancam gue seperti ini!" ucap Ceisya dengan tegas.
Gadis itu langsung memberikan sebuah tas berisi uang kepada Leon, kemudian berniat pergi.
"Oh ya satu lagi, kalau sampai lu berani sebarin video itu maka jangan harap lu bisa bernafas dengan bebas lagi Leon! Gue pasti bakal cari lu kemanapun itu!" ucap Ceisya.
Tanpa berlama-lama lagi, Ceisya memutuskan pergi dan meninggalkan Leon yang masih berdiri disana.
Leon menyeringai mendengar kata-kata yang dilontarkan Ceisya, tak ada sedikitpun rasa takut di hatinya. Justru Leon makin tertantang setelah mendengar ancaman Ceisya, ia merasa jika Ceisya sudah tak perduli lagi pada karirnya di dunia model.
"Awas aja kamu Ceisya! Aku pastikan kamu menyesal karena main-main dengan aku, lihat aja aku pasti bakal bikin kamu menderita sayang!" ucap Leon disertai seringaian kecilnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GUYS YA!!!...