Kebahagiaan ku membuatku buta hingga mengabaikan kenyataan yang sesungguhnya, dan itu amat menyakitkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi wahyuningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Hati, Sudah Biasa!
Aku tersenyum kesal membaca postingan akun media sosial milik Rena.
Menggelikan sekali sebenarnya karena aku menggunakan akun palsu. Tapi, entah mengapa aku selalu penasaran dengan kegiatannya sedang dilakukan oleh Rena.
Hari ini, dia mengunggah tangan yang saling menggenggam dengan tangan seseorang yang pastilah itu adalah tangan suamiku dengan keterangan, “terima kasih untuk kekasih hati yang sudah mengantarkan ku pergi bekerja, insya Allah berkah untuk kita berdua yang sama-sama sedang berjuang mencari nafkah ya, Sayang....”
Muak sekali sebenarnya, tapi anehnya aku tidak bisa mengontrol rasa penasaranku yang selalu saja meluap meluap. Bahkan, sekarang ini sedikit-sedikit aku membuka akun media sosial hanya untuk melihat kegiatan yang sedang dilakukan oleh Rena.
Ah, mengenai Ibu Indah. Sejak Aku meminjamkan uang padanya, dia benar-benar tidak berhenti mengirimkan pesan setiap harinya padaku. Entah itu menanyakan tentang Gozel, dan juga tentang kegiatanku.
Sebenarnya, aku agak risih dengan ibu indah yang selalu saja menghubungiku saat aku membalas pesannya Aku sedang tidak melakukan apa-apa.
Tadi pagi, dia menghubungiku hanya untuk menceritakan tentang kelakuan ibu mertuaku yang katanya sangat menyakiti hatinya.
“Kemarin aku buat status, terima kasih Leora karena sudah membantuku. Eh, dia marah-marah padaku, dan mengatai ku seperti pengemis.”
Seperti itulah kata-kata yang diucapkan oleh ibu Indah padaku. Aku terlalu takut untuk menanggapi ucapannya, bagaimanapun aku tidak boleh lupa bahwa ibu Indah itu adalah adiknya ibu mertuaku yang bisa saja mengadu domba Antara Aku dan juga ibu mertuaku. Sehingga, sebisa mungkin aku hanya mendengarkan saja dan tidak memberikan reaksi apalagi terpancing dan ikut membicarakan ibu mertuaku.
Benar, saat ibu indah terus menceritakan ibu mertuaku rasanya mulutku gatal seperti ingin menceritakan uneg-uneg yang aku rasakan kepada ibu mertuaku.
Tidak, aku tidak sanggup menerima resiko yang sangat besar.
“Katanya, Arthes mengeluh kepada ibu mertuamu. Dia mulai malas pulang ke rumah karena setiap kali pulang rumah jadi bau makanan, bau minyak, bahkan kau juga jadi tidak bisa mengurus badanmu. Makanya, sekarang ini setiap pagi Arthes selalu pergi ke rumahnya Rena.”
Kalimat itulah yang terakhir diucapkan oleh ibu Indah pagi ini sebelum aku memutuskan untuk mengakhiri sambungan telepon dengan alasan ada banyak orang yang sudah mengantri untuk membeli kue.
Jangan tanya, aku langsung masuk ke kamar mandi dan menangis di sana.
Benar, Aku tidak bohong bahwa aku memang mandi sekali dalam sehari karena aku benar-benar tidak sempat mandi. Namun, Aku tidak menyangka bahwa suamiku akan menceritakan hal semacam itu kepada ibu mertuaku.
Yah, beberapa waktu belakangan ini memang dia sering berangkat ke toko lebih pagi daripada biasanya.
Setelah aku puas menangis, aku mencoba sebaik mungkin mengontrol diriku dan fokus untuk berjualan serta menjaga Gozel.
Maaf,....
Bukannya Aku merasa bahagia karena adanya virus Corona. Tapi, aku tidak bisa bohong bahwa semenjak virus Corona mulai tiba di negara kita tinggal, aku selalu mendapatkan omset yang sangat banyak. Bahkan, sudah mulai dari para ojek online berdatangan untuk membeli daganganku. Padahal, waktu itu aku hanya iseng-iseng saja mendaftarkan usahaku di online food.
Sore harinya, tukang cuci yang biasa membantu pekerjaanku datang ke rumah. Dia mengeluh dengan begitu sedih membuatku juga jadi ikut sedih, padahal saat dia datang aku masih setengah sadar karena aku sedang tidur tapi terpaksa membukakan pintu untuk dia.
“Ya allah neng, Ibu sekarang ini benar-benar pusing. Orang-orang yang tadinya menggunakan jasa ibu untuk mencuci, sekarang meminta untuk tidak usah ibu datang untuk mencuci lagi. Alasannya, semenjak virus Corona mereka jadi banyak yang di rumahkan dan kehilangan pekerjaan. Kalau begini terus, bagaimana ya bayar sekolah anak bungsunya ibu?” keluhnya padaku. “Pak haji juga bilang tidak usah menyetrika pakaian lagi, soalnya anaknya di rumah kan.”
Hilang sudah rasa kantuk yang aku rasakan, Aku benar-benar kesal kepada diriku sendiri karena mudah sekali mengasihi orang lain. Padahal, Tidak ada orang lain yang merasa kasihan padaku, bukan?
Aku menghela nafas, bagaimanapun melihat ibu cuci yang hanya seorang janda dengan dua anak yang harus dinafkahi seorang diri pasti berat sekali. Sama, ibu cuci juga menjadi janda karena suaminya kepincut dengan wanita muda Yang katanya lebih cantik daripada ibu tukang cuci.
“Bu, berhubung jualanku juga sedang ramai belakangan ini, bagaimana kalau ibu bantu aku saja untuk membuat kue dan berjualan?” ucapku menawarkan karena aku juga sepertinya membutuhkan seseorang untuk membantuku, “tapi, karena aku juga masih belum bisa dibilang sukses berjualan, Aku hanya bisa memberikan upah harian rp50.000 saja. Tapi, kalau penghasilan banyak, Tentu saja aku akan memberikan lebih dari itu. Kalau Ibu mau, Ibu bisa mulai bekerja besok.”
Dengan cepat ibu tukang cuci itu menganggukkan kepalanya.
Namanya, Ibu Romlah.
“Tidak apa-apa, Neng. 50.000 juga sudah cukup kok. Syukurnya kalau nanti memang ada tambahan bisa untuk ibu tabung, maklum anak kedua ibu kan juga mau masuk sekolah menengah pertama. Jadi, kalau menabung dari jauh-jauh hari kan nanti tidak berat untuk beli seragam dan kebutuhan lainnya,” ucap Ibu Romlah yang terlihat begitu bersemangat.
Aku tersenyum lalu menganggukkan kepalaku, Meskipun aku tidak tahu seberapa lama aku bisa memberikan upah kepada Ibu Romlah, setidaknya aku juga sedang membantu diriku sendiri sekaligus membantu orang lain.
“Besok Ibu datang jam berapa, Neng?” tanya ibu Romlah.
Aku tersenyum, entah mengapa tiba-tiba saja aku merasa tidak enak karena aku kan mulai membuat kue pukul 02.00 pagi.
“Anu, Bu. Aku mulai membuat kue pukul 02.00 pagi, aku juga tidak memikirkan itu sebelumnya.” ujarku yang merasa tak enak hati.
“Oh, tidak apa-apa, Neng. Yang penting ibu mah ada pemasukan saja. Lumayan, bisa nabung untuk bayar sekolah dan ongkos harian anak-anak.” ucap Bu Romlah.
Jantungku berdegup sangat kencang melihat kesiapan ibu Romlah untuk bekerja, Padahal aku hanya menjanjikan upah rp50.000 saja.
“Ya Allah, aku mohon angkatlah derajat Ibu Romlah. Sehatkan badannya, dia benar-benar seorang ibu yang tangguh. Tolong juga, berikan aku rezeki yang lebih setiap harinya supaya aku juga bisa memberikan yang sepatutnya kepada Ibu Romlah.” doaku di dalam hati.
Aku harus sukses, aku tidak boleh kalah kali ini. Mereka semua yang mengkhianati ku dan juga menyakitiku, Aku bersumpah akan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Tidak apa-apa saat ini mereka meremehkan ku, insyaallah Allah pasti akan menolongku, dan tidak akan pernah membiarkanku terinjak-injak.
“Bu Romlah, mari kita berjuang sama-sama! Semakin maju usaha kita nanti, maka kita bisa membuktikan kepada orang-orang yang menyembarangi kita bahwa, seonggok kotoran juga memiliki nilai yang berarti,” ucapku.
sama ibuku di bawah pergi ke Jakarta dr Jogjakarta. sampai lulus sma sy baru nyari bpkku, bukan apa2 minta tabggung jawab utk kuliah thn 80 an. ketemu minta niayackuliah.dia sfh bahagia dgn pelakor dan anak2nya.
sakit hati dan dendam, sy tdk pernah menyalahkan ibunsy. sy juga perempuan bisa merasakan sakit hati ibu. setelah lulus kuliah sy kerja diperusahaan besar. dan sy sdhbtdk pernah liat dan datang lg kerumah bpk saya . tdk sudi banget..dpt kabar bpk koma pemhulih darah pecah 3 bln di rscm. sy tdk pernah datang utk liat.najissssssss. di hubungi oleh kakaknya bpk.klu bpk sy mau ketemu. udh sakratul maut. dg terpaksa sy datang. sy bisikin apa coba.. cepat matilah kau pejaga neraka sdh nunggu. bpk sy menangis dlm koma. emang gw fikirin!!! 2 hr kemudian mampus tuh org tua. dikabarin. sy tdk datang..sudi amat sampai skrg saya tdk pernah ziarah.