Berkali-kali Velly Alexander (26 tahun) mengungkapkan perasaannya pada seorang pria. Velly tergila-gila, pada pesona seorang David Stuart (33 tahun). Yang tak lain adalah sahabat kakaknya sendiri. Berkali-kali juga, David tak peduli dengan apa, yang dikatakan Velly.
Namun seiring berjalannya waktu, Velly yang tak pernah bosan mengejar cinta David, membuat David pun semakin dekat dengan Velly. Tentu saja, awal yang indah bagi Velly. Perhatian David membuat Velly akhirnya, menganggap hubungan mereka, seperti sepasang kekasih. Sementara David, tak pernah menyatakan, bahwa hubungan mereka lebih dari teman. Pada akhirnya, entah mengapa David berusaha menghindari Velly. Membuat Velly merasakan kekecewaan lagi dan lagi. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah memang David, tak memiliki perasaan apapun pada Velly selama ini? Di kisah ini, masa lalu David dan Velly akan hadir. Apakah mereka sebenarnya berjodoh? Yuk kepoin novel ku yang kedua ini guys. Jangan lupa like dan komen nya ya. Love you readers🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Octa_since, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
“ Darimana kamu tau?” tanya Velly dengan jantung yang berdetak. Velly tak menyangka, kalau Max tau tentang semua yang dilakukannya. Max pun hanya tersenyum, lalu dia menggengam tangan Velly,
“ Ayo kita duduk lah dulu,” kata Max sambil menunjuk bangku yang ada di taman itu. Velly pun menurut, karena memang sedari tadi mereka hanya berdiri.
“ Max katakan padaku, dari mana kamu tau?” tanya Velly lagi penasaran, ketika mereka sudah duduk berdua. Tentu saja, bangku itu membelakangi orang yang melihat mereka.
“ Aku selalu memantau mu dari jauh. Aku tau, kamu menyukainya dari tahun lalu kan?” kata Max lagi tenang. Velly menelan salivanya,
“ Max aku..”
Seketika Max berbalik menghadap Velly, tentu saja mereka duduk berdampingan.
“ Aku mengerti, aku tak mengapa. Yang salah bukan dirimu, tapi aku. Aku tak pernah memberi mu kabar bertahun-tahun, mana mungkin kamu menunggu yang tak pasti,” terang Max dengan senyuman yang manis. Bagaimana Velly? Dia tertunduk, dia pun tak tahu harus berkata apa.
Max pun mengelus kepala Velly, dia merasa Velly masih sama seperti yang dulu, kalau berhadapan dengannya. Ya, kasih sayangnya pada Velly di masa lalu, membuat Velly menjadi wanita yang tenang. Berbeda dengan sekarang, Velly berubah menjadi wanita bar-bar. Di masa lalu, Velly masih sangat muda berpacaran dengannya. Velly yang masih menggunakan seragam abu-abu, dan Max sudah menjadi mahasiswa saat itu. Lalu, berapa lama mereka berpacaran? Satu tahun lebih, Velly masih kelas 2 SMA semester 2. Sedangkan Max, masih semester 4 ketika menjadi mahasiswa. Di saat Velly mencapai kelulusannya, mulai dari situlah Max berencana pergi ke Australia. Karena, Max pun pada saat itu akan segera wisuda.
“ Baby, apa yang kamu pikirkan?” tanya Max setelah dia melamun, tentang masa lalu mereka. Velly menggeleng, dia malu saat ini.
“ Dia tak mencintai mu? Kamu yang mengerjarnya kan?” tanya Max lagi lembut. Velly pun langsung melihat wajah Max. Namun, Velly tak tahu harus berkata apa.
“ Sudahi kecewa mu, aku yang akan mengambil alih,” kata Max dengan tersenyum. Jangan tanya bagaimana jantung Velly? Getaran-getaran cinta mereka di masa lalu, kembali menghampiri hati Velly. Beginilah sikap seorang Max Mount. Pria yang tenang, bersikap dewasa dan satu yang pasti, kasih sayangnya sangat melimpah pada Velly.
“ Max,” lirih Velly dengan hati yang bergetar. Max langsung memegang telapak tangan Velly yang dingin. Lalu, Max mencium telapak tangan, wanita yang sangat di cintainya itu. Apa Velly marah? Atau menolak? Tentu saja tidak.
“ Kamu sangat berharga bagiku, kamu wanita yang aku cintai dari dulu dan sampai selamanya,” ucap Max dengan tidak ada sedikit pun keraguan. Mata Velly berkaca-kaca lagi. Dia tak terkejut dengan sikap Max. Inilah yang membuatnya dulu sulit move on, dari Max sebelum bertemu David Stuart.
Lalu Velly, menghela nafasnya yang terasa sesak. Matanya berkaca-kaca namun dia tersenyum di hadapan Max.
“ Apa kamu tidak berpacaran lagi, sesudah pergi dariku?” tanya Velly dengan hati yang berdebar. Max memiringkan wajahnya dan tersenyum pada Velly.
“ Kalau aku jujur, apa kamu percaya?” tanya Max dengan tersenyum. Seketika, Velly menghela nafasnya lalu menaikkan bahunya.
“ Aku hanya mencintai satu wanita. Aku tak bisa, mengganti posisinya untuk wanita lain. Karena apa? Karena aku sangat mencintai wanita itu, walau aku salah karena telah pergi dan tidak memberi kabar,” terang Max dengan serius. Ya, max berkata jujur pada Velly.
“ Siapa wanita itu?” tanya Velly yang mulai tersenyum.
“ Namanya Velly Alexander. Dia dulu sangat polos dan lugu. Tapi, hanya dia yang bisa menggetarkan hatiku,” jawab Max tersenyum. Demi apapun, ingin rasanya Velly terbang ke langit ke tujuh. Dia sudah lama, tak mendengar perkataan seperti ini. Wajah Velly merona, air matanya tak jadi jatuh. Sungguh, Max selalu bisa membuatnya bahagia.
“ Kamu tau? Aku dulu sering menjemputnya dari sekolah. Terus dia juga selalu hadir, kalau aku lagi main basket,” kata Max lagi dengan santai. Velly semakin malu, karena Max menceritakan sedikit masa lalu mereka.
“ Apa dia cantik?” tanya Velly dengan malu-malu.
“ Yang lebih cantik dari dia banyak. Tapi hanya dia yang membuatku bergetar. Aku suka sikap polosnya, dan senyumannya,” jawab Max melihat wajah Velly yang merona.
Velly tiba-tiba menunduk lagi, dia tak sanggup di lihat max sekarang. Dalam keadaan ini, Max masih menggengam tangan Velly yang sudah tak dingin lagi.
“ Max kamu itu buat malu tau,” ucap Velly yang masih menunduk. Seketika, Max pun tertawa pelan. Dia suka melihat Velly malu-malu seperti dulu.
“ Kemarilah baby,” ucap Max merangkul bahu Velly. Apakah Velly terkejut? Sedikit. Di masa lalu Max sering merangkul bahunya. Apa Velly menolak? Tidak sama sekali! Mereka duduk berdua malam ini di taman itu, melepas rasa rindu di hati mereka masing-masing. Sadar atau tidak sadar, Velly menyandarkan kepalanya di bahu Max. Hal itu pun dulu sering mereka lakukan.
“ Jangan pikirkan yang sudah berlalu, kita akan menatap masa depan,” ucap Max melihat lurus kedepan. Namun tangannya tetap merangkul tubuh Velly. Ya, mereka berdua kali ini tidak saling memandang, mereka menatap lurus kedepan.
“ Kamu yakin menikah denganku?” tanya Velly pelan.
“ Aku pernah berjanji dalam hati, kalau kita tidak sampai ke pernikahan, aku tidak akan pernah menikah,” jujur Max pada Velly. Seketika Velly memukul pelan dada Max.
“ Gombal!” ucap Velly tertawa. Tentu saja Max pun ikut tertawa. Mereka pun bercerita di taman itu, dengan tawa dan senyuman. Tentu saja, mereka hanya bercerita tentang masa lalu mereka yang indah.
*
Sementara, sudah lebih dari satu jam Praja, Mery, Jacob , Juna dan Lidya berbincang-bincang. Juna heran, kenapa bisa lama sekali, Max dan Velly berada di taman. Pikirannya mulai gelisah, dia pun teringat tentang dia dan Lidya dulu. Hampir seperti inilah kejadiannya. Waktu itu di London, sebelum mereka menikah,
Juna dan Lidya pun berbicara di taman, yang ada di mansion mertuanya.
Dan saat itu pun, mereka juga di paksa menikah. Juna takut, Max akan mengancam adiknya, seperti yang pernah dilakukannya dengan Lidya dulu. Walaupun dia heran dengan ucapan mamanya tadi, namun dia sebagai kakak punya andil untuk melindungi adiknya. Karena yang dia tahu, dari awal Velly tak mau di jodohkan.
“ Ma, kami permisi dulu sebentar,” ucap Juna menggengam tangan Lidya. Tentu saja Lidya pun mengerutkan Keningnya.
“ Ok sayang, kami disini dulu,” sahut Mery pada putranya itu.
“ Ayo sayang,” ajak Juna yang sudah berdiri dari duduknya. Lidya pun hanya menurut, dia tak mungkin bertanya ada apa di depan mertuanya.
Juna dan Lidya pun segera berjalan, tentu saja tujuannya ke arah taman. Juna sangat penasaran, apa yang akan di katakan Max pada adiknya itu.
“ Mau kemana sih sayang?” tanya Lidya yang sudah menjauh dari mertuanya.
“ Stt! Ayo kita lihat, apa yang di katakan si Max itu,” kata Juna pelan.
“ Jangan ganggu deh sayang! Biarin aja!” kata Lidya lagi pada suaminya.
“ Dengar sayang, aku ga mau kejadian kita di masa lalu terulang pada Velly,” terang Juna dengan suara pelan. Lidya pun mendadak bingung, dengan sikap suaminya itu. Namun, dia menurut saja dan segera berjalan menuju taman. Tentu saja, mereka akan sembunyi-sembunyi memperhatikan.
Juna dan Lidya melihat dengan sembunyi-sembunyi, lalu merapatkan diri ke dinding tembok. Tentu saja, Max dan Velly tak akan melihat mereka. Lalu Juna melihat Velly dan Max duduk berdampingan, dan Velly lagi mengucapkan sesuatu pada Max.
“ Aku sayang kamu baby,” kata Max pada Velly pelan. Tentu saja, Lidya dan Juna tak mendengar.
“ Jadilah istriku,” kata Max lagi. Wajah mereka kembali berhadapan lagi. Max membelai pipi Velly, lalu Max mendekatkan wajahnya. Max melihat bibir Velly, ya bibir yang dulu menjadi candunya. Lalu, Max pun mencium Velly pelan. Velly menutup matanya, mengikuti ciuman Max. Tak ada ciuman nafsu, mereka hanya menyalurkan rasa cinta dan sayang saja. Ciuman Max sangat lembut, sama seperti dulu.
Jangan tanya, bagaimana Lidya dan Juna yang melihat itu. Juna melebarkan matanya, dan diam tak bersuara. Yang pasti, Juna sangat shock melihat mereka. Bagaimana dengan Lidya? Awalnya dia sama dengan Juna, terkejut bukan main. Sampai-sampai Lidya menutup mulutnya. Namun, akhirnya Lidya jadi baper sendiri melihat adegan itu. Lidya tertawa cekekikan, dan itu bisa di dengar sang suami. Seketika, Juna langsung melihat istrinya yang cekekikan.
“ Kamu kenapa sih sayang?” tanya Juna pelan. Lidya masih cekekikan, dia seperti menonton drama.
“ Sayang!” seru Juna karena istrinya tak berhenti cekekikan. Seketika Lidya pun melihat suaminya,
“ Aku baper sayang, aku ga kuat melihat mereka,” jawab Lidya malu-malu. Juna langsung menepuk jidatnya🤣
“ Kenapa sih istriku ini dikit-dikit baper?” batin Juna kesal. Lalu, Juna pun menoleh ke arah Max dan Velly lagi. Ciuman mereka sudah berhenti, dan Velly duduk menyandarkan kepalanya di bahu Max.
Semua ketakutan Juna memang sirna, namun dia penasaran.
“ Mama besok harus menjelaskan padaku!” batinnya.
“ Ayo ke kamar sayang,” ajak Juna yang ingin segera berbaring.
“ Bentar lagi sayang, nanggung banget!” seru Lidya pada suaminya itu. Juna pun melebarkan matanya,
“ Aku gendong kamu, di depan mama dan papa kalau ga mau!” kesal Juna membuat Lidya pun diam.
“ Ayo,” ajak Juna dan Lidya menurut saja, tapi wajahnya kesal. Dan mereka pun segera berlalu dan berjalan ke kamar.
*
Sementara, David yang berada di kediamannya merasa gelisah sedari tadi. Ya, tadi sore dia menghubungi Velly. Namun, Velly menjawabnya dengan ketus. Dan sekarang? Nomor Velly sudah tak bisa di hubungi. Ya, Vely menonaktifkan ponselnya malam ini.
“ Sial!! Kenapa dia ga bisa di hubungi?” kesalnya setengah mati.
“ Apa dia sudah tidur?” gumamnya lagi dengan hati yang gelisah. Entah kenapa, malam ini dia sangat gelisah. Apalagi nomor Velly tak bisa di hubungi.
“ Kenapa aku tak suka, dia bersikap begini padaku?”
“ Harusnya aku yang bersikap begini!” katanya lagi. Dia mondar-mandir di dalam kamarnya. Lalu dia melihat ke arah ranjangnya. Dia teringat, Velly pernah ada di sana untuk menungguinya karena dia tidak enak badan. Lamunannya buyar seketika dan dia memukul tembok.
“ Kenapa otakku selalu memikirkannya?Apa yang terjadi padaku sekarang ini?”
“ Velly..” lirih ya menyandarkan kepalanya ke tembok.
David memejamkan matanya, seketika wajah Velly melintas lagi di pelupuk matanya. Lalu dia dengan cepat membuka matanya.
“ Akhh mungkin aku sudah gila!” ucapnya geram, karena otaknya tak berhenti memikirkan Velly.
🌹🌹