Kemuning Senja tak mengira akan mengalami malam kelam bersama pria yang tak dikenal.
Kalandra, pria impoten yang telah menikah tetapi tak mampu memberikan nafkah batin kepada istrinya. Dia terus berusaha menjalani pengobatan dan terapi karena mengalami difungsi ereksi.
"Pelukan saja tanpa bercinta, kecut Mas!" protes sang istri.
Sudah banyak wanita yang Kalandra pesan demi bisa memulihkan kejantanannya tetapi tak kunjung mendapatkan hasil. Sampai dimana dia bertemu dengan Kemuning Senja.
Malam indah yang mampu membuatnya normal.
"Jangan Tuan! Saya mohon lepaskan saya!"
"Tidak akan, karena kamu membuatku begitu menginginkan."
Bagaimana nasib Kemuning setelah mahkotanya terenggut paksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Cencel
Kalandra kembali mendekati Kemuning dan menyingkap kain putih yang hampir menutupi wajah wanita itu. Andra sadar betul apa yang ia lakukan itu salah. Dia telah menghalangi Kemuning mendapatkan haknya. Menunda Kemuning dimakamkan. Namun hatinya sungguh masih sangat berat.
Berat untuk melepas, masih butuh waktu untuk bisa menerima semuanya. Harapan sirna, yang ada tinggal kenangan manis bersama dengan Kemuning.
Kalandra menatap wajah kemuning. Perlahan dia mengecup kening kemuning begitu dalam hingga air matanya mengalir membasahi mata sang istri.
"Katakan padaku bagaimana caranya aku harus mengikhlaskanmu? Katakan Sayang!" lirih Andra tanpa mengangkat kepalanya. Dia menyatukan kening keduanya dengan air mata yang terus membasahi wajah Kemuning.
"Katakan jika ikhlasku membuat jalanmu lebih mudah!" Kalandra kembali memeluk tubuh Kemuning. Wajahnya masih menempel di wajah sang istri. Memberi kecupan di pipi Kemuning berulangkali. Hingga entah di menit ke berapa Kalandra bangkit setelah hatinya mulai tenang. Kalandra mulai mengikhlaskan. Dia mengusap air matanya di wajah sang istri.
"Jika ini memang yang terbaik...." Kalandra menegakkan kembali tubuhnya. Memejamkan mata dengan helaan nafas berat. Mungkin ini saatnya dia berhenti menyiksa diri dan Kemuning. Menerima jalan terbaik dari yang paling baik menurut Tuhan.
"Aku melepasmu, Sayang. Aku ikhlas. Pergilah dengan tenang. Doaku menyertaimu istriku," lirih Kalandra. Dia meraih kain putih itu lalu menutup tubuh kemuning hingga wajahnya.
Ikhlas, Kalandra benar-benar harus ikhlas. Mungkin jodohnya bersama Kemuning hanya sesaat. Tak ada lagi yang bisa menentang jika Allah sudah menentukan. Kenyataan sepahit apapun memang harus ia telan. Baik buruk kehidupan harus dia lalui dengan hati legawa.
"Maafkan aku jika aku belum bisa membahagiakanmu. Maafkan aku jika bersamaku hidupmu menjadi sulit. Aku ikhlas istriku," ucap Kalandra sebelum dia benar-benar menutup wajah Kemuning. Kalandra menahan rasa sesak di dadanya. Perlahan dia melangkah pergi dari sana dan berniat ingin meminta pada tim medis untuk mengurus jasad sang istri.
Deg
Jantungnya seakan ingin lepas saat ia merasakan tangannya di genggam oleh Kemuning. Entah apa yang akan Kalandra katakan. Lidahnya kelu, bulu kuduknya bangun bahkan tubuhnya menegang. Ingin rasanya ia berbalik tetapi nyalinya tiba-tiba menciut.
Kalandra menatap sekitar, pintu tertutup dan hanya dirinya berdua dengan jasad Kemuning yang justru menghadang langkahnya yang saat ini sudah ingin mengikhlaskan.
"Apa mungkin Kemuning bangun lagi? Dia mati suri? Kok gue..."
Kalandra menggelengkan kepalanya, mungkin kerena terlalu mengharapkan membuatnya berandai . Melangkah kembali untuk keluar ruangan tetapi cekalan di tangannya semakin kencang.
"Astaghfirullah..."
Mata Kalandra berulang kali mengerjab. Dia melirik tangannya yang benar-benar dicekal olah tangan Kemuning. Dalam sadar rasanya ia ingin berlari keluar dan meminta pertolongan. Terlebih jantungnya yang semakin berdetak kencang.
"Sa.. Sayang ini benar kamu? Kamu kembali? Kamu hidup lagi? Hanya sekedar jalan-jalan dan sekarang sudah pulang? Jangan menakutiku, Yank!"
Tak ada jawaban dari Kemuning hingga Kalandra menarik nafas dalam lalu memejamkan matanya. Lenguhan Kemuning terdengar membuat Kalandra kembali membuka mata. Perlahan dia melirik lagi tangan Kemuning yang sudah mengendur. Namun bayangan Kemuning yang bergerak membuatnya yakin jika Kemuning benar-benar hidup lagi.
"Sayang... Kamu.."
"Sakit Mas, awh.."
Kedua mata Kalandra membola dengan sempurna. Sontak dia menoleh ke arah Kemuning dan benar saja. Kemuning membuka kain yang menutupi wajahnya, wanita itu meringis merasakan sakit.
"Kemuning, kamu..."
Kalandra mengucak kedua matanya kemudian kembali menatap Kemuning dengan wajah penasaran. Tidak, dia tidak salah. Tidak bermimpi dan juga berandai-andai.
Perlahan Kalandra melangkah mendekat. Kembali meraih tangan Kemuning yang mulai menghangat. Memperhatikan tangan tersebut lalu menoleh menatap wajah Kemuning yang terlihat bingung.
"Sayang, bicaralah agar aku yakin!"
"Kamu kenapa, Mas? Kenapa menatapku takut begitu?" tanya Kemuning dengan suara yang sangat lirih. Namun cukup melegakan bagi Kalandra. Suara Kemuning mengundang senyum di wajah Kalandra. Pria itu memeluk Kemuning dengan mengucap kata syukur.
"Ya Allah terimakasih atas mukjizat darimu. Terimakasih karena engkau telah menjawab doaku. Istriku kembali, istriku hidup lagi. Terimakasih Tuhan ... " Kalandra kembali meneteskan air mata. Memeluk sang istri dengan erat.
"Sayang kamu membuat hidupku jungkir balik. Beruntung belum dikubur. Jika sudah aku tak membayangkan akan menggalinya sendirian."
Kemuning mengerutkan keningnya. Tubuhnya masih sangat lemah. Dia sendiri pun tak tau apa yang terjadi padanya. Terlebih mendengar ucapan Kalandra yang membuatnya semakin bingung.
"Mas..."
"Iya Sayang, panggil aku lagi. Aku merindukanmu Yank. Aku takut, sangat takut, terimakasih Tuhan. " Kalandra merenggangkan pelukannya lalu mengecup tangan Kemuning berulang kali. "Panggil aku, Sayang! Mas mau dengar!" ucap Kalandra dengan mata berkaca-kaca.
"Mas kamu kenapa?"
"Kamu yang kenapa, Sayang! Kenapa mau mati tidak bilang-bilang? Pasti kamu mendengar tangisan Mas kan makanya kamu kembali? Iya kan, Sayang? Nggak tega sama Mas, 'kan?" tanya Kalandra yang semakin membuat Kemuning pusing kepala. Hingga tak lama pintu ruangan terbuka. Yuta masuk dengan wajah iba tetapi tak lama tubuhnya terjingkat hingga terjatuh ke lantai.
"Setan!" pekik Yuta dengan mata mendelik menatap wajah Kemuning. Dia menelan salivanya dengan kasar dan perlahan mundur dengan wajah memucat.
Kalandra menoleh ke arah Yuta yang saat ini ketakutan. Dia menghela nafas berat lalu melangkah mendekati Yuta. Kalandra paham betul sahabatnya begitu takut karena yang ia tau Kemuning sudah meninggal. Bahkan wajah Kemuning pun sudah sangat pucat dan tubuhnya pun dingin.
"Bangun!"
"An, mata gue nggak salah lihat? Itu Kemuning kenapa bangun lagi? Dia nggak jadi mati? Matinya di cancel apa pintu surga masih digembok makanya balik lagi?" Yuta mengucak matanya berulangkali menatap Kemuning yang menggerakkan tubuhnya.
"Ck, ini namanya kekuatan cinta Bro! Bini gue balik, dia mau ngajak barengan aja. Mungkin kesepian dia perginya."
"Mulut loe, Njir! Gue serius! Itu Kemuning beneran balik lagi?" tanya Yuta dengan tatapan tak percaya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan andai terjadi pun itu kejadian sangat langka.
"Beneran, ayo bangun! Sekarang loe panggil dokter buat periksa bini gue." Kalandra membantu Yuta untuk kembali bangun. Lagi dan lagi dia menatap wajah Kemuning dengan bulu kuduk yang masih berdiri.
Yuta menganggukkan kepalanya lalu berlari keluar ruangan membuat Mamah dan Papah serta Kashafa terkejut dibuatnya. Terlebih wajah tegang Yuta yang membuat mereka seketika panik.
"Kamu kanapa, Yuta?" tanya Papah Regan melangkah mendekati Yuta yang masih terlihat tak percaya dengan apa yang ia lihat. Yuta seperti orang linglung lalu menoleh ke arah Papah Regan yang diam menunggu jawaban.
"Itu Om, itu..." Yuta menunjuk ke arah pintu.
"Itu apa, Yuta? Yang jelas kalau bicara! Kalandra kenapa?" tanya Papah Regan lagi yang semakin penasaran. Begitupun dengan Kashafa, pemuda itu melangkah mendekat.
"Bukan Kalandra Om tapi Kemuning."
"Ada apa dengan Kemuning, Yuta?" tanya Mamah Kaira dengan gemas. Beliau yang sejak tadi masih menangisi Kemuning sontak terdiam mengusap air matanya saat melihat Yuta keluar seperti orang dikejar setan. .
"Kemuning nggak jadi mati, Tante. Cancel, nggak jadi dikubur." Ucapannya membuat yang lain tercengang dengan mulut menganga.
...****************...
Sampai sini bagaimana perasaan kalian? Sedih? Terharu? Atau mau ngakak?
bgtu bsarkah cintamu pada luna zn