WARNING!!
Segala bentuk penjiplakan bisa di laporkan yaaa, bijaklah dalam berkarya..
Berawal dari Agam, seorang murid baru yang mendapat tantangan dari Maxim untuk masuk ke dalam gudang angker di sebuah sekolah, menyebabkannya bertemu dengan hantu Kuntilanak Laki-laki dengan segala praharanya.
Hingga pada akhirnya masalah pelik mengikutinya, membuat Agam mau tak mau harus membantu Kuntilanak tersebut dalam mengungkap siapa dalang pembunuhannya.
Kasus 16 tahun lalu yang begitu kelam pun terbuka, dengan seorang tersangka yang harus di kuak oleh Agam dan teman-teman.
Namun sekali lagi, kepolisian, detektif, jurnalis dan keluarga dari pawang sekolah, harus mati karena berusaha ikut campur. Korban siswi sesuai dengan inisial nama de
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi atau Nyata?
Ku edarkan pandanganku lebih jauh, tak hanya sebatas memperhatikan sumur dengan sebuah lampu remang-remang di atasnya.
Pencahayaan lampu mulai bergoyang, seiring dengan tiupan angin yang berhembus kencang. Aku melangkah gontai menuju bilik baleho. Tak ku hiraukan pohon dengan dedaunan lebat yang melambai-lambai di atas kepalaku. Begitu juga dengan pohon-pohon pisang yang nampak menyeramkan di dalam kegelapan.
Kakiku menginjak semen berbentuk segiempat, dengan luas sebesar ukuran baleho. Beberapa ember, baskom, dan guci dari plastik terisi setidaknya setengah dan seperempat air.
Ku ambil sebuah ember yang memiliki tangkai. Aku tahu itu akan mempermudahku mengambil air dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ku letakkan ember tersebut tepat di samping sumur.
Tanganku mulai menjangkau ember yang tersangkut di atas kayu panjang yang tertanam di dalam tanah. Ku ulurkan tali dari karet tebal berwarna hitam dengan bentuk persegi yang saling memiliki empat sisi.
Ngiik Ngiiik Ngiiik...
Suara putaran roda di atas sumur ketika aku mengulurkan ember timbanya. Aku cuek saja pada awalnya, tak menghiraukan angin dingin yang terus menerus mengusik beberapa bagian tubuhku. Sampai akhirnya aku sadar, ada sesuatu selain diriku di tempat ini.
Suara samar-samar yang sengaja ia sembunyikan dari gerekkan timba yang saling bergesek ketika aku mengulurkannya. Suara desah yang berat.. seperti suara seseorang yang sedang menghembuskan napas menjelang ajalnya.
Haah...
Haah...
Aku mengernyit. Tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tahu ada sesuatu yang mengawasiku. Tanpa jarak.. Di dekatku. Tapi sialnya, aku tak di anugerahi kemampuan untuk dapat melihat hantu dengan mata telanj*ngku.
Ember timbaku jatuh ke atas air. Menandakan ia sudah mau diisi. Aku mendongak ke dalam sumur, memiringkan tali yang ku pegang agar embernya dapat tumbang. Setelah kemasukan air dan terisi, aku mulai menarik ember tersebut, dan mengisinya ke dalam ember bertangkaiku.
Saat sedang sibuk mendongak ke bawah, menantikan emberku terisi kembali, aku merasakan tengkuk belakangku dingin bak baru saja di tiup.
Aku mengerjap kaget, karena perasaan ini jelas terasa hingga aku menggeliat kedinginan. Saat mengusap tengkukku, tanpa sengaja aku melihat dengan sudut mataku. Di sisi kiriku, ada sekelabat benda yang bertengger tanpa bergerak sedikit pun.
Seketika dari leher, dada, jantung, sampai perutku terasa memanas. Bak air mendidih yang sedang membuih.
"Kun?" Sapaku lembut. Karena biasanya yang sering melakukan ini adalah Kun. Lagi pula sejak kejadian di pantai, ia tak menampakkan dirinya sedikit pun.
Aku menoleh cepat ke arah yang baru saja terlihat sosok yang sedang berdiri tadi. Namun semilir angin seolah menerbangkannya dari hadapanku.
Aku mengerjap, tak percaya dia hilang secepat itu. Aku benar-benar merasa ada sesuatu tadi. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Jangkauan mataku terbatas. Yang dapat ku lihat hanyalah pepohonan besar dengan daun lebatnya, rerumputan yang mulai tinggi, pohon pisang dengan daunan kering yang masih melekat di batangnya, selain itu aku hanya melihat rona gelap di segala sisi. Bulan dan lampu tak bersahabat denganku. Mereka hanya memberikan penerangan seadanya untukku.
Sambil menilik, aku melihat ke antara daun-daun. Ada daun yang bergerak paling cepat di antara daun lain yang tertiup angin. Seperti sedang di mainkan sesuatu.
Aku menyipitkan mataku, berusaha mempertajam tatapan mataku. Namun denyutan panjang menekan jantungku, setelah tanpa sengaja aku melihat sepasang mata menilikku dari jauh.
Aku mengerjap cepat, dan terus memperhatikan tempat itu lekat-lekat. Aku rasa itu dedaunan kering. Terlalu gelap untuk ku tatap dan ku artikan benda-benda yang ku lihat. Bahkan daun kelapa kering bak rambut panjang yang sedang terjuntai di tiup angin. Dan plastik yang di buang sembarang hingga tersangkut di beberapa batang nampak seperti perempuan berbaju putih yang sedang berdiri.
Itu hanya nampaknya saja. Tidak mungkin kan aku bisa melihat hantu. Dan mana ada sih hantu selain Kun yang entah kenapa bisa ku lihat itu.
Ember air ku terisi penuh. Ku sangkutkan ember timba ke atas kayu. Aku berjalan terhuyung sambil mengangkat seember air penuh. Membawanya menuju ke dalam rumah.
Namun tiba-tiba lampu penerangan satu-satunya ini mati. Setelah berkelap-kelip beberapa kali. Aku terhenti. Mendongak ke atas, untuk menatap lampu.
Kenapa juga dia bisa mati?
Kini aku tak dapat melihat apa pun. Cahaya bulan terlalu redup karena tertutupi awan mendung.
Splash.. splash..
Terdengar suara gemerisik air di dalam sumur. Bak sedang di mainkan atau sedang di libas-libaskan. Aku mengernyit. Tak salah dengar kan?
Aku menoleh ke arah sumur. Apa aku harus kesana dan melihatnya? Aku penasaran sekali, suara macam apa itu? Walaupun gelap dan tak bisa melihat apa pun, tetap saja aku penasaran dengan bunyi air itu.
Ku letakkan ember berisi air yang hendak ku bawa ke rumah di atas tanah. Kaki ku baru selangkah berbalik, namun ada sebuah cahaya dari kejauhan yang menyoroti wajahku. Aku mengernyit, hingga kedua mataku menyipit. Ku tutupi silaunya cahaya itu dengan telapak tanganku.
"Gam!! Lampunya mati ya?"
Itu suara kakek?? Aku mengernyit dan memindahkan tanganku yang menghalangi cahaya yang terarah langsung ke wajahku. Aku menatap lurus ke arah cahaya, yang ternyata adalah lampu senter milik kakek.
"Iya kek. Mati tiba-tiba." Sahutku sambil menyipitkan mata karena silau.
"Cepet masuk sini!! Kakek sinarin dari jauh!" Ucap kakek dari dalam rumah seraya memberikanku penerangan.
Aku pun kembali mengangkat ember berisi air dan berjalan menuju kakek. Aku masuk dan dengan cepat kakek menutup pintunya.
Namun, tanpa sepengetahuan Agam.. Lampu yang tadinya mati kembali menyala. Suara gemerisik air kian berisik. Lampu menjadi berkelap-kelip.
Terdengar suara sayup gumaman bak perempuan yang sedang menyanyikan sebuah lagu. Berdengung dan menggema di antara dalamnya sumur.
Splash.. Splash...
Air sumur kembali beradu. Tak lama, suara itu terdengar tenang. Sebuah tangan dengan kuku panjang dan kulit pucat keriput dan hampir pecah bak mayat yang terlalu lama terendam air mengeluarkan tangan-tangannya dari dalam sumur.
Kulitnya membiru, kepalanya keluar perlahan dengan rambut kusut yang basah kuyup terendam air. Ia menyengir dalam pencahayaan lampu remang-remang.
"Agaaam~" Gumamnya lembut.
Klap!!
Lampu kembali mati, dan semuanya gelap kembali.
.
.
.
Setelah memasukkan air ke dalam kendi, nenek menyuruhku makan malam bersama kakek. Kakek bercerita banyak tentang teman-temannya dan juga membahas banyak tentang hadis yang belum ku ketahui sebelumnya.
Tanpa sadar hari sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Omelan nenek menghentikan kisah kakek. Aku di suruh tidur. Namun seperti biasa, sebelum tidur aku berwudhu dan membaca surah Al Mulk. Membersihkan tempat tidurku dan melibasnya dengan sapu lidi.
Aku berdoa, dan berdzikir dalam hati sampai mataku terlelap. Entah kenapa Kun tak muncul malam ini. Rasanya sepi sekali.
Dalam kegelapan karena penglihatan yang tertutup, ada sebuah cahaya yang menyilaukan mataku. Berwarna putih kekuning-kuningan. Merasa heran, siapa yang sedang menyorot wajahku dengan lampu? Aku pun membuka kedua mataku.
Namun tubuhku tersentak ketika sadar, aku telah kembali ke benteng tadi. Ke tempat yang ku datangi sore tadi.
Kenapa aku kembali ke sini???
Sayup-sayup ku dengar suara tawa yang mendekatiku. Seorang perempuan??? Ia menghampiriku dan tertawa bersamaku. Siapa dia? Kenapa aku tampak mengenalinya? Dan.. kenapa kami akrab?? Padahal aku tak pernah bertemu dengannya sama sekali.
Setelahnya, ada seorang wanita dan pria yang menatap kami lekat-lekat. Mereka tersenyum hangat. Siapa mereka?? Tak ku kenali seorang pun wajah dari mereka...
Tapi bagian yang paling mencoloknya adalah...
Siapa pria tampan berwajah bak orang Belanda itu?? Ia tersenyum padaku, tapi entah kenapa.. aku tak mempercayai kalau senyumnya itu tulus.
Sampai akhirnya ku lihat ia menatapku dengan sadis, kedua matanya melotot, dan seketika kedua perempuan tadi menghilang di antara kami. Benteng tadi berubah menjadi gelap. Dan aku tak tahu ini di mana.
Aku berlari memunggunginya..
Kenapa aku takut??
Namun lariku tak serupa berlari. Lambat dan tak menjauh darinya sama sekali. Aku berteriak dan menjerit, namun suaraku tak terdengar sama sekali.
Aku kelelahan, tubuhku jatuh di antara jurang gelap bersama sekumpulan perempuan cantik yang nampak sebaya.
Brugh!!!
Aku terperanjat. Keringat mengucur deras di dahiku hingga membasahi rambut dan baju yang ku kenakan. Napasku terengah, dan aku mengedarkan pandanganku kesekeliling. Aku masih berbaring, dan ini kamarku di rumah nenek.
"Astaghfirullahhaladzim!!" Gumamku sambil menutup kedua telapak tangan ke wajahku.
"Alhamdulillah cuma mimpi!!" Ucapku lega sambil berkali-kali menghela napas panjang. Ku lihat jam tangan yang ku letakkan di samping bantalku.
"Jam satu malam??" Aku tersenyum. Sepertinya ini alarm alami yang menyuruhku shalat tahajud. Aku pun bergeser ke sisi kasur dan beranjak. Mengganti bajuku yang basah karena keringat dan pergi ke dapur untuk mengambil wudhu.
Setelah shalat tahajud hampir satu jam, aku kembali ke kasurku untuk tidur. Aku kembali berdzikir dan berdoa. Mudah-mudahan aku tak mengalami mimpi buruk lagi.
Baru sebentar memejamkan mata, tidurku kembali di ganggu dengan suara ketukan. Seperti suara kuku yang di pantukkan ke kayu.
Aku mengernyit sebelum membuka mata. Apa lagi sih yang mengganggu tidurku? Padahal tubuhku masih terlindungi air wudhu. Aku pun membuka mata. Menampakkan langit-langit rumah tanpa plafon dan hanya menampakkan kerangka kayu yang saling bersilang satu sama lain.
Saat menatap ke atas, aku langsung dapat melihat genteng yang tersusun rapi dengan kayu yang menopangnya. Laba-laba tampak membangun istana di atas sana. Debu pun berkumpul bak keluarga di hari lebaran saking banyaknya.
Aku kembali memejamkan mata, namun suara itu seolah tak mengizinkan aku untuk tidur dan merasa tenang. Aku kembali membuka kedua mataku dan beranjak duduk. Mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar yang berukuran sedang ini.
Tuk.. Tuk.. Tuk..
Suaranya makin menjadi. Dan asalnya dari jendela kayu nenekku yang sudah tertutup dan di kunci. Aku menoleh ke arahnya. Beranjak turun dari tempat tidurku. Kaki ku berjalan perlahan menuju jendela.
"Kun??" Sapaku lagi. Namun seketika tempat ini menjadi hening. Aku pun mengernyit. Apa mungkin itu Kun, dia sedang bermain-main dan bermaksud untuk menakutiku?
"Gue tau kok itu elu, soalnya gue gak merinding.." Ucapku seraya membuka kunci pintu tradisional ini. Besi panjang yang di gesekkan ke atas hingga keluar dari lubang penyanggahnya. Aku pun mendorong daun jendela dari kayu tersebut hingga menampakkan suasana depan kamarku.
Ada pohon mangga dan srikaya. Serta tanaman bunga indah dan tertata rapi. Suasana masih tampak gelap namun dengan penerangan yang lebih baik dari pada belakang rumah.
Aku bisa memantau jelas keadaan luar dari dalam kamarku. Melihat ke sekeliling, namun tak terlihat siapa-siapa di sana. Aku pun mengendikan bahu dan kembali menarik daun jendela untuk menutupnya.
Namun sebelum jendela tertutup, sekelabat ku lihat ada sesuatu berdiri di sebelah pohon mangga. Aku pun kembali membuka pintu, untuk menyaksikan benar atau tidaknya penglihatanku.
Dan benar saja, aku melihat perempuan berambut panjang dengan gaun putih sampai menutupi kedua kakinya. Rambutnya nampak kusut dan acak-acakkan. Dari atas kepala, aku dapat melihatnya dengan jelas. Namun dari pinggang ke bawah, bentuknya seperti benda virtual yang nyata dan tak nyata.
Aku mengerjap. Itu bukan Kun. Dan sejak kapan aku bisa melihat hantu lain selain Kun? Aku mengucek mataku lalu kembali menatapnya, ia masih berdiri di sana dan memunggungiku.
Aku tak sedang mengigau kan?? Apa aku salah lihat?
Aku kembali mengucek mataku lagi, dan menatapnya. Ia masih saja berdiri di sana. Kini aku mengulanginya lagi dengan kasar, sampai aku merasakan mataku kian perih. Aku membuka mata dan melihatnya.
Ternyata benar kan, dia menghilang.
Aku menghela napas panjang. Ternyata aku memang salah lihat. Sepertinya ini efek dari tubuhku yang kelelahan. Aku kembali menjangkau daun jendela kayuku, namun aku merasa ada yang aneh. Ketika aku hendak menutupnya, hantu tadi langsung muncul tiba-tiba di hadapanku dengan memberikan jarak wajah yang kian dekat meskipun ia masih berada di luar rumah.
Aku memaksakan menutup jendela, hingga wajahnya terjepit daun jendela. Samar, aku tak dapat melihatnya meski telah berhadapan. Dan ketika aku semakin menarik paksa jendela ini, kepalanya yang terjepit lantas terbelah dua dan jatuh menggelinding sebagian dan menimpa kakiku.
Aku terkesiap kaget, dan tanpa sadar tubuhku terperanjat dari atas kasur dalam keadaan terduduk. Aku bernapas kasar dengan keringat yang kembali mengucur deras hingga mengalir ke daguku.
Aku menyekanya sambil beristighfar berkali-kali dalam hatiku. Lagi-lagi itu hanya mimpi.
"Udah bangun, Gam?" Tanya seseorang dari depan pintu kamarku. Ia menyibakkan tabir sambil menatap heran ke arahku. Ternyata itu kakek. Ia sudah berpakaian rapi dengan baju gamis serta peci rajutan berwarna putih. Selaras dengan warna bajunya.
Aku mengambil jam tangan yang ku letakkan di samping bantalku. Ternyata sudah pukul empat.
"Agam ikut kek." Ucapku seraya beranjak.
"Mau jamaah di masjid?" tanya Kakek sambil menatapku mengganti baju kaos dengan baju koko.
"Iya kek." Singkatku sambil mengambil peci dan berjalan menuju kakekku.
"Bukannya masih sakit?"
"Udah enggak kok kek." Singkatku lagi sambil berjalan keluar kamar bersama kakek. Di arah dapur, nenek datang dan menatapku. Kulit wajah, lengan, rambut dan kakinya basah. Selesai mengambil wudhu nampaknya.
"Mau kemana, cu?" Ucapnya bingung. Aku langsung mengambil tangannya dan menciumnya.
"Ke masjid dulu nek." Sahutku seraya berlalu, mengikuti kakek yang sudah berjalan ke teras depan.
Aku menyusulnya, dan berjalan beriringan dengan kakek. Saat lewat pohon mangga dekat kamarku, aku kembali teringat dengan mimpi tadi. Seorang perempuan berdiri di atas sini. Ya, tepat di antara pohon mangga ini.
Aku pun menilik ke tanah di mana ia berdiri. Dan seketika mataku terbelalak ketika melihat sesuatu di atasnya..
Kenapa bisa ada hewan ini di bawah tempatnya berdiri??
Sekumpulan ulat yang menggeliat di atas tanah.
Dan seketika aku merasa sesuatu menggeliat-geliat di kakiku. Ketika aku menunduk dan melihatnya, ini adalah ulat belatung. Ia tiba-tiba muncul di kakiku, yang seperti di dalam mimpi telah di timpa oleh sebagian wajah hantu yang terbelah tadi.
Aku langsung mengibas kakiku bak sedang menendang bola berkali-kali, untuk menjauhkan ulat belatung tersebut.
Jadi, apakah ini mimpi?
Atau kenyataan??
.
.
.
.
Bersambung..
membaca nya, berasa aku jga trbawa dalam cerita nya.
Masya Alloh author nya pinter bgt buat novel yg bukan cma hiburan, tp banyak jg ilmu" agama nya, smpai" aku pn bljar keseharian mnurut sunah rosul, sperti ritual sblum tidur mnurut agama Islam. mksih bgt kakak author buat novel nya.🥰
coba kk Rima lanjutin novel kun lg ya...smpe agam nikah sm dara...khihihi...pasti seruuu