Pengkhianatan Suaminya disaat yang Laras hamil, merupakan langkah awal kehidupan bahagia Laras yang sesungguhnya karena setlah Suaminya menceraikan Laras, dia menikah dengan Pengusaha Sukses yang merupakan Boss dari mantan suaminya dikantor.
Kehancuran rumah tangga Laras berawal dari Kegatelan seorang wanita muda bernama Sandra yang sangat licik dan penggoda dari laki-laki yang ada di sekeliling keluarga Laras.
Setelah mereka bercerai, suami Laras, Bobby akhirnya menikah dengan sang pelakor, Sandra yang ternyata mencari keuntungan dari beberapa pria yang lain, termasuk dengan kakak ipar Boobby.
Bagaimana kisah mereka? Banyak yang terjadi diantara mereka bertiga, dan kisah Sandra yang membagi tubuhnya dengan laki-laki lain selain Bobby!
Ikuti Kisah "DUSTAMU...Berkah Bagiku!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KARIANGAU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASALAH BARU...!!
BAB 33.
"Iya sayang, nanti aku kasih tau ke bu Andini," jawab Satria.
"Aku merasa aneh saja dengan Bobby, apa yang dia cari? Dulu aku menjadi istrinya, uang belanja ke aku juga cuma sedikit. Terus dia selingkuh dengan Sandra. Kalau masalah ****, kan Sandra sudah bisa memuaskan. Kenapa dia pakai menggoda sekretarisnya? Nggak habis pikir aku dengan kemauanya!" Laras tampak kesal.
"Ya, yang tau kan hanya Bobby. Kita kan nggak tau jalan pikirannya!"
"Mas, kita jadi makan siang di Dimrock? Bagaimana kalau kita ke resto kamu yang dipinggir pantai itu?" tanya Laras.
"Oh, disana? Boleh deh, mau berangkat sekarang?" tanya Satria.
"Ayo mas, kan agak jauh dari sini!" Laras langsung berdiri dan bersama Satria keluar dari ruangan Satria.
Mereka langsung menuju lobby. Di lobby sewaktu mereka menunggu mobil Satria yang belum
datang, muncul Bobby yang membawa kardus isi barang-barang mereka yang dia miliki di kantor.
Bobby lewat dengan senyuman sinis di bibirnya. Satria dan Laras hanya saling pandang saja. Mobil sudah datang dan mereka naik dan menuju ke resto yang ada di pinggir pantai. Mereka sampai di resto dan masuk ke dalam.
"Sayang mau makan apa?" tanya Laras.
"Hm, apa saja, kamu pesankan saja seperti biasa."
"Oke, bang."
Mereka berdua duduk di saung pinggir pantai sambil menikmati pemandangan deburan ombak. Dan mereka berdua makan bersama. Sewaktu mereka selesai makan, tampak Pak Hendri dan istrinya berjalan mendekat ke arah mereka duduk.
Laras dan Satria kaget.
"Oh, kalian disini rupanya." Pak Hendri dan istrinya sudah berdiri di dekat meja mereka.
"Oh, papi. Sudah pulang dari Eropa?" tanya Satria santai.
"Hm, beneran kalau kalian berdua sudah menikah?" tanya Pak Hendri yang masih menatap Satria dan Laras bergantian.
"Iya, duduk saja dulu, pi, tante!" Satria menyuruh duduk di kursi yang kosong. Mereka duduk.
"Jadi kalian menikah tanpa memberitahu papi? Apakah ada perjanjian kawin kontrak berkaitan dengan pernikahan kalian?" Pak Hendri langsung menembak dengan pertanyaan aneh.
"Tidak ada sama sekali! Saya menikahi Laras karena cinta!" Satria menjawab dengan tegas.
"Hm, kamu mencintai orang yang sedang hamil bukan anakmu? Luar biasa! Hebat, sejak kapan kamu bisa seperti itu?" Hendri tersenyum sinis kepada Satria.
"Saya akan menerima dia apa adanya! Saya siap menanggung resikonya!" Jawab Satria dengan memandang wajah Laras dan tersenyum.
"Apasih kelebihan orang ini?" Hendri menunjuk Laras.
"Sudah hamil, bekas istrinya Bobby, dari keluarga yang tidak terpandang! Kamu mempermalukan dirimu sendiri, Satria! Kamu ini pemimpin perusahaan besar, masa kamu tidak bisa menikah dengan seorang gadis dan malah memilih wanita hamil yang bukan anakmu!" Hendri sengaja bicara untuk mempengaruhi psikis Laras.
Laras lama-lama kesal dan sakit hati dengan perkataan pak Hendri, mertuanya itu. Dia menghina Laras terus dan memojokkan dirinya.
"Maksud papi apa? Saya memang hamil dan saya juga sudah jujur kepada bang Satria. Saya tidak mengejar ngejar dia, apalagi karena harta!" Laras ikut bicara sambil menitikkan air matanya.
"Ya maksudku ya jelas, kamu itu barang bekas. Dan saya sebagai orangtua Satria sangat kecewa selera anak saya ternyata rendah sekali!" Timpal Pak Hendri dengan nada mengejek.
"Saya memang miskin pak, tapi saya tidak menggoda Satria, tidak seperti istri bapak yang masih muda ini, dulu mencari harta dengan menggoda bapak. Saya tidak, silahkan bapak tanya ke suamiku!" Laras membela diri.denga isaknya yang mulai bertambah. Sakit hatinya dinilai sebagai barang bekas oleh mertuanya sendiri. Dia ingin tampar saja kalau bukan dia itu mertuanya.
Tampak istri Hendri kesal dengan omongan Laras yang mengejek dia.
"Kamu pasti menggodanya? Saya tau selera Satria dari dulu. Dia itu dulu pernah punya pacar. cantik, tinggi dan berkelas. Malahan sampai pacarnya hamil dan punya anak dari Satria. Benerkan Satria??" Satria wajahnya merah padam mendengar omongan papinya. Laras kaget dan menatap ke arah Satria.
"Bang, benar apa kata papi?" tanya Laras kepada Satria yang sudah marah dengan wajahnya yang memerah.
"Itu tidak benar! Kalau aku punya pacar memang benar, tapi kalau Alicia hamil anak saya itu tidak benar! Anak itu bukan anak saya!" Sahut Satria dengan suara yang gemetar.
"Ah kamu bisa aja mengelak, Sat! Jelas-jelas Brandon itu anakmu!" Pak Hendri berusaha mempertegas omongannya dan terus melakukan intimidasi kepada pasangan itu.
"Papi maksudnya apa bicara seperti ini?" Satria tambah kesal. Satria berdiri tegak dan menatap tajam kepada papinya.
"Supaya istrimu ini juga tau, kalau kamu juga punya masa lalu yang masih harus kamu urus! Kamu bukan Dewa yang tidak punya kesalahan apapun! Walaupun kamu ini orang yang hebat, tapi kamu pasti punya kekurangan." Pak Hendri masih berusaha mengintimidasi Laras.
"Jadi Alicia nama pacarmu itu?" Laras menatap Satria dengan rasa kecewa. Kembali lagi hatinya tersayat sembilu. Pertama kali luka yang disayat oleh Bobby suda tertambal, sekarang terbuka lagi luka itu karena ternyata Satria tidak pernah cerita apapun mengenai Alicia. Apalagi papinya bilag kalau Alicia punya anak laki-laki, Bradon.
"Dia mantan pacarku, Laras. Dan sudah lama kami pisah, karena dia selingkuh dengan temannya satu jurusan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri waktu aku sampai di kamar apartemennya! Nanti aku jelaskan, tapi yang jelas, sekarang aku hanya memilikimu!" Satria berusaha meyakinkan Laras dan berharap untuk tidak terpengaruh dengan omongan papinya.
"Kamu kenapa tidak pernah cerita apapun menganai Alicia dan Brandon kepadaku?" Laras kesal dan dia kembali menangis. Air mata deras keluar dari kelopak matanya.
"Aku merasa tidak ada yang perlu aku ceritakan, karena itu semua hanya masa lalu!" Jawab Satria.
"Percayalah sayang, aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Alicia!" Satria menggenggam tangan Laras. Laras tak membalasnya. Dia diam seribu bahasa dengan tetap memandang wajah Satria lekat-lekat. Laras menarik tangannya dari genggaman Satria.
"Siapa Brandon?" tanya Laras yang mengharapkan kejujuran dari Satria.
"Dia anaknya Alicia. Tapi aku tak pernah menganggap dia sebagai anakku, karena aku merasa dia bukan anakku! Alicia ternyata banyak selingkuhannya, sewaktu aku dan dia masih berhubungan!" Sergah Satria.
Laras masih terdiam. Pak Hendri tertawa sinis.
"Bang, kita pergi saja! Aku mau pulang!" Laras langsung mengambil tas nya dan berjalan cepat meninggalkan meja itu. Satria yang melihat Laras berjalan cepat mengancam papinya.
"Papi tak akan mendapatkan apa-apa, saya pastikan papi akan menyesal sudah bicara bohong mengenai Alicia! Oh ya satu lagi, bobby sudah saya pecat! Kelakuannya sama kayak papih, BEJAD!! Ingat itu!!" Satria berdiri dan berjalan menyusul Laras ke mobilnya.
"Laras, tunggu aku!!!" Laras tak memperdulikan Satria dan terus berjalan sambil menangis.
Di mobil, mereka saling diam sampai di rumah. Laras langsung masuk ke kamar. Satria mengikuti dari belakang. Satria sangat sedih melihat Laras yang sangat terpukul. Tapi dia harus memberanikan diri untuk menjelaskan kepada sang istri, cerita yang sebenarnya terjadi.
"Sayang, aku mau bicara boleh?" Satria melihat Laras termenung di meja riasnya setelah mandi.
"Bang, aku sedih, kenapa aku selalu jauh dari bahagia? Aku menikah denganmu untuk mencari bahagia. Apakah aku harus lari lagi dari kenyataan?" Laras memeluk tangan suaminya yang kekar menempel di pipinya.
"Kamu berhak untuk menjadi bahagia, bahkan setiap orang berhak untuk bahagia. Aku mau menceritakan semuanya kepada kamu. Aku minta maaf, karena menurutku masa laluku dengan Alicia, sudah aku kubur dalam-dalam. Tak ada lagi hubunganku dengan Alicia. Sudah tiga tahun ini aku memang sudah lost kontak dengannya."
"Bagaimana kalau kita makan dulu bang, nanti kita lanjutkan bicaranya di kolam renang?" Laras berdiri dan menarik tangan Satria untuk keluar kamar. Mereka menuju ke meja makan di lantai 1. Sesudah selesai makan, mereka berdua ke kolam renang dan duduk di saung sebelah kolam renang.
"Bang, mau kopi?" tanya Laras.
"Ya, boleh sayang." Laras kemudian berjalan kembali ke dapur membuatkan kopi suaminya. Tak lama kemudian Laras datang kembali di kolam renang.
"Bang, ini kopinya."
"Terima kasih sayang."
"Bang, kalau kamu sudah tidak ada kontak dengan kamu, bagaimana kamu tau mengenai Brandon?" tanya Laras sambil menikmati teh hangatnya.
"Begini, setahun lalu, papi yang mengabarkan ke aku. Dia menelpon ke papi dan memberikan foto Brandon ke papi. Aku sih tidak percaya sama sekali!" Satria menyesap kopinya.
"Kamu dengan dia pacaran kapan, bang?"
"Waktu di kuliah semester tiga, aku bertemu dengan Alicia, dia warga negara Autralia, dan kami pacaran di sana selama kami kuliah. Akhirnya aku putus dengannya setahun sebelum aku pulang ke Indonesia."
"Hm, terus sekarang Brandon usia berapa?"
"Waktu setahun lalu dia usia dua tahun, mungkin sekarang sudah usia 3 tahun. Mereka sekarang tinggal di Australia. Alicia, kata papi menuntut bagian saham perusahaanku."
"Hm, terus bagaimana kalau dia benar anakmu?" Laras masih meminta penjelasan yang lebih banyak dari Satria. Hatinya kesal, karena Satria sebagai suaminya yang sah, ternyata mempunyai sisa masa lalu yang kemungkinan bisa memberikan masalah di masa mendatang.
"Ya kita harus lakukan test DNA dulu untuk memastikannya! Aku tau dia itu juga sering tidur dengan banyak pria disana, makanya aku sangat kecewa waktu itu. Padahal, aku sering memberinya uang untuk hidupnya disana!"
"Ya kamu tetap harus bertanggung-jawab kalau nanti Brandon ternyata adalah anak sah kamu!" Laras menegaskan pedapatnya.
"Sampai kapanpun aku tak akan memberikan harta atau bagian apapun ke anak itu!"
Laras hanya bisa diam, karena kalau dilanjutkan, bisa-bisa Satria marah dengannya karena membela Brandon. Laras harus menjadi penengah dalam hal ini. Tapi dia juga tak mau dicolek oleh Alicia nanti. Bukan masalah harta atau saham perusahaan, tap Laras ingin keluarganya dengan Satria akan hidup bahagia.
....
....
BERSAMBUNG
mngkin bisa direvisi kembali atau untuk novel selanjutnya bisa lebih diperhatikan kembali untuk penulisannya supaya pembacs lebih nyaman 🙏🏻
terima kasih & tetap semangat menulisnya 💪🏻💪🏻💪🏻🌹🌹🌹
atau bang mas? hehe