Novel ini adalah sequel dari Terjebak Gairah Monster Tampan
Jeremy Suryawijaya adalah adik kandung dari Cintyara Alona Suryawijaya dengan bersuamikan Pria hebat yaitu kakak ipar Jeremy yang memberi Jeremy fasilitas penuh untuk memulai bisnisnya di usia yang begitu muda setelah kakaknya Alona menikah dan membina biduk Rumah tangga dengan Johan Rahadiningrat.
Pertemuan pertamanya dengan Kimberly Tejakusuma gadis cantik di Dreamy Internasional Highschool yakni adalah junior di sekolah yang sama dengannya. Gadis cantik itu seringkali mencuri pandang dan melihatnya dari kejauhan tingkah lucunya yang akhirnya membuat Jeremy juga jatuh hati padanya. Namun sayang seribu sayang ternyata Kimberly sudah di jodohkan dengan Arsen yang notabene berasal dari keluarga konglomerat yang orang tuanya bersahabat baik dengan Kimberly dan menjodohkan keduanya sedari bayi. Bagaimana cara Kimberly lepas dari belenggu perjodohan itu saat cintanya dengan Jeremy akhirnya bersambut?
Yuk mampir zeyeng ditunggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ippiiieee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nggak Tahan!
Setelah lima menit di dalam apotek, Arsen kembali dengan membawa obat dan perban. Ia berjongkok di depanku lalu membuka botol antiseptik dan menuangkannya ke kapas.
“Lukanya harus dibersihkan dulu, nanti perih sedikit,” katanya.
Aku mengangguk pelan. Benar saja, saat kapas itu menyentuh lukaku, rasa perih langsung menjalar sampai ke lututku. Aku menahan napas dan menggenggam ujung rok seragamku agar tidak berteriak.
Arsen membersihkan lukaku dengan hati-hati, lalu menutupnya dengan perban.
Dia terlihat sangat serius dan fokus, seolah-olah luka kecil di kakiku ini adalah hal yang sangat penting.
Aku jadi merasa tidak enak.
Baru kali ini ada orang yang begitu perhatian padaku.
“Sepertinya kita harus ke rumah sakit. Lukamu cukup dalam. Aku takut besok kamu tidak bisa jalan kalau tidak diperiksa,” katanya.
Jantungku langsung berdebar.
Rumah sakit berarti uang. Dan aku tidak punya uang untuk itu.
“Tidak! Jangan ke rumah sakit, Kak. Aku tidak akan bisa membayarnya. Cukup sampai di sini saja. Untuk obat ini saja aku sudah berutang padamu. Nanti akan aku ganti saat uang beasiswaku cair,” kataku cepat.
Arsen menghela napas pelan lalu menatapku.
“Memangnya aku memintamu mengganti semua ini?” katanya.
Aku terdiam.
“Aku membantu kamu bukan karena ingin dibayar. Jadi tidak usah memikirkan soal uang,” lanjutnya.
“Tapi aku tidak enak…” kataku pelan.
“Kalau begitu, anggap saja suatu hari nanti kamu membantu orang lain juga. Itu sudah cukup,” katanya.
Aku terdiam cukup lama. Tidak ada yang pernah berbicara seperti itu kepadaku sebelumnya.
“Sekarang kita tetap ke rumah sakit. Aku hanya ingin memastikan kakimu baik-baik saja,” katanya lagi.
Aku akhirnya mengangguk pelan. Aku sudah terlalu lelah untuk berdebat.
Kami kembali naik motor dan menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, Arsen membantuku turun dan kami langsung menuju IGD.
Dokter memeriksa kakiku dan beberapa bagian lain yang sempat terbentur saat aku jatuh.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter berkata, “Lukanya cukup dalam dan ada memar di beberapa bagian. Sebaiknya pasien istirahat dan observasi dulu. Minimal dua atau tiga hari.”
Aku langsung panik.
“Tiga hari? Tidak perlu, Dok. Saya bisa pulang,” kataku cepat.
Namun Arsen langsung berbicara dengan dokter.
“Dok, tolong siapkan kamar saja. Dia akan dirawat sampai benar-benar bisa jalan dengan baik,” katanya.
Aku menoleh kaget ke arahnya.
“Tapi—”
“Kamu harus istirahat. Jangan keras kepala,” katanya singkat.
Akhirnya aku benar-benar dirawat di rumah sakit. Aku bahkan mendapatkan kamar yang sangat besar dan nyaman. Kamar itu jauh lebih bagus daripada kamar kos kecilku.
Aku duduk di ranjang pasien sambil melihat sekeliling kamar dengan tidak percaya.
Aku tidak pernah membayangkan bisa berada di kamar rumah sakit seperti ini.
Arsen duduk di kursi dekat jendela sambil memainkan ponselnya.
“Terima kasih banyak… aku benar-benar tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu,” kataku pelan.
“Tidak usah dipikirkan. Istirahat saja dan cepat sembuh,” jawabnya.
“Apa kamu tidak pulang? Orang tuamu tidak mencarimu?” tanyaku.
Arsen tersenyum kecil.
“Orang tuaku sering ke luar negeri. Rumah sering kosong. Jadi tidak masalah aku di sini,” katanya.
Aku menunduk.
“Orang tuaku juga di luar negeri,” kataku pelan.
Arsen menoleh.
“Tapi mereka bekerja sebagai buruh di sana. Mereka jarang pulang karena harus mengumpulkan uang untuk biaya hidup dan sekolahku,” lanjutku.
Arsen tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
“Makanya aku harus sekolah yang benar. Aku tidak boleh gagal,” kataku.
“Kamu tidak akan gagal,” jawabnya singkat.
Perawat datang membawa makanan untuk pasien. Aku makan pelan karena memang lapar sejak siang tadi.
Setelah makan dan minum obat, rasa kantuk mulai datang. Mungkin karena efek obat dari infus.
“Tidurlah. Aku di sini saja,” kata Arsen.
“Kamu tidak pulang?” tanyaku lagi.
“Nanti saja,” jawabnya singkat.
Aku akhirnya berbaring dan tidak lama kemudian tertidur.
Dalam keadaan setengah sadar, aku masih melihat Arsen duduk di kursi sambil menunduk, mungkin sedang memikirkan sesuatu.
Aku tidak mengerti kenapa dia begitu baik padaku.
Padahal aku bukan siapa-siapa di sekolah.
Aku hanya siswi beasiswa yang sering dibully.
Tapi hari ini, seseorang yang paling berpengaruh di sekolah justru duduk menjagaku di rumah sakit.
Sebelum benar-benar tertidur, aku hanya bisa berpikir satu hal.
Mungkin… hidupku mulai berubah sedikit demi sedikit.
Dan aku tidak tahu perubahan ini akan membawaku ke arah yang baik atau justru sebaliknya.
To be continued.