Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Terima Saja.
Shanum gelisah malam ini. Kini ia tidur di temani Kyra. Sebelumnya terjadi drama antara Ubaydillah yang tiba-tiba datang mode manjanya. Yaitu minta di jemput oleh Afnan dari rumah utama. Atau yang kini rumah Afkha. Ia takut Jinman katanya.
"Dik, Dad's Ubay pulang kemana?" tanya Shanum yang kini tidur miring menghadap Kyra.
"Sepertinya ke rumah Abba deh," jawab Kyra.
Shanum mengekeh. "Oom lucu deh, ya sudah mari tidur agar bisa bangun Salat malam." Ajakan Shanum dan di anggukan kepala oleh Kyra.
***
Keesokan paginya, Afkha kembali ke rumah setelah melewati waktu Dhuha. Ia betul-betul berada di Masjid area pesantren hingga waktu kembali ke rumah. Ia tidak ke rumah orang tuanya atau pun ke tempat lain.
Shanum yang tahu suaminya sedang kesal-pun ia berusaha menenangkan diri, ingin sebetulnya menyusul suaminya ke Masjid, akan tetapi ia takut memicu pertengkaran kembali.
Salah, memang salah. Ia meminta suaminya menikah dengan perempuan lain tanpa ada persetujuannya dan perencanaan dari Afkha, akan tetapi bagaimana pun Afkha harus bertanggung jawab kepada Zethasa. Walupun cara bertanggung jawab itu diharuskan menikahi Zethasa.
Kini gadis itu sudah tak memiliki apa-apa dan tak berdaya. Maka, jalan satu-satunya ia harus menikah dengan Afkha, itu yang Shanum pikirkan.
Shanum tersenyum saat melihat suaminya masuk dari arah pintu dan berucap salam. Ia menyongsong suaminya dengan pelukan, mengecup punggung tangannya dan seperti biasa, mengecup bibir dan juga kedua pipi.
"Albie sudah sarapan?" tanya Shanum.
Afkha menggeleng, lalu ia membawa istrinya duduk di sofa. Nampak lesu, mungkin satu malaman itu Afkha memang tidak tidur.
"Albie mau kopi?" tawar Shanum. Afkha menggeleng.
"Ya sudah, kalau tidak. Yang lain misalnya ...."
"Aku mau tidur," ucap Afkha singkat. Memotong perkataan Shanum.
"Oh, baik. Tapi harus ada isi dulu perutnya agar tidak sakit lambung," ucap Shanum.
Afkha mengesah pelan, ia tidak bisa mengabaikan istrinya begitu saja, walaupun mereka sedang dalam mode perang dingin. Akhirnya Afkha mengangguk pelan dan Shanum paham, ia bergegas mengajak suaminya ke meja makan.
Beberapa hidangan untuk sarapan telah ia siapkan, diantaranya nasi goreng dan juga bubur serta lainnya. Afkha hanya menunjuk bubur kacang hijau yang ada di meja makan itu dan Shanum dengan telaten menyediakannya, lalu ia menyuapi suaminya. Tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka, keduanya hening hingga Kyra datang dari arah kamar.
"Loh, A' Aka baru pulang dari Masjid?" tanya Kyra.
"Iya," jawab Afkha pelan.
"Ya sudah kalau begitu kan A' Afkha sudah pulang, aku kembali ke rumah Moms dan Dad ya," pamit Kyra.
"Ok, Dik. Terima kasih ya sudah menemani Kak Shanum disini," ucap Afkha. Keyra pun mengangguk dengan tersenyum, lalu ia berpamitan kepada Shanum dan Shanum pun tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Setelah sarapan selesai Afkha memilih duduk sebentar sebelum ia tertidur hingga menjelang Zuhur. Ia terbangun tanpa ada bahasan apapun, ia segera mandi dan pergi ke Masjid.
Shanum yang memang sedang datang bulan dan tidak sedang Salat, kini ia duduk termenung di ruang keluarga memikirkan perkataannya semalam, namun ia merasa itu benar. Ada hal yang harus diselamatkan dari ketidak berdayaan Zethasa.
Menurutnya ini keadaan darurat, ia ridha suaminya menikah lagi untuk menyelamatkan gadis itu. Pasti tidak mudah untuknya, saat semua sudah hilang. Shanum pun memikirkan psikis gadis itu, harus ada dorongan moril dan juga semangat baru dari orang yang dapat ia percaya.
Shanum yakin suaminya dapat melakukan itu, walaupun mereka mungkin menikah karena keterpaksaan dan tanpa adanya rasa saling cinta, namun Shanum yakin Afkha orang yang lemah lembut dan penyayang, ia akan mampu membahagiakan dan membangkitkan semangat Zethasa dengan kasih sayangnya.
***
Selepas Ashar.
Afkha sedang berada di rumah orang tuanya. Ia tidak tahu lagi kabar istrinya. Dari sejak Zuhur Afkha belum pulang ke rumah mereka.
"Aa sepertinya sedang gundah? apa ada hal yang mengganggu pikiran Aa?" tanya Hasna. Kini sulungnya itu nampak tak bersemangat, ia sedang merebahkan kepalanya di atas pangkuan Hasna.
"Aa hanya lelah dan butuh pengakuan Mimma." Nada bicara Afkha terdengar bergetar.
Afnan yang duduk di sofa dan persis di sebelah tubuh Hasna yang sedang meluruskan kakinya di atas permadani, ia pun mendengar suara putranya yang bergetar. posisi Afkha merebahkan tubuhnya dengan miring dan menghadap ke arah televisi, membelakangi Afnan.
"Nangis, Sayang?" bisik Afnan. Hasna menoleh ke arah suaminya dan mengangguk, "tidak seperti biasanya, apa Aa sedang menghadapi masalah besar?" bisik Afnan kembali.
"Entahlah, By." Balas Hasna dengan juga berbisik, tangannya sibuk mengelus kepala Afkha dengan lembut.
"A ...." panggil Afnan.
"Ya Biyya." Afkha menjawab panggilan Afnan.
"Aa Kha sedang menanggung beban seorang diri?" tanya Afnan. Suasana kondusif memberikan kesempatan mudah untuk Afnan Dan Hasna berinteraksi bersama sang Putra, Kebetulan juga si tengil Aftha sedang tidak ada di rumah, jadi tidak ada gangguan.
Afkha diam. Namun, tak berapa lama terdengar Isak tangis dari Afkha. "Shanum jahat Biyya, Mimma," ucap Afkha.
Afnan dan Hasna sedikit tercengang mendengar perkataan putra mereka. "Jahat kenapa, Sayang?" tanya Hasna.
"Huaaa ... Aku di suruh nikah lagi. Aku tidak mau Mimma, Biyya."
"Nikah lagi?" tanya Afnan dan Hasna secara bersamaan.
"Ia, dengan nona Zetha."
"Astaghfirullah ... Koq bisa A?" tanya Afnan.
"Katanya sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap nona Zethasa. Karena sekarang nona Zetha, buta dan lumpuh. Jadi aku harus ikut merawatnya, Maka dari itu aku harus menikahinya agar kami halal saat berinteraksi." Afkha bicara sambil sesenggukan.
Sungguh Afkha tak terima rasanya saat ia diminta menikah lagi. Rasa cinta yang besar terhadap Shanum di landaskan ibadah karena Allah, kini harus di susupi orang ketiga. Lalu dimana letak nilai ibadah untuk Afkha, bila dirinya nanti tidak dapat berbuat adil.
Pada akhirnya Afkha menceritakan semuanya, dari mulai shanum ternyata sudah mengetahui keberadaan Zethasa dari sejak ia sadar koma dan juga malam kemarin sampai Shanum memintanya agar menikahi Zethasa. Bahkan karena kesal, semalam ia memilih merendam emosinya dengan bermunajat di Masjid pesantren.
"Subhanallah, ada-ada saja kemauan Shanum ini. Tapi Aa sudah mengatakan kepada Anum 'Kan. kalau kita sudah menyiapkan rumah untuk nona Zetha tiggal, setelah keluar dari rumah sakit?" tanya Hasna.
"Sudah. tetap saja dia pada pendiriannya, dengan
alasan agar aku dapat ikut merawatnya dengan tanganku sendiri."
"Lalu, Aa sudah memiliki keputusan?" tanya Afnan.
"Belum, menurut Mimma dan Biyya bagaimana? aku kalut, aku tak dapat berpikir dengan jernih, walaupun dari semalam aku memohon dan meminta petunjuk-Nya. Tetap saja, aku belum menemukan keputusan dan jawaban yang pasti."
"Sudah terima saja. Aku rasa Kak Shanum memiliki alasan dan pertimbangan yang cukup matang. Karena tidak mungkin ia mengambil keputusan dengan sembarangan." Afnan, Hasna dan Afnan menoleh ke arah sumber suara yang berdiri di ambang pintu yang menuju ruang tamu. Ternyata itu adalah Aftha.
ah coba Afka dengar