Menikah muda tidak selalu berakhir dengan tragis, meskipun banyak yang berjalan tak manis. Semua itu hanya tentang bagaimana kita menyikapi dan mempertahankannya.
Jadi, tidak perlu takut untuk menikah muda, karena tidak semua pernikahan berakhir dengan kegagalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kejahilan Ibu Hamil
Linda selalu datang di pagi hari bersamaan dengan Leon yang akan berangkat kerja dan Ratih menyusul agak siangan. Kedua wanita yang sudah tidak muda lagi itu selalu rela menemani Lyra dan merawat anak mantunya yang tengah mengandung, kerena bagaimana pun calon bayi Lyra-Pandu adalah cucu pertama untuk kedua keluarga.
Menuruti ngidam Lyra tidak lah semua menyenangkan, karena terkadang wanita hamil itu selalu meminta yang aneh-aneh dan membuat Pandu tepuk jidat, juga kadang membuat Pandu kesal dan ingin sekali memarahi istrinya kalau saja tidak ingat dengan pesan-pesan sang mama yang mengatakan bahwa dirinya harus sabar menghadapi mood dan emosi wanita hamil yang sering kali menyebalkan.
Terhitung sudah memasuki usia bulan ke lima kehamilannya membuat perut Lyra kini lebih membesar dan napsu makannya pun meningkat. Pipi yang memang sejak dulu chubby pun sekarang bertambah, dan sering kali Levin sebut sebagai bakpau tanpa isi. Tapi beruntungnya di saat usia kehamilan yang menginjak usia ini, Lyra sudah tidak lagi mual seperti tiga bulan belakangan dan ini membuat Pandu lega.
Hari ini, Lyra yang merasa bosan meminta sang mama membuatkan makan siang untuk Pandu, sedangkan Lyra menghubungi Devi dan Luna untuk menjemputnya. Siang ini ia berniat datang ke kampus, menghampiri Pandu dan mengajak suaminya itu untuk makan siang bersama. Hanya butuh satu jam, waktu yang Linda habiskan untuk memasak dan Lyra berganti pakaian.
Tidak lama Devi datang bersama Luna dengan mengendarai mobil jazz kuning milik Luna yang beberapa waktu lalu di hadiahkan oleh orang tuanya. Setelah pamit pada Linda, Devi membawa ibu hamil itu untuk masuk ke dalam mobil dan mendudukkannya di jok belakang di susul oleh dirinya sendiri, sedangkan Luna yang mengemudi.
“Kalian berdua gak ada kelas?” tanya Lyra saat mobil sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah Lyra.
“Kita mah udah pintar, Ra jadi bolos aja.” Jawab Luna,yang di setujui oleh Devi, setelahnya kedua perempuan cantik itu tertawa.
“Sejak kapan gue punya teman tukang bolos gini?” Lyra menggeleng tak habis pikir
“Kalau kita gak bolos, lo gak akan ada yang jemput, Ra." Seru Devi yang Luna angguki setuju.
“Lo bilang belum sama Pandu kalau lo mau ke kampus?” tanya Luna.
Lyra menggeleng. “Nanti aja gue kasih tahu saat udah di kantin.”
🍒🍒🍒
Empat puluh menit kemudian ketiganya sampai di parkiran fakultas bisnis, tempat dimana Pandu kuliah. Dengan jalan beriringan, Lyra, Devi dan Luna berjalan menuju Kantin sesuai niat awalnya sambil menunggu Pandu yang kemungkinan sebentar lagi akan selesai kelas.
Meletakan lunch box di atas meja dan duduk di ikuti kedua sahabatnya, Lyra mengedarkan pandangan menatap sekeliling yang masih terlihat sepi, hingga tatapannya kini menemukan sesuatu yang menarik untuk setidaknya ia kerjai.
"Udah lama gue gak jahilin orang," gumam Lyra menyeringai.
Kerlingan jahil perempuan cantik itu berikan pada kedua sahabatnya yang duduk di samping kiri kanan Lyra. Mengerti dengan itu Luna dan Devi mengikuti arah pandangan Lyra, kemudian mengernyitkan kening sebelum akhirnya mengangguk setuju, karena keduanya juga merasa sudah lama tidak mendapat hiburan akan ulah sahabat jahil satunya itu.
Lyra dengan perut yang buncit datang menghampiri meja yang terdapat sepasang manusia yang tengah menikmati makanannya dengan ditemani canda tawa dari sepasang manusia itu.
“Sayang, kok kamu disini sih, aku nyariin kamu tahu gak dari tadi! Baby-nya udah lapar nih,” rajuk Lyra seraya merangkul leher si laki-laki yang duduk di kursi.
“Lyra …?” cicitnya tak percaya. Lyra mengangguk pelan seraya menampilkan senyum manisnya. “Lo, kok, ada disini?” heran laki-laki itu bertanya.
“Baby-nya pengen makan siang bareng Papanya,” ucap Lyra manja, seraya mengelus lembut perutnya. Laki-laki tersebut menaikan sebelah alisnya, mengikuti arah tangan Lyra yang berada di perut buncit itu.
“Rangga, dia siapa?” tanya perempuan yang sedari tadi diam, duduk di hadapan Rangga, menyaksikan.
“Rangga suami saya, ini aku lagi hamil lima bulan,” jawab polos Lyra membuat wanita yang entah siapa namanya itu membelalakkan matanya. Begitu juga dengan Rangga yang jujur saja masih terkejut melihat perut buncit Lyra.
“Jadi lo udah nikah, Ga? Gila, gue ketipu cowok modelan kayak lo!” ujarnya menggebrak meja, lalu setelahnya perempuan itu pergi meninggalkan Rangga dan Lyra. Rangga hendak bangkit untuk mengejar, namun suara tawa milik wanita berperut buncit itu mengurungkan niatnya.
“Lo beneran hamil, Ra?” tanya Rangga menoleh pada perut Lyra. Satu anggukan Lyra berikan sebagai jawaban.
“Anak siapa?”
“Ini kan anak lo Rangga, jahat banget lo gak mau ngakuin!” sentak Lyra marah, matanya sudah berkaca-kaca hendak menangis. Orang-orang sudah berkumpul mengelilingi, sedangkan Devi dan Luna tertawa-tawa di tempatnya membiarkan Rangga yang kebingungan. Lyra memang ratunya drama, membuat Luna dan Devi menggelengkan kepala.
“Kapan gue hamilin lo?” tangis Lyra semakin kencang dan itu mengundang orang-orang semakin banyak berkerumun. Tentu saja itu tangis bohongan, hanya untuk semakin membuat dramanya sukses. Lyra memang seketerlaluan itu.
“Lo jahat Rangga! Setelah buat gue hamil lo malah gak ngakuin? Jadi cowok kok cuma mau enaknya aja, dasar brengsek!"
Plak. Satu tamparan mendarat di pipi kiri Rangga, semakin membuat Rangga melongo, apa lagi dengan mulai banyaknya yang berbisik-bisik membicarakan Rangga yang tidak bertanggung jawab.
Lyra menyeka air matanya, kemudian menjulurkan lidah mengejek Rangga yang wajahnya sudah terlihat jelas memerah antara marah, geram juga malu.
“Lyra, lo …!”
“Haha … haha … sorry, Kak gue becanda … haha,” tawa Lyra lepas begitu juga dengan tawa Luna dan Devi yang bahkan hingga mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
“Bubar lo semua, bubar!” titah Rangga pada semua yang masih mengelilinginya sambil berbisik-bisik.
“Puas lo, hah, ngerjain gue, permaluin gue sampai gebetan gue kabur? Awas lo Ra!” ancam Rangga yang sama sekali tidak Lyra perdulikan.
"Harusnya lo bersyukur gue pisahin lo dari cewek seperti tadi," Lyra menyeka sudut matanya yang sedikit meneteskan air saking puasnya tertawa. "Lagian lo udah buta apa Kak, sampai cabe-cabean lo gebet juga? Udah gak bisa lo bandingin yang asli sama yang dempulan?" tanya Lyra menaikan sebelah alisnya, merasa miris pada mantan kakak kelasnya itu yang sepertinya turun selera.
"Buat main-main mah boleh kali, Ra."
Lyra mendengus mendengar jawaban pria itu, lalu kembali duduk bersama teman-temannya, di ikuti Rangga yang kini sudah mengacak rambutnya dengan frustasi, karena setelah ini pasti dirinya jadi bahan bincangan penghuni kampus.
Rangga menatap tajam satu per satu perempuan yang ada di depannya itu, llu sibuk dengan ponselnya yang baru saja di ambil dari balik saku celana jeans hitamnya, karena hebohnya notifikasi yang masuk.
“Wajah lo lucu waktu panik kayak tadi, Kak,” ucap Lyra di tengah-tengah tawanya.
“Lebih lucu lagi muka malu lo,” tambah Luna yang juga kembali tertawa.
“Muka ganteng lo jadi ancur tahu gak kak, nyesel gue tadi gak videoin.” Kini giliran Devi yang menambahkan. Ketiga perempuan itu tertawa sangat puas, sedangkan Rangga mendengus kesal.
Tak lama Pandu datang bersama Rino dan Brian teman barunya sesama di kelas bisnis, jangan lupakan dua perempuan mengekor di belakang yang entah siapa namanya, karena Lyra tidak terlalu hapal pada teman-teman baru Pandu saat ini.
Pandu menghampiri sang istri dan mengecup kening Lyra tanpa canggung, Rangga yang menyaksikan itu membelalakkan matanya, begitu juga kedua perempuan yang mengekor di belakang Pandu.
“Kenapa ke sini sih sayang? Harusnya kamu itu istirahat aja di rumah, kasian baby-nya kalau kecapean,” ucap Pandu lembut, seraya duduk di kursi sebelah Lyra, merangkulkan tangannya pada leher Lyra dan membawa kepala perempuan itu untuk bersandar di dada bidangnya.
“Dia siapa, Pan? Adek lo?” tanya salah satu wanita cantik berambut pendek.
“Oh, sini-sini kenalan. Ini Lyra, istri gue,” ucap Pandu memperkenalkan Lyra pada perempuan yang mengekorinya. Kedua perempuan itu membelalakkan matanya tak percaya, sedangkan Lyra sudah dengan senang hati mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
“Gila, lo kapan nikahnya, Pan sama ini dedemit?” tanya Rangga yang masih tak percaya.
“Sembarangan lo kalau ngomong! Gak ada dedemit secantik gue, ya,” protes Lyra menginjak kaki Rangga dengan tak berperasaan, hingga membuat sang empu kaki mengaduh sakit.
“Sejak SMA kita udah nikah, nih sekarang mau punya anak, makanya Lyra cuti dulu kuliah untuk sementara waktu.”
Mendengar ucapan Pandu kedua perempuan yang masih berdiri di samping Pandu itu menoleh pada Lyra dan perutnya yang sedikit menonjol.
“Gue kira lo masih single, Pan ... tahunya udah mau punya buntut,” ucap salah satu perempuan yang rambutnya sedikit panjang tersenyum miris.
“Kalau gitu kita duluan ya, mau ke perpus.”
“Loh tadi katanya mau makan siang bareng?” heran Pandu yang sebenarnya hanya pura-pura. Kedua perempuan itu menggeleng dan berlalu pergi begitu saja. Lyra dengan cepat mencubit lengan Pandu dengan keras.
“Aw ... aw sakit, Yang."
“Awas lo genit-genit sama cewek lain, gue potong tuh burung!” acam Lyra tajam sambil dagunya menunjuk ke arah celana Pandu.
“Sadis, jir!” teriak Rino, Rangga dan Brian, kemudian tertawa mengejek.
“Lo ngapain disini, Ga?” tanya Pandu pada Rangga.
“Abis di kerjain gue sama bini lo. Dasar emang dedemit, gebetan gue sampai kabur tadi gara-gara dia!” adu Rangga yang masih saja belum terima di kerjai.
Luna, Devi dan Lyra kembali tertawa melihat wajah Rangga yang kembali memerah, sedangkan Pandu dan kedua temannya mengernyit bingung. Akhirnya Lyra menceritakan keusilannya pada sang suami, dan bertambahlah tawa mengejek untuk Rangga.
Rino dan Brian memang mengetahui perihal status Pandu semenjak awal, maka dari itu keduanya sudah tidak canggung lagi begitu juga dengan Luna dan Devi yang memang sengaja Pandu kenalkan pada kedua teman jomlonya, bagus-bagus jika saling cocok mereka bisa kencan bareng nantinya.
Rangga yang merasa kembali di permalukan lebih memilih pergi setelah selesai ikut melahap bekal yang Lyra bawa untuk Pandu, sedangkan Pandu dan Lyra memilih untuk pulang, karena kebetulan jam kuliah Pandu pun sudah selesai. Berbeda dengan Luna dan Devi yang masih memiliki satu mata kuliah yang harus di hadiri. Dan kedua laki-laki jomlo itu memilih untuk nongkrong di café yang berada di seberang kampus.
@ ank ips jga😎