NovelToon NovelToon
RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Fanfic / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:210.7k
Nilai: 5
Nama Author: Retto fuaia

Kisah tentang seorang pangeran yang masa lalunya dipenuhi dengan lika-liku kehidupan yang penuh dengan emosi, karena ibundanya yang diperlukan kasar oleh permaisuri ayahandanya. Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Raden Cakara Casugraha tidak tahan dengan perlakuan seperti itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari istana. Namun siapa sangka di luar istana ia menghadapi berbagai masalah. Ayahandanya mendapatkan petunjuk, bahwa anaknya Raden Cakara Casugraha harus masuk Islam untuk mengendalikan amarahnya yang sangat merugi. Sementara ibundanya, ratu Dewi Anindyaswari merasa keberatan. Namun akhirnya Raden Cakara Casugraha masuk Islam karena ingin memperbaiki dirinya.

Hingga kejadian yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun, Yaitunya kematian sang prabu. Dari 7 putra putri yang dimiliki sang prabu, hanya Raden Cakara Casugraha yang pantas menjadi raja

Akan tetapi, ada rahasia yang harus dijaga olehnya. Rahasia yang tidak boleh ia katakan pada siapa saja termasuk ibundanya


bisakah Raden Cakara Casugraha menyimpan rahasia ia hingga akhir hayatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Retto fuaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SITUASI PERANG

...***...

Putri Agniasari Ariani yang berada di perjalanan.

Susana hatinya saat itu sedang gelisah, hatinya sedang memikirkan keadaan Istana.

"Semoga saja aku masih sempat." Dalam hatinya hanya berharap.

Namun saat itu ia melihat ada beberapa orang pemuda yang menghadang langkahnya?. Putri Agniasari Ariani masih berpikiran jernih, ia melihat ke segala arah.

"Mungkin saja mereka tidak melihat ke arahku." Dalam hatinya merasa ada yang aneh pada mereka.

"Kau! Tidak usah berpura-pura tidak melihat kami!."

"Jadi? Mereka benar melihat ke arahku?." Dalam hati Putri Agniasari Ariani mencoba bersikap tenang. "Maaf kisanak? Ada perlu sesuatu dengan saya?."

"Banyak!."

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hati Putri Agniasari Ariani merasa tidak nyaman sama sekali.

"Biasanya! Siapapun yang lewat di kawasan ini?!." Tegasnya. "Ia akan membayar upeti pada kami!."

"Serahkan semua yang kau bawa!."

Suara mereka terdengar sangat mengancam.

"Maaf kisanak, itu merampas namanya." Balasnya. "Bukan membayar upeti."

"Diam kau!." Bentaknya. "Tidak usah banyak membantah!."

"Kalau kau tidak mau menyerahkan upeti?." Ucapnya. "Maka kami akan mengambil milikmu."

Tatapan mata mereka berubah menjadi aneh, membuat Putri Agniasari Ariani jengkel.

"Kalian ini memang kurang ajar!." Putri Agniasari agar yang sedang kesal langsung menyerang mereka semua.

...***...

Wilayah kekuasaan kerajaan Suka Damai.

"Heh!." Ia mendengus kesal. "Aku tidak menduga, kau akan berpihak pada musuh, yang selama ini kita benci." Ia mengayun keris kecil yang menjadi senjata yang boleh dimiliki oleh keturunan raja-raja.

"Dulu aku memang musuhnya, namun setelah aku menyadari kesalahanku!." Tegasnya. "Aku sangat merasa berdosa kepadanya!." Lanjutnya. "Dan aku telah bersumpah!." Tegasnya lagi. "Akan berbaikan dengannya setelah ini." Lanjutnya. "Aku tidak akan termakan hasutan dari kau lagi!."

"Cuih!." Ia berdecak kesal. "Aku tahu bagaimana sifat kau?!." Bantahnya. "Tidak mungkin kau berubah secepat itu!." Ucapnya keras. "Aku yakin kau telah terkena dukun darinya! Sehingga kau berani melawan aku!."

"Aku sama sekali tidak terkena dukun manapun!." Bantahnya cepat. "Termasuk dari rayi Prabu!." Hatinya sangat kesal. "Jadi? Jaga ucapanmu!." Hatinya terbawa amarah. "Atau aku akan menghabisi mu! Karena telah berani memfitnah rajaku!."

"Itu artinya kau sudah siap mati ditangaku!?." Matanya memperhatikan penampilan Raden Hadyan Hastanta. "Kau benar-benar membuatku marah hadyan hastanta!." Amarahnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi, ia begitu benci dan emosi.

Ia melompat ke arah Raden Hadyan Hastanta. Menyerangnya dengan menggunakan salah satu keris yang ada di tangannya. Namun Raden Hadyan Hastanta dapat menghindari serangan itu.

Kedua putra mahkota bertarung dengan senjata masing-masing. Sesekali mereka menggunakan kekuatan fisik mereka untuk menyerang. Menghantam lawan dengan menendang, memukul, atau dengan jurus-jurus andalan yang mereka miliki.

"Kau jangan senang dulu raka!." Ucapnya sambil terus menghindar serangan. "Meskipun kau memiliki jurus ayahanda Prabu?." Lanjutnya. "Tapi aku akan menghadapi dengan jurus, pengekang kuda menuju kandang."

"Keluarkan semua jurus yang kau miliki!." Balasnya. "Akan aku hadapi kau, dengan jurus bongkahan karang membendung air laut." Balasnya. "Akan aku bendung semua jurusmu!." Hatinya semakin membuncah. "Setelah itu, akan aku balikkan semua jurusmu." Ia mundur beberapa langkah sambil salto. "Sehingga kau tidak bisa melawanku lagi! Kau akan berlutut di hadapanku!." Begitu besar ambisinya saat ini untuk menjatuhkan adiknya.

...***...

Pertarungan Putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari.

"Heh!." Ia mendengus kesal. "Aku tidak menyangka, kau memiliki jurus ilmu kanuragan juga andhini andita." Putri Ambarsari mengatur hawa murninya. Ia mencoba bersikap tenang, dan tidak terlihat gelisah sedikitpun, ataupun kewalahan.

"Aku telah membuat keputusan." Balasnya. "Bahwa aku akan menghentikan mu di medan perang ini!." Tegasnya. "Karena itulah! Aku belajar beberapa jurus ilmu kanuragan dari jaya satria."

Putri Andhini Andita sedikit kesulitan mengatur nafasnya. Apalagi terkadang ia merasa panik, atau takut ketika pukulan atau tendangan dari kakaknya itu mengenai tubuhnya. Rasanya sangat sakit dan seakan ingin remuk semua badannya.

"Aku juga telah berjanji pada rayi Prabu!." Ucapnya dalam hati. "Bahwa aku tidak akan menjadi beban dalam perang ini!." Ucapnya dalam hati.

Meskipun saat ini nafasnya sedang ngos-ngosan, namun ia bertekad mati dalam keadaan berjuang. "Aku tidak akan kalah darimu."

"Kau tidak usah banyak bicara lagi andhini andita!." Suaranya terdengar tinggi. "Kalau kau memang ingin mati? Maka dengan senang hati akan aku kabulkan!."

"Kau juga tidak usah banyak bicara!." Balasnya. "Hatimu yang sudah membatu, karena sifat busuk yang kau miliki!." Putri Andhini Andita sudah tidak tahan lagi. "Kau akan dikutuk oleh mendiang ayahanda Prabu!." Hatinya terasa panas. "Karena telah berani mengkhianati negerimu sendiri!." Kemarahannya telah mencapai ubun-ubunnya.

"Bedebah busuk!." Umpatnya kasar. "Beraninya kau mengatakan? jika ayahanda akan mengutukku?!." Ia tidak terima dengan ucapan itu. Karena itulah ia marah. "Akulah yang akan mengutuk mu dengan jurus ku!." Tegasnya lagi. "Aku benar-benar sudah muak denganmu!." Lanjutnya. Matanya melotot tajam, dan tangannya sudah siap memainkan jurus andalannya. "Berani sekali dia berkata, jika aku akan dikutuk oleh mendiang ayahanda prabu?!." Dalam hatinya sangat sakit. "Kau akan menerima jurusku! Akan aku bunuh kau andhini andita." Hatinya telah dipenuhi oleh kemarahan yang menguasai dirinya. Sehingga tidak ada kata kebaikan lagi di dalam hatinya.

"Kelemahan seorang pendekar adalah, terletak pada kemarahannya." Jaya Satria tersenyum kecil. "Jika ia tidak bisa mengendalikan kemarahannya? Ia dengan mudah dapat dikalahkan." Ucapan Jaya Satria seakan-akan telah membimbing dirinya agar melakukan hal yang benar.

"Berbeda dengan kita yang masih tenang dan sabar." Jaya Satria memberikan penjelasan. "Sebab orang yang sedang marah itu konsentrasinya bisa pecah." Lanjutnya. "Jika mendapatkan serangan kecil yang mengejutkannya."

Bahkan Putri Andhini Andita masih ingat dengan senyuman Jaya Satria walaupun separuh wajahnya ditutupi oleh topeng hitam itu, namun entah kenapa ia masih bisa melihat senyuman menawan itu dengan sangat jelas.

"Apalagi sorot matanya akan menjadi liar, karena memikirkan ke arah mana ia akan menyerang." Ucapnya terus menjelaskan. "Jadi? Tatap saja sorot matanya itu, maka kau akan mudah mengetahui kemana arah serangannya itu."

Putri Andhini Andita masih ingat, dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria padanya. Tentang orang yang marah ketika bertarung, dan cara mengendalikan pertarungan itu.

...***...

Sementara itu, Jaya Satria yang sedang bertarung dengan salah satu pendekar dari kerjaan Mekar Jaya. Namun pandanganya tetap tertuju pada kedua putri raja, karena ia mencemaskan mereka.

Jaya Satria menggunakan jurus-jurus yang ia miliki, untuk mengalahkan pendekar itu. Mereka terbang ke sana kemari seperti hantu saling menyerang satu sama lain karena menggunakan ilmu meringankan tubuh. Pukulan, tendangan mereka lakukan untuk menjatuhkan lawannya.

Sesekali Jaya Satria berhasil memukul tubuh lawannya, memukul bahu kirinya, memukul dadanya, atau menerjangnya dengan tendangan hingga lawannya terjajar. Lawannya sedikit terbatuk karena menerima serangannya, namun masih bisa berdiri dengan baik.

"Aku! Pendekar timah dari gunung lencana!." Ucapnya tegas. "Tidak akan mudah dikalahkan begitu saja." Ada kemarahan yang tersirat di sana.

Ia menyeka sudut mulutnya yang terasa aneh, ia melihat darah ditangannya itu, membuatnya terkejut.

"Aku tahu kau pendekar dari gunung lencana." Balasnya. "Mereka memiliki jurus penempa badai mendaki gunung."

Deg!.

"Jurus itu memang kuat, namun aku memiliki jurus." Lanjutnya. "Yang dapat mematahkan jurus itu."

"Kau jangan asal berbicara!." Bentaknya. "Jurus yang aku gunakan ini, tidak sembarangan orang yang dapat menahannya." Serani Loka hampir tidak dapat menahan dirinya lagi. Tidak mungkin, orang bertopeng ini mengetahui kelemahan dari jurusnya. "Kau tidak usah sombong dulu, karena kau tidak akan semudah itu menahannya."

...***...

Raden Gentala Giandra mencoba untuk bersikap tenang, dan mencari ide agar bisa keluar dari hutan ini. Dan ia ingat, ayahandanya pernah berkata. Hutan ini bisa sebenarnya hitam biasa, namun yang membuat kita seperti tersesat sebenarnya adalah, pikiran kita sendiri yang terpengaruh oleh kata-kata yang memberi arahan yang menyesatkan.

"Yah, aku harus mencobanya." Ia akan mencoba konsentrasi, memusatkan pikirannya, mencoba menerawang di sekitarnya.

"Apa yang sedang dilakukan oleh Raden gentala giandra?." Rakesh Penampihan bertanya-tanya. Apakah ia harus membantunya, atau menunggu sambil melihat, apa yang akan dilakukan oleh junjungannya ini?. Ya, sepertinya begitu. Karena ia sama sekali tidak mengerti dengan hutan ini.

Raden Gentala Giandra telah berhasil mendapatkan penglihatannya. Ia arahkan serangannya ke samping kirinya, dengan menyalurkan tenaga dalamnya melalui telapak tangannya hingga mengenai sesuatu.

"Eqhakh!."

Terdengar suara jeritan kesakitan dari seseorang, dan benda melayang akibat serangan Raden Gentala Giandra tadi. Mereka melihat sosok itu mendarat, dan ternyata itu adalah Senopati Mandaka Sakuta.

"Keqh!." Ia meringis kesakitan karena serangan itu, tubuhnya terasa remuk.

Raden Gentala Giandra mengatur hawa murninya, dan ia berjalan mendekati orang itu. "Oh? Ternyata kau, Senopati mandaka sakuta?." Ucapnya santai. "Aku tidak menyangka, kau yang akan menghadangku?." Ia tersenyum lebar, setelah melihat siapa yang tadinya bermain-main dengannya?."

"Hm! Hebat juga kau Raden." Balasnya. "Aku tidak menduganya." Ia mencoba untuk tetap tenang. "Kau mengetahui di mana aku bersembunyi? Aku akui kau memang hebat."

"Jadi kedatangan kami sudah diketahui cakara casugraha?." Ucapnya. "Dia memang dukun yang hebat." Raden Gentala Giandra menahan amarahnya. "Sangat luar biasa sekali, dapat mengetahui kedatangan yang telah kami siapkan dengan baik."

"Rajaku Prabu asmalaraya arya ardhana bukanlah seorang dukun!." Bentaknya keras. "Dan kau harus tahu itu, Raden gentala giandra! JAGA UCAPANMU ITU!."

"Bedebah busuk!." Balasnya. "Kau masih saja membela Raja busuk itu?!." Hatinya terasa membara. "Jelas-jelas telah melakukan teluh pada kakek Prabu!." Hatinya semakin membuncah. "Karena itulah kami menyerang kalian semua!."

"Apa?!." Reaksinya. "Tidak mungkin rajaku melakukannya!." Bantahnya. "Sudah aku katakan padamu!." Tegasnya. "Dan dengarkan baik-baik! Mata hatimu yang sudah tertutup akan kebaikan, Raden gentala giandra!." Ia juga marah.

...***...

Putri Agniasari Ariani telah berhasil mengalahkan mereka semua, ia benar-benar kesal pada mereka, hingga tidak memberikan kesempatan untuk melawannya.

"Luar biasa sekali nini."

Deg!.

Putri Agniasari Ariani terkejut mendengarkan suara seseorang.

"Siapakah tuan?." Ia tampak bingung. "Kenapa tuan terlihat senang?." Lanjutnya. "Ketika saya mengalahkan mereka?."

"Namaku alam gempar raya, aku kepala desa tangkupan dewa." Kepala desa Alam Gempar Raya memperkenalkan dirinya. "Maaf, jika perbuatan mereka telah membuat perjalanan nini terhambat."

"Kepala desa?." Dalam hatinya memperhatikan itu. "Baik lah, kalau begitu saya akan melanjutkan perjalanan."

"Apakah nini tidak ingin singgah sebentar?." Ucapnya. "Sepertinya nini terlihat kelelahan."

"Terima kasih atas tawarannya, saya sedang terburu-buru." Putri Agniasari Ariani memberi hormat.

"Tunggu!."

Putri Agniasari Ariani menghentikan langkahnya.

"Aku mohon, jika nini ahli dalam pengobatan?." Ucapnya. "Apakah nini bersedia membantu mengobati anakku?." Tatapan matanya terlihat sangat sedih.

"Apa yang terjadi pada anak tuan?."

"Aku juga tidak mengerti, namun kondisinya saat ini sangat memprihatikan." Sorot matanya mengandung kesedihan yang mendalam. "Aku mohon, tolong selamatkan anakku."

Putri Agniasari Ariani berpikir sejenak, apakah ia akan menolongnya?. Atau meneruskan perjalanan?. Simak terus ceritanya.

...***...

Meskipun suasana hatinya sedang gelisah, Ratu Dewi Anindyaswari tetap belajar dengan baik mengenai agama Islam. Hatinya telah berjanji pada anaknya, bahwa ketika kembali nanti?. Hatinya telah mantap untuk masuk agama Islam.

"Apakah ada pelajaran dari perang itu nyai? Kenapa mereka menyakiti satu sama lain?." Ratu Dewi Anindyaswari memiliki rasa penasaran yang tinggi.

وَقٰتِلُوۡهُمۡ حَتّٰى لَا تَكُوۡنَ فِتۡنَةٌ وَّيَكُوۡنَ الدِّيۡنُ لِلّٰهِ‌ؕ فَاِنِ انتَهَوۡا فَلَا عُدۡوَانَ اِلَّا عَلَى الظّٰلِمِيۡنَ

Wa qootiluuhum hatta laa takuuna fitnatunw wa yakuunad diinu lillaahi fa-inin tahaw falaa 'udwaana illaa 'alaz zaalimiin.

"Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zhalim."

"Apakah itu artinya? Nanda Prabu tidak bersalah? Karena mereka telah berbuat zhalim?."

"Hamba tidak bisa membenarkannya." Ucapnya. "Namun jika dilihat dari ciri-ciri mereka? Maka mereka bisa dikategorikan seperti itu Gusti."

"Jadi? Bagaimana perang itu yang sebenarnya menurut agama Islam?."

"Islam adalah agama rahmatan lil alamin." Jawabnya. "Yaitu agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semesta alam." Ayudiyah Purwati mencoba menjelaskan. "Segalanya telah diatur oleh Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar hukum." Jelasnya. "Apa yang diatur oleh keduanya? Tidak lain untuk membawa manfaat bagi manusia sendiri." Lanjutnya. "Islam mengatur segalanya baik ekonomi, politik, sosial, dan ekonomi." Ia tersenyum kecil. "Sampai hal-hal kecil juga diatur oleh Islam seperti bersin, mengucap salam, makan, minum, dsb." Ucapnya dengan hati-hati. "Tak terkecuali dalam perang." Hatinya sangat waspada. "Islam mengatur peperangan agar tidak terjadi kerusakan." Dengan hati-hati Ayudiyah Purwati menjelaskan pada Ratu Dewi Anindyaswari.

"Perang memiliki aturan? Aturan seperti apa itu nyai?."

"Pertama, sasaran dalam perang adalah prajurit musuh yang ikut berperang." Jawabnya. "Selain prajurit, tidak boleh diperangi." Lanjutnya. "Wanita, anak-anak, ahli agama dan orang tua tidak boleh dibunuh sesuai dengan hadits Rasulullah ﷺ." Jawabnya. Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Aku mendapati seorang wanita terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Kemudian beliau melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak dalam peperangan” (HR. Bukhari No 3015 dan Muslim No 1744)."

"Ya, jika diambil dari akal sehat manusia normal? Maka itu memang tidak boleh dilakukan." Ratu Dewi Anindyaswari tidak bisa membayangkan, bagaimana kondisi situasi perang yang dihadapi oleh rakyat.

...***...

Ruangan Pribadi Raja.

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja selesai melaksanakan sholat Zuhur.

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja mendapatkan penglihatan yang membuatnya gelisah. "Itu sangat berbahaya." Ucapnya "Syekh guru."

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana segera bangkit dan segera menuju halaman istana. Sang Prabu terkejut melihat awan hitam, menggulung di langit dan itu benar-benar pertanda buruk baginya.

"Ya Allah, sepertinya ada pihak lain, yang ingin campur dalam perperangan ini." Sang Prabu merasakan itu. Ada hawa yang tak kasat mata, yang ingin bergabung dalam perperangan yang sedang terjadi.

"Nanda Prabu." Syekh Asmawan Mulia menghampiri sang Prabu, raut wajahnya nampak sangat gelisah.

"Syekh guru, seperti yang nanda katakan sebelumnya." Ucap sang Prabu. "Bahwa ada pihak lain, yang ikut memanfaatkan perang ini."

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, lindungilah mereka semua." Syekh Asmawan Mulia berdoa di dalam hatinya. "Lalu apa yang akan kita lakukan nanda Prabu?." Ia khawatir terjadi sesuatu pada mereka yang sedang berperang.

"Kita lihat situasinya dulu syekh guru." Sang Prabu tidak mau terburu-buru dalam mengambil keputusan. Takut akan berakibat fatal dengan orang-orang yang sedang berperang nantinya. "Jika memang gawat kita harus menghentikannya."

"Ya, nanda Prabu benar."

...****...

Kembali ke medan perang.

Ketika Putri Ambarsari hendak melepaskan serangannya, ia merasakan tubuhnya diserang oleh seseorang. Sehingga membuatnya tidak bisa bergerak, begitu juga dengan Putri Andhini Andita. Tubuh mereka terasa sakit, karena mendapatkan serangan gaib?. Mereka juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja seperti ini?.

"Akh!." Putri Ambarsari meringis kesakitan karena serangan itu. "Kenapa dengan tubuhku?." Ia merasa ada yang aneh hawa sekitar. Rasa sakit yang tidak biasa ia terima. 

"Aakh!." Putri Andhini Andita juga, tubuhnya terasa sakit.

Tubuhnya mundur dengan sendirinya, seakan ada yang menghantamnya dari arah depan. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasakan ada yang menyerangku?."

"Astaghfirullah hal'azim, Gusti Putri?!." Jaya Satria yang sedang fokus bertarung, mendadak terkejut karena melihat kondisi putri Andhini Andita.

Dan ia lebih terkejut lagi ketika melihat Serani Loka yang terpental. Padahal ia tidak menyerangnya sama sekali. Pikirannya mulai bercabang, apalagi ketika mendengarkan suara teriakan dua Putri Raja.

"Ya Allah, Gusti Putri!." Jaya Satria menyambut tubuh Putri Andhini Andita yang terpental. "Gusti Putri!." Jaya Satria melihat kondisi Putri Andhini Andita terluka parah. Ada darah di mulutnya, dan juga tubuhnya yang memar. "Apa yang terjadi sebenarnya?." Jaya Satria tidak mengerti, mengapa tiba-tiba keduanya mendapatkan serangan aneh. Namun keterkejutannya bukan hanya itu saja, ia melihat prajurit yang masih bertahan mengalami hal yang serupa.

Deg!.

Saat itu matanya terbelalak terkejut karena melihat makhluk menyeramkan menyerang mereka dengan sangat ganas.

"Sepertinya firasatku benar, ada orang yang ikut campur dalam perperangan ini." Ia mencoba konsentrasi untuk melihatnya lebih dalam lagi, namun teralihkan oleh suara teriakan dari putri Ambarsari. "Sangat kurang ajar sekali." Hatinya dipenuhi amarah. "Berani ikut campur dalam perang ini."

Dalam hatinya sangat kesal dengan apa yang terjadi di depan matanya saat itu.

"Apa yang harus hamba lakukan ya Allah? Situasi perang ini terlihat kacau."

Ia tidak tau harus mendahulukan yang mana.

"Baiklah!." Ucapnya. "Aku akan membawa Putri andhini andita dulu ke istana." Ia segera mendekati Putri Andhini Andita. "Setelah itu, aku akan membantu Gusti Putri ambarsari." Ya, itulah yang ia pikirkan.

Setelah itu ia menghilang dari sana. Ia untuk menyelamatkan Putri Andhini Andita terlebih dahulu, ia tidak mau terjadi sesuatu padanya.

...***...

Raden Gentala Giandra vs Senopati Mandaka Sakuta.

Mereka yang sedang bertarung beradu ilmu kanuragan terkejut, karena mendapatkan serangan aneh. Sehingga membuat tubuh mereka terpental. Raden Gentala Giandra merasakan serangan tak kasat mata menghantam tubuhnya.

"Ghah!." Ia semakin emosi, karena tidak bisa melihat serangan itu. Namun ia mencoba membuat pertahanan tubuh agar tidak terkena serangan itu.

"Akh!." Senopati Mandaka Sakuta berteriak kesakitan karena tubuhnya diserang. Namun ia juga bisa membuat pertahanan dengan mengerahkan tenaga dalamnya.

Sedangkan Prajurit yang masih tersisa tidak dapat menahan serangan gaib yang datang. Mereka pasrah mendapatkan serangan gaib itu, tanpa melakukan perlawanan.

"Lihatlah?! Betapa pecundangnya rajamu!." Amarahnya semakin membuncah. "Dengan siasat busuknya itu, dia menyerang kami dengan serangan gaib!."

Dalam keadaan kesakitan seperti itu, masih saja berpikiran, bahwa serangan gaib yang diterima olehnya adalah perbuatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Sudah aku katakan padamu Raden ganendra garjitha!." Hatinya juga bergejolak. "Pikiran kotormu lah, yang mengatakan itu adalah ulah rajaku!." Senopati Mandaka Sakuta benar-benar terbawa amarah yang sangat membara di dalam hatinya. "Harus berapa kali aku katakan padamu?!." Hatinya semakin membara. "Rajaku! PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA!." Tegasnya. "TIDAK MUNGKIN MELAKUKAN HAL KOTOR SEPERTI YANG KAU PIKIRKAN!." Ia sangat emosi hingga berteriak keras.

"Kau tidak usah menyembunyikan keburukannya!." Bantahnya. "Kami semua mengetahui! Jika dia itu Raja busuk!."

...***...

Putri Agniasari Ariani bersama kepala desa Alam Gempar Raya telah sampai di sebuah rumah kecil, di sana ada beberapa orang yang berjaga-jaga.

"Siapa dia pak?." Seorang perempuan keluar dari rumah kecil itu.

"Dia seorang tabib, aku minta bantuan darinya." Jawabnya. "Untuk menyembuhkan anak kita nyi."

"Benarkah nini?." Tatapan wanita itu penuh dengan harapan yang sangat dalam.

"InsyaAllah, saya akan membantu."

"Oh? Syukurlah kalau begitu." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. "Terima kasih nini."

"Maaf sebelumnya? Memangnya anak nyai mengalami sakit apa?."

"Kami juga tidak mengetahuinya nini." Ucapnya sambil menahan tangis. "Namun saat itu." Dengan berat hati ia menceritakan kejadiannya. "Anakku senja itu pulang dari rumah neneknya, bersama beberapa pemuda lainnya." Ia menjelaskan kejadian itu. "Menurut kesaksian dari teman-temannya?." Jawabnya. "Saat itu ada bayangan hitam yang melompat masuk ke dalam tubuhnya." Lanjutnya. "Hingga ia seperti orang kesurupan."

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Agniasari Ariani merasa miris. "Lantas? Kejadian selanjutnya? Seperti apa?."

"Sejak hari itu, anak kami bertingkah aneh." Jawabnya dengan sedih. "Berkelakuan seperti hewan liar, sehingga kami terpaksa memasungnya." Hati ibu mana yang tidak sedih atas kondisi anaknya.

"Kami mohon nini, tolong sembuhkan anak kami." Kepala Desa Alam Gempar Raya terlihat sedih. "Sudah banyak tabib yang mengobatinya, namun belum juga sembuh." Kepala desa Alam Gempar Raya tak kuasa menahan perasaan sedih itu.

"Baiklah, saya akan berusaha sebisanya."

"Benarkah nini?." Keduanya terlihat memiliki harapan.

"Sebelum itu? Tolong sediakan tempat sholat bagi saya."

"Baiklah kalau begitu nini, mari masuk." Nyai Arum Sari mempersilahkan Putri Agniasari Ariani untuk masuk.

"Jangan lupa siapkan jamuan untuknya."

"Baik pak."

Apakah Putri Agniasari Ariani akan berhasil mengobati pemuda itu?. Simak dengan baik kisahnya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

...***...

1
topik we es
mantab
Rettofuaia: terima kasih telah mampir
total 1 replies
pelangijingga
susunan kata²nya kurang teratur di cerita ini..
Rettofuaia: terima kasih dukungannya
total 1 replies
Jhonson Siregar
wk.. wk.. wk, sdh dikerajaan suka Damai tetapi org tamak dan kerjaan lain ingin menguasai kerajaannya suka damai
Jhonson Siregar
woi Prabu cepat pulang, krn di istana mu banyak sekali org sombong & tamak utk merebut kekuasaanmu
Jhonson Siregar
lanjut cari
Jhonson Siregar
apakah kembar mereka
Jhonson Siregar
lanjut bunuh para penjahat
Jhonson Siregar
lanjutkan Om
Jhonson Siregar
lanjutkan
Jhonson Siregar
tambahkan kekuatannya Om. Prabu
Jhonson Siregar
wlaupun sdh dikasari Prabu Arya tetap menyayangi saudaranya
Rettofuaia: semangat membaca
total 1 replies
Jhonson Siregar
siapakah Raden Hadiah Hantanta dan Jaya Satria?
Jhonson Siregar
raja muda mulai memperlihatkan taring walaupun pakai penutup muka
Jhonson Siregar
ajaran mulai menunjukkan perlindungan pada rakyatnya
Jhonson Siregar
rendah hati, bijaksana dan penuh ketulusan sehingga cakara terpilih jadi Raja namun hal ini membawa dampak saudara2nya tidak menyukainya demikian juga para permaisuri I & 2
Jhonson Siregar
raja yang rendah hati & bijaksana
Jhonson Siregar
dari istri I sd 2 susah mengingatnya kecuali si caraka anak dari istri ke 3
Rettofuaia: terima kasih telah mampir 😁
total 1 replies
Morphin
raja guoblok, diatur2 olh isteri n anak2 nya, tdk berwibawa sm se x
Rettofuaia: ya mau gimana lagi,,, kadang memang sulit untuk sempurna meskipun seorang raja.
total 1 replies
Morphin
raja yg lembek krn wanita, sdh tahu mrk jahat, ngapain dipelihara.....ky org g lalu sj
Rettofuaia: mungkin sang raja berpikir bisa merubah mereka ke arah yang lebih baik lagi
total 1 replies
AGhanteng
Yaa,ketinggalan hot news. Syg bgt ya thor.. Tp ga apa deh.
Semoga crta terbaru bagus ya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!