Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.
Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.
Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.
Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.
Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.
Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN TAK TERDUGA
"Kita makan siang sekalian, ya!" Usul Ben saat Ayunda dan Ben baru keluar dari lift. Ini memang sudah masuk jam makan siang, dan Ayunda serta Ben baru keluar dari kamar.
"Ya! Perutku juga sudah lapar sekali karena tidak sarapan tadi," jawab Ayunda sedikit terkekeh.
"Udah sarapan yang lain. Aku pikir udah kenyang," kekeh Ben yang langsung berhadiah cubitan di perut dari Ayunda.
"Dasar mesum!"
Ayunda dan Ben masuk ke dalam restoran yang masih ada di dalam area hotel. Pasangan suami istri tersebut memilih untuk duduk di dekat jendela dan mereka segera memesan makanan untuk makan siang.
****
"Habis ini langsung pulang dan jangan mengajakku keluyuran lagi! Aku belum ganti baju sejak kemarin," ucap Ayunda yang sedikit berbisik di bagian akhir kalimat.
"Iya, iya! Kita pulang habis ini, Beauty!" Jawab Ben seraya mengusap wajah Ayunda sesaat.
Ayunda hanya tersipu dan segera menundukkan wajahnya.
"Sudah selesai, kan? Ayo pulang!" Ajak Ben selanjutnya seraya bangkit dari duduknya. Ayunda segera ikut berdiri dan pasangan suami istri tersebut berjalan beriringan keluar dari resto.
Ayunda dan Ben baru beberapa langkah meninggalkan resto, saat seorang pria tiba-tiba menyapa Ayunda dan membuat istri Ben tersebut mematung di tempatnya.
"Ay!" Pria itu tersenyum lebar ke arah Ayunda seolah mereka berdua pernah akrab sebelumnya.
Tapi, siapa pria yang mengenakan kemeja warna krem tersebut?
"Apa kabar, Ay?" Sapa pria itu pagi pada Ayunda yang masih membeku.
"Ba-baik, Bang!" Jawab Ayunda sedikit tergagap.
Bang?
Apa itu abangnya Ayunda?
Tapi bukankah Ayunda anak tunggal?
Membingungkan sekali!
Dan yang lebih membingungkan tentu saja adalah saat pria yang dipanggil Bang oleh Ayunda tersebut tiba-tiba langsung memeluk Ayunda dengan erat. Rasanya Ben ingin langsung menendangnya ke planet pluto, karena pria asing ini sudah memeluk istri orang sembarangan.
"Bang Briel sedang apa disini? Bukannya Abang sudah lama pindah bersama Kak Hana dan Ayah serta Bunda?" Tanya Ayunda pada pria yang ternyata bernama Briel tersebut.
Briel?
Brian?
Kok mirip?
Apa mereka saudara?
"Kebetulan sedang ada acara dengan rekan bisnis disini," jawab Briel seraya tersenyum hangat pada Ayunda.
"Kau sendiri sedang apa di hotel ini? Dan ini siapa?" Briel balik bertanya pada Ayunda seraya menunjuk ke arah Ben yang sejak tadi hanya diam seraya mdnahan geram seperti makhluk tak kasat mata.
"Oh, ini," Ayunda tampak salah tingkah saat menyadari kalau ternyata Ben ada di sebelahnya.
Ya ya ya!
Ben mungkin memang tak terlihat sejak tadi.
"Ini suami Ay, Bang!" Lanjut Ayunda lagi seraya meringis pada Briel.
"Suami?" Briel mengerutkan kedua alisnya.
"Iya, suami. Kami baru saja menikah," jelas Ayunda yang semakin terlihat canggung dan salah tingkah.
Briel tiba-tiba tersenyum dan kembali memeluk Ayunda.
"Selamat kalau begitu! Sayang sekali kau tidak mengundang kami sekeluarga ke acara pernikahanmu," ucap Briel dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Acaranya sedikit mendadak. Tapi nanti kalau jadi diadakan resepsi, Ay pasti akan mengundang Bang Briel, Kak Hana, Ayah, dan Bunda," jawab Ayunda yang masih salah tingkah.
Resepsi?
Kok Ben malah tidak tahu kalau mau ada resepsi pernikahannya dengan Ayunda?
Atau ini hanya karangan indah seorang Ayunda?
"Oh, ya. Aku Gabriel!" Briel yang seolah sadar kalau ia belum berkenalan dengan Ben segera mengulurkan tangannya pada Ben dan mengajak berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.
"Ben!" Jawab Ben sedikit canggung seraya membalas jabat tangan Gabriel.
"Dia abangnya Brian, Ben," bisik Ayunda pada Ben seolah menjawab pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar di kepala Ben.
Benar, kan?
Pria ini ternyata abangnya Brian!
Pantas saja Ayunda sampai membeku dan salah tingkah!
Pasti wajahnya mirip!
Ben hanya mampu menggerutu dalam hati.
"Aku selalu ingat pada Brian jika melihat matamu," ucap Briel lagi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini memang mata milik Brian, Bang," Jawab Ayunda lirih.
"Dan kau menjaganya dengan baik. Brian pasti bahagia disana," sambung Briel yang hanya membuat Ayunda tersenyum dan mengangguk.
"Jadi, Abang di kota ini berapa hari? Sudah ke makam Brian?" Tanya Ayunda selanjutnya berbasa-basi pada mantan calon abang iparnya tersebut.
"Sore ini rencananya sudah mau kembali. Dan kemarin aku juga sudah mengunjungi makam Brian," jawab Briel sedikit mengangguk.
"Tapi nanti setelah Hana melahirkan, kami semua rencananya akan kembali pindah ke sini," sambung Briel lagi yang langsung membuat Ayunda sedikit terkejut.
Ben juga terkejut sebenarnya.
"Kak Hana sudah hamil lagi? Perasaan baru kemarin Queena lahir," Ayunda berucap tak percaya.
"Ya. Saat itu kau dan Brian yang sibuk mencarikan nama untuk Queena." Briel terkekeh kecil.
"Tapi Queena sudah genap lima tahun sekarang, dan sudah sekoah juga. Dan adiknya sebentar lagi juga akan lahir," terang Briel sedikit menerawang.
"Waktu cepat sekali berlalu," gumam Ayunda yang masih memasang senyuman di bibirnya.
"Nanti aku kabari jika kami jadi pindah kesini," ucap Briel akhirnya memecah kebisuan.
"Ya!" Jawab Ayunda cepat.
"Aku bisa minta nomor kontakmu? Ponselku sempat rusak dan semua kontak hilang termasuk kontakmu. Itulah mengapa aku tak bisa lagi menghubungimu," Briel memberikan ponselnya pada Ayunda, dan istri Ben itu segera mengetikkan nomor pkbselnya dengan cepat di ponsel Briel.
Semoga Ayunda salah mengetikkan nomor dan Briel tak bisa menghubunginya!
Ben lagi-lagi hanya bisa berharap dan menggerutu dalam hati.
"Sudah! Coba Abang hubungi ke nomor Ay! Kontak Abang sekekuarga juga hilang soalnya karena Ay ganti nomor," pinta Ayunda. Dan Briel langsung memencet tombol hijau di layar ponselnya. Tak berselang lama, terdengar dering ponsel Ayunda dari dalam tas.
Yah!
Ayunda tidak jadi salah mengetikkan nomor ternyata.
Ben hanya bisa mendengus kesal.
"Baiklah, sudah!" Ucap Briel yang sudah kembali menyimpan ponselnya.
"Aku harus segera bertemu rekan kerjaku," Briel memeluk Ayunda sekali lagi.
"Ay titip salam untuk Ayah Bunda, Kak Hana, dan Queena, Bang!" Pesan Ayunda sebelum ia berpisah dengan Briel.
"Nanti aku sampaikan! Ayah dan Bunda pasti senang mendengar kabar pernikahanmu," jawab Briel seraya tersenyum.
"Aku pergi dulu. Bye!" Pamit Briel selanjutnya seraya melambaikan tangan pada Ayunda dan Ben.
Pada Ayunda saja sepertinya.
Ben juga tidak dipamiti tadi dan hanya dianggap sebagai patung obat nyamuk sejak tadi.
Ck!
Menyebalkan sekali!
Ben hanya berdecak dan segera melangkah menuju ke pintu utama hotel, meninggalkan Ayunda yang mengernyit bingung dengan sikap Ben tersebut.
Ada apa dengan bocah dua puluh dua tahun tersebut?
.
.
.
Cobaanmu berat, Ben!
Banyakin sabar, ya!
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.