perkenalan
namanya Roman maulana satria usia dua puluh empat tahun pendidikan sarjana hukum lulusan amerika.hidup sebagai preman jalanan walau merupakan putra konglomerat pewaris tunggal satria corp. kisah cintanya tak direstui ibunya. yok kita lihat perjuangan hidupnya untuk mengungkap kasus kematian kekasihnya yang dibunuh dengan menularkan virus covid 19 yang lagi viral dan menghilang dari kedua orang tuanya. mari kita masuk dalam kisah pertama pulang ke Idonesia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisnu Arca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENEMPATI RUMAH MEWAH.
Oleng tergiur tawaran Nadira. tiga orang sahabat ini tidak perlu gunakan kekerasan untuk minta petunjuk.
"berapa hadiah yang kamu berikan!" tanya Oleng menatap Nadira tampaknya dia bersedia memberi keterangan.
"Hadiah apa yang kamu minta kami akan turuti!" kata Hadi tiba tiba sudah berada disamping Oleng.
"saya mau uang kes!"
"berapa!" ucap Hadi.
Oleng bingung mau nyebut berapa. Akhirnya mulut Oleng asal sebut.
"seratus juta!" pinta Oleng tidak yakin ucapannya. Tangannya menutup mulutnya menyebut uang terlalu banyak seperti merasa malu.
"kuberikan kamu hari ini dua ratus juta kes asalkan kamu jujur!"
"hah!" Oleng terperanjat tidak percaya dengan ucapan Nadira. Dengan seratus juta saja Oleng tidak yakin. Malah Nadira menawarkan dua kali lipat.
"kalau kau berikan aku dua ratus juta. Aku akan berikan keterangan yang lengkap. Tanpa aku takut digebuk atau dibunuhpun aku tidak takut pada Ghazan dan Winda!" ucap Oleng senang.
"Okey kalau begitu kamu jangan tunjukan sekarang tapi nanti diapartemen setelah kami ambilkan uangmu dua ratus juta!" ucap Nadira seraya beranjak masuk panggil Restu.
"Restu, sini!. Sebelum polisi datang segera bawa orang yang saya ajak bicara tadi keapartemen!" bisik Nadira.
"orangnya mana?"
"tuh, diluar bersama Hadi!"
Restu mengajak Oleng masuk kedalam mobil. Tidak beberapa lama polisi datang mengamankan seluruh anak buah Ghazan kecuali Oleng.
Ketiaga sahabatnya Roman pulang dengan menelan pil pahit. Mereka gagal meringkus dua buruannya setelah berusaha semaksimal mungkin.
Alhamdulillah ada secercah harapan dari anak buahnya Ghazan, yang bersedia mengungkapkan keberadaan Ghazan dan Winda dengan membuka mulutnya pakai uang.
tekad mereka semoga dapat mengoreksi sekomplitnya hingga tak ada kesulitan untuk menangkap dua gembong yang telah menewaskan kekasih sahabat mereka.
Oleng keluar dengan hati berteriak kegirangan membawa tas berisi uang dua ratus juta. Hari ini dunia seakan miliknya, dan merasa dia orang yang terkaya.
Dengan gaya dia menyetop taksi, sambil memeluk erat uang berisi dua ratus juta. dia menaiki taksi. Tak bisa digambarkan besar kebanggan yang tersimpan dihati Oleng.
"kemana? pak!" tanya sopir taksi.
"kemayoran?" kedip Oleng sama sis sopir.
"sip!"
sopir taksi memberikan tanda jempol lalu beranjak menuju ke arah kemayoran. Mulai keluar dari salah satu bank swasta, sampai apartemen. Hingga keluar lagi dengan uang dua ratus jutanya, Oleng tidak menyadari ada dua orang ber boncengan motor mengikutinya.
Kira kira kurang satu kilo dari tugu ondel ondel, taksi yang di tumpangi Oleng dihadang oleh dua pengendara motor bersenjata pistol lengkap.
Oleng yang sudah bertahun tahun, terjun didunia kriminal. Sudah paham kalau dua pengendara motor itu mengincar dirinya. Maka, dia sudah siap melakukan siasat licik seperti yang sering dilakukan.
Dua lembar merah telah dipersiapkan untuk membayar taksi. begitu salah satu begal mendekat dengan cepat Oleng membuka pintu mobil dan menyambar tubuh sipembegal yang hendak membegalnya. Sipembegal tersungkur jatuh.
Oleng langsung kabur setelah melempar dua lembaran merah kearah sopir taksi, bersamaan dengan itu pula sisopir taksi langsung tancap gas.
Dua pengendara motor langsung mengejar Oleng. Oleng ngumpet di balik gerobak pedagang mainan keliling sambil ngintip dua pengendara motor.
Oleng mencoba minta bantuan pada Hadi dan Nadira yang alhamdulillah meresponnya segera membantu setelah mengiriminya tempat keberadaannya.
Dalam beberapa menit Hadi sudah parkir ditempat yang sudah ditentukan Oleng. Hati Oleng lega melihat kemunculan mobil Hadi.
Oleng masuk kedalam mobil Hadi.
"begalnya mana? leng," tanya Hadi yang mengendalikan mobil.
"tu didepah yang rambut gondrong, baju oblong hitam. Dua orang yang mengendarai motor!" tunjuk Oleng kearah dua laki laki yang tampak sedang celingak celinguk seperti sedang mencari orang.
"o, itu. ni kusiapkan tas lain yang mirip tas uangmu yang berisi dua ratus juta itu!" ucap Hadi.
"sekarang samperin orang itu ajak dia main main sebagaimana kamu menghadapi aku. uangmu tinggalin disini dan tas ini bawa!" Nadira menyuruh Oleng untuk mengajak dua pembegal itu duel.
"tapi dia bawa senjata api bos!" tatap Oleng.
"itu soft gun mainan jangan takut!" Ucap Hadi.
"uwah..., kalau aku tahu itu bukan senjata sungguhan. Aku tidak perlu kabur dan minta bantuan kalian!" ucap Oleng jengkel, lalu keluar nyamperin dua pembegal motor yang mengejarnya.
Dua pembegal tersenyum senang melihat Oleng keluar mendekati dirinya.
"nah...begitu dong kalau kepingin selamat! pakai kabur segala. nah, mari tas itu serahkan!" pinta si pembegal.
Oleng melemparkan tas yang dipegangnya kearah pembegal yang memegang senjata api.
hahaha...hehehe
kedua pembegal senang mendapar rezky banyak, karena mereka berdua melihat sendiri uang yang di ambil Nadira di salah satu bank swasta tadi.
begitu menangkap tas yang di lempar Oleng, salah satu penjahat yang menangkap tas merasa curiga dengan isi tas tersebut.
betapa murkanya kedua penjahat ini begitu tahu isinya hanya sampah kertas.
"hay jangan main main kamu, kutembak baru tahu rasa kamu. Cepat...! Berikan tas yang berisi uang. Kalau kamu masih pingin selamat!" gertak sipembegal.
"rupanya kamu belum mengenal saya, saya? puluhah tahun jadi preman jalanan di jakarta ini. O..., tampaknya kalian orang baru."
selesai berucap Oleng langsung menghajar dua pembegal. Perkelahian berlangsung dua lawan satu. Hadi dan Nadira tampak gembira mendapat tontonan gratis.
sedang, dirumah besar mewah, di kawasan Jakarta pusat yang letaknya disawah besar, jalan karang anyar. Tidak jauh dari perusahaan satria corp.
pak Imran beserta keluarga baru saja pindah dari rumahnya di Menteng, kerumah yang baru diberikan oleh pak Rifky.
Pak Imran turun dari mobil mewahnya yang dijemput oleh sopir khusus, untuk keluarga pak Imran yang digaji oleh pak Rifky.
Belum masuk saja kedalam rumah yang akan ditempatinya, pak Imran dan keluarga langsug terpukau melihat interior depan rumah ini.
pak Kumin dan istrinya Sukini, yang bertugas menjaga dan merawat rumah ini. Langsung menyambut dan mempersilahkan pak Imran dan keluarganya masuk.
begitu pintu rumah dibuka pak Imran beserta semua keluarganya terpana melihat pemandangan ruang depan rumahnya
Pak Imran merasa bagai mimpi berada dirumah itu. Dia tidak pernah mimpi akan menempati rumah sebesar dan semewah ini.
Nillam dan Hakim tak Henti hentinya berdecak kagum melihat lihat isi rumah yang akan ditempatinya. bagai dia sedang mengunjungi sebuah pameran.
Setelah keliling keliling dari lantai atas sampai lantai tiga, ketika kembali turun kelantai pertama ada sebuah ruangan yang belum dimasukinya.
ketika membuka ruangan itu Nillam dan Hakim terkejut dan kagum luar biasa. ruangan ini sangat luas dan indah. Didalam ruangan itu masih ada kamar lagi.
"wao," Nillam semakin kagum melihat pemandangan ruangan ini. lantainya berbeda dengan lantai lantai yang lain. lantainya terbuat dari batu pualam yang didesain percis keramik kaca yang sangat indah.
💜💜💜💜💜
BERSAMBUNG.