Memiliki suami tampan, mapan, baik dan penyayang adalah impian semua wanita, tapi tidak bagi Bella.
Empat kriteria yang di idamkan para wanita justru menjadi musibah buat Bella. Nathan, pria yang ia nikahi, ia percaya, ternyata mengkhianatinya. Diam diam Nathan menikahi wanita lain di kota tempat ia bekerja. Kepulangan Nathan kembali ke rumah harusnya menjadi kabar yang membahagiakan Bella.
Namun, kenyataan berbicara lain, Nathan pulang bersama istri barunya.
Hancur? sudah pasti. Namun luka yang Bella terima tidak hanya sampai di situ. Nathan dan ibu mertua menuduh Bella telah selingkuh dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri.
Nathan. "Dia bukan putraku!"
Greta. "Akhirnya rencana malam itu membuahkan hasil, akan kusimpan rencana besar ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
Di sini Bella sekarang, ia sudah berada di lantai delapan. Niatnya untuk memasuki ruangan Direktur terhalang oleh Cici sekertaris pak Nizam. Sudah berapa kali permohonan yang Bella lakukan namun tetap nihil, Cici sama sekali tidak mengijinkan Bella memasuki ruangan Rafka. Karna ia tahu akan terjadi masalah besar kalau Bella mengetahui identitas Rafka.
"Maaf mba Bella, pak Direktur beneran lagi sibuk dan benar-benar tidak bisa di ganggu. Jadi saya mohon mba Bella segera turun dan melanjutkan pekerjaannya lagi." Ucap Cici sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Tapi mba, saya benar-benar penasaran. Saya cuma ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau pak Direktur yang berada di dalam sana bukanlah Rafka yang saya kenal." Kata Bella memohon.
Belum sempat Cici membuka suara, tiba-tiba saja pintu ruangan Rafka terbuka. Dan dapat ditebak bukan? Rafka keluar dari ruangannya di susul Juan dari arah belakang. Terlihat Rafka membenarkan kancing tangan kemejanya tanpa melihat adanya Bella di depannya. Sementara Juan, ia melebarkan matanya, kaget saat melihat Bella menatap tajam ke arah Rafka.
"Mampus kita, Bos." Gumamnya terdengar oleh Rafka.
"Apanya yang mampus?" Sahut Rafka berbalik arah menghadap Juan.
"I-itu, Bos." Tunjuknya ke arah Bella.
Rafka mengerutkan dahinya, kemudian ia berbalik arah. Belum sempat Rafka membuka kata, Bella langsung menampar pipinya.
"Bella." Panggil Rafka menghiraukan rasa panas di pipinya, Rafka memegang tangan Bella. Namun tepisan telak yang ia dapatkan.
"Perang dunia ke sepuluh ini." Gumam Cici. Ia berusaha fokus dengan pekerjaannya, namun rasa penasarannya membuat ia lebih fokus untuk melihat drama yang ada di depan matanya.
"Kau." Bella menunjuk ke arah Rafka. "Tega sekali membohongiku!" Ucap Bella melototkan matanya ke arah Rafka.
"Be-Bella, kenapa kau ada di sini? a-aku bisa jelaskan. Aku melakukan ini karna ada alasan lain, aku...-"
"Diam!" sela Bella.
"Jadi benar, selama ini kau sudah membohongiku habis-habisan. Kau benar-benar tega sudah membohongiku, padahal hari ini aku akan memberikan jawaban padamu Rafka! aku benci. Aku benci!" Bella mendorong Rafka dan dengan Refleks Rafka langsung menarik Bella memasuki ruangannya.
"Lepaskan aku!" berontak Bella.
Rafka langsung memeluk Bella dengan erat, ia benar-benar tidak mau kehilangan Bella apalagi sampai Bella membenci dirinya.
"Maafkan aku Bella, maafkan aku."
"Lepaskan aku, Rafka. lepaskan." Bella sudah tidak dapat membendung air mata, tangisnya pecah saat mendengar kata maaf dari Rafka.
"Lepas. Percuma kau meminta maaf, sudah terlambat, aku tidak mau mengenalmu lagi. lepaskan aku." Bella berusaha melepaskan pelukan Rafka. Akhirnya Rafka pun mengalah, ia melepaskan pelukannya.
"Kau jangan menangis." Kata Rafka menyeka air mata Bella. Tapi Bella langsung menepis tangan Rafka.
"Cukup sampai di sini kedekatan kita. Aku tidak mau lagi berdekatan dengan laki-laki penipu sepertimu. Aku benar-benar kecewa Rafka. Oh iya aku lupa, Bapak RAFKA YANG TERHORMAT." Bella tersenyum nanar meratapi nasibnya yang benar-benar seperti orang bodoh. Bodoh karna sudah ditipu mentah-mentah. Rasa sakit dan kecewa kembali ia rasakan.
"Bella jangan seperti itu, aku bisa jelaskan Bella. Aku benar-benar mencintaimu tidak ada sedikitpun niatku untuk mempermainkanmu, aku serius Bella, aku serius."
"Rafka!" Teriakan seseorang cukup lantang dan sangat familiar di telinga Rafka.
"Papa?" sahutnya, ia merasa syok dengan kedatangan Nizam yang tiba-tiba.
"Biarkan perempuan itu pergi! dia memang seharusnya pergi dari kehidupanmu!" ucapnya pada Rafka. Spontan Bella memejamkan mata saat mendengarnya, ia tau diri dan paham apa yang telah di ucapkan Nizam.
"Pa, aku mencintainya, Pa."
"Cukup Rafka." Sela Bella. "Cukup sampai di sini kau memperlakukan aku, sudah cukup, jangan ganggu aku lagi Rafka, aku sudah tidak ingin mengenalmu lebih dalam lagi." Timpalnya sembari menahan tangis.
Sakit, lebih sakit di saat hatinya mulai terbuka lebar namun kepahitan dan kebohongan yang ia dapat. Bella melangkah pergi meninggalkan Rafka, tak lupa ia sedikit membungkukkan badan saat melewati Nizam.
"Bella!" panggil Rafka mencoba menyusul Bella, tetapi Nizam menghadangnya.
"Kau sudah membuat Papa kecewa lagi Rafka. Papa sudah mempercayakan semua ini padamu, tapi apa yang sudah kamu lakukan? Seorang Direktur anak dari Nizam Melvine rela melakukan pekerjaan cleaning service demi perempuan seperti dia? apa yang ada di otak kamu itu? benar-benar memalukan!" Umpatnya pada Rafka.
"Kamu mau, Papa kirim lagi ke luar negri supaya isi di dalam otakku mu itu kembali berfungsi." Timpalnya lagi menunjuk ke arah Rafka.
"Pa, Rafka sudah memenuhi keinginan Papa. Mengelola perusahaan sesuai keinginan Papa. Rafka tidak menginginkan apa-apa lagi Pa, Rafka benar-benar mencintai Bella."
"Cinta, cinta. Mata kamu itu buta! Dengarkan Papa baik-baik. Papa sudah memilihkanmu pendamping sesuai dengan martabat kita. Jangan sampai kamu mempermalukan Papa lagi. Ingat itu, atau perempuan tadi yang akan menerima akibatnya." Ancamnya pada Rafka.
"Papa enggak bisa begitu dan jangan bawa-bawa Bella." protes Rafka.
"Pilihan kamu tidak ada yang lain lagi. Turuti kemauan Papa dan Papa juga tidak akan mengusik perempuan tadi."
"Dan kamu Juan, awasi dia dengan baik atau saya tendang kamu dari sini dan menjadi gembel di jalanan." Ucapnya pada Juan.
"Ba-baik, Pak." Sahut Juan merinding membayangkan dirinya menjadi gembel jalanan.
"Rafka. Setelah selesai dengan pekerjaanmu, segera pulang kerumah, Papa menunggumu di sana." Nizam berbalik arah lalu melangkah keluar tanpa memperdulikan keinginan Rafka.
Rafka menendang kursi cukup kuat. Kesal sudah pasti ia rasakan, apalagi saat membayangkan Bella yang akan membenci dirinya. Juan hanya bisa menundukkan kepala, ia tahu perasaan yang Bos nya rasakan. Namun ia tidak bisa berbuat banyak.
"Bersabarlah Bos, ini awal perjuanganmu untuk mendapatkan sesuatu yang kau inginkan." Gumam Juan dalam hati.
.........
kesabaran membawa kebahagian buat bella dan kel nya
pdhl ms penasarn sm papa ny bella
smg dimas baik3 sj
oh y thor kbr ayhny bella gimn ap sudh meninggl atu msi hdup
kbr ibu margaret gimn thor
msi adlg rhasua yg blm trbingkar tgu aja