"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21. Apa yang terjadi?
Dari kejauhan, muncul sebuah titik cahaya kecil, disertai suara yang tadi ia dengar saat masih terbaring di kamar istana. Cahaya itu perlahan membesar, semakin terang, hingga Leon terpaksa menutup matanya karena terlalu silau. Bersamaan dengan itu, suara itu pun terdengar semakin jelas dan nyata.
“Nak… bangun, Nak… tolong jangan tinggalkan Ibu…”
Telinga Leon tiba-tiba terasa berdenging hebat, seolah ada ribuan suara yang bergema bersamaan. Rasa sakit menusuk di kepalanya makin terasa, hingga akhirnya ia tidak sanggup menahan lagi dan terjatuh tak sadarkan diri, persis saat cahaya di sekelilingnya memancar dengan terangnya yang membutakan pandangan.
... ****************...
Di dunia yang berbeda, di sebuah ruang rawat inap rumah sakit yang sunyi, suasana terasa berat dan menyedihkan. Seorang wanita paruh baya terlihat duduk terkulai di samping tempat tidur, bahunya terguncang hebat sambil menangis histeris. Di hadapannya terpasang alat monitor yang menampilkan garis lurus tanpa denyut lagi tanda bahwa detak jantung anak tunggalnya, yang sudah terbaring koma selama lima tahun, baru saja berhenti bergerak sepenuhnya.
Ia tidak sanggup menerima kenyataan itu. Selama bertahun-tahun ia tetap setia menunggu, berharap suatu hari anaknya akan membuka mata kembali dan tersenyum seperti dulu. Dengan wajah yang sudah basah kuyup oleh air mata dan sisa tenaga yang hampir habis, ia meraih tangan dingin anaknya dan berbisik lirih dengan suara terputus-putus:
“Nak… tolong… jangan tinggalkan Ibu sendirian…”
Begitu kata-kata itu terucap, tubuhnya tiba-tiba lemas sepenuhnya. Ia terhuyung ke depan dan hampir terjatuh membentur sisi meja, namun segera ditahan erat oleh suaminya yang sejak tadi berdiri di sampingnya dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca.
“sayang! Tenanglah, jangan memaksakan diri!” seru suaminya sambil memeluk tubuh istrinya yang sudah pingsan.
Melihat kejadian itu, dua orang suster yang berjaga segera bergegas mendekat. Mereka membantu mengangkat dan membawa wanita itu ke ruang perawatan sebelah, sementara dokter yang bertugas segera memeriksa kondisi pemuda yang terbaring di tempat tidur itu.
“Maaf, Pak… kondisinya sudah tidak tertolong lagi,” ujar dokter dengan nada lembut namun tegas, mencoba menenangkan suasana. “Semua fungsi tubuhnya sudah berhenti bekerja. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin selama ini.”
pria paruh baya itu hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya akhirnya jatuh juga. Ia menunduk dalam, menggenggam tangan anaknya untuk terakhir kalinya, lalu berbisik pelan, “Istirahatlah dengan tenang, Nak. Ibu dan Ayah akan selalu mendoakanmu.”
Baru saja kalimat itu terucap, tiba-tiba jari telunjuk pemuda itu bergerak perlahan. Suara monitor yang tadinya hanya menampilkan garis lurus pun perlahan berubah, mulai membentuk gelombang kembali. Semua orang di ruangan itu tertegun menyaksikan keajaiban yang terjadi. Tak lama kemudian, kelopak mata pemuda yang selama ini terpejam itu pun terbuka perlahan. Dokter yang melihat kejadian itu segera bergegas mendekat untuk memeriksa pasien yang baru sadar setelah terbaring koma selama lima tahun.
Dokter merasa sangat terheran-heran. Baru saja ia menyatakan pasien itu telah meninggal dunia, namun sekarang ia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya...pemuda itu kembali sadar. Rasa takjubnya makin bertambah saat melihat data kesehatan yang tertera di layar kondisinya pulih secara drastis, jauh melampaui batas logika medis.
“Baru kali ini saya menjumpai kasus yang menakjubkan seperti ini,” ujarnya sambil tersenyum lembut. Ia lalu menoleh ke pria paruh baya yang masih tertegun, matanya berkaca-kaca tak percaya melihat putranya bernapas kembali.
“Saya turut bersyukur dan berbahagia, Pak. Anak Bapak sudah sadar setelah lima tahun koma. Ia akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap untuk pemantauan lebih lanjut. Kami masih akan memeriksa kondisinya secara rutin. Jika dalam satu minggu keadaannya terus membaik seperti ini, kami akan mengizinkannya pulang.”
pemuda itu adalah Leon, Leon yang sudah bisa melihat jelas langsung melihat di sekelilingnya, matanya melihat sekitar dan hidungnya mencium bau obat obatan, dia tahu di mana dia sekarang.. di rumah sakit. dan ini ada di dunia nyata, dia kembali ke dunianya. namun dia bingung, kenapa dia berada di rumah sakit.. bukanya seharusnya ada di tempat kos dia kalau memang akan kembali di dunia ini. lalu matanya melihat seorang pria paruh baya yang juga sedang menatap nya dengan mata yang berkaca kaca.
Leon sangat kenal dengan pria paruh baya itu, dengan suara seraknya dan sedikit terbata bata, "A-Ayah."