Luna, seorang mahasiswi cantik, rajin dan energik memiliki masalah dengan dosen yang memberinya nilai D pada semester lalu, Edric.
Demi menolong bapaknya yang kurang biaya rumah sakit, Luna terpaksa menuruti keinginan seorang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nyonya besar tersebut memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Saat Luna tahu, suami dari nyonya besar itu adalah, Edric Aderald, sang dosen kejam yang ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Honeymoon
Rencana gila apalagi yang sudah dibuat oleh Dita, kini Edric benar-benar tak mengenal istrinya. Seorang Dita yang dewasa, bijak dan selalu terlihat keibuan kini sudah hilang.
Dita telah merencanakan bulan madu untuk Edric dan Luna. Dan sekarang pasangan pengantin baru itu sedang duduk berjauhan dalam jet pribadi milik Dita. Mereka bulan madu ke tempat yang tidak jauh dan masih di dalam negeri, yakni Bali.
Ketika sampai di sana pun Edric sudah digiring pada salah satu hotel milik Dita. Tak perlu ditanya lagi, mereka harus tidur dalam kamar yang sama.
"Beneran, Pak ini hotel punya nyonya Dita?" ujar Luna saat ia berjalan masuk ke lobi hotel.
Edric tak menjawab, ia langsung menuju ke meja resepsionis. Dan ternyata sang resepsionis mengatakan, jika kamar untuknya dan Luna sudah disiapkan. 'Bagaimana jika karyawan-karyawan di sini tahu?' batin Edric sambil mengusap kasar wajahnya.
Mereka berdua pun sampai pada sebuah kamar, Edric langsung membuka pintu tersebut dengan pass card yang ia bawa.
Mereka berdua masuk kamar yang telah dihias dengan begitu romantis. Kelopak mawar bertebaran di mana-mana, wangi aroma terapi menguar ke sudut ruangan.
"Pak, kita tidur di sini?" Luna merasa geli melihat ruangan hotel yang dihias dengan cukup 'lebay' menurutnya, apalagi di sini harus berdua dengan dosen killernya saja.
"Mau bagaimana lagi, kau tau sendiri, hotel ini milik Dita." Edric menjawab Luna sambil mengambil selimut dan membersikan kelopak mawar yang ada di kamar dengan selimut itu.
"Iiih, kenapa dibuang-buang, Pak?" Luna berjongkok memunguti kelopak mawar yang berserakan.
"Aku mau tidur!" Edric pun langsung merebahkan diri tanpa melepas sepatu maupun mengganti baju sisa perjalanannya.
Luna menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu berpikir, 'Kalau begitu aku harus tidur di mana?'
Di hotel ini tidak ada sofa, karpet apalagi kasur lantai yang bisa dia jadikan tempat tidur. Dan satu-satunya ranjang yang ada, itu telah ditiduri oleh orang yang sekejam Edric Aderald, yang mana mungkin Luna berani mengganggunya.
Luna mendesahkan napas panjang. "Lebih baik aku bersih-bersih dan membereskan baju dulu." Luna pun mulai membersihkan diri dan menata bajunya pada lemari yang ada. Karena ia hanya membawa sedikit baju, jadi hal tersebut dapat ia lakukan dengan cepat.
Kruucuuuuuuk ...!
Perut Luna berbunyi ingin diisi. Luna sama sekali tidak memiliki makanan. Satu-satunya orang yang dapat Luna mintai pertolongan itu adalah, serigala yang sedang tidur pulas di hadapannya.
"Aduuh, bagaimana ini? Aku bangunin jangan ya?" Luna mondar-mandir.
"Ngapain kamu jalan mondar-mandir gitu?" Edric membentak Luna dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Eh, Pak Edric, bangun ya? Saya ... saya ... saya lapar ...," ujar Luna sambil tersenyum paksa dengan menampilkan sederet giginya.
Edric lupa jika ia belum memberi uang untuk Luna. Terakhir ia hendak memberi saat di rumah sakit, namun itu ditolak oleh Luna.
"Aku ke kamar mandi dulu," ucap pria itu langsung bangkit dari ranjangnya.
Tak lama kemudian, Edric sudah rapi dan berganti pakaian.
"Ayo!"
"Ke mana, Pak?" tanya Luna.
"Katanya lapar?" Edric malah balik bertanya.
"Ah, iya!" Luna pun langsung bergegas mengikuti Edric yang sudah siap untuk membuka pintu.
Mereka berdua berjalan beriringan, Edric mengajak Luna ke restoran yang ada dalam hotel itu.
Cekrek cekrek
"Pak Edric?"
"Hmmm?"
"Nggak jadi, ah!"
***
Bersambung ...