Lyra tak pernah menyangka akan masuk ke dalam sebuah drama pernikahan bersama seorang laki-laki bernama Wira. Impian Lyra hancur ketika statusnya berubah menjadi seorang istri. Karena suatu kejadian, Wira dan Lyra terpaksa menikah.
Lyra merasa aneh saat lelaki itu tidak pernah mengungkapkan cinta padanya, namun berkata tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Likenya jangan lupa, kalau vote nya kencang aku nggak jadi libur. Dan bakalan tetap lanjut di hari libur ini demi kalian 🤗
\~
Juna sudah pasrah menghadapi hari ini, sejak malam tadi di kepalanya penuh dengan Wira dan Lyra yang sudah mulai akrab, bahkan Juna berpikir lambat laun cinta akan tumbuh diantara mereka. Gimana mau fokus belajar, kalau boleh jujur Juna menyesal nelpon teman dekatnya, istri orang, alias kakak iparnya. Niat ingin mendapatkan semangat saat mendengar suara Lyra, eh malah tambah stress. Apalagi mendengar omongan kakaknya yang super jutek ngegas terus. Tapi apa mau di kata, nggak dapat semangat malah dapat patah hati bertubu-tubi.
Lyra sudah mengenakan jas dan rok hitam ala-ala mahasiswi yang akan menghadapi sidang, melihat pantulan dirinya di cermin. Rasa dag dig dug kemarin-kemarin berangsur pudar, hilang perlahan. Ada Mas Wira yang terus menenangkannya. Mengatakan semua akan baik-baik saja, Lyra pasti bisa melewatinya.
Subuh tadi, Lyra bangun kesiangan. Terbangun karena menghirup aroma masakan yang cukup tajam, pagi-pagi sekali Wira memasak untuknya. Tanpa membangunkan Lyra, diam-diam lelaki itu menyiapkan sarapan. Gimana Lyra nggak makin sayang kalau Masnya bersikap demikian?
Hari ini, untuk pertama kalinya Lyra diantar suaminya ke kampus. Dia nggak minta, tapi Wira yang menawarkan, ya tentu dengan senang hati dong menerima. Apalagi pagi ini, dia butuh semangat. Andai Wira bisa menemaninya, atau menunggunya di depan ruang sidang sampai ia selesai, oh alangkah bahagianya hati Lyra. Tapi wanita itu sadar, suaminya bukanlah seorang pengangguaran, meski hartanya sudah banyak. Seperti biasa, Wira pasti mementingkan pasien diatas segala-galanya.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Wira sambil memegang pundaknya. Lyra menoleh ke kanan.
“Iya Mas, ntar kamu telat, soalnya kan arah kampus dan rumah sakit berlawanan.” sahut Lyra.
Wira hanya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum, membantu Lyra membawa laptop, buku serta skripsinya. Sementara Lyra hanya membawa ponsel saja di tangannya.
\~
“Mas kok ikut turun?” Lyra heran, usai bersalaman, dan cium kening, lelaki itu membuka pintu mobil. Meraih semua barang yang ada di jok belakang.
“Nemenin kamu lah.”
“Loh emangnya Mas nggak kerja hari ini?”
Wira menggeleng, ia sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Saat istrinya itu memberi kabar bahwa ia akan menjalani ujian sidang skripsi hari ini, Wira sudah menyusun jadwal dan agendanya sebaik mungkin. Memang sih dia hari ini ada jadwal, tapi sudah di gantikan oleh rekannya. Bagaimanapun, apapun caranya, ia harus menemani Lyra. Melihat wajahnya yang cukup ceria keluar dari ruangan sidang.
Tentu ini surprise kecil bagi Lyra, harapannya menjadi nyata, Wira bisa menemaninya.
Menjadi pusat perhatian saat di kampus sebenarnya sudah menjadi hal biasa bagi Lyra. Tapi kali ini, memang tak bisa di pungkiri sejak saat ia turun dari mobil, di bukakan pintu oleh mamasnya, semua mata tertuju padanya. Dan yang paling sial adalah para mahasiswi lain yang melihat ke arah Wira tanpa kedip sambil berbisik-bisik.
Ada om ganteng.
Ada om tajir.
Lyra pacaran sama om-om!!
Ah bodooo, Lyra nggak peduli. Dia hanya fokus pada sidangnya hari ini.
“Mas jangan tebar-tebar pesona lah,” akhirnya Lyra bersuara. Wira mengernyitkan dahi, dari segi mana dia tebar pesona. Sementara sejak turun dari mobil, dia hanya diam, berjalan lurus tanpa menoleh kiri-kanan. Mengikuti kemana Lyra membawanya.
“Pesona nggak perlu di tebar, dia akan menyebar dengan sendirinya, udah biasa Mas ngalamin hal-hal begini. Nggak usah heran.” Wira menjawab dengan santai, sambil melepas kacamata hitamnya, cocok digunakan saat ini. Panasnya lumayan terik, matahari mulai meninggi.
Ini bukan pertama kalinya Wira seperti ini, pernah dia mengisi sebuah acara menjadi narasumber dalam sebuah seminar di salah satu kampus kedokteran di Jakarta. Reaksi yang ia dapatkan sama, para mahasiswi yang melihatnya seperti unta di padang pasir yang kehausan, atau seperti ikan yang terdampar di darat kekurangan air. Intinya, hal ini sudah biasa bagi Wira.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang setelah selesai acara meminta foto bareng, dan ada yang lebih gila lagi minta nomor ponsel.
“Ish! pasti senang tuh diliatin cewek-cewek sekampus, dasar genit.”
Sumpah demi apa Lyra cukup kesal, kalau boleh ia ingin mendatangi satu-satu para mata jelalatan yang menatap suaminya sebegitunya dengan tatapan lapar. Dan Wira masih menanggapinya dengan santai, menurutnya itu bukan sesuatu yang perlu di permasalahkan. Dia kan nggak menaanggapi sama sekali, jangankan senyum ke mereka, melihat juga nggak.
ada tiga ruang sidang di kampus mereka, kebetulan bersebelahan. Juna dan Anita sedang melambaikan tangan ke arah Lyra saat melihatnya berjalan.
“Bawa bodyguard hari ini, Ra?” Juna memang berbicara pada Lyra namun matanya mengarah pada kakaknya yang tengah membawakan segala perlengkapan ujian sidang Lyra hari ini.
“Apa kamu bilang?!”
Wira menatap Juna begitu tajam, kalau tak ada moment-moment seperti ini, mereka nggak akan bertemu. Lyra, seolah penghubung diantara mereka.
“Santai ngapa Mas, naik urat terus dari semalam.”
“Duh kalian, please deh. Lima belas menit lagi loh mulainya. Coba deh tenang dulu.” Desah Lyra melihat kakak-adik yang entah kapan akurnya.
\~
Hidup memang penuh kejutan, siapa sangka Lyra saat ini berstatus sebagai seorang istri? dalam moment penting begini dia di dampingi seorang suami. Tak ada yang bisa menyangka, kapan akan menikah, bertemu jodoh, bahkan dulu Lyra merasa bahwa ia akan menikah di usia yang mendekati tiga puluh tahun. Itu semua ia rencanakan tentu karena ia harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Untuk Ibu, satu-satunya orang yang ia punya saat itu. Tapi kini semua berbeda, tak hanya Ibu yang dia miliki. tapi juga Wira yang bisa memenuhi semua kebutuhannya.
Sudah dua puluh menit lamanya Lyra dan Juna masuk ke ruang sidang yang berbeda. Wira menunggu tepat di depan ruangan. Sepi awalnya, namun kini mendadak ramai mahasiswi disana bahkan ada yang mencuri-curi kesempatan duduk di sampingnya dengan alasan sedang menunggu dosen.
“Nunggu pacarnya ya Mas?” serorang perempuan cantik, penampilannya bak abege tapi riasan di wajahnya mengatakan bahwa dia bukan lagi seorang remaja.
“Pacar? istri lebih tepatnya.” ya Wira menjawab apa adanya, dengan sedikit lirikan dan senyun tipis ia menoleh ke gadis itu.
Nggak di tanya balik juga nggak terlalu di pedulikan, wanita itu memilih pergi. Wira menoleh lagi saat ia sudah berjalan beberapa langkah, entah sejak kapan dia merasa kasihan dengan perempuan-perempuan yang memakai baju ketat plus kurang bahan, padahal dulu dia begitu menikmati pemandangan seperti itu. Masih sibuk dengan ponselnya, ia memblokir begitu banyak nomor asing masuk baik panggilan maupun mengirim pesan singkat. Sudah waktunya dia mengabaikan masa lalunya yang kelam, mungkin nomor-nomor itu adalah sebagian dari mantan-mantan pacar atau mantan teman kencannya di masa lalu.
^^^Mas, aku hamil . ^^^
Deg! satu pesan dari nomor asing mengirimkan kabar yang cukup mencengangkan. Pesan itu sudah dikirimakn sejak lima hari lalu namun Wira mengabaikannya. Ia mengangkat bahunya, dia merasa tidak menghamili siapapun. Bahkan tak berhubungan dengan siapapun semenjak LDR dengan Hanna selama berbulan-bulan lamanya. Jadi, dia tak perlu khawatir dengan sebuah pesan yang mencoba menggoyahkannya.
Sepuluh menit kemudian, Lyra keluar dari ruang sidang dengan wajah yang berseri-seri. Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah memeluk suaminya.
Cepat-cepat Wira menyimpan ponselnya ke dalam saku. Berhenti bersih-bersih ponselnya.
“Gimana sayang? ngelihat kamu seceria ini pasti sukses kan? selamat ya!” merentangkan kedua tangannya untuk memeluk istrinya.
“Makasih ya Mas atas dukungannya.” dua lengan Lyra melingkar sempurna di pinggang Wira.
“Anything for you.” sahut Wira.
“EHEM!! TAU TEMPAT KENAPA WOY?”
Ada yang sewot, Juna miris. Percuma di puji-puji dosen didalam sana tadi, tapi saat keluar ruangan mendapati pemandangan sedemikian, matanya sakit dan perih, apalagi hatinya.
“IRI?”
sahut Wira yang memeluk Lyra semakin erat sementara istrinya begitu mendengar suara Juna langsung melepas pelukan, tapi di tahan oleh Wira.
“Mas jangan gitu, ucapin selamat gih sama Juna!” seru Lyra.
“Males.”
“Jun, gimana? lancar kan? nilai A udah pasti lah kamu kantongi.” Lyra mendekat ke Juna.
“Kamu juga kan?”
Lyra mengangguk, Wira membiarkan mereka berdialog kali ini, selama masih dalam batasan wajar dan masuk akal.
duh bakal kangen ntar