Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelombang Baru dan Kilatan Persaingan
Selasa pagi dibuka dengan ritme kerja yang makin tertata di Bengkel Keberkahan. Suara deru kompresor udara dan dentingan kunci pas menyatu harmonis dengan riuk pikuk Jalan Raya Daan Mogot. Yudi sedang tekun menyetel kekencangan rantai roda motor kurir lokal, sementara Dika sibuk mencatat inventarisir stok oli drum yang baru saja ditata ulang di rak besi.
Shevi berdiri di ambang pintu ruko, mengamati catatan pembukuan di tangannya.
Tepat pukul sembilan pagi, raungan lima unit van kargo beratap tinggi milik PT Luxora kembali memadati pelataran ruko. Kali ini, Rudi turun dari van terdepan dengan senyum lebar yang kontras dengan sikap skeptisnya kemarin.
"Pagi, Mas Shevi!" sapa Rudi hangat seraya menyodorkan lembar manifes lima unit van gelombang kedua. "Gara-gara hasil penanganan van nomor dua kemarin halus banget, Pak Adrian langsung minta lima unit ini diserahin total ke tempatmu. Tiga unit butuh kalibrasi kelistrikan injector, dua unit sisanya butuh penyetelan ulang komstir dan suspensi beban berat."
"Siap, Mas Rudi. Sore nanti jam empat seluruh unit dijamin sudah siap operasi kembali," balas Shevi teratur.
Namun, belum sempat Shevi membagi tugas kepada Dika dan Yudi, sebuah sedan hitam mengkilap berpelat nomor pilihan berhenti tepat di samping van armada Adrian. Dari dalam mobil, turun seorang pria berusia empat puluhan tahun berpakaian rapi dengan kemeja batik. Shevi dia adalah Koh Steven, pemilik OtoPrima Centra, jaringan bengkel modern terbesar yang menguasai koridor Daan Mogot selama hampir sepuluh tahun.
Koh Steven melangkah memasuki pelataran ruko Bengkel Keberkahan. Matanya yang tajam menyapu sekeliling: memperhatikan mesin pres hidrolik 20 ton yang berdiri di sudut utama, rak sparepart bergaransi pabrik, hingga deretan van kargo korporat yang sedang mengantre.
Rudi yang mengenali sosok Koh Steven sempat menaikkan alisnya cemas, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Shevi. "Mas Shevi, itu Koh Steven. Bengkel OtoPrima miliknya dulu sempat memegang tender perawatan armada kami sebelum akhirnya diputus Pak Adrian karena biaya jasa rawat yang di-mark up."
Shevi menanggapi informasi itu dengan ketenangan teratur. Dia menyambut Koh Steven dengan pandangan jernih tanpa raut gentar.
"Selamat pagi, Koh. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Shevi sopan.
Koh Steven menatap Shevi dari atas ke bawah. Senyum tipis yang tersirat di wajah pria itu memancarkan aura dominasi pebisnis senior yang merasa wilayah kekuasaannya mulai terusik oleh pendatang baru.
"Kamu yang namanya Shevi?" tanya Koh Steven dengan suara berat. "Saya cuma mau lewat dan mampir. Ternyata ruko kecil yang dulu sepi ini sekarang bisa narik armada van milik Adrian."
"Kami bekerja sesuai standar lisensi resmi dan kepercayaan mitra, Koh," jawab Shevi mantap namun tetap menghormati lawan bicaranya.
Koh Steven terkekeh pelan, menyandarkan tangannya di atas kap mobil sedan hitamnya. "Anak muda punya semangat tinggi itu bagus, Shev. Tapi bisnis otomotif di Daan Mogot ini bukan cuma soal bisa benerin mesin. Butuh modal ratusan juta buat beli alat scanner canggih terbaru dan jaringan pasokan komponen skala raksasa. Bengkel ruko kecil seperti ini bakal gampang kewalahan begitu dapat masalah klaim garansi beban berat."
Dika yang mendengar sindiran itu meremas kain perca di tangannya, menahan kekesalan. Namun Shevi tetap berdiri tegap, tidak terpancing emosi sedikit pun.
"Terima kasih masukannya, Koh," balas Shevi teratur dan dingin. "Tapi bagi kami, kredibilitas tempat usaha ini tidak diukur dari seberapa besar gedungnya, melainkan dari kejujuran dan kepresisian pengerjaan di mata mitra."
Koh Steven merapikan kerah batiknya, menatap Shevi dengan binar mata yang makin dingin. "Bagus kalau kamu percaya diri, Shev. Tapi ingat, pasar di Daan Mogot ini sangat keras. Jangan sampai modal sepuluh-dua puluh jutamu habis cuma gara-gara salah ambil langkah ekspansi."
Tanpa menunggu balasan lagi, Koh Steven berbalik, masuk ke dalam sedan hitamnya, lalu melaju pergi meninggalkan asap tipis di pelataran Daan Mogot.
Suasana di depan ruko sempat hening sejenak. Yudi melangkah mendekati Shevi dengan raut wajah khawatir.
"Mas Shevi, Koh Steven itu punya jaringan koneksi kuat ke distributor suku cadang utama di Jakarta Barat. Kita harus ekstra hati-hati kalau dia mulai main belakang," peringat Yudi.
Shevi menatap jalan raya dengan sorot mata yang makin tajam dan fokus. Gertakan Koh Steven justru menjadi bahan bakar baru bagi Shevi untuk makin memperkokoh benteng bisnisnya.
"Kita tidak perlu takut pada gertakan kompetitor, Mas Yudi, Dik," tegas Shevi dengan suara berat nan berwibawa. "Selama kita pegang legalitas murni, kualitas pengerjaan presisi, dan dana kas yang terkelola, tidak ada siapapun yang bisa merobohkan tempat usaha ini."
Shevi langsung mengarahkan Dika dan Yudi untuk memulai pengerjaan lima unit van milik Adrian. Tangan Shevi bergerak cepat dan presisi memindai arus kelistrikan injector, membuktikan bahwa keahlian murni dan integritas selalu berada jauh di atas gertakan pebisnis serakah.
Gelombang persaingan tingkat tinggi di Jalan Raya Daan Mogot kini resmi dimulai, dan Shevi siap membawa Bengkel Keberkahan terbang lebih tinggi melibas setiap rintangan!