Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Kedua — 04
Pagi itu, sebelum matahari terbit, Karina sempat melintasi halaman tengah istana dalam perjalanan mengambil air, dari kejauhan sekelompok pejabat berjubah resmi berkumpul di dekat Aula Besar.
Salah satu di antara mereka, seorang pria tua dengan janggut panjang yang menurut ingatan samar Xue Lan adalah Menteri Kehakiman, memegang sebuah gulungan tebal dengan kedua tangannya.
Firasatnya mengatakan apapun yang tertulis didalam halaman itu adalah suseatu hal yang bisa diremehkan.
Menjelang senja, seorang lelaki tua berpakaian penjaga lewat dengan langkah yang sengaja diperlambat, matanya sekilas bertemu pandang dengannya sebelum kembali menatap lurus ke depan.
Dia tidak berhenti dan tidak berbicara sepatah kata pun, namun sesuatu dalam jubahnya bergerak sedikit tidak wajar, sepertinya ada benda kecil yang diselipkan di antara lipatan pakaian yang menempel di pagar bambu tempat kain kain dijemur.
Karina menunggu hingga lelaki itu benar benar menghilang di ujung lorong sebelum mendekati pagar itu dengan langkah sewajar mungkin.
Terselip sebuah kepingan batu giok kecil, diukir dengan lambang burung layang layang. Lambang yang menurut ingatan samar Xue Lan pernah menjadi tanda pengenal pribadi keluarga penari istana, garis keturunan ibu Mu Ran yang telah lama dianggap lenyap dari catatan resmi kekaisaran.
Ia menggenggam kepingan itu erat erat, menyembunyikannya di balik lengan bajunya, dan melangkah pergi seolah tidak terjadi apa pun.
Malam harinya, di dalam kamarnya yang temaram, Karina mengamati kepingan giok itu di bawah cahaya lilin, mencoba memahami maksud di baliknya.
Tidak ada pesan tertulis, tidak ada petunjuk lain, hanya sebuah lambang yang mengonfirmasi kemungkinan ada seseorang yang mengetahui hubungannya dengan Mu Ran sedang mencoba menyampaikan sesuatu, namun bahkan dalam menyampaikan pertolongan sekalipun, mereka tidak berani menggunakan kata kata yang bisa dijadikan bukti.
“Mungkin ini isyarat untuk menemui seseorang?” pikirnya, memutar mutar kepingan giok itu di antara jarinya.
“Atau mungkin ini sekadar tanda jika Mu Ran masih hidup dan masih memiliki orang orang yang setia, meskipun mereka semua harus bersembunyi dalam bayang bayang?”
Ia teringat pada Wei Chen, penjaga pribadi yang pernah disebutkan dalam ingatan samar sebelumnya sebagai satu satunya orang kepercayaannya Mu Ran.
Namun ia tidak tau di mana harus mencarinya, dan mencari secara terang terangan sama saja dengan mengundang bencana bagi mereka berdua.
Keesokan paginya, kesempatan itu datang dengan sendirinya, tanpa perlu ia mencarinya secara aktif.
Karina ditugaskan membantu mengangkut persediaan kain ke gudang belakang istana, tugas kasar yang biasanya diserahkan kepada selir selir tingkat rendah yang tidak memiliki cukup pengaruh untuk menolak.
Di gudang itu, di antara tumpukan peti dan kain yang berdebu, seorang lelaki berpakaian penjaga biasa sedang memeriksa catatan inventaris dengan cermat.
Karina memperhatikannya lebih saksama, dia memiliki bekas luka tipis di lengan kanan, tepat di posisi yang sama dengan luka yang pernah ia balut malam itu di taman.
Ia tidak yakin sepenuhnya, namun nalurinya mengatakan ini bukan kebetulan semata.
Karina mendekat perlahan, berpura pura sibuk menata tumpukan kain di dekat lelaki itu, cukup dekat untuk bisa bicara tanpa perlu menarik kecurigaan bagi siapa pun yang mungkin melintas.
"Kain ini perlu disusun berdasarkan warna, atau berdasarkan jenis benang?" tanyanya.
Pertanyaan yang terdengar wajar bagi siapa pun yang mendengarnya sekilas, namun tangannya dengan sengaja memperlihatkan sedikit kepingan giok yang ia sembunyikan di balik telapak tangannya.
Lelaki itu melirik sekilas, matanya menyipit sesaat sebelum kembali ke catatannya.
"Berdasarkan jenis benang, yang paling halus diletakkan paling dalam, jauh dari jangkauan yang bisa merusaknya." jawabnya datar.
"Saya mengerti." jawab Karina pelan, menata kain yang ia pegang dengan gerakan yang tenang.
"Kalau begitu, saya akan berhati hati menempatkannya."
Pria itu menyelesaikan pemeriksaannya dan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Karina yang kini yakin sepenuhnya bahwa itu adalah Wei Chen.
Wei Chen, dan Nyonya Su mungkin adalah sekutu yang bergerak dalam jaringan yang sama.
Sekembalinya dari gudang, Karina mendapati Yuan sedang menunggunya di depan pintu paviliun, wajahnya pucat dan tangannya gemetar memegang sebuah kain kecil yang basah oleh keringatnya sendiri.
"Selir." bisik Yuan begitu Karina cukup dekat, suaranya nyaris tak terdengar,
"Hamba dengar sesuatu tadi, saat membantu dipaviliyn Permaisuri. Hamba tidak bermaksud menguping, tapi—"
"Katakan pelan pelan." potongnya dan menarik Yuan masuk ke dalam paviliun dan menutup pintu rapat rapat sebelum melanjutkan.
"Sepertinya malam ini penjagaan digerbang barat akan diperketat.”
“Hamba tidak tahu alasannya, tapi para dayang yang lebih senior tampak sangat gugup membicarakannya."
Kabar itu, sesederhana kedengarannya bagi telinga siapa pun yang tidak mengetahui konteksnya, terasa seperti kepingan yang tepat menyambung dengan simbol gerbang pada kepingan giok yang ia terima.
Gerbang barat bukanlah sembarang gerbang, meskipun jarang digunakan kecuali untuk keperluan darurat atau untuk mengangkut sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh mata mata.
"Terima kasih sudah memberitahuku Yuan." Ia berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski pikirannya kini berpacu cepat.
"Jangan ceritakan ini kepada siapa pun yang lain, demi keselamatanmu sendiri."
Yuan mengangguk cepat, matanya masih menunjukkan kecemasan yang belum sepenuhnya reda, sebelum akhirnya berpamitan meninggalkan Karina sendirian dengan potongan informasi baru yang, meski masih belum lengkap, mulai membentuk gambaran yang lebih jelas tentang ke mana ia harus mengarahkan langkahnya.
...----------------...
Hari kedua berlalu dengan ketegangan yang semakin memuncak di seluruh istana.
Kabar tentang sidang terbuka telah menyebar ke setiap sudut, dan meski tidak ada nama yang disebutkan secara resmi, hampir semua orang dari selir tertinggi hingga pelayan terendah tampaknya telah menebak dengan tepat siapa yang akan diadili.
Di dapur besar, Karina mendengar dua juru masak berbisik sambil bekerja, suara mereka nyaris tenggelam oleh dentingan panci dan wajan.
"Kudengar buktinya sudah lengkap." kata salah satu, tidak menyebut nama, namun nada suaranya menyiratkan kengerian yang tidak perlu dijelaskan lebih jauh.
"Surat surat yang ditemukan di kediamannya sendiri, berisi rencana persekongkolan dengan pemberontak selatan."
"Bagaimana bisa surat semacam itu ada di sana, kalau bukan sengaja diletakkan?" bisik yang lain, suaranya nyaris tak terdengar.
"Diamlah." sahut yang pertama cepat, dan percakapan itu pun terhenti seketika, digantikan oleh kesibukan yang dipaksakan.
"Kudengar juga…" sambung yang pertama lagi, suaranya semakin pelan hingga Karina harus menahan napas untuk bisa menangkapnya,
"Salah satu penjaga yang menemukan surat surat itu baru saja dipindah tugaskan ke garnisun perbatasan, sehari setelah laporannya diserahkan dan naik pangkat.
“Tapi siapa yang percaya jika itu hanya kebetulan?"
"Sudah, sudah jangan picarakan lagi." sahut yang lain lagi, buru buru mengalihkan pembicaraan ke urusan bumbu masakan begitu seorang pengawas dapur lewat tidak jauh dari mereka.
Karina, yang berpura pura sibuk mengupas sayuran tidak jauh dari mereka, merasakan dadanya semakin berat mendengar percakapan itu.
Bukti yang direkayasa, diletakkan di tempat yang seolah olah membuktikan kesalahan Mu Ran.
Ini adalah umpan yang telah dipersiapkan dengan sangat matang, jauh sebelum Mu Ran sendiri menyadari bahwa dirinya sedang diburu.
...----------------...
Malam kedua, Karina kembali menemukan kepingan giok kecil lainnya yang terselip di dalam mangkuk yang ia gunakan untuk mengambil jatah makan malamnya, dengan lambang yang sama seperti sebelumnya, namun kali ini disertai goresan tambahan yang nyaris tak kasatmata: sebuah simbol kecil yang menyerupai gerbang.
Ia tidak yakin apa artinya, namun setelah merenung cukup lama, sebuah dugaan mulai terbentuk di benaknya.
Mungkin petunjuk tentang lokasi gerbang tertentu di istana ini yang memiliki makna khusus bagi Mu Ran atau bagi mereka yang berusaha menyelamatkannya.
“Gerbang mana?” batinnya mencoba mengingat kembali setiap sudut istana yang pernah ia lewati.
“Istana ini memiliki puluhan gerbang, masing masing dengan penjagaan dan makna sejarahnya sendiri.”
Ia menyadari, tanpa petunjuk lebih lanjut, memecahkan teka teki ini sendirian akan sama saja dengan menembak dalam kegelapan total.
Namun kabar dari Yuan tentang penjagaan ketat di gerbang barat malam ini, ditambah simbol gerbang pada kepingan giok yang baru saja ia terima, memberinya cukup keberanian untuk menduga bahwa keduanya bukan sekadar kebetulan.
Dikesunyian Paviliun Bunga Layu, Karina menatap layar tembus pandang yang muncul dengan pembaruan penting.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 19.300 / 100.000.]
[Poin diberikan atas keberhasilan membangun jalur komunikasi tersembunyi dengan sekutu subjek tanpa menimbulkan kecurigaan.
[Catatan penting: bukti yang direkayasa terhadap subjek telah dipersiapkan dengan sangat matang, kemungkinan besar melibatkan pihak yang memiliki akses langsung ke kediaman subjek.]
[Disarankan untuk segera memecahkan isyarat yang diterima, penundaan lebih lanjut dapat mengurangi peluang keberhasilan secara signifikan.]
Karina menatap peringatan itu dengan tangan yang mengepal erat kepingan giok bersimbol gerbang itu, menyadari bahwa waktu semakin menipis.
Ia harus mulai bergerak sendiri, menyusun kepingan kepingan yang telah ia kumpulkan, meski risikonya begitu besar untuk seorang selir tingkat sembilan yang tidak memiliki kekuatan maupun perlindungan apa pun selain kecerdikannya sendiri.
“Aku harus segera menemukan gerbang itu apa pun risikonya sebelum sidang itu menjatuhkan hukuman yang tidak bisa ditarik kembali.”
Dengan tekad yang kini dibalut kewaspadaan yang jauh lebih tajam, ia memejamkan mata sejenak, mempersiapkan diri untuk langkah paling berani yang pernah ia ambil sepanjang perjalanannya di istana yang menelan rahasia ini.
Di luar jendela paviliunnya, bulan bersembunyi di balik awan tebal, seolah bahkan langit malam ini enggan menjadi saksi atas apa yang akan terjadi di gerbang barat yang telah lama dilupakan itu.
buang aja,karina mati lagi aja