Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Rayhan berdiri dari duduknya, dia segera menarik tangan Sahira menjauh dari kerumunan orang-orang yang tengah merekamnya, dia tidak mau video ini sampai kekantornya, mereka berdua pasti akan terkena masalah nantinya dan akan terjadi pembullyan kembali
"Lepaskan aku!, aku harus memberikan mereka pelajaran!! ". Ucapnya dengan penuh emosi.
Dia menghempaskan tangan Rayhan dengan kasar dan mencoba maju padahal dia akan melawan ibu-ibu yang jumlahnya lebih dari 10 orang.
Hancur sudah topeng wanita lemah lembut yang selama ini dia jaga di hadapan Rayhan setelah kejadian ini.
"Kalau kamu mau semakin malu dengan menghadapi mereka silahkan, aku pulang duluan saja, mereka tidak sendiri Sahira tapi beramai-ramai, jangan konyol untuk melawan mereka semua". Jawabnya dengan dingin.
Hatinya sudah lelah dan juga sakit, kepalanya pusing dan berdengung karena sakit hati dibuang oleh orangtuanya sendiri tapi perempuan yang menjadi pilihannya kini membuat keributan tanpa merasa jika dia memikul beban berat karena tetap mempertahankan dirinya padahal dia sudah melepaskan semuanya dengan memilihnya
Degh..
Mendengar perkataan Rayhan yang begitu menusuk membuat Sahira tersadar dari perbuatannya, dia berbalik menatap Rayhan yang kini menatapnya dengan pandangan dingin, dia segera merubah mimik wajahnya yang tadi merah padam dan penuh emosi menjadi sesedih mungkin agar Rayhan ibah.
"Maaf Ray aku cuma sangat marah karena mereka seenaknya memaki aku tanpa tahu duduk persoalannya, aku tidak terima dihina seperti itu oleh mereka, maafkan aku". Ucapnya berusaha mencari pembelaan.
"Huh.. Dasar pelakor". Teriak salah satu ibu langsung menunjuk wajah Sahira dengan kasar.
"Benar, kita harus beri pelajaran pelakor dan lelaki tidak tahu diri itu dan tidak tahu malu itu". Teriak salah satu dari mereka lagi.
Wajah Sahira dan Rayhan memucat melihat aksi ibu-ibu yang ingin menyerang dirinya tapi sebelum langkah mereka mendekati keduanya suara dari belakang membuat mereka menghentikan langkahnya.
Mereka berusaha menghindari mereka karena akan fatal jika mereka memaksa untuk melawan
"Hentikan ibu-ibu, ini masih pengadilan, apa kalian mau masuk penjara karena tindakan pengeroyokan seperti itu? ". suara bariton seorang polisi terdengar sangat berwibawa itu membuat langkah mereka berhenti.
"Tapi mereka sudah keterlaluan pak, mereka tidak bermoral". Cicit salah satu dari mereka.
"Benar pak, mereka pasangan selingkuh yang tidak tahu malu, tidak pantas mereka berdua bertingkah disini".
Polisi itu menghela nafas kasar kemudian menatap semua ibu-ibu yang ada didepannya itu dengan senyum tulus namun tegas.
"Biarkan saja mereka bu, mereka sendiri akan mendapatkan karma yang jauh lebih pedih dari apa yang mereka lakukan selama ini, Tuhan itu tidak tidur jadi jangan kotori tangan kalian dengan menindas mereka, kalian akan rugi sendiri dan juga tidak pantas, cukup kalian doakan saja mereka itu jauh lebih dari cukup".
Mereka semua mengangguk membenarkan apa yang dikatakan polisi itu kepada mereka, mereka langsung melihat sinis kearah pasangan selingkuhan itu.
"Semoga kalian menyesal dan mendapatkan karma, dan saat itu tidak ada yang akan membela kalian terutama kamu lelaki tidak tahu diuntung, kamu membuang berlian untuk wanita sampah yang suka merebut suami orang, dasar pelakor". Umpatnya menunjuk kasar muka Rayhan.
Mereka semua pergi dari sana meninggalkan Rayhan dan Sahira yang mematung mendengar semua sumpah mereka kepada mereka berdua.
Sedangkan polisi yang tadi berbicara itu hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat amarah dan amukan dari para ibu-ibu kemudian menatap kasihan kepada Rayhan.
"Kamu akan menyesali semuanya tuan, kamu sudah kehilangan istri yang mencintai kamu dengan tulus dan sekarang kamu juga kehilangan kedua orang tuamu, ketika kamu nantinya sadar mungkin kamu akan menyesali semua ini karena tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tua anda, mereka tidak akan keras seperti ini jika tidak punya bukti, tapi tidak apa lakukan saja apa yang tuan mau".
Polisi itu meninggalkan Rayhan yang kini mulai bimbang, sedangkan Sahira yang melihat Rayhan seperti itu hanya menatap sinis kearah Rayhan.
Dia sudah tidak berminat untuk mempertahankan laki-laki yang tidak punya apapun itu, gaji Rayhan memang cukup besar tapi tidak akan sama jika dia mewarisi milik orangtua nya jadi untuk apa, banyak orang lain yang mau dengannya dengan gaji seperti Rayhan tapi dia tolak karena berpikir Rayhan akan tetap menjadi pewaris keluarganya dan bisa memberikan kehidupan mewah untuknya.
"Ayo pulang saja Rayhan". Ucapnya sambil berjalan lebih dulu meninggalkan Rayhan yang mematung.
Dia sudah tidak berminat untuk bersama Rayhan lebih lama, setelah dia mendapatkan apa yang dimiliki Rayhan maka dia akan meninggalkan lelaki tidak berguna itu menurutnya.
"Apa keputusan ku mempertahankan cintaku pada Sahira itu salah?, kenapa perasaan ku kini semakin Tidka menentu setelah lepas dari Arini apalagi melihat orangtuaku sangat murka seperti tadi". Cicitnya dalam hati.
Dia berjalan sambil memandang punggung Sahira yang perlahan menjauhi dirinya, entah mengapa, perasaan cinta yang menggebu-gebu tiba-tiba memudar seketika melihat aksi Sahira tadi.
"Ayo kita pulang saja, aku tidak mau lagi jalan-jalan". Ucap Sahira begitu Rayhan masuk kedalam mobil.
Wajahnya ditekuk, topeng pura-pura nya kini terlepas sempurna karena Rayhan bukan lagi pewaris keluarganya yang kaya tapi hanya karyawan biasa.
"Kamu yakin?, kita bisa makan dulu atau jalan keluar sebelum kita berdua pulang". Bujuk Rayhan dengan pelan.
Dia sedikit merasa bersalah karena Sahira harus mendapatkan perlakuan tidak pantas dari orangtuanya terutama sang ayah apalagi Sahira juga mendapatkan bully dari ibu-ibu dipengadilan tadi.
"Tidak usah, kita pulang saja, antar aku ke apartemen, aku pusing dan masih jengkel karena orang-orang tadi membully ku". Tegasnya lagi
Melihat sikap Sahira itu, Rayhan hanya bisa mengangguk pasrah tanpa banyak berkata, dia menjalan kan mobilnya kearah apartemen Sahira.
Mereka memang tinggal di apartemen tapi berbeda nomor karena dia masih menjaga batasannya sebagai seorang laki-laki dan seorang suami saat itu, tapi sekarang mungkin dia akan mengajak Sahira menikah dan bisa menyewakan apartemennya atau sebaliknya
"Bagaimana dengan rencana pernikahan kita, kapan kita akan menikah?, aku sudah bebas dan sudah bisa melanjutkan janji kita dimasa lalu?".
Mendengar itu Sahira langsung menoleh cepat kearahnya dan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Lebih baik kita tunda saja dulu, kamu kerja saja yang benar dan membeli apapun dulu, aku tidak mau hidup susah setelah menikah". Jawab Sahira dingin.
Rayhan mengkerutkan keningnya karena tidak menyangka jika jawaban itu akan keluar dari mulut Sahira padanya padahal saat dia masih menjadi suami Arini dia selalu menyuruhnya bercerai.
"Kamu tidak mau menikah dengan ku?".
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.