NovelToon NovelToon
Janji Om Jangan Ngomong

Janji Om Jangan Ngomong

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Pelakor / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Ryri

Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.

Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harus Ke Bandung

"Aku mau ke Bandung, tapi cerita dulu kenapa aku harus banget ke sana!" tegas Rina meski sebenarnya dia sangat lelah setelah melayani pria hidung belang ini di atas ranjang.

"Gini, Sayang. Maaf banget, tapi apartemen ini..." Adrian menggantung kalimatnya seolah menanggung beban yang amat besar.

"Kenapa apartemen ini?" tanya Rina penasaran, mengernyitkan alisnya.

"Apartemen ini mau aku jual buat nutup utang ke bank."

"Astaga! Emangnya kenapa? Kok nggak cerita dari awal kalau Om punya utang?"

"Kemarin aku sempat dimarahi sama Ibuku. Beliau komplain berat karena banyak kebutuhan rumah tangga dan keluarga yang belum terbayar. Asetku yang tersisa dan paling cepat dicairkan cuma apartemen ini. Jadi, mau nggak mau harus dijual," dusta Adrian tanpa mengedipkan mata memoles kebohongannya dengan raut wajah penuh penyesalan yang sangat meyakinkan.

"Berapa banyak utang Om sebenarnya?"

"Sekitar lima miliar. Ya... apartemen mewah ini cukuplah buat menutup seluruh utang itu."

Rina menghembuskan napas lega. Kepalanya yang polos begitu mudah percaya pada alibi dan karangan cerita kekasih matangnya itu. "Mmm... ya sudah kalau gitu. Aku ke Bandung enggak apa-apa. Tapi belikan aku apartemen ya di sana? Jangan rumah. Aku malas banget kalau harus tinggal di rumah yang sepi atau kayak di kampung."

"Siap, Sayang. Semua bakal diurus," jawab Adrian mantap sambil mengelus rambut Rina.

Pagi pun merayap menyambut kota Jakarta. Rina bersiap-siap untuk mengemas barang-barangnya. Ia hanya membawa satu tas jinjing berukuran sedang yang berisi pakaian.

Adrian berjanji sisa barang Rina yang lain akan dikirim menggunakan jasa kargo dalam beberapa hari kedepan.

Dengan senyum tipis yang dipaksakan Rina melangkah keluar dari lobi dan langsung duduk di kursi belakang mobil serba hitam yang sudah terparkir rapi.

Ia mengira Adrian sendiri yang akan mengemudi dan mengantarkannya secara langsung ke apartemen barunya di Bandung sebagai bentuk kompensasi atas perpisahan sementara ini. Namun, harapannya pupus seketika.

Adrian sama sekali tidak ikut pergi tapi yang mengantarkan istri mudanya itu hanyalah seorang supir yang sudah lama bekerja padanya.

Tentu Rina sangat kecewa dengan perpisahan ini. Tapi apa mau dikata, Rina tidak berdaya untuk menolak karena Rina tidak punya pilihan lain selain tetap pergi.

Sebelum roda mobil berputar meninggalkan pelataran gedung, Rina membuka sedikit kaca jendela. Ia melambaikan tangannya ke arah Adrian yang berdiri di kejauhan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Adrian hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan lambaian tangan singkat sebelum berbalik arah.

"Mmm... gini amat nasibku," gumam Rina pelan, meratapi situasi canggung itu di dalam kabin mobil yang hening.

Dari spion tengah, sopir sesekali memperhatikan gerak-gerik dan raut wajah Rina.

Lama tanpa kata akhirnya bibir Rina bergerak juga untuk bertanya. "Apartemenku ada di daerah mana ya, Pak?"

"Daerah Braga, Nona. Tuan Adrian bilang daerah itu ada di pusat kota. Jadi tidak akan jauh kalau Nona mau jalan-jalan atau belanja di sana," jawab sopir itu dengan nada sopan dan ramah.

"Oh..." Rina membulatkan mulutnya. Ada sedikit kelegaan yang mengalir di hatinya. "Jadi di pusat kota? Syukurlah. Aku kira aku mau dibuang ke pinggiran kota yang jauh ke mana-mana dan sepi."

"Oh tidak kok, Non. Disana nanti juga sudah disiapkan sopir khusus. Jadi kalau Nona mau pergi ke mana saja, nanti ada yang siap mengantar."

"Oh, dapat sopir pribadi juga di sana?"

"Iya, Non. Kalau Nona mau makan siang dulu sekarang, saya bisa antar berhenti di area restoran terdekat. Bilang saja Nona mau makan apa."

"Enggak usah, nanti saja. Aku belum lapar," ucap Rina pelan.

Ia lalu menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil yang terasa dingin, memandangi deretan gedung-gedung tinggi pencakar langit yang perlahan menjauh saat mobil membelah jalanan utama Jakarta.

Hatinya mendadak berdenyut nyeri. Rina sudah resmi menjadi seorang sarjana sekarang, sebuah cita-cita besar dan gelar akademik yang sudah sejak lama sangat ia impikan. Namun sungguh sayang ia tidak bisa meniti karier seperti bayangannya, memakai pakaian kantor yang modis atau bekerja di salah satu gedung tinggi di pusat ibu kota ini gara-gara kebodohannya sendiri menerima pinangan dan buaian manis dari pria sekelas Adrian.

Hah...

Rina menghela napas panjang dan berat. Rasanya sangat berat meninggalkan dinamika kehidupan Jakarta yang serba cepat. Matanya kemudian tertuju pada layar ponsel di genggamannya.

Gambar latar belakang ponsel itu menampilkan foto dirinya yang sedang merangkul manja lengan Adrian.

"Andai malam itu aku tidak menerimamu..." bisik Rina lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan tangis. "Tapi semua sudah terjadi, dan aku enggak bisa memutar waktu kembali."

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam melewati jalan tol yang melelahkan, mobil akhirnya keluar di gerbang tol dan mulai memasuki kawasan Kota Bandung.

Perubahan suasana terasa begitu drastis. Udara Jakarta yang panas, berdebu, dan penuh polusi mendadak berganti saat udara dingin khas Kota Bunga mulai menerobos masuk melalui celah ventilasi mobil.

Suhu udara sore itu merosot tajam, berada di kisaran 19 hingga 20 derajat Celsius. Angin dingin berembus perlahan membawa aroma tanah basah dan kesegaran pepohonan rindang yang berbaris di sepanjang jalan raya.

Saat mobil bergerak semakin dalam menuju kawasan Braga, Rina melempar pandangannya ke luar jendela.

Suasana di sekitarnya terasa sangat berbeda dari Jakarta. Deretan bangunan berarsitektur kolonial Belanda berdiri kokoh di kiri dan kanan jalan, dipadu dengan lampu-lampu jalan bergaya klasik yang mulai menyala di antara temaram sore.

Jalanan dari susunan batu batu cadas menambah kesan kuno sekaligus artistik.

Warga lokal dan wisatawan tampak berjalan santai mengenakan jaket tebal dan sweater, menikmati hembusan udara sejuk sambil menyesap kopi di kafe-kafe terbuka yang berjejer rapat.

Ada kesan romantis namun bagi Rina yang sedang tertekan tempat ini terasa begitu asing dan mengisolasi dirinya dari kehidupan nyata yang ia kenal.

Sopir memperlambat laju kendaraan dan berbelok masuk ke sebuah lorong area pemukiman vertikal. Mobil akhirnya berhenti di pelataran sebuah bangunan apartemen bernuansa abu-abu.

Sopir segera turun, membukakan pintu untuk Rina lalu membawa masuk tas pakaian milik wanita muda itu menuju unit yang sudah disewa. Mereka naik menggunakan lift yang berdecit pelan hingga sampai di lantai lima.

Sopir membuka pintu unit dengan kunci kartu dan menyerahkannya pada Rina. Namun, begitu pintu utama terbuka lebar dan lampu ruangan dinyalakan, raut wajah Rina langsung berubah drastis. Matanya membelalak, dipenuhi rasa kecewa yang luar biasa.

Apartemen itu merupakan unit studio yang sangat terbatas, berukuran tak lebih dari 10x20 meter.

Ruangannya jauh lebih kecil, sempit dan terkesan sangat sederhana berbanding jauh jika dibandingkan dengan apartemen penthouse milik Adrian yang sangat mewah di Jakarta.

Tidak ada interior mahal, tidak ada pemandangan megah dari balik jendela kaca besar hanya ada satu tempat tidur ukuran sedang, dapur kecil, dan sofa kain yang tampak agak kusam.

"Segini aja apartemenku?" ucap Rina dengan nada suara yang sangat lesu dan lemas, sambil melangkah masuk mengamati tiap sudut ruangan sempit yang kini menjadi tempat tinggal barunya.

1
Raudhatul Zannah
Rina Jangan sampai ketahuan ya kamu..
Cilia
Waduh, gimana tuh kalau ketauan si Rina??
mbak Shaka
mati aja
mbak Shaka
awal ceritanya bikin kasihan sama prof Eliza tp ternyata justru prof Eliza menunjukkan taringnya dia tidak lemah
Raudhatul Zannah
waduh jebakan..
Cilia
Sugar daddy ternyata si adrian wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!