Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinar Pagi di Tempat Pengungsian dan Langkah Mandiri
Burung-burung berkicau riang menyambut datangnya sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar tamu kediaman dr. Adrian. Semburat cahaya keemasan itu perlahan-lahan menyentuh wajah Kirana yang baru saja selesai melipat mukena putihnya di atas sajadah. Setelah semalaman tidur dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibanding malam-malam sebelumnya, pagi ini Kirana merasakan kesegaran yang luar biasa meresap ke dalam jiwanya. Trauma akibat aksi nekat Dimas kemarin seperti dikikis perlahan oleh atmosfer keteduhan rumah ini.
Di atas ranjang ukuran king size yang empuk, sosok Aisyah masih menggulung tubuhnya di dalam selimut tebal bagaikan kepompong macan tutul. Aisyah sedang tidak sholat karena dalam masa menstruasi. Suara dengkurannya yang halus sesekali terdengar, membuat Kirana tidak bisa menahan senyum gelinya. Sahabatnya itu tipikal orang yang bisa tidur nyenyak di mana saja, asalkan kasurnya empuk dan ruangan ber-AC dingin.
"Syaah... bangun, Syaah. Sudah subuh lewat ini, ayo mandi," ucap Kirana sembari menggoyang-goyangkan bahu Aisyah dengan sangat lembut.
Aisyah menggeliat, mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya terduduk tegak dengan rambut yang berantakan mirip singa kesiangan. Matanya yang masih setengah merem menyapu pandangan ke sekeliling kamar mewah itu.
"Ran... kirain aku tadi lagi mimpi tidur di hotel bintang lima, ternyata beneran di rumah Pak Dokter ganteng toh, hehehe," celoteh Aisyah dengan suara seraknya yang khas, langsung membuat Kirana tertawa kecil menggelengkan kepala.
Setelah keduanya selesai bersiap-siap dan berpakaian rapi dengan hijab instan andalan mereka, Kirana dan Aisyah perlahan melangkah keluar dari kamar tamu menuju arah ruang makan. Aroma harum dari masakan nasi goreng mentega dan ayam goreng sudah menguar kuat ke udara, menusuk-nusuk indra penciuman mereka dan membuat perut Aisyah langsung berbunyi keroncongan tanpa permisi.
Di meja makan kayu jati yang panjang, tampak Ibu Sarah sedang sibuk menata beberapa piring, sementara dr. Adrian sudah duduk rapi dengan kemeja kasual berwarna biru muda yang santai namun tetap memancarkan kesan berwibawa yang luar biasa maskulin. Pria itu sedang membaca sebuah jurnal medis di ponselnya sebelum akhirnya mendongak begitu mendengar suara langkah kaki mendekat.
Sepasang mata tajam dr. Adrian langsung terkunci rapat pada sosok Kirana yang berjalan anggun dengan gamis abu-abu sederhananya. Ada binar kehangatan yang teramat mendalam yang terpancar dari bola mata Adrian pagi ini, membuat dada Kirana mendadak berdesir aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Gengsi "cowok kulkas" Adrian perlahan-lahan runtuh setiap kali melihat senyuman tipis mulai terukir di bibir Kirana.
"Selamat pagi, Ibu... Dokter Adrian," sapa Kirana dengan tutur kata yang teramat sangat lembut dan sopan.
"Masya Allah, selamat pagi, Nak Kirana, Nak Aisyah! Ayo, ayo langsung duduk, Sayang. Ibu sudah siapkan sarapan pagi yang spesial buat kalian berdua," sambut Ibu Sarah dengan senyuman yang teramat sumringah, memperlakukan mereka laksana putri kandung sendiri.
Aisyah tidak menyia-nyiakan kesempatan. Wanita ceplas-ceplos itu langsung duduk di kursi kayu empuk dengan mata yang berbinar-binar menatap hidangan di meja makan. "Waduh, Ibunya Pak Dokter... ini mah menunya lengkap bgt, bener-bener bikin lidah saya bergoyang dangdut pagi-pagi, hehehe. Izin makan ya, Ibu, Pak Dokter!"
"Silakan, Aisyah. Habiskan saja semuanya, jangan sungkan," sahut dr. Adrian dengan suara baritonnya yang berat, tapi matanya tetap tidak lepas dari memperhatikan Kirana yang duduk dengan sangat anggun di seberang mejanya.
Adrian mengambil sendok besar, lalu dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh perhatian gentleman, dia menyendokkan seporsi nasi goreng mentega lengkap dengan potongan ayam goreng ke atas piring kosong milik Kirana.
"Dimakan yang banyak, Kirana. Kamu butuh memulihkan tenagamu setelah kejadian melelahkan kemarin," ucap dr. Adrian lembut, sorot matanya yang penuh perlindungan membuat wajah Kirana mendadak merona merah muda akibat salah tingkah yang teramat sangat baper.
Aisyah yang melihat adegan romantis terselubung di depan matanya itu langsung tersenyum jahil, menyenggol lengan Kirana di bawah meja sembari berbisik: "Ehem, gercep banget ya Pak Dokter kita, Ran!" Kirana hanya bisa mencubit pelan paha sahabatnya itu agar berhenti menggodanya di depan umum.
Suasana sarapan pagi itu berjalan dengan sangat hangat, diwarnai dengan beberapa celotehan absurd dari Aisyah yang norak mengomentari rasa masakan atau kemewahan peralatan makan di rumah itu, membuat Ibu Sarah tidak henti-hentinya tertawa renyah. Namun, di tengah-tengah kehangatan itu, Kirana tampak diam sejenak, mengumpulkan seluruh keberanian di dalam hatinya untuk menyampaikan sesuatu hal penting yang sejak semalam sudah mengusik pikirannya.
Setelah menyeka bibirnya dengan tisu secara perlahan, Kirana meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah Ibu Sarah dan dr. Adrian secara bergantian dengan tatapan mata yang sangat serius tapi sarat akan rasa hormat yang mendalam.
"Ibu... Dokter Adrian... sebelumnya saya ingin mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kebaikan dan ketulusan kalian yang sudah bersedia menampung serta melindungi saya dan Aisyah di rumah yang sangat indah ini," buka Kirana dengan suara yang teramat sangat lembut namun terdengar tegas menonjolkan prinsip hidupnya.
Ibu Sarah tersenyum manis, memotong ucapan Kirana. "Sama-sama, Nak Kirana. Sudah Ibu bilang, jangan dipikirkan—"
"Maaf, Ibu... tapi ada satu hal yang ingin saya sampaikan," sela Kirana dengan tatapan yang penuh kehati-hatian.
"Saya dan Aisyah tidak bisa jika harus terus-terusan menumpang tinggal di sini dalam jangka waktu yang lama. Saya merasa tidak enak dan tidak ingin merepotkan kehidupan pribadi Dokter Adrian sekeluarga lebih jauh lagi."
Mendengar kata-kata Kirana, gerakan tangan dr. Adrian yang hendak meminum kopinya langsung terhenti di udara. Alis tebal pria itu bertaut rapat, pancaran matanya mendadak berubah menjadi teramat sangat khawatir.
"Maksud kamu apa, Kirana?" Tanya dr. Adrian dengan nada suara yang sedikit memberat, ada rasa cemas yang tidak bisa ia sembunyikan dari raut wajah tampannya.
"Di luar sana situasi masih belum aman seutuhnya. Dimas pasti masih berkeliaran mencari keberadaan kamu. Kenapa kamu ingin terburu-buru pergi dari sini?"
Kirana menarik napas dalam-dalam, menguatkan fondasi mentalnya sebagai wanita mandiri yang cerdas dan tidak mau menggantungkan hidupnya pada utang budi orang lain.
"Saya tidak akan menyerah pada keadaan, Dokter," jawab Kirana dengan binar mata yang penuh ketegasan dan ketegaran jiwa yang luar biasa.
"Bisnis konveksi ini, yang saya bangun bersama Aisyah dari nol adalah satu-satunya mata pencaharian kami. Kami tidak boleh membiarkan usaha itu mati begitu saja karena teror Dimas. Oleh karena itu, setelah berdiskusi singkat dengan Aisyah tadi malam, kami memutuskan untuk mencari kontrakan ruko baru."
Kirana melanjutkan dengan penjelasan yang teramat logis. "Kami akan mencari ruko baru yang lokasinya jauh lebih ramai, berada di pinggir jalan raya besar yang strategis, dan memiliki sistem keamanan atau penjagaan lingkungan yang ketat. Dengan pindah ke tempat yang lebih ramai, Dimas tidak akan memiliki celah atau keberanian lagi untuk melakukan aksi nekat atau berbuat macam-macam di depan publik. Kami ingin kembali mengaktifkan usaha konveksi kami secepatnya, Dokter."
Mendengar penjelasan yang teramat sangat cerdas, mandiri, dan penuh harga diri dari mulut Kirana, dr. Adrian langsung terdiam seribu bahasa.
Hatinya seperti dihantam oleh rasa kagum yang luar biasa besar terhadap karakter Kirana. Wanita di depannya ini bukan tipe wanita lemah yang suka merengek atau memanfaatkan kekayaan pria yang menolongnya. Kirana adalah wanita mualaf sholehah yang memiliki prinsip hidup yang sangat mahal dan teguh berdiri di atas kakinya sendiri.
Ibu Sarah yang duduk di samping Adrian mengangguk-angguk pelan, menatap Kirana dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bangga yang tiada tara. "Masya Allah, Nak Kirana... prinsip hidupmu sangat mulia dan luar biasa. Ibu sangat mengagumi kemandirianmu."
Namun, dr. Adrian masih merasa berat hati di dalam dadanya untuk melepaskan Kirana pergi begitu saja dari jangkauan pengawasannya. Dia ingin wanita ini tetap berada di dekatnya agar dia bisa memastikan keselamatannya setiap detik.
"Kirana... saya menghargai keputusan dan kemandirian kamu," ucap dr. Adrian akhirnya, suaranya terdengar sangat lembut namun sarat akan penekanan perhatian yang mendalam. "Tapi, tolong izinkan saya untuk membantu mengawasi proses pencarian ruko baru kalian nanti. Saya tidak akan mengizinkan kalian menempati ruko mana pun sebelum saya sendiri yang mengecek langsung tingkat keamanan lingkungan sekitarnya. Apakah kamu keberatan?"
Kirana menatap dalam ke dalam manik mata dr. Adrian yang dipenuhi ketulusan murni tanpa pamrih. Rasa hangat kembali menyerbu dadanya, membuat Kirana tersenyum tulus dan mengangguk pelan. "Saya tidak keberatan, Dokter. Terima kasih banyak atas perhatian dan kepedulian Anda yang sangat luar biasa untuk kami."
Aisyah yang sejak tadi diam sembari mengunyah ayam gorengnya dengan lahap, langsung ikut menyambar pembicaraan dengan semangat berkobar. "Nah, bener bangett itu, Pak Dokter! Kalau Pak Dokter ikut nemenin nyari ruko, kan lumayan kita ada supir pribadi ganteng sekalian body guard gratisan, hehehe! Biar si Dimas itu makin kejang-kejang kalau liat kita!"
Celoteh ceplas-ceplos dari Aisyah langsung memecah ketegangan di meja makan tersebut. Ibu Sarah tertawa lepas, sementara dr. Adrian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan senyum geli melihat tingkah ajaib sahabat Kirana itu.
Di balik semua ketegangan yang sempat melanda, sinar pagi di rumah dr. Adrian hari ini membawa harapan baru yang sangat cerah bagi masa depan Kirana, tanpa mereka sadari bahwa langkah mandiri ini nantinya akan membuka gerbang takdir baru yang jauh lebih menguras emosi dan penuh kejutan jalur langit!
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia