NovelToon NovelToon
The Novelist

The Novelist

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.

Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.

Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.

Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.

Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang

Anjas duduk di kantor redaksi dengan komputer masih menyala di hadapannya. Malam itu, dia menulis artikel yang cukup berani.

Misteri di Balik Tabrak Lari Berdarah

Meski waktu sudah berlalu sepuluh tahun, bagi sebagian orang, waktu mereka terhenti disana. Ada senyum, tawa, bahkan tangis yang masih sama, meski hanya tinggal seberkas kenangan.

Bagi korban selamat sebuah tragedi tabrak lari sepuluh tahun yang lalu, hidupnya masih berada di masa abu-abu antara saat ini dan masa lalu. Dua sahabatnya meninggal dalam tragedi yang sama, masih selalu hangat dalam ingatannya selama sepuluh tahun terakhir.

Tak ada saksi. Tak ada bukti. Pelaku tabrak lari itu kemungkinan masih hidup penuh tawa tanpa menyadari tindakannya telah memberi luka yang tak akan pernah sembuh untuk seseorang yang masih berjuang hidup setelah tragedi berdarah yang mengerikan itu.

Anjas menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya. Dia menatap hasil tulisannya lalu menarik napas dalam-dalam. Bayangan wajah Misty saat menoleh ke sisi kanannya kembali terlintas.

"Apa dia baik-baik saja?" gumamnya.

Anjas mematikan komputernya setelah mengirim draft artikelnya pada atasannya. Dia meraih ponsel di atas meja kerjanya lalu beranjak, memutuskan untuk pulang sebentar sebelum pagi datang.

Anjas membuka aplikasi pesan singkat di ponselnya sambil berjalan memasuki lift. Matanya terpaku pada satu nama disana. Anjas menekan nama itu. Ruang obrolannya dengan Misty terbuka. Dia membaca pesan terakhir yang dikirimnya dan belum dibaca oleh Misty.

Aku harap kamu tidur nyenyak.

"Sepertinya dia tidur nyenyak," gumam Anjas saat melirik jam di sudut kiri atas ponselnya. Jam 02.35.

"Ting,"

Anjas menatap pintu lift yang terbuka lalu berjalan keluar. Sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih sibuk di kantor dini hari begitu. Anjas menyapa security yang berjaga di lobi kantor redaksi.

"Lembur, Mas Anjas?" tanya Pak Hasan, petugas security.

"Biasa, Pak," jawab Anjas sambil tersenyum.

"Mas Anjas ini kejar deadline terus. Kapan kejar jodoh?" goda Pak Hasan membuat Anjas terkekeh.

"Jodoh mah nggak usah dikejar, Pak. Ntar juga dateng sendiri," kata Anjas.

"Bisa aja, Mas Anjas ini,"

"Mari, Pak. Jangan lupa minum kopi," pamit Anjas pada Pak Hasan.

"Siap, Mas!"

Anjas berjalan ke mobilnya sambil kembali menatap layar ponselnya. Langkahnya terhenti seketika.

'Sedang mengetik?'

Sudut bibir Anjas terangkat. Dia kembali berjalan pelan menuju mobilnya.

'Jadi, dia belum tidur?'

Langkah Anjas kembali terhenti. Bola matanya bergerak perlahan.

'Atau jangan-jangan...'

***

Maya berjalan mondar-mandir perlahan di dalam kamarnya. Kedua tangannya bersedekap di depan dadanya. Dia masih memikirkan The Novelist yang tergeletak di atas meja ruang tamu Misty.

"Aku pikir dia akan panik dan membuang naskah itu," gumam Maya.

"Kenapa dia masih menyimpannya?" tanya Maya dengan kedua alis mengerut.

Maya menghentikan langkahnya. Dia duduk di tepi tempat tidurnya. Bola matanya bergerak perlahan seiring otaknya berputar memikirkan apa yang sudah Misty alami setelah dua kasus pembunuhan itu mencuat.

"Harusnya aku datang lebih cepat," gumamnya.

Maya terdiam. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak," gumamnya.

"Memang begini seharusnya. Akan lebih menarik seperti ini," lanjutnya.

Maya merebahkan tubuhnya. Dia lalu menatap foto di atas nakas di samping tempat tidurnya. Maya tersenyum tipis lalu memejamkan matanya.

'Selamat tidur... Rachel,'

***

Sinar mentari pagi menyusup masuk melewati kaca mobil Arga, serasa menusuk kelopak mata Gerry yang terpejam. Dia beringsut lalu menggeliat perlahan. Sedetik kemudian dia duduk tegak dengan cepat.

"Pagi, Ger," sapa Arga yang duduk di sampingnya sambil mengunyah roti semir.

"Maaf, Pak," kata Gerry yang sadar dirinya tertidur di tengah-tengah bekerja. Arga menepuk bahu Gerry pelan.

"Kamu bukan robot," kata Arga lalu menyodorkan satu cup kopi yang baru saja dia beli.

"Terimakasih, Pak," ucap Gerry sambil menerima cup kopi dari Arga. Arga mengangguk tipis.

"Apa istrimu nggak marah kamu nggak pulang lagi tadi malam?" tanya Arga membuat Gerry yang sedang menyeruput kopinya hampir tersedak. Pasalnya, Arga jarang sekali bertanya tentang kehidupan pribadinya.

"Tidak, Pak. Dia bilang dia menginap di rumah orangtuanya semalam. Kakaknya yang bekerja di Jepang kebetulan pulang," jawab Gerry. Arga manggut-manggut.

"Malam ini, pulanglah. Jemput istrimu," kata Arga.

"Tapi, Pak..."

"Kamu juga butuh istirahat. Ini saran dari saya," potong Arga cepat.

"Jangan sampai istrimu lari karena pekerjaanmu," lanjut Arga.

Gerry menatap Arga yang sedang menatap tajam ke arah rumah Dr. Ardian. Semalam mereka berjaga di dekat rumah dokter itu. Saat Arga memutuskan untuk kembali ke kantor, Gerry menyarankan agar mereka menunggu saja disana agar menghemat tenaga dan waktu.

Gerry mengalihkan pandangannya ke arah rumah Dr. Ardian yang tenang sambil menyeruput kopinya. Dia bertanya-tanya, apa yang akan dia dan Arga dapatkan dari sana.

"Hampir jam praktiknya," gumam Arga sambil melihat jam tangannya. Gerry melakukan hal yang sama.

"Kamu siap?" tanya Arga pada Gerry.

Gerry menghabiskan kopinya sebelum menjawab pertanyaan Arga.

"Siap, Pak!"

"Kalau begitu..." kata Arga sambil bersiap membuka pintu mobilnya.

"Kita cari tahu siapa Dr. Maya sebenarnya,"

***

Anjas sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Misty saat sinar matahari baru saja menyapa bumi. Semalam Misty tidak mengirim pesan apapun meski statusnya sedang mengetik.

Anjas sudah akan meneleponnya semalam. Namun dia mengurungkan niatnya. Dia merasa harus menghormati keputusan Misty yang tidak jadi membalas pesannya.

Anjas menarik napas dalam-dalam sebelum menekan bel pintu. Dia menyiapkan diri menunggu dengan sabar. Sedetik kemudian...

"Cekrek,"

Kedua alis Anjas terangkat, terkejut mendapati Misty dengan cepat membuka pintu apartemennya saat Anjas baru sekali menekan bel pintu.

"Hai," sapa Anjas saat wajah Misty yang tersenyum menyambutnya.

"Hai. Masuk," kata Misty sambil memberi jalan pada Anjas untuk masuk.

"Maaf aku dateng pagi-pagi," kata Anjas saat memasuki unit apartemen Misty. Misty menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Oh ya. Kamu udah makan? Aku bawain bubur ayam," kata Anjas sambil mengangkat kantong plastik yang dibawanya.

Misty mengerjapkan mata sesaat sebelum akhirnya tersenyum saat melihat ada dua kotak stereofoam di dalam kantong plastik yang dibawa Anjas. Misty kemudian menggelengkan kepalanya. Anjas tersenyum.

"Kalau gitu, kita makan sama-sama," kata Anjas. Misty mengangguk lalu berlalu menuju meja makan.

Saat melewati ruang tamu, Anjas mengernyit mendapati sesuatu yang biasanya ada di atas meja ruang tamu tak ada disana.

"Misty," panggil Anjas sambil berhenti di samping meja ruang tamu.

"Hm?"

"Dimana naskah itu?" tanya Anjas sambil menoleh menatap Misty. Misty mengerutkan kedua alisnya. Misty berjalan mendekat ke arah Anjas.

"Bukannya ada di at..." kalimat Misty terhenti. Matanya membulat. Napasnya terhenti. The Novelist tak ada disana!

'Dimana? Semalam masih disana. Atau jangan-jangan...'

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!