NovelToon NovelToon
Selingkuh Demi Keturunan, Suamiku Akhirnya Menyesal

Selingkuh Demi Keturunan, Suamiku Akhirnya Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.

Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.

Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Suami Xena

Untuk memastikan, Xena bisik-bisik nanya nama pria di hadapannya itu kepada sang Mami.

"Mam, yang dikenalkan ke aku namanya siapa?"

Mami Xena tersenyum lebar. Alih-alih berbisik balik untuk menjaga gengsi Xena, sang Mami justru sengaja bertanya langsung.

"Maaf, ini barusan Xena nanya, katanya nama anak Pak Wijaya siapa ya? Lupa dia."

Detik itu juga Xena rasanya ingin menghilang dari muka bumi. Rasanya ia ingin amblas ke dalam kerak bumi paling dalam demi menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas.

Et dah, Mami! Bisa-bisanya malah diumumkan ke satu ruangan! rutuk Xena dalam hati, menahan senyum kaku yang dipaksakan agar tetap terlihat sopan.

Pria di hadapan Xena tidak tampak terganggu sedikit pun. Dengan gerakan yang sangat tenang ia menggeser sedikit tubuhnya, lalu mengulurkan tangan kanan ke arah Xena.

"Perkenalkan, nama saya Ibrahim Alkairo. Panggil saja Ibra," ucapnya.

Sudah benar dugaan Xena. Suara ini, aroma parfum ini, dan tatapan mata yang meneduhkan itu, dia adalah dokter spesialis kandungan (obgyn) tempat Xena memeriksakan kesuburan dan organ reproduksinya beberapa waktu lalu. Xena menguasai kegugupannya, lalu menyambut uluran tangan hangat tersebut.

"Xena Alatas. Terserah mau panggil apa," jawab Xena apa adanya.

Belum sempat jabatan tangan itu terlepas, Mami kembali menyambar dengan cepat. "Wah, berarti kalau panggil Sayang boleh dong tuh, Nak Ibra?"

Xena refleks melepaskan jabatannya dan melirik Maminya. Mami, tolong dikondisikan seleranya, ini belum apa-apa sudah main tembak saja! batin Xena menjerit cengengesan.

Masa iya dia yang biasanya mengintimidasi banyak orang, sekarang harus mati kutu karena dijodohkan dengan dokter kandungannya sendiri? Canggungnya sampai ke ubun-ubun.

Sementara Xena sibuk berperang dengan pikirannya sendiri dan tertawa canggung dalam hati, Dokter Ibra justru tampak tersenyum sopan. Dari binar matanya, pria itu sama sekali tidak ngeh bahwa wanita di hadapannya adalah salah satu pasien yang pernah duduk di ruang praktiknya.

Xena memaklumi hal itu. Sebagai dokter obgyn ternama di bidang fertilitas, pasien Ibra tentu ratusan. Orang dengan tingkat kesibukan setinggi Ibra biasanya memang suka lupa-lupa ingat jika bertemu di luar konteks pekerjaan.

Melihat interaksi yang masih terasa kaku, Pak Wijaya kini ikut mengambil bagian untuk memojokkan Xena. "Kalau Nak Xena sendiri, mau panggil apa ke Ibra?"

Xena tersenyum lebar, "Saya panggil Pak Dokter saja ya."

Jawaban itu seketika membuat Papi, Mami, dan Pak Wijaya terkejut. Mereka saling pandang. Seingat mereka, profesi Ibra sebagai dokter sengaja belum diceritakan secara gamblang untuk memberikan kejutan. Mereka langsung menebak-nebak apakah keduanya sebenarnya sudah saling mengenal.

"Lho, Xena kok sudah tahu kalau Ibra ini dokter?" tanya Papi heran.

Xena menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Ibra yang kini menaikkan sebelah alisnya, mulai penasaran. "Saya pernah jadi pasien Pak Dokter Ibra. Bahkan sebelum ketemuan di restoran ini, kami sempat berbalas chat konsul."

Ibra manggut-manggut, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit terkejut namun tetap tenang. "Oh, ya?"

"Pak Dokter ingat sekarang?" ledek Xena dengan senyum penuh kemenangan.

Ibra tersenyum, "Jujur, saya masih merabba ingatan saya. Masih agak samar. Mungkin jika nanti dijelaskan atau saya lihat kembali room chat-nya, saya pasti langsung ingat."

Jawaban Ibra begitu tenang dan penuh wibawa. Tidak ada kesan canggung atau berusaha menjilat dengan kata-kata manis yang dibuat-buat untuk menyanjung Xena. Jawaban itu murni keluar dari sikap seorang pria dewasa yang menghargai lawan bicaranya tanpa kehilangan harga diri.

"Kalau begitu, boleh saya meminta nomor kontakmu?" Pinta Ibra.

"Boleh, silakan," jawab Xena, mendiktekan deretan nomor ponselnya.

Pak Wijaya yang melihat putranya mengetik nomor Xena langsung memberikan nasihat dengan nada menyindir halus.

"Nah, Ibra, itu kontak jangan cuma disimpan saja sampai bulukan di memori HP, ya. Jangan cuma bisa gerak cepat balas chat pasien saja, calon istri juga harus diprioritaskan."

Ibra hanya tersenyum tipis dan mengangguk patuh. "Iya, Pa."

Obrolan di antara kedua keluarga itu pun mulai menghangat. Namun karena masing-masing pihak memiliki jadwal padat yang tidak bisa ditunda keesokan harinya, pertemuan malam itu berlangsung relatif singkat. Tanpa membuang-buang waktu dalam basa-basi yang panjang, topik pembicaraan langsung melompat ke inti, yaitu penentuan tanggal pernikahan.

Sebelum tanggal diketok palu, Papi Xena dengan raut wajah serius menceritakan secara panjang lebar mengenai status Xena. Papi menjelaskan bahwa Xena saat ini sedang dalam proses perceraian dengan Reyhan dan persidangan perdananya baru saja berjalan hari ini. Papi ingin memastikan bahwa keluarga Pak Wijaya, terutama Ibra, tahu betul apa yang mereka hadapi.

Setelah mendengar penjelasan panjang tersebut, Ibra mantap menjawab, "Saya tidak keberatan dengan masa lalu. Sebagai dokter, saya terbiasa melihat masa lalu sebagai bagian dari rekam medis yang membentuk seseorang hari ini. Yang penting bagi saya adalah komitmen ke depan."

Mendengar penerimaan Ibra yang begitu bijak, keputusan pun diambil detik itu juga. Tanggal pernikahan resmi ditetapkan.

Sembari menunggu hidangan penutup diselesaikan, Xena iseng membuka ponselnya. Ia melihat kontak baru yang baru saja dikirimkan Ibra via pesan singkat. Xena tersenyum geli sendiri saat jemarinya mengetik nama kontak tersebut. Dari yang tadinya berniat menulis 'Dokter Ibra Obgyn', ia malah mengubahnya menjadi 'Mas Ibra'.

Xena menahan tawa dalam hati. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia menyebut seorang pria dengan embel-embel Mas. Bahkan kepada Reyhan, mantan suaminya dahulu, ia tidak pernah sekaku atau sehormat itu. Tapi entah mengapa, untuk Ibra yang usianya memang matang dan berada di atas Reyhan, panggilan Mas terasa sangat pas dan mendebarkan.

Acara makan malam keluarga akhirnya selesai. Mereka semua melangkah keluar menuju lobi restoran bintang lima tersebut. Saat Xena sedang merapikan tasnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari sopir pribadinya masuk.

Mohon maaf, Nona Xena. Saya tidak bisa mengantar pulang sekarang karena ban mobil tiba-tiba kempes di parkiran basemen. Saya sedang menunggu tukang tambal ban.

Xena mengernyitkan alisnya. Aneh sekali. Kenapa bannya bisa kempes secara mendadak, dan kenapa sopirnya baru memberi tahu sekarang saat acara sudah selesai?

Xena menoleh ke arah orang tuanya. "Papi, Mami, Xena boleh nebeng pulang? Mobil Xena bannya kempes di bawah."

Mami dan Papi saling lirik selama satu detik, "Aduh, Xena... Papi sama Mami ke sini sengaja naik motor tadi, mau sekalian menikmati angin malam katanya. Gak muat kalau bertiga."

Alis Xena semakin mengernyit. Papi bahkan tidak bisa mengendarai motor. Apa kesini motor itu di dorong? Bohongnya benar-benar minta ampun! Xena tahu persis ini adalah akal-akalan yang ingin menjodoh-jodohkannya lebih jauh.

Melihat situasi tersebut, Ibra yang berdiri di samping Pak Wijaya langsung melangkah maju. "Kalau tidak keberatan, saya bisa mengantar kamu pulang. Kebetulan arah rumah kita searah."

"Nah!"

Suara kompak itu keluar secara bersamaan dari mulut Papi, Mami, dan Pak Wijaya. Tanpa memberikan kesempatan bagi Xena untuk protes atau mencari taksi online, ketiga orang tua itu langsung berbalik badan dan berjalan terbirit-birit menuju kendaraan masing-masing seolah takut tertangkap basah.

Xena hanya bisa berdiri mematung, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan ajaib orang tuanya. Bener-bener Papi sama Mami ini.

Bersambung.

1
rain✨
Tjih
rain✨
Bebek kali ah netes
MULIANA 💦
aku juga gak sabar 🤭
MULIANA 💦
gak usah membandingkan bu. lah, ini pilihan ibu sendiri /Proud/
MULIANA 💦
mending jangan deh, jangan /Facepalm//Facepalm/
MULIANA 💦
heleh, kok mainnya dukun sih bang /Facepalm//Facepalm/
MULIANA 💦
tapi sayang, kamu cari muka dengan orang yang salah 🤭
〈⎳ FT. Zira
jangan menyesal loh ya Xena🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
berpikirkan mak...🤧🤧 masih nanya🤧🤧
〈⎳ FT. Zira: astaga... typo... berpikirlah maksudnya
total 1 replies
sunaryati jarum
Bener tebakan emak, semoga proses cerai langsung putus.Setelah masa Iddah habis langsung nikah
sunaryati jarum
Dokter Ibra,ya
sunaryati jarum
Baru ditinggal Xena beberapa hari di rumah Rayhan kacau keadaan rumah dan keuangan.Bu Mirna langsung merasa kecewa
Teteh Lia
mulai kelihatan perbandingan na
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
PD amat
Zenun: ehehehe
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
nama Grup nya kayak nama bus lintas sumut-jakarta, ALS
Zenun: oh iya kah😁
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesama makhluk menjijikkan ga usah saling ngatainlah
〈⎳ FT. Zira
tamparan keras buat ibu mertua kalo suara hati Nadine terdengar
Zenun: lama-lama kedengeran juga
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
astaga Reyy...pikiranmu ini perlu di reset kyknya
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
sunaryati jarum
Yang minum benda pelet dari dukun Nadine,dia jadi gila karena makin terpesona dengan Reyhan.🤣🤣🤣
Zenun: ehehehe iya ya
total 1 replies
MULIANA 💦
eh, sampai kayak gini
Zenun: ya begitulah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!