Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Kencan
Ezra tak perlu berlari mengejar guru BP itu karena Elia berjalan santai sambil memegang ponselnya.
Ezra yakin kalo Elia sedang menelpon supir atau taksi online untuk mengantarnya kembali ke sekolah.
Ezra mengutuki nasib buruknya saat berkencan dengan Elia yang selalu saja tidak berjalan sukses.
GREP
Elia menoleh ketika lengannya yang bebas dipegang oleh seseorang. Hampir saja keluar makian kasar dari mulutnya untuk orang kurang ajar ini, tapi dia terdiam ketika tau siapa pelakunya.
"Kenapa ngga sabar sekali? Kamu marah?"
Ezra menatap tenang wajah yang terkejut di depannya.
"Aku ngga mau mengganggu urusanmu," sanggah Elia sambil membuang tatap.
Ezra tertawa pelan.
"Aku ngga punya urusan apa apa. selain sama kamu. Ayo, kita pulang." Ezra mempererat cekalannya ketika merasa Elia akan melepaskan pegangannya. Dia menarik pelan Elia agar mengikuti langkahnya ke parkiran motor.
Elia yang tidak berhasil melepaskan cekalannya akhirnya terpaksa mengikuti langkah Ezra.
Mereka berjalan dalam hening.
"Kamu kenal Maria dan teman temannya?" tanya Ezra ketika sudah berada di samping motornya. Dia memberikan helm fullfacenya pada Elia.
Demi mengejar waktu, Ezra menunggangi motor kesayangannya. Lagi pula sangat romantis mengajak perempuan dengan motor, dari pada membawa mobil. Walaupun alasan sebenarnya untuk menghindari stuck karena macet.
Elia ngga menyahut saat menerimanya dan langsung mengenakan helmnya.
Ezra berusaha memakluminya. Mungkin ini pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun tidak pernah bertemu.
"Dulu aku pernah kencan dengan Maria. Sudah lama bangetlah," jelasnya tanpa diminta. Dia kemudian menghidupkan motornya.
Elia masih diam hingga menaiki motor Ezra.
"Kami ngga ada hubungan apa apa. Hanya suka sama suka sesaat saja," jelasnya lagi sambil berpaling pada Elia yang tetap membisu.
Motor Ezra awalnya melaju pelan, tapi kemudian tiba tiba ngebut dan menyalib di antara motor dan mobil. Padahal waktu tadi berangkat, Ezra mengendarainya dengan santai.
Tubuh Elia makin terdorong ke depan dan sudah merapat di punggung Ezra. Kedua tangannya kini sudah memeluk pinggang laki laki itu yang terus saja memacu kencang tunggangannya.
Perjalanan berlangsung sangat cepat. Sekarang motor Ezra sudah terparkir di halaman sekolah Elia.
"Jangan marah," bujuk Ezra ketika menerima helm dari Elia. Dia mengira Elia akan mencubit atau memukul lengannya karena dia ngebut,. Seperti yang sering kakak perempuannya lakukan. Tapi Elia tetap diam saja. Yang membuat Ezra kaget karena kedua tangan Elia malah melingkar di pinggangnya. Memeluknya erat.
"Aku ngga marah." Tubuh Elia masih terasa kaku dan dingin saat ini. Giginya saja masih bergemelutukan. Dia memeluk laki laki itu di saat hubungan mereka baru sebatas guru dan wali murid.
Elia menghela nafas panjang.
Untung saja dia mengenakan stelan blazer dengan.celana panjang. Kalo tadi pake rok, pasti dia akan menahan malu berat sepanjang jalan, karena ujung roknya pasti akan terbang tinggi efek dari kencangnya angin yang berhembus akibat motor yang dibawa Ezra dalam kecepatan tinggi.
Tubuhnya saat ini masih sesekali menggigil karena kedinginan. Tadi saja nada suaranya masih bergetar.
"Sorry, dingin, ya." Ezra merasa bersalah karena suhu tangan Elia yang dipegangnya terasa sangat rendah.
"Hemm.... Ngga apa apa." Elia menepis halus tangan Ezra.
Ezra tidak memaksa, sebagai gantinya dia bantu merapikan rambut Elia.
"Kapan kapan aku akan bawa mobil," ucapnya seolah mengisyaratkan kalo ini bukan pertemuan merek yang terakhir.
Elia hanya tersenyum, tapi senyumnya sudah tidak lepas seperti biasanya yang langsung di sadari Ezra.
"Seandainya aku guru BP, mungkin kamu akan curhat," sindir Ezra dengan senyum miringnya.
"Aku duluan," pamit Elia. Saat ini perasaannya sangat tidak nyaman. Perkataan Ezra dia acuhkan.
"Oke."
Elia masih belum melangkahkan kakinya. Dia menatap Ezra yang ternyata sedang menatapnya juga.
"Kamu hati hati pulangnya."
"Jangan khawatir."
Elia mengangguk sebelum membalikkan tubuhnya, pergi meninggalkan Ezra.
Ezra masih belum pergi. Dia terus melihat Elia yang sudah berjalan menjauhinya. Harapannya Elia menoleh, tapi sampai tubuh guru BP itu menghilang di balik bangunan sekolah, ternyata tidak pernah terjadi.
*
*
*
"Keyra kaku, ya," senyum Kian sambil memberikan helmnya pada Wanda. Dia akan mengantar Wanda pulang ke rumah Keyra. Kembaran dan kerabatnya yang lain sudah berlalu pergi.
Wanda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Engga."
Kian masih tersenyum.
"Dia baik, kok. Bawaannya aja gitu." Kian menatap Wanda yang sedang mengenakan helmnya.
Dia sudah minta ijin ke mami dan daddy kalo akan mengantar dan menjemput Wanda ke rumah Keyra sebelum berangkat magang ke perusahaan daddynya.
"Katanya kamu magang?"
Kian mengangguk.
"Iya, syarat daddy agar bisa nikahin kamu."
DEG DEG
Untung saja helm yang dikenakan Wanda fullface, hingga Kian ngga tau betapa merahnya wajahnya saat ini.
Kian kemudian memiringkan motornya agar Wanda lebih mudah menaikinya.
"Kamu juga akan aman di rumah Keyra selama aku belum memenuhi target daddy," ucap Kian sebelum menghidupkan motornya.
Wanda menganggukkan kepalanya.
"Mungkin hari minggu kita bisa kencan?" tanya Kian sambil memperhatikan sepasang mata Wanda.
"Ke kencan?"
"Iya."
Wanda tambah gugup.
Sama seperti waktu berangkat tadi, Kian meraih tangan Wanda agar memeluk dirinya.
"Nanti aku kabari lagi." Motor Kian mulai melaju meninggalkan halaman parkir sekolah
Wanda tidak menyahut tapi debar jantungnya saat ini pasti bisa dirasakan Kian. Dia jadi malu karena Kian tau kegugupannya saat ini.
*
*
*
"Pak Supri, kejar dan hadang motor itu," perintah Aditama mengagetkan supirnya.
"Ta tapi tuan muda....."
"Sekarang! Atau saya aja yang nyetir!" ancamnya dengan rahang mengetat.
Wajah Pak Supri pias. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah anak majikannya. Jalan di depan mereka juga cukup lengang.
"Senggol dikit ngga apa, pak," perintah Aditama dengan seringai mengejeknya.
Tentu saja Pak Supri tidak mau melakukannya.
Kian seolah tau mobil Aditama mengikutinya, tapi dia tetap tenang. Ketika mobil itu berada di sampingnya dan membunyikan klakson, Kian menatap supirnya yang sudah menurunkan kaca jendela mobilnya.
Pak Supri memberi tanda agar Kian berhenti dengan tatapan memohon. Kian mengangguk mengerti. Dia berhenti di pinggir jalan dan mobil Aditama berhenti di depannya.
Aditama segera keluar dari dalam mobil, berjalan ke arah Kian yang mau menunggu di atas motornya.
"Aku menantangmu balap motor. Taruhannya Wanda," seru Aditama dengan wajah marahnya.
"Wanda bukan barang," tolak Kian langsung.
"Kalo aku menang, Wanda jadi milikku. Kalo aku kalah, aku janji tidak akan mengganggumu dan Wanda lagi."
Kian menatap wajah Aditama dengan tatapan ngga percaya. Karena sudah beberapa kali rivalnya itu melakukan kecurangan.
"Lo ngga percaya?" Aditama kembali ke setelan biasanya Tatapannya makin galak.
Kian tertawa pelan di balik helmnya.
"Kalo gua yang menang, keluarga lo dan lo juga jangan utak atik Wanda lagi." Aditama berusaha ngga peduli dengan reaksi ngga peduli Kian. Dia hanya ingin di dengar.
"Oke. Kapan?" Kian memainkan kunci motornya.
"Malam minggu besok."
"Oke." Kian kemudian menghidupkan motornya, kemudian melaju meninggalkan Aditama.
Remaja tanggung itu mendengus. Kali ini dia tidak akan kalah, tekatnya dalam hati.
udah dikenalin sbg calon istri berarti ezra serius