NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 17

“Aman apanya? Sudah berapa hari kita terjebak di tempat ini?” Kanaya mengerang frustasi.

Gadis itu merasa risih dengan alas kakinya yang mulai ternoda lumpur. Walau terkadang dia suka bertindak serampangan, tapi Kanaya adalah manusia pencinta kebersihan. Sudah dua hari mereka berdua terjebak di hutan dengan makanan dan peralatan seadanya. Dia tidak tahu apa lagi yang lebih buruk dari pada ini.

“Sebentar lagi kita sampai di lokasi yang aman. Asistenku akan menjemput kita.” Asta senantiasa berjalan di belakang Kanaya untuk memastikan gadis itu tidak tertinggal.

“Ck, kau sudah mengatakan itu sejak dua jam yang lalu. Kau ini benar-benar tahu jalannya atau tidak?” Kanaya berbalik dan menatap kesal pada tunangannya itu.

Sejak awal hubungan mereka terjalin atas dasar perjodohan. Kanaya yang memiliki trust issue dengan hubungan asmara benar-benar menentang perjodohan itu, tapi orang tuanya bersikeras karena hanya Asta yang dipercaya dapat menjaganya dari niat jahat orang-orang luar. Itulah sebabnya kesalahan sedikit saja sudah mampu menyulut amarah gadis itu.

Sayangnya, Asta sama sekali tak terpancing oleh emosi tunangannya yang selalu membara. Dia melangkah maju dengan santai dan melakukan hal yang membuat Kanaya membeku.

Gadis itu merasakan kecupan secepat kilat di sudut matanya yang diberikan oleh Asta.

Tanpa membiarkan Kanaya protes, pria itu menarik pelan tangan gadis itu agar kembali berjalan.

“Jika kamu protes sekali lagi, aku akan mencium di tempat lain.” Kalimat Asta terdengar sangat ambigu membuat Kanaya semakin kehilangan kata-kata umpatan yang akan dia lontarkan.

Sepanjang jalan langkahnya seolah hanya dituntun oleh Asta. Pria itu terkekeh singkat melihat kepatuhan Kanaya.

“Benar-benar syok sampai tidak bisa bersuara lagi?” tanya pria itu dengan nada jahil.

Kanaya memasang raut sinis. “Siapa yang mengizinkanmu menciumku?”

“Tidak perlu izin untuk menjinakkan anak kucing galak.” Kalimat Asta terdengar sangat ringan, tapi sukses menambahkan bahan bakar ke dalam api emosi Kanaya yang sedari tadi dia tahan.

Gadis itu tanpa aba-aba menggigit lengan Asta yang masih memegang tangannya.

Pria itu menghela napas pelan, sama sekali tak merasa sakit dan justru tersenyum tipis.

“Lihat, benar-benar mirip dengan kucing galak.”

Kanaya benar-benar ingin mengamuk sekarang. Dia berjanji akan menceritakan kejadian buruk ini pada Amelia dan mengutuk Asta keras-keras.

Tak lama kemudian, keduanya benar-benar sampai di tepi jalan. Di sana sudah terparkir mobil hitam dengan seorang pria muda yang berdiri tegak di sampingnya.

“Maaf membuat Anda menunggu, Tuan.” Sang asisten menunduk hormat.

“Tidak masalah. Sekarang saatnya pulang karena anak kucing galak ini sudah sangat rewel.”

***

“Hanan, sampai kapan kau akan bermain-main seperti ini? Kembalilah dan urus perusahaan keluarga kita? Ayahmu sudah tiada dan perusahaan tak memiliki siapa pun yang bisa diandalkan sebagai pemimpin.” Suara sesak khas pria tua terdengar dari tablet pintar milik Hanan.

Pria itu menatap datar sosok tua yang ditampilkan lewat layar.

“Masih ada Kakek yang bisa mengurusnya. Kehadiranku bukan apa-apa sekarang ini.” Hanan menggaruk pelipisnya dengan wajah tak acuh yang membuat sang kakek geram.

Terdengar suara meja yang dihantam keras di seberang sana.

“Dasar cucu kurang ajar. Apa kau menunggu Kakekmu ini mati baru mau mengambil alih sesuatu yang sudah menjadi tugasmu sejak awal?” Sang tampak begitu lelah menghadapi cucunya itu.

“Kakek tahu sendiri aku benci perusahaan itu. Terlalu banyak musuh yang akan membahayakan istriku. Aku tidak bisa mengambil risiko.”

“Persetan. Setiap hari yang kau pikirkan hanya istrimu itu. Benar kata Mama dan Kakakmu, kau ini sepertinya sudah diracuni pikirannya.”

Terdengar bunyi ‘klik’ khas panggilan yang dimatikan. Layar menampilkan tampilan beranda tablet yang hanya berupa setelan awal pabrik sejak tablet itu dibeli. Siapa pun bisa menebak berapa monotonnya hidup sang pemilik benda pipih itu.

Hanan hanya bisa mendesah pelan setelah bertukar kalimat dengan kakeknya. Sedari awal sudah bisa ditebak apa saja yang akan dibahas oleh kakeknya itu di setiap panggilan telepon dan video. Sangat mudah menolaknya, tapi bagaimanapun juga, Hanan masih menyimpan rasa hormat untuk kakeknya. Apalagi pria tua itulah yang mengajari banyak hal padanya setelah kepergian ayahnya saat dia masih berusia delapan tahun akibat kecelakaan di tempat kerja.

Ayahnya merupakan seorang pebisnis di bidang infrastruktur. Dia mengalami kecelakaan kerja saat mengecek salah satu proyek wisata yang hampir rampung. Pria itu tertimpa monumen simbol iconic dari tempat wisata itu yang tiba-tiba kehilangan kekokohannya.

Proyek itu sekaligus mencatat kegagalan paling fatal yang pernah ditangani oleh perusahaan keluarganya.

Hanan tahu bahwa sejak awal kematian ayahnya bukan murni kecelakaan kerja biasa, tapi semuanya sudah diatur oleh beberapa pesaing bisnis mereka. Itulah kenapa dia selalu membenci dunia bisnis keluarganya.

Tangannya secara acak membuka tumpukan kertas di mejanya dan salah satu tulisan mencuri perhatiannya. Setelah ditarik, itu hanya sebuah kertas yang nyaris kosong, kecuali dua baris tulisan di bawahnya yang dia kenali sebagai tulisan tangan istrinya—Rosa.

Rosa Eleanor.

Amelia Tanesha.

Dua nama bersaudara dengan sifat yang berbeda jauh. Tidak perlu melihat sifat, nama mereka saja tak memiliki kemiripan apa pun.

“Mas?”

Sosok Rosa muncul di balik pintu ruang kerja Hanan membuyarkan lamunan pria itu. Dia meletakkan kertas di tangannya sembarangan.

“Sayang? Apa kamu sulit tertidur lagi?” Hanan langsung menghampiri istrinya yang tersenyum di ambang pintu.

“Aku ....”

Wanita itu tampak ragu mengutarakan niatnya. Hanan bisa langsung menangkap dari ekspresinya.

“Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Katakan saja, aku akan selalu mendengarkanmu.” Hanan membawa istrinya masuk ke dalam ruangannya. Pintu tetap dibiarkan setengah terbuka.

“Mas, bisakah kita menghabiskan malam bersama? Maksudku ... biarkan aku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri sekali saja.”

Hanan membeku sesaat sebelum mengelus pelan puncak kepala istrinya.

“Sa, aku tidak memaksamu melakukan kewajibanmu. Sekali lagi, aku tidak mengharapkan adanya keturunan. Kita berdua saja sudah cukup. Aku takut menyakitimu dalam prosesnya. Kamu mengerti, ‘kan.” Hanan menjelaskan dengan lembut.

“Mas, aku tidak serapuh itu. Aku bisa menanggungnya. Kumohon ... jangan buat aku merasa tidak berguna.” Rosa mati-matian menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

Tatapan Hanan menegas. Dia tidak suka mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya itu.

“Dengar, Sa. Apa pun pikiran negatif yang ada di kepalamu, singkirkan itu. Kamu lebih dari layak menjadi istriku. Kenapa kamu memandang dirimu tidak berguna?” Hanan benar-benar tak tahan melihat kesedihan di mata istrinya.

“Aku berusaha, Mas. Aku berusaha untuk menyingkirkan pikiran-pikiran itu, tapi aku tidak bisa. Sekarang sudah ada Amelia di antara kita, kamu bisa memiliki keturunan, tapi tidak bisakah aku tetap memenuhi kewajibanku sekarang? Aku mungkin tak bisa mengandung, tapi aku tetap ingin melakukan tugasku sebagai seorang istri.”

Rosa merapatkan tubuhnya pada Hanan. Tangannya merayap pelan pada dada sang suami. Dia mendongak menatap wajah tampan suaminya yang nyaris sempurna. Jarak wajah keduanya semakin menipis hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Momen intim yang membuat pikiran Hanan kacau untuk sesaat.

Sementara itu, Amelia menaiki lantai dua menuju kamar kakaknya. Sebuah paket baru saja sampai tertuju untuk Rosa dan dia berniat membawakannya langsung. Langkahnya kian mendekat pada kamar wanita itu, tapi refleksnya mengarah ke ruang kerja Hanan yang pintunya setengah terbuka.

Di sana, Amelia jelas melihat kakak dan suaminya tengah berciuman dengan tubuh merapat. Langkahnya mundur tanpa sadar. Dia melupakan niat awalnya dan bergegas pergi dari sana. Dadanya tiba-tiba sesak tanpa alasan, atau mungkin ada, tapi gadis itu menolak mengakuinya.

Kilas adegan singkat yang dia lihat tak sampai lima detik justru melekat di kepalanya dan terus membayanginya seperti hantu film horor.

Kali ini Amelia benar-benar tak bisa menyangkal jika dia merasa cemburu dengan keintiman keduanya. Membayangkan keduanya sudah melakukan hubungan yang lebih jauh entah kenapa membuat gadis itu mual.

“Sial, mereka suami istri. Tentu saja akan melakukan hubungan selayaknya pasangan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!