Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Lanjut Sekolah
"Eh sumpah tadi bahasa Indonesia gua ngasal tau, Ta! Pusing banget, ngeliat kertas ujiannya aja udah giung, tebel pisan," keluh Aguil pada Arinta.
Arinta hanya geleng-geleng tak percaya.
Sudah satu tahun sejak kepindahan Aguil ke sekolah itu. Sudah satu tahun pula ia berusaha mencairkan sifat dingin Arinta, tapi masih belum membuahkan hasil.
Kini mereka tengah menjalani Ujian Nasional, yang artinya sebentar lagi mereka lulus SD.
"Tadi gimana lu bisa?" tanya Aguil antusias.
Arinta mengangguk.
Walaupun hanya anggukan dan gelengan yang Aguil dapat, tapi ia sama sekali tak pernah mempermasalahkan. Tak pernah sama sekali Aguil marah atau berkata jahat pada Arinta karena tak kunjung menjawab ucapannya. Karena bagi Aguil, Arinta hanya butuh penerimaan, bukan tuntutan.
"Nanti lu mau coba negeri ngga, Ta?"
Panggilan aku-kamu perlahan Aguil singkirkan, semata agar Arinta merasa lebih akrab denganya.
Arinta mengangguk.
"Pasti sih. Nilai lu juga pasti nolong, Ta."
Sampai hari kelulusan itu tiba. Aguil sudah sampai lebih awal untuk ikut acara pelepasan. Matanya terus mencari keberadaan seseorang, tapi tak kunjung terlihat.
Kemarin sehari sebelum hari kelulusan ini, ia mampir ke rumah Arinta sebentar. Ia melihat ayah Zaid sedang menjahitkan sesuatu, sepertinya untuk dipakai Arinta saat kelulusan.
Zaid memang sudah beralih profesi sejak Arinta masuk Sekolah Dasar. Ia berpikir, hanya dengan berjualan sayur keliling tak akan bisa mencukupi kebutuhan dua anak sekolah sekaligus. Jadi ia memutuskan untuk mulai menabung dan membeli mesin jahit, lalu membuka jasa jahit.
Dengan kehandalannya juga ia sering membuat baju dari kain perca, sampai ada satu orang yang percaya untuk menyuruh Zaid menjadi pekerja untuknya membuat baju yang akan dijual lagi.
Aguil sudah mulai gelisah kala acara sudah mau dimulai, tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Arinta sama sekali.
"Ma.. Mama punya nomor ayah Arin ngga?" tanya Aguil akhirnya.
"Oh iya, Arin belom keliatan ya daritadi? Coba mama telepon ayahnya Arin dulu ya?"
"Halo? Mama Mala?"
"Eh Ari ya? Arintanya kemana? Ditanyain sama Aguil nih, kok ngga dateng-dateng katanya."
"Arintanya lagi di kamar, daritadi pagi ngga mau keluar. Ayah juga udah berkali-kali ngebujuk tapi tetep ngga mau."
"Oh. Aduh anak gadis mama, kira-kira kenapa ya? Apa ngga punya baju? Eh ini mama ngga maksud apa-apa ya."
"Bukan itu, ma. Ayah bahkan udah begadang buat ngerombak bajunya. Dikira ayah, Arinta ngga suka modelnya. Tapi ternyata dia masih di kamar aja ngga mau keluar."
"Oh ya udah deh, makasih ya Ari. Nanti mama kesana deh ya."
"Kenapa, ma?" tanya Aguil saat telepon sudah ditutup.
"Arin ngga mau keluar dari kamar, ngga tau juga kenapa. Kamu tau ngga kira-kira dia kenapa?"
Aguil malah makin gelisah, "Kita ke rumah Arin aja yu, ma!"
"Loh? Terus acaranya gimana, nak?"
"Ngga usah ikut. Kalo Arin ngga ikut, Aguil juga ngga mau ikut."
Aguil yang sudah rapi dengan kemeja putih dan jas hitamnya melenggang pergi begitu saja, meninggalkan ibunya yang masih kebingungan.
"Iya oke, ayo sama mama pake mobil aja!"
Akhirnya mereka berdua meluncur ke rumah Arinta. Mala sedikit kecewa karena perjalanan jauhnya dari Bandung untuk melihat putra satu-satunya wisuda malah gagal.
Aguil tinggal disini bersama om dan tantenya yang tak memiliki anak, jadilah orang-orang yang baru kenal menganggap om Raka dan istrinya sebagai orangtua Aguil.
Sementara itu, orangtua kandung Aguil menetap di Bandung. Namun kadang ibunya juga suka bolak-balik ketempat kelahirannya di Banten. Karena Samuel—ayah Aguil, memang bertugas di Bandung tapi kadang pergi ke daerah lain juga.
"Arinta masih ngga mau keluar, Yah?" tanya Aguil pada Zaid.
"Belum. Ayah juga ngga tau kenapa, padahal ayah udah buatin baju buat Arin," ucap Zaid sendu.
Aguil mencoba mengetuk pintu kamar Arinta, tapi tetap tak ada respon.
"Ini Arin bener ada didalem kan, bang?" tanya Aguil.
"Iya, tadi sempet bersuara kok. Katanya ngga mau dateng. Pas ditanya kenapa, dia ngga jawab lagi," jawab Ghifari.
"Dobrak aja bang, takutnya Arin kenapa-kenapa didalem," usul Aguil.
Sedangkan Arinta sedang menyembunyikan diri dibalik selimut, ia... kecewa pada sang ayah yang bilang kalau ia berhenti sekolah saja kalau terus seperti itu. Yang dimaksud itu adalah tak mau berinteraksi dengan orang-orang dan terus menutup akses komunikasi dengan oranglain. Padahal maksud Zaid berbicara seperti itu supaya Arinta mau berubah, bukan malah merajuk.
Namun, Zaid tak tahu kalau itulah penyebab Arinta merajuk.
Dalam hati kecil Arinta, ia berpikir, sudah cukuplah ia selalu mengalah, sudah cukuplah ia dengan masalah dirinya sendiri yang tak pernah tahu caranya menyampaikan perasaan dan apa yang sedang ia rasakan. Baginya sudah cukup ia berjuang atas ketidaktahuannya mengapa ia dilahirkan seperti ini, dibesarkan seperti ini, memiliki sifat seperti ini, ia pun tak tahu kenapa ia seperti ini!
Itu yang Arinta tak mengerti, kalau oranglain bertanya-tanya tentang dirinya yang 'aneh', Arinta juga pun tak tahu jawabannya.
"Arinta.. Bisa ngomong sebentar? Ini Aguil.. Plis, Ta. Kalo ada masalah cerita, biar ayah lu juga tau ini gara-gara apa," bujuk Aguil sepelan mungkin.
"Sayang.." kali ini Mala ikut bersuara.
Ini pertama kalinya Arinta mendengar suara itu lagi, ia sedikit lebih tenang. Sepertinya ia bisa bercerita pada mama Mala, mungkin mama Mala akan lebih mengerti ketimbang ayahnya.
"Ini mama, nak. Keluar ya, cerita sini sama mama," ucap Mala.
Tak berapa lama, pintu terbuka. Semua orang menghembuskan napas lega.
"Mau sama mama aja," pintanya dengan suara parau.
Pintu kembali ditutup saat Mala diajak masuk ke kamar. Hanya tersisa tiga laki-laki yang masih melongo didepan.
Arinta memeluk Mala lalu menangis, Mala juga tak memaksa putrinya itu untuk langsung bercerita.
Mala mengerti, sepertinya Arinta memang sedang sangat membutuhkan sosok ibu.
"Ngga apa-apa, nak. Cerita aja ya? Mama dengerin disini, oke?"
Arinta akhirnya diam, menyiapkan narasi tentang apa yang ia rasakan. Namun yang keluar hanya satu kalimat.
"Arin mau lanjut sekolah.."
Lalu nangis lagi.
Mala yang tak mengerti apa-apa menyahut, "Iya, hari ini kan kelulusan Arin. Nanti setelah lulus Arin pindah ke sekolah baru."
Mala salah paham tentang "mau lanjut sekolah", ia pikir itu maksudnya Arinta tak mau berpisah dengan sekolahnya yang sekarang.
"Mau sekolah.." guman Arinta lagi.
"Iya, sekolah ya nanti di sekolah baru?"
"Kata ayah, Arin berenti sekolah aja. Soalnya Arin-"
Kalimat selanjutnya tak bisa Mala dengar, karena Arinta malah semakin menjadi-jadi tangisnya.
"Oh, emang ya ayah kamu itu. Masa anak gadis mama mau berenti sekolah. Mama mau ngomong sama ayah kamu sekarang, awas aja nih ya," ucap Mala sedikit dibuat-buat agar terlihat sedang marah.