NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21•Hubungan Yang Salah

Jam di dinding menunjukkan 00.47. Naya belum tidur. Ia duduk di depan meja rias, punggung tegak, wajah kosong. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri. Sejak pulang dari butik sore tadi, amarahnya ditumpuk rapi di dada. Ia menunggu.

Gagang pintu berputar, memecah sunyi.

Arkan masuk. Bajunya kusut, dua kancing teratas terbuka. Rambutnya acak-acakan, seperti baru bangun lalu buru-buru pulang. Tidak ada bau alkohol. Hanya bau parfum orang lain yang samar.

Naya tidak beranjak. Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Dari rumah mantan kamu ya?” Suaranya rendah, tapi setiap kata tajam. “Berangkat sebelum matahari terbit, pulang pas tengah malam.”

Arkan berhenti di ambang pintu. Alisnya naik. “Nay—”

“Kenapa? Aku benar kan?” Naya memotong. Ia berdiri perlahan. “Aku lihat kamu, Mas. Aku lihat kamu gendong Dewi, masuk mobil kamu, dari apartemennya. Jangan bilang itu bukan dia.”

Arkan menghela napas, seperti orang yang sudah lelah menjelaskan. “Dia itu junior di kantor. Dia kepleset di apartemen. Gak ada siapa-siapa di kota ini yang dia kenal selain aku. Kamu jangan asal nuduh.”

“Junior?” Naya tertawa pendek, suaranya retak. “Junior yang kamu gendong kayak barang pecah belah? Junior yang bikin kamu pergi dari subuh dan baru pulang tengah malam?”

“Aku nolong orang, Nay. Apa salahnya?” Arkan menaikkan suara. “Kamu mau aku diemin aja dia kesakitan?”

“Aku mau kamu jujur!” Naya membalas. Suaranya bergetar. Ia menghadap Arkan kali ini. “Selama ini kamu bilang pulang telat karena kerjaan. Ternyata kamu di tempat dia kan? Dan ini struk dari kafe sebelum kamu pergi ke luar kota. Bir dingin dua gelas. Katanya rapat?” Naya tertawa pelan, hambar. Tangannya gemetar saat mengambil struk dari laci dan melemparkannya ke arah Arkan.

Arkan melangkah mendekat. “Iya memang rapat. Bahas urusan kantor. Jadi jangan pikir aneh-aneh deh, Nay.”

“Itu cukup jadi bukti buat ngerasain dikhianati,” bentak Naya. Bahunya naik turun. “Kamu kira aku buta? Kamu kira aku gak tau gimana kamu ngeliat dia beda dari ngeliat aku?”

Arkan diam. Matanya menyipit. “Kamu capek, Nay. Udah tidur. Besok kita bicara kalau kamu udah waras.”

Naya menatapnya lama. Untuk pertama kali dalam lima tahun, ia melihat Arkan bukan sebagai suami. Tapi sebagai orang asing yang pandai berbohong.

“Kamu bilang aku gak waras?” Naya maju selangkah. “Aku yang waras, Mas. Kamu yang gak pernah ngejalanin kewajiban kamu sebagai suami. Kamu cuma ada kalau butuh tempat pulang. Sisanya, kamu kasih ke dia.”

Wajah Arkan menegang. “Jaga mulut kamu.”

“Kenapa? Kebenaran bikin kamu marah?” Naya tidak mundur. “Setiap malam kamu pulang bau parfum lain. Ternyata kamu milih dia.”

Plak.

Suara itu memotong udara. Kepala Naya miring ke samping. Pipi kirinya panas, telinganya berdenging. Ia memegangi wajahnya sendiri, tidak percaya.

Arkan berdiri kaku, napasnya berat. “Aku bilang jaga mulut kamu.”

Naya tidak menjawab. Ia berbalik, berjalan cepat ke lemari, menarik pintu, dan mulai menarik baju satu-satu, memasukkannya ke koper. Tangannya gemetar.

“Kamu mau pergi?” Arkan mendekat. “Gak semudah itu, Nay. Kamu istri aku. Istri harus patuh.”

“Aku bukan barang,” jawab Naya tanpa menoleh. Ia terus memasukkan baju.

Tangan Arkan menarik lengan Naya, memutar tubuhnya. “Aku bilang berhenti.”

Naya menatapnya. “Lepasin.”

Dorongan itu datang cepat. Naya terhuyung ke belakang. Punggungnya menghantam sisi ranjang. Koper terlepas dari tangannya, isinya berhamburan.

Untuk sepersekian detik, dunia Naya senyap. Lalu rasa sakit dan takut mengalahkan semuanya.

Ia tidak menunggu lagi. Ia merangkak bangun, menerobos lewat Arkan, berlari keluar kamar. Tangga di depannya dituruni tanpa menoleh.

Ia berbelok, menuju kamar Bara di lantai bawah, mengetuk pintu itu cepat.

Pintu terbuka. Naya muncul, wajahnya pucat, matanya basah, napasnya terengah. Ia tidak perlu bilang apa-apa.

Bara langsung maju. “Nay—”

Naya jatuh ke pelukannya, dan akhirnya pecah. Tangis yang ia tahan sejak sore, sejak butik, sejak lima tahun lalu, keluar semua.

Bara menutup pintu kamarnya. Naya masih di pelukannya, tubuhnya gemetar, tangisnya belum reda. Bau darah samar dari bibirnya yang tergigit tadi bercampur sama air mata.

“Nay, dengerin aku—”

Naya mendongak. Matanya merah, tapi ada api di dalamnya. “Aku capek, Bar.”

“Aku tau—”

“Tiga bulan,” potong Naya. Suaranya pecah. “Tiga bulan dia gak nyentuh aku. Dia pulang cuma buat tidur, terus pergi lagi ke Dewi. Aku istri, Bar. Tapi aku ngerasa kayak hantu di rumah ini.”

Bara diam. Tangannya masih di punggung Naya.

Naya tertawa pendek, pahit. “Terus kamu datang. Kamu yang liat aku berantakan. Kamu yang nanya aku udah makan apa belum. Kamu yang gak pernah pergi.”

Sebelum Bara bisa jawab, Naya meraih kerah kemeja Bara. Menariknya turun.

Ciuman itu datang kasar, putus asa, bukan lembut. Naya mencium Bara seolah mau membuang semua sakit yang ia tahan tiga bulan belakangan. Tangannya meremas bahu Bara, kukunya nyaris menembus kain.

Bara membeku sepersekian detik.

Ini salah. Dia habis ditampar. Dia bukan dirinya sendiri.

Tapi batas yang selama ini ia jaga runtuh malam ini juga. Tangannya naik, menggenggam pinggang Naya, membalas ciuman itu. Bukan karena nafsu. Tapi karena ia sudah tidak sanggup lagi berpura-pura tidak mau.

Naya menangis di sela ciuman itu. Bukan karena bahagia. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada yang menyentuhnya tanpa membuatnya merasa kosong.

Bara memeluknya lebih erat, seolah kalau ia lepas, Naya akan hancur lagi.

Ciuman itu tidak berhenti. Naya menarik Bara semakin dekat, seolah kalau ia menjauh, dunia akan runtuh lagi. Tangannya meraba kancing kemeja Bara, terburu, tidak rapi.

Bara sempat menahan pergelangan tangan Naya. “Nay—”

“Jangan berhenti,” bisik Naya di antara napas yang patah. “Aku butuh merasa hidup, Bar. Sekali aja.”

Ada jeda panjang. Tatapan Bara jatuh ke bibir Naya yang masih bergetar, ke mata Naya yang basah tapi menuntut. Batas terakhir yang ia punya lepas.

Ia mengangkat tubuh Naya, membawa ke ranjang. Selimut kusut, lampu meja masih menyala, menciptakan bayangan yang bergerak di dinding saat mereka jatuh bersama.

Pintu kamar tertutup rapat. Suara di luar hilang. Yang tersisa hanya napas yang saling mengejar, dan diam yang lebih berisik dari kata-kata.

Lalu ketukan keras menghantam pintu kamar Bara. Bertubi-tubi. Nyaring.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!