Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Guan Yu ke istana
Keesokan paginya.
Aroma teh osmanthus menguar ke sekitar ruang kamar pagi ini, membuat Guan Yu terbangun dari tidurnya. Jika sebelumnya ia terbangun karena teriakan seorang gadis, namun kali ini ia terbangun dan menemukan hal yang membuatnya terpukau.
Dimana ia melihat Qiuye berpakaian rapi sehabis mandi, sedang duduk menunggunya terbangun, seakan sudah siap sedia untuk melayaninya kapan pun.
"Selamat pagi Tuan," sapa hormatku seperti biasanya.
"Pagi," balas Guan Yu.
Aku segera membawakan teh osmanthus yang baru saja aku seduh untuk dinikmati oleh tuanku, kemudian membawakannya pakaian ganti karena ku dengar hari ini ia akan pergi ke istana.
Guan Yu mengambil pakaian gantinya dan menatapku. "Hari ini aku akan pergi ke istana dan akan pulang malam nanti, jadi kau bisa beristirahat hari ini. Dan apabila kau merasa bosan, kau boleh berkeliling dikediaman ini atau melakukan apapun yang ingin kau kerjakan."
"Baik Tuan," patuhku.
Setelah percakapan itu, aku membantunya berkemas. Mulai dari membantunya berpakaian, hingga membantunya mengingatkan agar tidak ada barang yang tertinggal saat hendak pergi ke istana.
Guan Yu lalu menaiki kudanya, begitu pula dengan Xin penjaga sekaligus pelayan setianya yang turut menemani.
Dan sebelum mereka pergi, Xin tersenyum padaku dan tidak lupa memberikanku lambaian tangannya. "Kami pergi dulu, sampai ketemu lagi nanti malam."
Hal tersebut membuat Guan Yu merasa kesal karena Xin tiba-tiba saja berubah genit, dan maka dari itulah alasannya mengapa Guan Yu tidak pernah mempekerjakan pelayan wanita di kediamannya.
Karena ia ingin semua pelayan dikediamannya selalu fokus mengerjakan pekerjaan, dan tidak ada drama-drama percintaan yang menurutnya menjijikkan dan tidak berguna.
"Ayo kita pergi Xin!" tegur Guan Yu agar berhenti menatapi Qiuye.
"Baik Tuan," patuh Xin dan merasa senang karena dikediaman tuannya kini ada seorang gadis cantik yang membuatnya semangat untuk kembali dari pekerjaan lelah dan tidak lagi merasa bosan karena selalu melihat peti es berwajah kaku berjalan bersamanya setiap hari.
...----------------...
Istana.
Setelah berhari-hari memikirkan bagaimana cara agar bisa mendapatkan Guan Yu seutuhnya, Putri Xu akhirnya mendapatkan sebuah ide yang cukup berani.
Yaitu membujuk ayahnya agar memberikan sebuah titah pernikahan untuk dirinya dengan sang pria idaman.
Gadis itu berjalan cepat menuju ruang kerja sang kaisar dengan keyakinan penuh, lalu masuk tanpa ijin terlebih dahulu.
"Ayahanda!" ucapnya sedikit keras.
Namun betapa terkejut dirinya saat menemukan bila sang pria yang ia sukai ternyata sedang berada didalam istana. Dan pria itu sedang duduk bersama dengan sang ayahanda kaisar Song.
"Ada apa Xu Er? Kenapa masuk tanpa meminta ijin terlebih dahulu? Apa ini yang diajarkan oleh istana padamu!" sentak Kaisar Song marah karena tidak merasa enak pada Guan Yu.
Putri Xu segera bersujud pada ayahnya dan meminta maaf. "Maaf Ayahanda, putri memang bertingkah ceroboh."
Kaisar menghembus nafasnya panjang, setelah mengingat ada Guan Yu di ruang kerjanya ia menurunkan emosinya.
"Maafkan Xu Er, dia memang masih bertingkah manja dan kekanak-kanakkan."
"Tidak apa Yang Mulia, hamba mengerti."
Kaisar Song kemudian meminta Putri Xu agar bangun dan menanyakan keperluannya. "Katakan, Xu Er. Ada keperluan apa sampai kau datang menemui ayah?"
"Tidak Yang Mulia, hamba rasa keperluan hamba kali ini tidak terlalu penting. Mungkin lain kali saja hamba menyampaikannya pada ayahanda," jawab Putri Xu enggan. Karena ia merasa malu jika mengutarakan keinginannya yang ingin meminta titah pernikahan di depan Guan Yu sendiri.
Kaisar menghela nafasnya panjang dan menggeleng karena tingkah Putri Xu yang menunda urusannya, namun ia segera mengabaikan putrinya itu karena ada urusan penting yang harus ia sampaikan kepada Guan Yu.
"Guan Yu, maaf membuatmu menunggu. Karena tingkah Xu Er urusan kita jadi tertunda."
"Tidak mengapa Yang Mulia, katakan saja kenapa anda memanggil hamba ke istana?"
"Guan Yu ... Apa kau sudah mendengar berita tentang kasus penyerangan terhadap rombongan putri perdana menteri Huang saat ingin pulang ke kediamannya beberapa waktu yang lalu?"
"Hamba sudah mendengar kabar tersebut Yang Mulia, dan hamba turut prihatin untuk putri perdana menteri Huang atas apa yang menimpanya waktu itu," balas Guan Yu.
Mendengar mereka membahas putri perdana menteri, Putri Xu yang masih berdiri didalam ruangan itu pun merasa tidak senang.
"Saat ini putri perdana menteri Huang masih berada di istana dan ia masih terguncang dengan peristiwa yang menimpa rombongannya waktu itu. Dan alasan ku memanggilmu kali ini adalah untuk ikut membantu nona perdana menteri mencari tabib pribadinya," ucap Kaisar Song.
"Mencari tabib pribadinya?" tanya Guan Yu berpura-pura tidak tahu.
"Ya, putri perdana menteri mengatakan jika tabib pribadinya itu menghilang dibawa oleh seorang pria tidak dikenal saat terluka parah. Dan atas permintaan putrinya, tuan perdana menteri memintamu untuk membantu mencari keberadaan tabib itu. Karena hingga saat ini prajurit istana masih belum berhasil menemukan keberadaannya dan pihak istana juga belum menemukan titik terang mengenai siapa yang harus bertanggung jawab atas kasus yang menimpanya kala itu," ucap Kaisar Song.
"Untuk itulah, aku ingin kau menemukan tabib pribadi putri perdana menteri. Baik itu dalam keadaan hidup atau meninggal sekalipun," titahnya kemudian.
"Ayah," ucap Putri Xu menyela perbincangan mereka.
"Xu Er ... Kau masih disini?" tanya Kaisar Song baru menyadari Putri Xu masih berada di ruangannya
"Ayah, maaf karena hamba telah lancang memotong pembicaraan ayahanda dengan kak Guan Yu. Tapi menurut hamba, nona perdana menteri Huang itu terlalu egois. Karena permintaannya yang menuntut ingin menemukan tabib pribadinya, ia sampai merepotkan seluruh pihak istana sampai ayahanda sendiri pun turun tangan membantu. Bahkan ayahanda sampai memanggil kak Guan Yu jauh-jauh datang kesini hanya untuk menuruti keinginannya."
"Tuan perdana menteri telah mengabdikan dirinya di istana ini selama puluhan tahun, ia juga sempat menjaga keamanan istana ini dari kejahatan. Saat ia membutuhkan pertolongan, pihak istana sudah sewajibnya membantu. Apalagi lokasi penyerangan tidak jauh dari wilayah kerajaan ini, maka dari itu kejadian yang menimpa putri perdana menteri masih menjadi tanggung jawab istana."
"Tapi Yang Mulia, urusan istana jauh lebih penting dari urusan apapun. Apalagi permintaan nona Huang tergolong urusan pribadi, yaitu mencari keberadaan seorang tabib biasa yang menurut hamba sama sekali tidak penting. Sudah begitu, kita tidak tahu siapa pria tidak bermoral yang membawanya pergi waktu itu. Entah mereka sudah saling kenal atau belum dan kita juga tidak tahu apa yang sudah pria itu lakukan pada tabib pribadinya nona Huang atau mungkin mereka adalah sepasang kekasih sehingga bersembunyi agar tidak ketahuan. Atau ..."
"Atau apa?" ucap Guan Yu menyela cepat dengan tatapan tajamnya.
"Ya atau mungkin bisa juga tabib itu sudah dijual menjadi budak seseorang atau menjadi seorang pela-cur di rumah bordir."
Guan Yu semakin menajamkan tatapannya ketika Putri Xu berbicara seenaknya mengenai Qiuye tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya.
Namun ia harus tetap tenang menerima tudingan seperti itu mengenai Qiuye maupun pria tidak bermoral yang sudah membawanya pergi, yaitu dirinya sendiri.
...Bersambung....