Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
Abimana menggandeng tangan Arla menuju ruang makan. Ia mempersilakan Arla duduk lebih dulu, lalu duduk tepat di sebelahnya. Namun, ia tidak bisa benar-benar tenang, karena hampir semua orang menatapnya dengan tatapan penuh tuduhan.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Abimana akhirnya.
“Dasar cucu durhaka! Berani-beraninya kamu melakukan hal yang tidak senonoh di rumah ini sebelum menikah!”
Suara itu penuh kemarahan dan kekecewaan. Abimana refleks sedikit menciut. Ia lalu menoleh ke arah Arla dan tanpa sadar mendekatkan dirinya, seolah mencari perlindungan di samping gadis itu.
Sikapnya yang tampak seperti seorang laki-laki yang bersembunyi di balik seorang gadis muda justru membuat suasana terlihat semakin canggung. Neneknya bahkan hampir bangkit untuk menegur lebih keras. Namun, ketika pandangannya jatuh pada wajah Arla yang polos, langkah itu terhenti.
Arla yang baru berusia 18 tahun itu memiliki wajah sedikit bulat dengan pipi yang berisi. Matanya tampak jernih dan sedikit berbinar, kulitnya putih pucat, membuat keseluruhan penampilannya terlihat lembut dan manis—seperti kelinci kecil yang tenang.
Amarah Wanda perlahan mereda, tergantikan oleh napas panjang yang ditahan. Ia akhirnya menurunkan nada suaranya ketika kembali berbicara.
“Kalian sudah tidur dalam satu kamar, jadi Abimana harus bertanggung jawab dan menikahi Arla. Walaupun zaman sekarang pergaulan dianggap lebih bebas, di keluarga ini hal seperti itu tetap tabu. Jadi aku harap kalian segera mempersiapkan pernikahan. Surat nikahnya dulu tidak apa, resepsi bisa menyusul.”
“Kalau begitu, hari ini saja,” potong Abimana cepat.
“KAU!”
Wanda hampir tersedak oleh jawabannya.
Sebenarnya Abimana tidak bermaksud menggoda. Ia hanya melihat ini sebagai kesempatan untuk mempercepat proses tanpa interogasi panjang. Lebih dari itu, ia juga ingin segera keluar dari tekanan keluarga besar dan hidup lebih bebas.
“Aku akan mengurus surat nikah siang ini. Setelah itu aku akan membawa Arla tinggal di apartemen.”
Semua orang langsung terkejut.
“Kamu punya apartemen?” tanya salah satu pamannya.
“Sudah lama. Itu apartemen yang memang aku siapkan sebagai hadiah pernikahan untuk istriku.”
Apartemen itu awalnya memang dipersiapkan untuk dirinya dan mantan pacarnya. Namun karena hubungan itu berakhir karena pengkhianatan, kini tempat itu secara tidak langsung beralih menjadi milik Arla.
Setelah percakapan itu, Abimana membawa Arla untuk mengurus pernikahan mereka.
Rumah lelang tempat Arla berasal ternyata cukup profesional dan memiliki sistem legal yang rapi. Selain menjual ‘gadis-gadis’, mereka juga menyiapkan dokumen dan identitas baru bagi para korban yang mereka kelola, sehingga secara administratif semuanya tampak sah. Hal itu membuat proses pernikahan menjadi jauh lebih mudah bagi Abimana.
Dalam perjalanan pulang, Arla memandangi buku pernikahan yang kini berada di tangannya. Di sana tertulis namanya dengan status baru: menikah.
Ia kemudian melirik Abimana yang tetap terlihat tenang seperti biasa.
Karena sejak tadi diam dan memperhatikan, Abimana akhirnya membuka suara.
“Tanyakan saja kalau kamu penasaran."
“Aku boleh bertanya?”
“Tentu.”
Arla terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata,
“Keluargamu sangat baik. Nenekmu perhatian, para bibi dan paman juga ramah. Sepupumu juga menyenangkan.”
“Lalu?”
“Maksudku… kalau keluarga sebaik itu, kenapa kamu seperti menghindari mereka?”
Suasana di dalam mobil langsung berubah.
Abimana hampir saja menginjak rem mendadak karena terkejut. Ia tidak menyangka Arla bisa langsung menangkap inti masalah keluarga itu dalam waktu sesingkat ini.
Ia menoleh sebentar ke arah Arla, campuran antara canggung dan tidak percaya.
“Kamu cukup tahu sampai di sini saja tentang keluargaku. Jangan terlalu banyak bertanya, dan jangan mencoba mencari tahu lebih jauh. Itu lebih baik untuk kesehatan mentalmu.”
Sejak itu, suasana menjadi sedikit kaku. Arla pun memilih tidak bertanya lagi, mengingat posisinya sebagai ‘istri yang dibeli’ membuatnya merasa tidak berhak terlalu jauh masuk ke urusan pribadi Abimana.
Apartemen Abimana tidak terlalu jauh dari tempat ia bekerja. Sebagai dokter, ia sering pulang larut malam, sehingga apartemen itu lebih sering ia gunakan sebagai tempat beristirahat sementara. Awalnya, tempat itu memang dipersiapkan sebagai ‘hadiah pernikahan’ untuk calon istrinya.
“Kode apartemen ini 572541. Itu tanggal lahirku dan tanggal lahir sekaligus tanggal jadian dengan mantan pacarku.”
Ia melirik sekilas ke arah Arla.
“Tapi sekarang kamu istriku, jadi aku akan menggantinya. Hanya saja tidak sekarang, perlu kartu akses untuk mengubahnya.”
“Tidak perlu diganti kalau itu merepotkan,” jawab Arla pelan.
“Tidak. Harus diganti. Aku tidak mau ada jejak masa lalu di sini. Sekarang kamu istriku, walaupun hanya di atas kertas, tetap saja istri adalah istri. Apartemen ini seharusnya menjadi milikmu.”
Melihat Arla yang kembali diam, Abimana merasa sedikit canggung.
“Kamu tidak ingin bertanya tentang aku dan mantan pacarku?”
“Tidak,” jawab Arla datar. “Semakin sedikit aku tahu tentang hidupmu, semakin baik untuk kesehatan mentalku.”
Abimana terdiam, lalu tiba-tiba tertawa kecil.
“Sepertinya rumah lelang itu rugi besar. Mereka seharusnya menjualmu dengan yang lebih mahal. Kamu tidak hanya cantik, tapi juga pintar.”
Arla memutar matanya pelan.
“Aku tidak tahu itu pujian atau hinaan.”
“Hei, jangan tersinggung. Aku menyuruhmu tidak perlu tahu soal keluargaku karena memang itu tidak perlu. Tidak ada maksud lain. Kamu bisa bertanya apa saja tentang hidupku selain itu.”
“Tidak,” jawab Arla santai. “Aku sudah cukup sakit hati.”
Abimana menghela napas kecil lalu tersenyum.
“Baiklah, sebagai suami aku mengalah.”
Keduanya akhirnya tertawa kecil bersama.
Di antara kekacauan keluarga, luka masa lalu, dan hubungan yang tidak biasa, pernikahan ini—anehnya—justru terasa seperti tempat pelarian yang sama-sama mereka butuhkan.