"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 20
Suasana malam di toko terasa hangat. Hubungan Layla dan Bennedict semakin dekat. Persahabatan mereka perlahan
berubah menjadi perasaan yang lebih dalam, meski keduanya masih sama-sama menyembunyikannya.
Layla yang masih dibayangi trauma masa lalu memilih memendam perasaannya.
Sementara Bennedict ingin melindungi dan membebaskannya dari Zhao Lee, tetapi ia sadar Layla belum siap membuka hati.
Ia tak ingin memaksakan kehendaknya, karena baginya cinta tidak boleh lahir dari paksaan.
"Ah, aku hampir lupa."
Bennedict mengeluarkan sebuah minuman kaleng dari kantong plastik.
"Tadi ada pelanggan yang memberikannya. Katanya sebagai ucapan terima kasih," ucap Bennedict.
Mata Layla langsung berbinar.
"Wah... bukannya ini produk yang baru rilis? Susah banget nyarinya."
Bennedict tersenyum.
"Iya, ya?"
"Berarti aku lagi beruntung," kata Layla.
Layla tersenyum.
"Mau berbagi enggak?" goda Layla.
Bennedict menggeleng sambil menunjukkan label pada kaleng itu.
"Enggak bisa. Ini mengandung alkohol. Aku takut kamu malah sakit lagi."
Seketika menjadi canggung..
"Oh iya juga..."
Layla langsung teringat kejadian saat tak sengaja meminum minuman beralkohol di rumah Riri.
Bennedict tersenyum..
"Demi menghargai pemberinya, aku habiskan saja."
Bennedict membuka kaleng itu lalu meneguk isinya hingga tandas.
Layla hanya bisa menatap iri.
"Aku juga pengin coba..." ucapnya dalam hati..
Namun beberapa saat kemudian, ekspresi Bennedict berubah.
Ia memegang kepalanya.
"Ben?" ucap Layla panik.
Napas Bennedict mulai memburu. Pandangannya menjadi kosong seolah sulit mengenali keadaan di sekelilingnya.
"Layla..."
Suara Bennedict terdengar lirih dan tidak jelas.
Layla langsung menghampirinya.
ia mengeryitkan dahi.
Bertanya panik.
"Ben, kamu enggak apa-apa?"
Ia menyentuh dahi Bennedict.
Tubuh pria itu terasa sangat panas.
"Aku panggil ambulans!" ucap Layla.
Layla buru-buru mengambil ponselnya.
Namun Bennedict tiba-tiba meraih lengannya.
Tatapannya tampak asing.
Seolah orang yang berdiri di hadapan Layla bukan lagi Bennedict yang dikenalnya.
Ben menggeram seperti bukan manusia.
"Ben... sadar! Ini aku!" ucap Layla.
Tak ada jawaban.
Bennedict kehilangan kendali.
Ia meraung, merobek kaosnya hingga hancur.
Ia bergerak tidak terarah, menjatuhkan rak-rak di sekitarnya. Barang-barang berhamburan memenuhi lantai toko.
Layla mundur beberapa langkah.
"Ben! Tolong sadar!"
Bukannya berhenti, Bennedict justru semakin sulit dikendalikan.
Dalam kepanikannya, Bennedict menerjang Layla.
Layla berusaha melepaskan diri, tetapi bahunya tetap terluka saat Bennedict menggigitnya tanpa sadar.
Kemudian Layla mencoba menjauh, tetapi ruangan yang sempit membuatnya tak memiliki banyak ruang untuk menghindar.
"Tolong! Ada orang! Tolong!"
Suara Layla menggema memecah kesunyian malam.
Di seberang jalan, sebuah mobil hitam yang sejak tadi terparkir perlahan membuka pintunya.
Zhao Lee turun.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Akhirnya."
Ia berjalan cepat menuju toko, diikuti empat pengawal.
Begitu memasuki ruangan, Zhao Lee berpura-pura terkejut melihat kondisi yang kacau.
"Layla!" ucap Zhao Lee.
Tubuh Layla gemetar di sudut ruangan. Beberapa luka akibat benturan tampak di lengan dan bahunya.
Tanpa membuang waktu, Zhao Lee bersama para pengawalnya berusaha melumpuhkan Bennedict yang masih kehilangan kendali.
Perlawanan Bennedict berlangsung sengit hingga akhirnya mereka berhasil mengamankannya.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya terdengar isak tangis Layla.
Zhao Lee mendekatinya perlahan.
"Layla..." ucapnya lembut.
Mendengar suara itu, Layla justru menjerit ketakutan.
"Jangan...!"
"Sayang... ini aku."
Nada suara Zhao Lee berubah begitu lembut.
"Kamu sudah aman."
Layla membuka matanya perlahan.
Entah karena syok atau ketakutan, ia spontan memeluk Zhao Lee erat-erat.
Senyum tipis kembali muncul di wajah pria itu.
Ia membalas pelukan Layla dengan lembut sambil mengusap punggungnya.
"Sudah selesai," ucapnya.
Layla menangis semakin keras.
Seluruh tubuhnya gemetar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seseorang melindunginya.
Zhao Lee memang bukan penyebab dari semua itu. Malam itu berubah menjadi mimpi buruk. Namun, ia tahu bagaimana memanfaatkan setiap keadaan agar Layla semakin bergantung padanya.
"Kita ke rumah sakit." ucap Zhao Lee.
Layla hanya mampu mengangguk pelan.
Zhao Lee menggendong Layla menuju mobil.
Di balik wajahnya yang penuh kepedulian, tersimpan kepuasan yang tak terlihat oleh siapa pun.
"Lihatlah, Layla..." batinnya.
"Pada akhirnya, orang yang paling kau percaya pun hilang darimu."
"Sekarang... kau hanya punya aku."
Tak seorang pun di ruangan itu menyadari bahwa minuman yang diminum Bennedict telah dicampuri sesuatu.
*************
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️
menyebalkan, memaksakan kehendak mentang dia kaya.