"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Garis yang Bergetar
Malam kian melarut di lantai perawatan VVIP, menyisakan sunyi yang bergaung bersama ketukan rintik hujan di balik kaca jendela besar. Di atas ranjangnya, Aruna duduk meringkuk dengan kedua lutut yang ditarik rapat ke dada. Selimut wol gelap yang membungkus tubuhnya tidak mampu menghalau rasa dingin yang mendadak menguar dari dalam lubang batinnya sendiri.
Dua jam sejak kepulangan Hendra Dirgantara dan ayahnya, ingatan Aruna justru menolak untuk beristirahat. Bayangan wajah murka Deon Prawijaya, senyum manipulatif Vano, hingga draf dokumen klausul ketidakcakapan mental yang hampir saja merenggut seluruh hak hidupnya terus berkelebat di dalam benaknya. Aruna mencengkeram kepalanya sendiri dengan jemari yang bergetar hebat. Rasa pening yang luar biasa kembali menghantam pelipisnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk paksa saraf kesadarannya.
"Kenapa... kenapa semuanya harus seperti ini?" bisik Aruna parau, suaranya tercekat di tenggorokan.
Napasnya mendadak memburu pendek-pendek. Paru-parunya kembali terasa menyempit, menolak pasokan oksigen dari udara malam yang mendadak terasa begitu beracun. Aruna mencoba meraih botol obat di atas nakas, namun tangannya yang gemetar justru menyenggol gelas kaca hingga jatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer.
Prang!
Suara pecahan itu memecah keheningan koridor luar secara instan.
Di saat yang sama, Baskara sebenarnya belum benar-benar meninggalkan area rumah sakit. Pria itu baru saja menyelesaikan draf laporan bursa efek bersama Rian di selasar luar ketika bunyi pecahan kaca itu tertangkap oleh indra pendengarannya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Baskara mendorong pintu kamar perawatan Aruna dengan sentakan lebar.
Langkah kaki Baskara mendadak terkunci di ambang pintu saat melihat pemandangan di dalam ruangan.
Aruna sedang terduduk di tepi ranjang, mencengkeram dadanya yang naik turun tak beraturan di antara pecahan kaca yang berserakan. Paras gadis itu teramat pias, sewarna dengan kain seprai, dengan pelipis yang dibasahi keringat dingin. Sepasang netra beningnya menatap kosong ke arah lantai, memancarkan keputusasaan dan tekanan mental yang begitu pekat hingga membuat siapa pun yang melihatnya akan ikut merasakan sesak yang sama. Aruna tampak begitu rapuh, begitu tertekan oleh beban dunia yang dipaksakan masuk ke dalam draf hidupnya.
Ulu hati Baskara seketika mencengkeram nyeri yang luar biasa sebuah rasa sakit riil yang belum pernah ia alami di dalam hidupnya yang serbateratur. Pria yang selama ini mengagungkan logika kaku, pria yang dulu dengan kejam dan dingin menguliti draf akademis Aruna di London tanpa memedulikan air mata, kini mendadak merasa dunianya runtuh hanya dengan melihat satu retakan di wajah gadis itu.
Baskara melangkah cepat, mengabaikan serpihan kaca tajam yang bisa saja merusak sepatu kulit mewahnya. Ia berlutut di depan Aruna, kedua tangan kokohnya bergerak konstan, menangkup lembut jemari Aruna yang mendingin dan bergetar hebat di atas pangkuannya.
"Aruna, tatap aku. Tarik napasmu perlahan," ujar Baskara, suara baritonnya yang biasa terdengar penuh otoritas dingin kini bergetar samar, sarat akan kecemasan yang mendalam.
Namun, Aruna menggelengkan kepalanya dengan gerakan liar, mencoba menarik tangannya dari genggaman Baskara. "Lepaskan... jangan sentuh aku, Pak Baskara! Pergilah... aku tidak butuh kasihanmu!" seru Aruna di antara napasnya yang tersengal.
Baskara tidak mundur. Ia justru mengeratkan genggamannya, menyalurkan kehangatan tubuhnya yang kontras dengan dinginnya kulit Aruna. Pada detik itulah, di dalam keheningan yang mencekam, isi kepala Baskara mendadak berubah menjadi medan laga batin yang teramat riuh. Pria itu sedang bergulat hebat dengan pikirannya sendiri.
Selama ini, Baskara mengira motifnya mendekati Aruna pasca kepulangannya ke Jakarta murni didasarkan pada rasa bersalah yang pekat atas draf masa lalu di London. Ia mengira rasa protektifnya di koridor barat kemarin hanyalah bentuk tanggung jawab moral dari seorang pria yang tidak ingin melihat korbannya hancur untuk kedua kalinya. Namun malam ini, melihat Aruna yang tertekan hingga ke titik nadir, Baskara menyadari ada sebuah anomali emosional yang jauh lebih besar yang sedang membakar dadanya.
Ada rasa egois yang mendadak muncul keinginan mutlak untuk merengkuh tubuh ringkih itu, menyembunyikannya dari kejamnya dunia, dan memastikan bahwa dialah satu-satunya pria yang berhak memulihkan senyuman di wajah Aruna. Baskara mulai bingung dan terenyak oleh perasaannya sendiri. Apakah ini masih sekadar rasa bersalah? Ataukah es di dalam hatinya telanjur mencair dan berubah menjadi rasa kepemilikan yang mendalam?
Baskara menatap dahi Aruna, ada dorongan kuat di dalam naluri maskulinnya untuk menarik gadis itu ke dalam dekapannya, menenangkan badai di dalam dada Aruna dengan dekap hangatnya. Namun, tepat sebelum ia melangkah lebih jauh, Baskara menahan gerakannya sendiri. Ia menarik napas panjang, meredam gejolak impulsif yang kian menderu di ulu hatinya.
Tidak. Ia tidak boleh terburu-buru.
Baskara tahu betul siapa Aruna Prawijaya. Gadis di hadapannya ini memiliki harga diri setinggi langit yang telanjur dilapisi oleh dinding trauma tebal akibat tangannya sendiri. Jika ia bergerak terlalu agresif sekarang, jika ia menyatakan perasaannya yang belum selaras ini secara terburu-buru, Aruna pasti akan langsung menarik draf benteng pertahanannya kembali. Aruna akan mendeteksi ketulusannya sebagai bentuk manipulasi atau belas kasihan baru, dan itu akan menjauhkan mereka untuk selamanya.
Baskara perlahan melonggarkan cengkeramannya, namun tetap membiarkan ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Aruna yang mulai berhenti bergetar seiring pasokan oksigen dari tabung cadangan yang ia nyalakan kembali.
"Aku tidak sedang mengasihanimu, Aruna. Aku sedang berada di sini sebagai mitra bisnismu yang memastikan bahwa aset berhargaku tidak hancur sebelum laga catur kita selesai," ucap Baskara, suaranya kembali mengalun konstan dan dingin di permukaan, sengaja mengembalikan topeng esnya demi menjaga kenyamanan batas yang dibuat oleh Aruna.
Aruna mendongak, menatap sepasang netra elang Baskara yang kini kembali terlihat kaku dan berjarak, meskipun di dasarnya yang terdalam ada riak emosi yang teramat pekat yang tak mampu disembunyikan sepenuhnya. Mendengar alasan korporat itu, Aruna perlahan menarik napas panjang, membiarkan dadanya kembali terisi udara hangat seiring debar jantungnya yang kian stabil.
"Terima kasih, Pak Baskara. Saya akan pastikan draf kemenangan kita selesai tepat waktu," ujar Aruna lirih, matanya kembali dialihkan menatap dinding, menegaskan kembali garis demarkasi tak kasat mata di antara mereka.
Baskara bangkit berdiri, merapikan kemeja hitamnya dengan gerakan yang teratur sebelum melangkah mundur menuju pintu. Di bawah temaram lampu kamar, kedua singa korporasi itu kembali berdiri di sisi garis mereka masing-masing. Pertarungan melawan Deon dan Vano mungkin telah mereka menangkan di atas kertas bursa efek, namun laga emosional di dalam kamar perawatan ini baru saja dimulai sebuah permainan sabar di mana Baskara dipaksa menahan seluruh ambisi hatinya demi menghormati batas trauma yang mati-matian dipertahankan oleh Aruna.