NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Matang

Keesokan harinya.

Joyce sedang berada di sebuah studio untuk merekam video presentasi program internasional tersebut. Salah satu syarat seleksi akhir yang harus dilakukan. Dan ia baru saja selesai take ketiga ketika seseorang masuk ke ruangan. Jantungnya langsung berhenti sesaat melihat siapa yang masuk ke ruangan.

Ardian.

Ruangan mendadak terasa sunyi. Kru yang mengenali Ardian langsung saling pandang. Namun tidak ada yang berani bicara. Mereka tahu siapa yang baru saja masuk, dan memilih untuk tidak terlibat dengannya. Perlahan para crew keluar dari studio. Joyce perlahan meletakkan naskahnya.

"Kamu ngapain di sini?"

Nada suaranya terdengar tenang. Terlalu tenang. Tidak terlihat ada kegugupan sama sekali. Sebaliknya Ardian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Terlihat sedang menahan emosi.

"Kenapa kamu tidak bilang?"

Joyce langsung tahu. Raka pasti memberitahunya. Dia mengenal dan paham cara kerja Raka.

"Karena itu bukan urusanmu."

“Dan tidak ada hak bagi kamu, yang harus tahu apa yang aku lakukan.”

Jawaban itu membuat rahang Ardian mengeras. Kemarahan menghampirinya.

"Bukan urusanku?"

"Memang bukan."

“Apakah kamu tidak sadar, siapa dirimu bagiku?”

Joyce berusaha terdengar tegas. Padahal jantungnya berdebar tidak karuan. Namun itu satu-satunya cara untuk mengusir Ardian dari hidupnya.

"Jadi kamu akan pergi begitu saja?" Tanya Ardian.

"Kalau aku lolos."

"Dan jika tidak lolos pun, aku akan mencari peluang lainnya.”

 "Aku yakin, aku pasti akan mendapatkannya.”

Dengan tegas, Joyce menjawab pertanyaan Ardian dengan tegas. Ada keyakinan pada dirinya.

"Dan kamu bahkan tidak berniat memberitahuku?"

Joyce tertawa kecil. Pahit.

"Lalu aku harus bilang apa?"

“Aku harus bilang jika aku sedang baik-baik saja.”

“Ataukah bilang, aku mau pergi karena ingin.”

"Ingat Ardian.. kamu itu bukan apa-apa untukku."

„Stop Joyce..” Ardian memotong perkataan gadis itu.

“Hempph.. aku tahu apa maumu Ardian. Kamu mau bilang.”

"Tolong jangan pergi karena aku sedang jatuh cinta sama kamu?"

Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia maksudkan. Joyce sendiri kaget, kenapa dia mengucapkan kalimat itu. Dan tiba-tiba keduanya langsung terdiam.

Untuk beberapa detik. Tidak ada yang berbicara. Karena ini pertama kalinya kata itu muncul di antara mereka.

Cinta.

Meski tidak diucapkan secara langsung, hanya sebagai sebuah perumpamaan. Namun maknanya sudah terlalu jelas. Joyce memalingkan wajah. Dia tidak mampu beradu pandang dengan Ardian dalam waktu lama. Matanya mulai memanas.

"Aku capek, Ardian."

Suaranya melemah.

"Aku capek setiap hari bangun dan menemukan masalah baru."

"Aku capek mencari tahu siapa keluargaku."

"Aku capek menghadapi masa lalu yang bahkan bukan salahku."

Air matanya mulai menggenang.

"Aku cuma mau bernapas."

Ardian menatap perempuan di depannya. Dan untuk pertama kalinya... ia benar-benar memahami alasan di balik semua ini. Joyce tidak pergi karena tidak peduli. Joyce pergi karena sudah terlalu lama bertahan.

"Aku nggak akan menahanmu."

Kata Ardian pelan. Joyce mengangkat kepala. Terkejut. Karena ia mengira Ardian akan memintanya tinggal.

"Tapi jawab satu pertanyaan."

Tatapan Ardian begitu dalam.

"Kalau bukan karena semua kekacauan ini..."

Suaranya sedikit bergetar.

"...apakah kamu masih ingin pergi?"

Air mata Joyce akhirnya jatuh. Karena pertanyaan itu menyentuh bagian terdalam yang selama ini ia hindari. Kebenarannya? Tidak. Jika hidupnya tidak sedang berantakan. Jika Maya tidak muncul. Jika keluarga Mahendra bukan bagian dari masa lalunya.

Jika semuanya sederhana. Mungkin ia tidak akan pernah berpikir meninggalkan Jakarta. Meninggalkan pekerjaannya. Dan meninggalkan Ardian. Namun Joyce tidak mampu mengatakannya. Karena jika ia mengakuinya... maka ia harus mengakui hal lain yang jauh lebih menakutkan. Bahwa ia sedang mencintai Ardian. Bahkan perasaannya itu melebihi ketika ia jatuh cinta dengan Arka.

Malam itu mereka berpisah tanpa jawaban. Karena suasana hatinya, dia cukup puas dengan hasil rekaman seadanya. Ketika crew menawarkan untuk melanjutkan rekaman, dengan halus Joyce menolaknya.

************

Ketika Joyce sudah kembali ke apartemennya, sebuah email baru masuk ke inbox. Dengan tidak sabar ia membukanya.

Final Interview Invitation

Hanoi – 09.00 AM

Tiga hari lagi. Langkah terakhir menuju kehidupan baru. Joyce menatap layar cukup lama. Lalu tanpa sadar melihat foto dirinya dan Ardian yang tersimpan di galeri. Foto candid yang diambil Tania saat acara perusahaan beberapa bulan lalu.

Senyumnya perlahan menghilang. Karena untuk pertama kalinya..., ia menyadari bahwa pergi mungkin jauh lebih mudah daripada meninggalkan seseorang yang sudah menjadi rumah.

"Selamat tinggal Ardian..” ucapnya lirih

Ada rasa sakit di ulu hatinya. Namun tekadnya untuk pergi sudah bulat.

**************

Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Pukul 05.40 pagi. Langit Jakarta masih berwarna kelabu ketika Joyce berdiri sendirian di depan jendela keberangkatan internasional. Di tangannya terdapat paspor. Boarding pass. Dan sebuah keputusan yang mengubah seluruh hidupnya. Meski interview masih dilaksanakan dua hari lagi, dia sengaja berangkat lebih awal.

Matanya menatap landasan pacu yang mulai sibuk oleh aktivitas pagi. Entah kenapa, langkah terakhir menuju gerbang keberangkatan terasa lebih berat daripada yang ia bayangkan. Bukan karena ia ragu. Tetapi karena ada seseorang yang terus muncul di pikirannya.

Ardian.

Joyce teringat tadi malam. Sebenarnya tadi malam, Joyce tidak tidur. Ia hanya duduk di lantai apartemennya sambil memandangi koper yang sudah siap. Mungkin semua orang mengira ia akan pergi ke Singapura. Karena sesuai dengan kata pamitnya. Ketika orang-orang sudah terlelap, dia baru berpamitan via chat.

Bahkan Ardian. Bahkan Raka. Mereka tahu jika Joyce memilih Singapura untuk menenangkan diri. Namun bukan negara itu pilihannya. Singapura terlalu sibuk untuknya, terlalu ramai. Dia hanya butuh ketenangan, butuh suasana baru yang bisa menenggelamkan semua masalahnya.

Dan itulah alasannya. Karena jika Ardian tahu tujuan sebenarnya..., lelaki itu pasti akan mencarinya. Singapura terlalu dekat. Terlalu mudah ditemukan. Terlalu mudah dijangkau. Sedangkan Joyce membutuhkan sesuatu yang lain.

Ia membutuhkan jarak. Jarak dari keluarganya. Jarak dari masa lalunya. Jarak dari Ardian. Dan terutama... jarak dari dirinya sendiri.

***************

Sebuah pengumuman terdengar.

"Vietnam Airlines dengan tujuan Hanoi dipersilakan menuju gate keberangkatan."

Joyce memejamkan mata perlahan. Dia berusaha meyakinkan hati dan memantapkan langkahnya. Sesaat dia menghirup nafas panjang.

Hanoi. Vietnam. Bukan Singapura. Bukan program fellowship yang selama ini diketahui semua orang. Dua minggu lalu, diam-diam ia menerima tawaran berbeda. Sebuah kontrak sebagai Event Communication Consultant untuk organisasi internasional yang berkantor di Hanoi.

Kontrak dua tahun. Akomodasi penuh. Dan yang paling penting... tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Selain dirinya. Dia mulai melangkahkan kaki sambil menarik cabin bag. Saat langkahnya memasuki boarding gate, air mata akhirnya jatuh.

Bukan karena takut. Tetapi karena ada satu pesan yang belum pernah ia kirim. Pesan untuk Ardian. Pesan yang sudah ia tulis puluhan kali. Lalu dihapus lagi. Pada akhirnya ia hanya meninggalkan satu email. Pendek. Sangat pendek.

Ardian,

Terima kasih karena pernah menjadi tempat paling aman saat hidupku sedang berantakan.

Jangan mencariku.

— Joyce

Lalu ia mematikan ponselnya. Dan melangkah masuk ke pesawat.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!