Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Malam itu, Jakarta baru saja diguyur hujan sisa sore, menyisakan hawa lembap yang menyesakkan. Dewangga melajukan mobilnya membelah gerbang otomatis rumahnya yang menjulang tinggi. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Biasanya, lampu teras dan lampu taman sudah menyala terang benderang, memberikan kesan hangat pada hunian mewah itu. Kali ini, rumah itu gelap gulita, seperti sebuah monumen raksasa yang ditinggalkan penghuninya.
Dewangga mengernyitkan kening. Ia baru teringat bahwa asisten rumah tangga mereka, Bibik, memang hanya bekerja sampai sore dan sudah pulang sejak jam lima tadi. Namun, biasanya Siham lah yang akan menyalakan seluruh lampu rumah sebelum senja tiba.
Sorot lampu mobilnya menyapu area garasi. Dewangga melihat mobil Siham masih terparkir rapi di tempatnya. Itu artinya, istrinya ada di rumah.
"Kenapa gelap sekali?" gumamnya kesal. Egonya kembali terusik. Ia berpikir Siham sengaja melakukan ini membiarkan rumah gelap hanya untuk membalas sikap cueknya tadi pagi karena tidak dibuatkan sarapan.
Dewangga turun dari mobil, membanting pintunya dengan keras sebagai bentuk pelepasan rasa frustrasi. Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Suara sepatu pantofelnya yang beradu dengan lantai marmer terdengar nyaring di tengah kesunyian yang mencekam. Begitu tangannya menyentuh saklar, satu per satu lampu kristal di ruang tamu dan ruang tengah menyala, menerangi setiap sudut rumah yang dingin.
"Sunyi."
Satu kata itu mendadak terlintas di pikiran Dewangga. Selama lima tahun tinggal di sini, baru kali ini ia benar-benar "merasakan" kesunyian itu. Biasanya, meski ia tidak bicara pada Siham, ia tahu istrinya ada di suatu tempat di dapur, di meja makan, atau sekadar bayangannya yang lewat di koridor. Tapi malam ini, rumah itu terasa kosong, seolah-olah nyawa dari bangunan ini telah dicabut paksa.
"Siham!" panggil Dewangga. Suaranya menggema, memantul di dinding-dinding tinggi yang kaku.
Tidak ada jawaban. Dewangga melangkah menuju tangga melingkar di tengah ruangan. Ia hendak naik ke lantai dua untuk mengonfrontasi istrinya. Namun, baru saja kakinya menginjak anak tangga ketiga, terdengar suara pintu yang terbuka pelan dari atas.
Cklek.
Dewangga mendongak. Di ujung tangga lantai dua, sosok Siham muncul. Wanita itu berdiri mematung di sana, memegang pegangan tangga dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan luruh ke lantai.
Mata mereka bertemu.
Langkah Dewangga terhenti seketika di ujung tangga. Ia ingin sekali membentak, ingin menanyakan kenapa rumah ini dibiarkan gelap seperti rumah tak berpenghuni. Namun, kalimat itu tersangkut di tenggorokannya. Cahaya lampu dari lampu gantung besar tepat di atas mereka menyorot wajah Siham dengan telanjang.
Dewangga tertegun. Di matanya, Siham saat ini tidak terlihat seperti istrinya yang biasa. Wajah wanita itu tidak hanya pucat, tapi seputih kertas hampir transparan hingga pembuluh darah biru di pelipisnya terlihat jelas. Matanya yang biasanya redup kini terlihat sangat cekung, dikelilingi lingkaran hitam yang pekat, menunjukkan bahwa rasa sakit telah memakan habis sisa energinya.
"Kenapa rumah lampunya padam?" Suara Dewangga keluar, namun tidak selantang yang ia bayangkan. Ada nada keraguan yang terselip di sana.
Siham menatap Dewangga dengan pandangan yang kosong, seolah-olah ia butuh beberapa detik hanya untuk mengenali pria yang berdiri di depannya. Ia baru saja bangun dari tidur panjang akibat pengaruh morfin yang ia minum siang tadi. Tubuhnya masih terasa ringan dan jiwanya terasa seperti melayang di antara kenyataan dan mimpi.
"Aku... aku tertidur, Mas," jawab Siham pelan. Suaranya terdengar jauh, seperti bisikan angin yang lewat di sela-sela pintu.
"Tidur sampai lupa menyalakan lampu? Kamu tahu kan Bibik pulang sore? Kamu ini sengaja mau membuat rumah ini seperti kuburan?" Dewangga mencoba mengembalikan nada angkuhnya, berusaha menutupi rasa cemas yang tiba-tiba merayap di ulu hatinya melihat kondisi fisik Siham.
Siham tidak membantah. Ia perlahan menuruni anak tangga satu per satu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Setiap langkahnya terlihat seperti beban berat yang harus ia pikul. Dewangga tetap berdiri di tempatnya, matanya tidak lepas dari gerakan istrinya. Ia memperhatikan bagaimana tangan Siham yang kurus kering itu bergetar saat menyentuh pegangan tangga.
Begitu sampai di lantai bawah, tepat di hadapan Dewangga, aroma obat-obatan yang samar tercium oleh hidung Dewangga, bercampur dengan aroma minyak kayu putih yang tipis.
"Aku akan nyalakan lampu dapur sekarang," kata Siham sembari mencoba berjalan melewati Dewangga.
Namun, saat ia berpapasan dengan Dewangga, kakinya tersandung karpet bulu di bawah tangga. Tubuh Siham terhuyung ke depan. Dengan refleks yang tidak ia sadari, Dewangga menangkap kedua bahu Siham.
Dingin.
Itulah yang pertama kali Dewangga rasakan saat telapak tangannya menyentuh kulit lengan Siham yang tidak tertutup jaket karena ia melepaskannya di kamar. Suhu tubuh Siham sangat rendah, seolah-olah wanita ini tidak lagi memiliki aliran darah yang hangat di tubuhnya. Dewangga bisa merasakan tulang bahu Siham yang sangat tajam menyentuh telapak tangannya; tidak ada lagi daging di sana, hanya tulang yang dibalut kulit tipis.
"Siham... kamu sakit?" tanya Dewangga. Kali ini suaranya benar-benar rendah, hampir seperti bisikan.
Siham dengan cepat menarik diri, menjauh dari sentuhan Dewangga seolah sentuhan itu adalah api yang membakar. Ia memaksakan sebuah senyum tipis senyum yang lebih mirip dengan rintihan.
"Hanya lemas sedikit, Mas. Belum makan dari siang," bohong Siham. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia baru saja pulang dari onkologi dengan dosis morfin di dalam tasnya.
Dewangga menatap istrinya dengan saksama. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Rasa bersalah, ego, dan ketakutan bercampur menjadi satu. Ia ingin bertanya lebih jauh, ingin tahu kenapa istrinya berubah menjadi seperti bayangan maut hanya dalam waktu singkat. Namun, mulutnya tetap bungkam. Ia masih terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ia peduli.
"Kalau lapar, kenapa tidak pesan makanan? Kenapa harus menyiksa diri dengan tidur di rumah gelap-gelapan?" gerutu Dewangga, meski kali ini tanpa nada kasar. Ia berjalan menuju sofa, menghempaskan tubuhnya di sana sembari melonggarkan dasi. "Pesan makan untuk kita berdua. Aku juga belum makan."
Siham terdiam sejenak, menatap punggung suaminya. Pria itu masih sama masih menuntut untuk dilayani bahkan saat ia melihat istrinya sedang meregang nyawa. Siham menghela napas panjang, ia berjalan menuju dapur yang masih gelap dan menyalakan lampunya.
Di dapur, Siham duduk di kursi meja makan, mencoba mengumpulkan tenaga hanya untuk sekadar memesan makanan lewat aplikasi ponselnya. Ia menatap layar ponsel yang menyala terang, matanya terasa perih.
Di ruang tengah, Dewangga memejamkan mata. Ia masih bisa merasakan betapa ringannya tubuh Siham dan betapa tajam tulang bahunya saat ia menangkapnya tadi. Bayangan itu terus berputar di kepalanya. Ia teringat kembali kata-kata Papanya pagi tadi soal bagaimana ia mencekik nyawa istrinya sendiri.
"Hanya lapar," gumam Dewangga, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Dia hanya kurang makan karena sibuk dengan naskah sampahnya itu."
Padahal, jauh di lubuk hatinya, Dewangga tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang terjadi. Ia tahu bahwa kesunyian di rumah ini bukan hanya karena lampu yang padam, tapi karena kehidupan yang perlahan-lahan sedang meredup dari diri Siham. Dan yang paling menakutkan bagi Dewangga adalah kenyataan bahwa dialah yang mematikan lampu itu sejak lima tahun lalu.
Malam itu, di tengah rumah yang kini sudah terang benderang, Dewangga baru menyadari bahwa cahaya lampu tidak mampu mengusir kegelapan yang sudah terlanjur mengakar di antara mereka. Ia duduk di sana, menanti makanan yang dipesan Siham, tanpa tahu bahwa di dapur, Siham sedang meredam batuknya dengan serbet, menahan gumpalan darah agar tidak mengeluarkan suara yang bisa didengar oleh pria di ruang tengah.
Kesunyian itu kembali datang, dan kali ini Dewangga tidak lagi menyukainya.