evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbaur
“Sama-sama, Evelyn.”
Untuk yang kedua kalinya Cristian memanggil namanya tanpa embel-embel "Nona". Entah karena mereka sudah sepakat menjadi teman, atau karena tanpa sadar jarak di antara mereka memang mulai berubah.
“Saya akan keluar. Selamat malam.”
“Selamat malam, Ian,” jawab Evelyn sambil tersenyum kecil.
Cristian mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar bernuansa krem itu.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Lorong lantai dua sudah jauh lebih sepi dibanding sebelumnya. Sebagian besar penghuni rumah belum pulang, sementara para pelayan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Cristian menuruni tangga menuju area belakang rumah. Tujuannya jelas. untuk Makan malam.
Begitu memasuki area dapur, suasana yang hangat dan ramai langsung menyambutnya. Beberapa pelayan sedang membereskan peralatan makan, sementara yang lain duduk santai menikmati waktu istirahat mereka.
Ketika Cristian duduk di meja makan khusus staf, beberapa pelayan wanita langsung melirik ke arahnya.
Ada yang pura-pura lewat. Ada yang sengaja menawarkan makanan. Bahkan ada yang langsung menghampiri.
“Tuan Cristian, mau tambah sup?”
“Ini ayam gorengnya masih hangat.”
“Atau mau teh manis?”
Cristian yang awalnya hanya ingin makan dengan tenang mulai merasa sedikit kewalahan. Ia tidak terbiasa berbaur dengan para pelayan seperti ini.
Namun setelah beberapa saat, ia mulai berpikir lebih tenang. Informasi sering datang dari orang yang merasa nyaman berbicara. Dan pelayan biasanya mengetahui banyak hal tentang rumah ini. Karena itu ia memilih bersikap ramah.
“Terima kasih.”
“Supnya boleh.”
“Tehnya juga.”
Jawaban-jawaban sederhana itu membuat suasana semakin cair. Beberapa pelayan mulai mengobrol santai dengannya. Menanyakan asalnya. Sudah berapa lama bekerja. Dan bagaimana rasanya menjadi sopir pribadi Evelyn.
Cristian menjawab seperlunya tanpa membuka terlalu banyak tentang dirinya. Ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Dari kebiasaan itu, ia perlahan mulai mengenali karakter orang-orang di rumah tersebut. Siapa yang cerewet, Siapa yang suka bergosip, siapa yang pendiam dan siapa yang tampaknya mengetahui banyak hal.
Ketika beberapa pelayan meminta nomor teleponnya, Cristian sempat ragu sejenak. Namun akhirnya ia memberikannya.
Tidak ada salahnya memiliki banyak kontak di lingkungan baru.
“Kalau butuh bantuan soal rumah ini, tanya saja,” kata salah satu pelayan sambil tersenyum.
Cristian membalas dengan anggukan sopan.
Di luar, ia tampak santai menikmati makan malam dan percakapan ringan. Namun di dalam pikirannya, ia tetap mengamati, mencatat, dan memahami lingkungan musuhnya sedikit demi sedikit.
Sementara jauh di lantai atas, Evelyn duduk di tepi ranjang sambil menatap buku yang tadi dibawakan Cristian. Ia sama sekali belum tahu bahwa pria yang baru saja mengucapkan selamat malam padanya sedang mulai mengenal setiap sudut kehidupan di rumah Alberto.
****
Setelah menghabiskan makan malamnya, Cristian berdiri dari kursi. “Kalau begitu saya permisi dulu.”
Beberapa pelayan yang masih berada di dapur langsung menoleh.
“Selamat malam, Tuan Cristian.”
“Hati-hati.”
“Besok jangan lupa ngumpul bareng lagi.”
Cristian hanya tersenyum tipis menanggapi berbagai ucapan itu. “Selamat malam.”
Ia kemudian meninggalkan dapur dan berjalan menuju area belakang kompleks mansion.
Berbeda dengan bangunan utama yang megah dan penuh kemewahan, tempat tinggal para pekerja berada di bangunan terpisah. Bentuknya sederhana namun cukup nyaman untuk para staf yang tinggal di sana.
Langkah Cristian terdengar pelan di bawah cahaya lampu taman. Tak lama kemudian ia sampai di depan kamarnya. Kamar itu ditempati lima orang sopir sekaligus.
Cristian membuka pintu.
Klik.
Ruangan di dalam masih gelap dan sepi. Ia menyalakan lampu lalu mengamati sekeliling.
Empat ranjang lain masih kosong. Rupanya para sopir lain belum pulang dari tugas mereka masing-masing.
Senyum tipis muncul di wajah Cristian.
Bagus.
Ia memang membutuhkan privasi malam ini.
Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, Cristian menutup pintu rapat lalu menguncinya.
Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Cristian duduk di tepi ranjangnya. Ekspresinya yang sepanjang hari terlihat santai perlahan berubah serius. Tak ada lagi senyum ramah yang biasa ia tunjukkan pada para pelayan. Tak ada lagi sikap tenang saat menemani Evelyn. Kini yang tersisa hanyalah pria yang datang ke rumah Alberto dengan tujuan tertentu.
Cristian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Ia membuka daftar kontak lalu memilih satu nama “pendeta”. itu adalah nama kontak Brian yang Ia samarkan.
Orang yang paling dipercayainya. Orang yang selama ini membantu segala pekerjaannya dan mengumpulkan berbagai informasi.
Telepon segera tersambung.
"Halo." Suara berat seorang pria terdengar dari seberang.
Cristian menurunkan suaranya.
“Aku sudah diterima bekerja di rumah Alberto.”
Terdengar keheningan beberapa detik.
“Selamat tuan, bagaimana situasinya?” tanya Brian.
Cristian menyandarkan punggung ke dinding. “Lebih mudah dari yang ku perkirakan.”
Matanya menatap jendela kamar yang gelap. “Aku sudah mulai mengenali tata letak rumah, para pekerja, dan sistem pengawasannya.”
“Bagus tuan.”
“Tapi ada satu hal yang tidak ada dalam informasi yang kamu kumpulkan.”
“Benarkah? Apa itu?”
Cristian terdiam sesaat. Wajah seorang gadis dengan gaun navy tiba-tiba muncul di benaknya. Evelyn.
“Alberto punya seorang putri bernama Evelyn.”
Nada suara Brian terdengar heran. “evelyn? sepertinya saya baru mendengar namanya”
“Begitu juga aku.”
Cristian menatap lantai. “Keberadaannya memang tidak pernah muncul di publik.”
“Apakah dia penting untuk anda?”
Pertanyaan itu membuat Cristian terdiam lebih lama. Entah kenapa ia tidak langsung bisa menjawab. Akhirnya ia berkata singkat,
“Aku belum tahu.”
Namun jauh di dalam pikirannya, Cristian mulai menyadari satu hal yang membuatnya tidak nyaman. Sejak memasuki rumah Alberto...
Hal yang paling sering memenuhi pikirannya saat ini bukanlah rencana yang telah ia siapkan selama bertahun-tahun. Melainkan Evelyn.