Nadia sik cantik dan manja sama sekali tidak pernah terfikir untuknya menikah muda, sayangnya, sebuah insiden yang tidak diinginkan membuatnya harus mengambil keputusan dan harus menikah.
Bukan hanya sekedar menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya, tapi bonusnya, Nadia menikah dengan dosen yang mendapat predikat sebagai dosen hot sekaligus kiler bernama Bratayudha Wirasena.
Akankah pernikahan yang tidak dilandasi oleh cinta itu akan bertahan dan akan menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya.
Yang penasaran, baca saja kisah mereka ya, dijamin seru dan menghibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH SAKIT
"Pak Yudha kapan baliknya ya, sepi banget kampus tanpa dia." ucap Risa tiba-tiba.
Nadia reflek menggenggam sendoknya dengan kenceng saat mendengar nama suaminya disebut-sebut oleh Risa.
Dewi menoleh ke arah Nadia, sahabatnya itukan saat ini tengah sensitif mendengar nama Yudha, apalagi keluarnya dari bibir Risa, salah wanita yang disebelin oleh Nadia.
"Otak lo ya Ris, isinya pak Yudha mulu, kalau pak Yudha punya pacar gimana, patah hati lo entar." balas Nataysa temannya Risa.
"Ya setahu gue sieh, pak Yudha gak ada kekasih, tapi itu tuhh, dosen ganjen itu, terus-terusan aja mepet pak Yudha, sebel banget gue."
"Ibu Nia maksud lo."
"Siapa lagi."
"Gue udahan Wik." Nadia jadi tidak nafsu makan, "Gue duluan ya." Nadia berdiri dan berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Dewi.
"Nadia kenapa." Natasya bertanya.
"Lagi datang bulan kayaknya." jawab Dewi bohong.
"Hmmmm." angguk kedua gadis itu mengerti.
*******
Sialnya bagi Nadia, saat menuju kelas, dia berpapasan dengan Indra dan teman-temannya, melihat wajah Indra semakin membuat Nadia badmood.
"Duhhh, kenapa gue harus bertemu dia sieh." keluh Nadia.
Tanpa fikir panjang, Nadia berbalik, terserah dia mau kemana saja dulu, yang penting dia menjauh dari laki-laki bernama Indra itu.
"Naddddd...." panggil Indra.
"Ngapain sieh dia manggil-manggil, semoga saja dia gak ngejar gue."
Harapan Nadia tidak terkabul, Indra mengejarnya, Nadia yang tengah hamil muda dan rentan tidak bisa berlari untuk menghindari mantannya itu, alhasil, Nadia harus pasrah dan berhadapan dengan Indra.
"Nad." Indra meraih pergelangan tangan Nadia dari belakang yang langsung ditepis oleh Nadia dengan kasar.
"Berapa kali gue bilang Indra, jangan pegang-pegang gue." Nadia menekan suaranya supaya mereka tidak menjadi pusat perhatian.
"Sorry."
"Gimana kabar kamu Nad."
"Seperti yang lo lihatlah."
"Kamu terlihat sehat dan...." Indra menggantung kalimatnya, "Agak cabbi."
Mata Nadia membulat, "Maksud lo gue gendut."
"Gak Nad, sensi amet sieh ibu-ibu hamil, galak lagi." goda Indra, sekarang Nadia jadi galak, berbeda dengan Nadia yang dikenalnya dulu.
Nadia mendengus.
"Lo mau ke kantinkan, ya udah sana pergi ke tujuan awal lo, jangan gangguin gue."
"Kamu udah makan, mau makan bareng, aku yang traktir."
"Lo fikir gue miskin."
"Astaga, kamu bener-bener sensi ya Nad, padahal gak lagi pms lho."
"Lo mending enyah deh Dra, gue itu saat ini bawaannya pengen makan orang."
"Kamu kenapa Nad, suami kamu selingkuh."
"Bukan urusan lo." Nadia pergi, namun Indra kembali meraih pergelangan tangan Nadia.
"Lepas."
"Kamu selalu bisa menjadikan aku sandaran Nad."
"Gak sudi."
"Oke, mungkin sekarang kamu tidak membutuhkanku dan membenciku, tapi aku selalu ada, kamu selalu bisa mencariku." dengan berat hati Indra melepas tangan Nadia.
Aku gak akan pernah melakukan itu.
Nadia melangkah pergi, tapi tiba-tiba perutnya terasa sakit, "Aduh duhhh, perutku." wajah Nadia meringis menahan sakit, dia terduduk dilantai karna tidak tahan.
Indra panik dan mendekati Nadia, "Kenapa Nad."
"Perutku, hu hu.." Nadia menangis.
"Kamu tenang ya Nad, aku akan membawamu ke rumah sakit." Indra meraih tubuh Nadia dan menggendongnya.
Mereka menjadi pusat perhatian oleh anak-anak yang berlalu lalang.
"Nadia kenapa Dra." tanya Bimo berusaha menyejajarkan langkahnya dengan sahabatnya itu, dari kejauhan Bimo memperhatikan mereka.
"Gak tahu gue, tiba-tiba saja dia seperti ini."
"Lo gak ngapa-ngapain Nadiakan."
"Lo fikir gue penjahat apa." sarkas Indra, dia yang tengah panik seperti ini malah dituduh yang enggak-enggak oleh sahabatnya sendiri.
"Soryy soryyy."
"Sakitttttt." Nadia terus merintih.
"Iya sabar ya Nad."
"Pinjem mobil Bim."
"Oke gue yang anterin ke rumah sakit." putus Bimo.
Indra mendudukkan Nadia dibelakang, disusul oleh dirinya yang juga masuk.
Sedangkan Bimo duduk dikursi kemudi.
"Cepat Bim." perintah Indra tidak tega melihat Nadia yang kesakitan.
"Iya."
"Sabar ya Nad."
Bimo mulai menyalakan mesin mobil dan keluar dari area parkiran rumah sakit.
********
Dewi langsung melesat pergi ke rumah sakit saat ada yang memberitahunya kalau Nadia dilarikan ke rumah sakit dan dibawa oleh Indra.
Dewi juga sempat menghubungi Indra untuk menanyakan rumah sakit mana Nadia dibawa.
Dewi ngos-ngosan, dia berlari sepanjang rumah sakit, dia berusaha mengatur nafasnya saat berada didekat Indra dan Bimo yang menunggu Nadia diluar ruangan sementara Nadia tengah ditangani oleh dokter.
"Gimana keadaan Nadia Dra." tanya Dewi begitu dia sudah bisa mengontrol nafasnya.
"Belum tahu, dokter masih memeriksanya."
"Ini pasti gara-gara lokan, lo apain Nadia hahhh." suudzon Dewi.
"Ini kenapa pada nuduh gue ngapa-ngapain Nadia sieh, emang gue sejahat itu apa."
"Emang lo sejahat itu, lo bisa menjebak Nadia dan berniat merusak masa depannya, kenapa sekarang lo gak bisa membuatnya sampai masuk rumah sakit seperti ini." Dewi menyesal karna membiarkan Nadia pergi sendiri dan bertemu dengan Indra.
"Waktu itu gue khilaf, gue frustasi karna Nadia lebih memilih pilihan orang tuanya, gue sayang Nadia, mana mungkin gue melakukan hal yang membuatnya seperti ini." balas Yudha dengan nada meninggi.
Dewi terdiam, sementara Bimo berusaha menenangkan sahabatnya.
"Tenangin diri lo bro." Bimo menepuk pundak Indra.
"Wik, mending lo hubungin orang tuanya Nadia deh sekarang, kasih tahu Nadia ada dirumah sakit."
Dewi mengangguk, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang tua Nadia.
********
10 menit kemudian, dokter keluar, dan setelah berhasil menangani kondisi Nadia dan memberikan informasi kalau kondisi Nadia baik-baik saja setelah perut wanita itu keram karna emosi yang dipendam, dan dokter itu membiarkan ketiga orang itu masuk untuk melihat keadaan Nadia.
"Nadia astagaaaaaa." Dewi melangkah cepat mendekati Nadia yang terbaring lemah dibankar, wajah sahabatnya terlihat pucat.
"Wikkkk." panggil Nadia lemah.
Dewi memegang tangan Nadia, "Gimana keadaan lo Nad, sumpah gue khawatir banget saat mengetahui lo dilarikan ke rumah sakit."
"Gue udah agak mendingin sieh Wik."
"Syukurlah."
"Nad." panggil Indra.
Nadia menoleh, "Lo ngapain masih ada disini."
Bimo yang membalas, "Lo seharusnya berterimakasih Nad sama Indra, bukannya malah ketus begitu, kalau gak ada Indra, entah bagaimana nasib lo."
Nadia diam, kalau difikir emang benar apa yang dikatakan oleh Bimo, biar bagaimanapun, Indralah yang telah membawanya ke rumah sakit sehingga dia bisa ditangani dengan cepat.
"Jangan meninggikan suara lo sama Nadia Bim." timpal Indra tidak terima.
"Setelah lo diperlakukan seperti itu, lo masih membela dia Dra." Bimo menunjuk Nadia dengan senyum sarkas, "Buka mata lo bro, dia udah nikah, dan dia udah membuang elo, apa lagi yang lo harapkan dari dia, move on Dra, masih banyak wanita yang lebih dari Nadia yang mau sama lo."
"Tutup mulut lo Bim."
"Oke oke, gue tutup mulut, gue melakukan itu karna gak ingin persahabatan kita hancur, oke, gue pergi sekarang." Bimo memilih pergi dan tidak ingin terpancing emosi, dia tidak ingin persahabatannya hancur dengan Indra gara-gara mencoba membela Indra.
*********