Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
***
Malam Pengadilan di Balik Pintu Terkunci
Keheningan di Istana Timur bukan lagi keheningan yang menenangkan, melainkan kesunyian makam yang dingin. Harum lavender dan lili hutan yang susah payah dibangun Lilianne telah menguap, digantikan oleh bau anyir besi dan aroma keringat kuda yang dibawa Arthur setiap kali ia pulang dari barak militer.
Lilianne terduduk lesu di sudut ranjang. Matanya yang dulu berkilat cerdas kini redup, dikelilingi lingkaran hitam akibat kurang tidur. Di depannya, nampan berisi sup daging dan roti gandum masih utuh, sudah mendingin sejak dua jam yang lalu. Ia melakukan pemberontakan terakhir yang ia bisa: keheningan dan penolakan.
Pintu ganda kamar itu terbanting terbuka dengan suara yang menggelegar, menghantam dinding marmer. Arthur masuk, wajahnya merah padam, rambut hitamnya berantakan, dan aura kegelapan menyelimuti setiap langkahnya.
"Kenapa makanan itu belum disentuh?" suara Arthur rendah, namun mengandung ancaman yang bisa meruntuhkan keberanian prajurit paling tangguh sekalipun.
Lilianne tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh ke arah suaminya. Ia menatap lurus ke arah tirai yang tertutup rapat, seolah-olah ada sesuatu yang lebih menarik di balik kain beludru itu daripada pria yang memenjarakannya.
Arthur melangkah mendekat, bayangannya yang besar menelan sosok mungil Lilianne. Ia mencengkeram rahang Lilianne dengan kasar, memaksa gadis itu mendongak untuk menatap matanya yang biru gelap dan liar.
"Tatap aku saat aku bicara padamu, Lili!" bentak Arthur. "Kau pikir dengan melaparkan dirimu sendiri, kau bisa memaksaku melepaskan pelayan rendahan itu? Atau kau pikir kau bisa membunuh ahli waris di dalam rahimmu ini sebagai bentuk protes?"
Lilianne tetap diam. Bibirnya terkatup rapat, pucat dan kering. Ia hanya menatap Arthur dengan pandangan kosong pandangan seorang mayat hidup.
Arthur tertawa, suara tawa yang kering dan pecah, penuh dengan rasa frustrasi yang mendalam. "Bagus. Jika kau menolak bicara, maka biarkan tubuhmu yang bicara padaku. Kau pikir kau bisa mengabaikanku di rumahku sendiri?"
Arthur berdiri di sana, dengan napas yang memburu dan aroma alkohol yang menguar kuat dari tubuhnya.
Tanpa satu kata pun, Arthur melangkah lebar, mendekat ke arah ranjang dengan tatapan liar yang mengunci sosok mungil Lilianne.
Sebelum Lilianne sempat beringsut mundur, tangan kekar Arthur sudah merenggut tubuhnya ke tengah ranjang.
SRET!
Gaun tidur sutra berwarna putih gading itu terkoyak dalam satu sentakan kasar, menyingkap kulit pucat Lilianne yang gemetar. Lilianne tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan tubuhnya lunglai seperti boneka porselen yang pasrah akan dihancurkan oleh pemiliknya.
"Jangan gunakan diammu untuk melawanku, Lilianne! Bicaralah! Berteriaklah!" geram Arthur. Suaranya rendah dan serak, penuh dengan racun kecemburuan dan ketakutan akan rahasianya yang telah terbongkar.
Ia menindih tubuh Lilianne, mengunci kedua pergelangan tangan istrinya di atas kepala dengan satu tangan yang mencengkeram erat. Berat tubuh Arthur terasa begitu menekan, terutama pada perut Lilianne yang kini menonjol jelas di usia kandungan lima bulan. Arthur seolah buta ia tidak peduli pada janin di dalamnya, ia hanya peduli pada ego yang sedang terluka.
"Yang Mulia... kumohon... anak ini..." bisik Lilianne dengan suara pecah.
"Diam! Anak ini adalah darahku! Dia akan bertahan, sama seperti aku bertahan di neraka menara itu!" Arthur menunduk, mencium leher Lilianne dengan gigitan yang meninggalkan bekas merah keunguan.
Saat penyatuan itu dimulai secara paksa dan kasar, sebuah jeritan tertahan lolos dari bibir Lilianne.
"Akhh! Nngh... s-sakit..." rintih Lilianne. Matanya terpejam rapat, bulu matanya basah oleh air mata yang terus mengalir membasahi bantal sutra.
Arthur tidak berhenti. Ia justru semakin memacu gerakannya, menghujamkan seluruh rasa frustrasinya ke dalam tubuh mungil istrinya. Setiap sentakan membuat Lilianne merasa seolah rahimnya terhimpit, menimbulkan rasa nyeri yang menusuk hingga ke tulang belakang. Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, ada sensasi panas yang mulai menjalar sebuah pengkhianatan dari tubuhnya sendiri yang mulai bereaksi terhadap dominasi brutal suaminya.
"Buka matamu, Lili! Lihat siapa yang berada di atasmu! Katakan siapa aku!" desis Arthur di telinga Lilianne. "Rintihlah! Aku ingin mendengar suaramu memenuhi ruangan ini!"
"Ugh... ahh... Yang... Mulia..." Lilianne mengerang pelan. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah, mencoba menahan rintihan yang mulai berubah nada. Rasa sakit itu masih ada, namun panas yang menjalar di antara pahanya membuatnya kewalahan. Ia membenci dirinya sendiri karena merasakan percikan kenikmatan di tengah penghinaan ini.
Arthur mendengar perubahan nada suara Lilianne. Ia menyeringai gelap, merasa menang. "Ahhh... kau merasakannya, bukan? Kau tidak bisa berbohong padaku, Lady-ku."
Arthur mengerang nikmat, suaranya parau dan berat saat ia mempercepat ritmenya. "Nngh... kau begitu sempit... begitu hangat... kau diciptakan hanya untukku, bayanganku tidak akan pernah membiarkan cahayanya redup!"
"Ahh... ugh... hiks... s-sakit... h-hentikan... ahhh!" Lilianne akhirnya tidak mampu lagi menahan suaranya. Rintihan kenikmatan yang tidak diinginkan bercampur aduk dengan isak tangis kesakitan. Tubuhnya melengkung, jari-jari kakinya meringkuk kaku di atas seprai yang kini berantakan.
"Katakan namaku, Lili! Katakan!" tuntut Arthur dengan napas yang terputus-putus.
"A-Arthur... ahnn... Arthur!" jerit Lilianne saat ia merasakan puncak yang menyakitkan sekaligus memabukkan menghantamnya.
Arthur mengerang panjang, sebuah suara kepuasan yang liar dan purba saat ia melepaskan segalanya di dalam diri Lilianne. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, menghirup aroma tubuh Lilianne yang bercampur dengan keringat dan air mata.
"Kau adalah milikku..." gumam Arthur dengan napas yang masih memburu. "Bahkan jika kau membenciku sampai ke liang lahat, kau akan tetap berada di bawahku. Kau adalah tawanan, istri, dan nyawa bagi bayangan ini."
Lilianne hanya bisa terbaring diam, tubuhnya bergetar hebat dan napasnya tersengal. Rasa nyeri di perutnya masih berdenyut, namun kehampaan di hatinya jauh lebih menyakitkan. Ia menatap langit-langit ranjang dengan pandangan kosong, menyadari bahwa di istana timur yang dingin ini, suaminya bukan lagi seorang pria melainkan monster yang telah menelan seluruh hidupnya.
Arthur bangkit, menatap tubuh Lilianne yang tak berdaya dengan tatapan posesif yang gila, sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Lilianne dalam kehancuran yang tak berujung.
**
Keesokan paginya, suasana kamar masih mencekam. Arthur berdiri di balkon, mengenakan kemeja putih yang tidak dikancingkan sepenuhnya, memperlihatkan otot-otot dadanya yang keras. Di tangannya terdapat segelas anggur merah, sementara matanya mengawasi Lilianne yang dipaksa duduk di kursi malas di balkon.
Balkon itu kini bukan lagi tempat yang indah. Arthur telah memerintahkan pemasangan jeruji besi yang tinggi dan rapat, menutupi seluruh akses pandangan keluar kecuali ke arah taman kecil yang terisolasi.
"Berjemurlah," perintah Arthur tanpa menoleh. "Anak itu butuh cahaya matahari, meskipun ibunya lebih suka membusuk di kegelapan."
Lilianne duduk kaku. Kulitnya yang putih pucat tampak hampir transparan di bawah sinar matahari pagi. Ia menatap jeruji besi itu dengan tangan yang gemetar mengelus perutnya yang besar. Rasa nyeri dari aktivitas semalam masih terasa di paha dan pinggangnya, membuat setiap gerakannya menjadi siksaan.
Arthur berjalan mendekat, bayangannya jatuh menutupi Lilianne. Ia meletakkan gelasnya di meja batu, lalu berlutut di depan Lilianne, mengelus perut istrinya dengan posesif yang mengerikan.
"Kenapa kau tidak bicara padaku, Lili?" suara Arthur kini melunak, seolah-olah kekejaman semalam tidak pernah terjadi. Transisi emosinya yang cepat ini adalah bagian dari kegilaannya. "Apakah kau merindukan Lisa? Jika kau makan siang ini dan tersenyum padaku, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak mematahkan jemarinya di penjara bawah tanah."
Lilianne tersentak. Kepalanya menoleh pelan, menatap mata Arthur yang berkilat penuh ancaman di balik ketenangannya.
"K—kejam..." bisik Lilianne untuk pertama kalinya setelah berhari-hari bungkam. Suaranya serak dan pecah.
Arthur menyeringai, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Kejam? Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku, sayangku. Kau yang memaksaku menjadi monster ini dengan mencoba mencari tahu rahasia yang tidak seharusnya kau sentuh."
Arthur berdiri dan mencium kening Lilianne dengan lembut, sebuah kecupan yang terasa seperti sengatan ular bagi Lilianne.
"Aku akan kembali saat matahari terbenam," kata Arthur sambil merapikan helai rambut perak Lilianne yang menutupi wajahnya.
"Pastikan nampan makan siangmu kosong saat aku kembali, atau penjara bawah tanah akan menjadi tempat yang jauh lebih berdarah bagi orang-orang yang kau sayangi."
Arthur melangkah pergi, meninggalkan suara denting kunci yang diputar dari luar. Lilianne kembali sendirian di balik jeruji besi. Ia menatap tangannya yang memar, lalu beralih ke perutnya yang besar.
"Maafkan Ibu, Nak..." bisiknya sangat pelan hingga hampir tak terdengar oleh angin. "Kau akan lahir di tengah neraka ini. Tapi Ibu berjanji... bayangan tidak akan pernah benar-benar bisa menelan seluruh cahaya."
Di dalam kesunyian yang dingin itu, Lilianne mulai menyadari sesuatu. Jika Arthur menggunakan keintiman fisik untuk mematahkan semangatnya, maka ia akan menggunakan janin di dalam rahimnya sebagai senjata terakhir. Ia harus bertahan, bukan untuk cintanya pada Arthur yang sudah mati, tetapi untuk menghancurkan sangkar ini dari dalam saat saatnya tiba.
Pertarungan diam-diam ini baru saja memasuki babak yang paling berdarah. Lilianne bukan lagi putri yang polos ia adalah mawar yang layu, namun durinya masih tumbuh subur di dalam kegelapan.
***
Bersambung...
entah kenapa
komen ini hilang