"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 (Rasa Trauma)
Satu minggu berlalu semua terjadi begitu saja. Fania masih dalam suasana berkabung, dia sering kali melamun dan tidak bersemangat. Bahkan kehadiran Devan tidak bisa mengubah apa pun. Fania hanya bersikap seadanya dan selebihnya itu diam.
"Mbak Fania, ini kayunya ditaruh di mana? Kata Bu De Lilis disuruh bawa masuk ke dalam, soalnya sudah kering." Devan bertanya paa Fania yang sedang memasak.
Fania menjawab lembut, "Taruh dekat ember situ, Mas. Maaf sudah ngerepotin."
"Tidak apa-apa, lagipula saya tidak ngapa-ngapain," balas Devan sembari meletakkan kayu. Setelah itu dia mendekati Fania yang berdiri di depan kompor. "Mbak, ada informasi terbaru dari pengadilan. Sidang pertama akan diselenggarakan minggu depan. Mbak sudah siap hadir apa belum?"
Fania berhenti mengaduk sayur, dia diam sejenak. "Tentu saya sudah siap. Saya sudah mempersiapkan diri dengan sidang pertama."
"Baik, jika begitu Mbak harus ikut saya dalam dua hari lagi. Apa Mbak bersedia?" tanya Devan sekali lagi.
Fania mengangguk sembari tersenyum tipis. "Iya, saya ikut dua hari lagi."
Devan merasa lega di saat Fania sudah merespon pertanyaanya. Dia berharap lukanya segera sembuh dan bisa menjalani hidupnya lagi dengan lancar. Fania melanjutkan lagi masaknya yang belum selesai. Dia ingin mengajak tetangga samping rumah untuk makan bersama.
Semua masakan sudah tersedia di teras rumah. Air cuci tangan juga ada di beberapa wadah. Fania terlihat senang saat semua orang berkumpul bersama. Dia bisa tersenyum saat ada banyolan lucu dari tetangga sekitar.
Ditambah lagi Devan yang mudah berbaur dengan semua orang membuat suasana semakin ramai. Gelak tawa dan rasa nyaman begitu hangat dirasakan. Terkadang Fania sedikit melirik ke arah priayang selalu melindunginya itu. Jauh dari lubuk hati yang terdalam, Fania tentu tahu apa perasaan Devan yang masih tersembunyi itu.
Bagi Fania, sangat sulit untuk membuka hati lagi setelah penderitaan yang sudah ia rasakan. Untuk menepis pikiran itu, Fania hanya bisa mengabaikannya. Dia takan tetap menjaga jarak agar Devan tidak terlalu beharap.
"Bu De, kok Bu lilis dan anaknya tidak ikut ke sini? Padahal makanannya masih banyak loh. Sayang nanti jika masih banyak," ucap Fania pada tetangga samping rumahnya.
Wanita paruh baya itu pun menanggapi ucapan Fania. "Iya, tadinya Bu De mau tanya. Cuma tidak enak saja, soalnya sudah banyak orang. Takut merepotkan Nak Fania. Kami semua tahu jika Nak Fania masih dalam suasana duka."
Fania menggeleng, dia segera menjelaskan maksudnya. "Bu De kok gitu. Aku hanya ingin berbagi saja pada semua. Soalnya kemarin Bu De dan yang lainnya banyak membantu. Aku ingin berterima kasih saja, sambil bersilaturahmi. Jadi, Bu De tidak perlu sungkan."
"Baiklah, Bu De akan panggil Bu Lilis dan anaknya." Wanita itu segera pergi ke rumah tetangga lainnya atas permintaan Fania.
Fania masih menyiapkan piring yang diisi dengan nasi dan lauk pauk. Sementara itu, Devan terus memandanginya dari samping. Dia semakin terpesona dengan sikap Fania yang sangat peduli dengan orang lain.
"Mas Devan mau ambil sendiri apa saya yang ambilin?" tanya Fania membuyarkan lamunan Devan.
Devan merasa terkejut, dia langsung menjawab, " Tolong ambilin sekalian. Saya juga tamu di sini."
Fania menunduk malu, dia mengambilkan nasi dan lauk untuk Devan. Setelah itu, dia memberikannya dan segera melayani yang lain. Tidak lama setelah itu datanglah Bu Lilis dan kedua anaknya. Fania menyambutnya dengan sangat ramah.
"Bu Lilis, ayo masuk, langsung gabung sini saja," ucap Fania dengan suara lembut. Dia mengambilkan nasi untuk kedua anak kecil itu.
Suasana makan bersama pun terasa sangat damai dan tentram. Fania lebih banyak tersenyum bersama mereka. Sikapnya itu seolah bisa menyembunyikan kepedihan yang dia rasakan. Fania mengambil plastik dan kertas minyak dari dalam rumah. Dia ingin membungkuskan nasi untuk nenek renta yang ada di desanya.
"Bu De, aku mau anterin nasi iNI sama Nenek Sari. Kasihan pasti dia senang bisa makan enak," kata Fania sambil mengambil nasi dan beberapa lauk.
"Kamu berani berangkat sendiri? Biar Nak Devan yang anterin kamu," kata Bu De Lastri.
Fania menolak dengan lembut, "Aku bisa sendiri Bu De. Mas Devan sedang makan jangan ganggu dia. Lagipula jaraknya dekat kok."
Devan tidak berani untuk menyahut, dia menghargai setiap keputusan yang dibuat oleh Fania. "Hati-hati, jika ada bahaya langsung hubungi saya."
Fania menganguk, kemudian beranjak pergi menuju ke rumah Nenek sari yang kondisinya sudah angat tua. Dia berjalan dengan tenang melewati area yang sepi. "Tumben tidak ada orang lewat. Biasanya juga ramai," gumam Fania dalam hati.
Dia terus berjalan hingga sampai persimpangan, saat tiba di sana ada mobi warna hitam sedang melintas. Fania menunggu sampai mobil itu pergi, tapi yang ada justru sebaliknya.
Fania panik saat ada mobil yang berhenti di depannya. Dia cepat menyingkir untuk menghindari hal buruk. Namun, ada suara yan membuatnya berhenti.
"Mau pergi ke mana, Istriku. Sepertinya kamu hidup lebih baik di sini," ucap pria yang keluar dari mobil. Dia adalah Raditya yang datang karena keinginannya sangat kuat.
Tubuh Fania membeku di tempatnya, dia tidak berani menoleh dan melanjutkan langkahnya. Di saat yang bersamaan suara Raditya menghentikan langkahnya lagi. "Berhenti, atau aku akan membawamu pergi dari sini."
Fania tidak bisa bergerak, suara datar Raditya seperti sebuah magnet yang bisa mengikatnya. "Ada apa? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Raditya berjalan mendekat, dia memeluk istrinya dari belakang. "Aku ke sini karena ingin menjemputmu pulang. Ayo kita pulang bersama."
"Kita sudah tidak bisa bersama lagi karena aku sudah mengajukan gugatan ke pengadilan. Minggu depan adalah sidang pertama, jadi kamu harus ...."
"Sidang katamu? Haahaha, Fania, Fania. Jadi kamu sangat percaya bisa lepas dariku? Jangan bermimpi istri kecilku, karena aku akan pastikan jika kamu tidak bisa pergi tanpa persetujuanku," balas Raditya dengan penuh intimidasi.
Fania menjauhi suaminya, dia sedang menahan rasa takut dengan sekuat tenaga. "Apa kamu masih belum puas mengambil semuanya dariku? Ibuku, apa salahnya sehinga kamu tega menabraknya dan sekarang Ibu meninggalkanku untuk selamanya. Padahal hanya dia yang aku punya di dunia ini."
"Kamu bertanya apa salahnya? Tentu sangat banyak, dialah yang menjadi biang keladi untuk masalah ini.Andai saja orang tua itu mematuhi ucapaku, sudah dipastikan dia masih hidup sampai saat ini. Kematiannya adalah cara yang paling tepat, agar tidak ada lagi seorang pengganggu dalam hubungan kita," jelas Raditya hingga membuat Fania terdesak.
"Jahat sekali kamu, Mas. Sangat jahat sampai rasa kemanusianmu hilang. Pergi dari sini, jangan ganggu aku lagi!" teriak Fana dengan sangat keras.
Raditya tersenyum sinis, dia mendekati Fania yang berdiri jauh darinya. "Jadi kamu mengusirku? Aku tidak akan pergi tanpamu. Ayo kita kembali ke kota."
"Tidak mau! Jangan macam-macam di sini!" seru Fania saat tangannya ditarik oleh suaminya.
"Ayo cepat ikut, jangan sampai membuatku marah dan melakukan kekerasan," balas Raditya terus menarik tangan istrinya.
Fania berteriak keras agar ada seseorang yang mendengarnya. "Tolong, tolong saya.Ada orang jahat di sini ...."