NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Kedatangan Sang Pengajar Kekaisaran

Sore itu berlalu dengan sangat cepat, diwarnai oleh aura ketegangan yang tak kunjung mereda. Tak butuh waktu lama bagi para jenderal untuk melaksanakan dekrit kaisar. Seluruh jenderal dan komandan beserta pasukan mereka yang berjumlah ribuan itu segera menggelandang Shentu keluar dari mansionnya yang kini sudah tidak tenang lagi.

Shentu, meskipun terkejut dan menyangkal, tidak memiliki kesempatan untuk melawan, dikepung oleh lautan pedang dan tombak. Mereka bergerak cepat, tanpa basa-basi, menuju Ibu Kota Kekaisaran.

Meninggalkan Prefektur Selatan dan kekacauan yang akan menyusul di Ibu Kota, Pengajar Kekaisaran tetap di belakang, tidak bergabung dengan rombongan yang membawa Shentu. Ia hanya ditemani oleh 300 prajurit elitnya, yang bergerak dengan disiplin dan tanpa suara, seperti bayangan yang mengikuti perintah.

Tujuan mereka tampaknya berbeda, atau mungkin ada misi lain yang harus diselesaikan di Prefektur Selatan yang kini seolah menjadi saksi bisu dari drama besar kekaisaran.

Pergerakan pasukan elit Pengajar Kekaisaran sangat cepat dan efisien, nyaris tanpa suara. Mereka menyisir Prefektur Selatan dengan presisi yang menakutkan. Tak butuh waktu lama sebelum seorang prajurit melapor kepada Pengajar Kekaisaran.

"Pengajar Kekaisaran," lapor prajurit itu, suaranya tegas,

"Kami menemukan bahwa Shentu mendapatkan gulungan lukisan itu dari sebuah toko antik di Toko Bunga Giok. Bernama Galeri Awan Merah."

Pengajar Kekaisaran, tanpa membuang waktu, segera memimpin pasukannya menuju lokasi yang disebutkan. Saat tiba, penjaga galeri toko antik itu dihadapkan padanya. Begitu melihat sosok Pengajar Kekaisaran yang melayang agung di atasnya, serta puluhan prajurit elit yang mengepung tokonya, sang penjaga galeri segera berlutut di tanah, tubuhnya gemetar ketakutan, dan wajahnya memucat pasi.

Pengajar Kekaisaran, dengan gerakan yang nyaris tanpa suara, membuka kipasnya dan menutupkannya pada separuh wajah bawahnya, menyembunyikan senyum tipis atau mungkin kerutan di bibirnya. Hanya picingan mata misteriusnya yang terlihat, menatap tajam ke arah penjaga galeri yang gemetar.

"Kamu menjual gulungan lukisan kepada Hakim Prefektur Selatan Shentu?" suaranya terdengar tenang namun penuh otoritas.

Penjaga galeri itu, yang masih gemetar di lututnya, berusaha mengumpulkan keberanian.

"Ti-tidak, Yang Mulia," jawabnya terbata-bata.

"Tuan Shentu memang datang ke sini beberapa waktu lalu. Dia hanya melihat-lihat, hanya tertarik dengan lukisan bambu yang baru kami pajang. Namun, dia tidak membelinya."

Napasnya tersengal.

"Dia... dia membeli lukisan itu dari seorang anak muda yang bermaksud menjual lukisannya kepada galeri kami. Anak muda itu mengatakan butuh uang untuk membeli keperluan dapur." Penjaga itu menunduk.

"Kami menolak membeli lukisan itu, Tuan. Lukisan sketsa itu sangat jelek, bahkan jauh di bawah standar nilai seni dan budaya kami."

Mendengar sang penjaga galeri menyebut lukisan sketsa itu "buruk" atau bahkan "jelek", sebuah kedutan samar terlihat di wajah Pengajar Kekaisaran. Kedutan itu nyaris tak terlihat, namun bagi siapapun yang jeli, itu adalah ekspresi kekesalan yang mendalam. Bagaimana tidak?

Lukisan yang disebut "jelek" itu baru saja meratakan seluruh istana kekaisaran, mengubah simbol kemegahan menjadi tumpukan puing. Dan yang lebih parah, lukisan itu hampir membunuh Kaisar di singgasananya sendiri!

Pengajar Kekaisaran, yang tahu persis kekuatan mengerikan dari gulungan itu, merasakan ironi yang menusuk. Penjaga galeri ini, dengan segala ketidakpahamannya, telah meremehkan benda yang sanggup mengguncang fondasi kekaisaran.

Kipas di tangannya sedikit mengencang, namun matanya tetap fokus pada penjaga yang gemetar itu. Pertanyaan selanjutnya pasti akan mengarah pada anak muda misterius yang menjual "lukisan jelek" itu.

“Dan tahukah Anda, Tuan?" Penjaga itu mengangkat kepalanya sedikit, matanya berbinar, seolah baru saja menyaksikan perbuatan suci.

"Hakim Shentu, dengan kemurahan hati yang tiada tara, membeli lukisan itu hanya dengan satu perak!"

Dia menghela napas kagum.

"Sebuah tindakan kedermawanan dan kebajikan yang tak tertandingi! Sungguh, itu adalah bukti nyata dari jiwa kepemimpinan yang tulus. Hanya seorang pemimpin sejati Prefektur Selatan, seperti Hakim Shentu, yang akan menunjukkan belas kasih seperti itu kepada rakyatnya, memastikan kemakmuran dan damai senantiasa menaungi tanah ini! Beliau adalah panutan, mercusuar kebaikan yang bersinar paling terang di seluruh kekaisaran, bahkan mungkin di seluruh dunia fana ini!"

Penjaga itu nyaris menangis haru, memuji Hakim Shentu setinggi langit, seolah satu keping perak itu adalah persembahan suci yang mengubah takdir alam semesta.

Pengajar Kekaisaran kembali berkedut, kali ini dengan kedutan yang lebih jelas, hampir seperti sebuah kejengkelan yang tak tertahankan. Kipas di tangannya berhenti bergerak. Bagaimana mungkin penjaga galeri ini, dengan segala kebodohannya, berani berbicara tentang "kebajikan luhur" dan "pemimpin sejati" ketika lukisan yang sama itu berani menodongkan pisaunya ke leher Kaisar sendiri?

Ironi itu begitu tajam, hampir melukai. Di satu sisi ada kehancuran total istana, di sisi lain ada pujian membabi buta atas "kedermawanan" yang justru menjadi penyebab malapetaka. Pengajar Kekaisaran merasa jengkel pada ketidaktahuan sang penjaga galeri, dan pada kebodohan dunia ini yang dengan mudahnya bisa tertipu oleh penampilan luar.

Pengajar Kekaisaran berhasil menahan jengkelnya. Kedutan di wajahnya mereda, dan tatapan matanya kembali tajam, fokus pada informasi yang ia butuhkan.

"Siapa anak muda itu?" tanyanya, suaranya kini kembali tenang, namun dengan nada yang jelas menuntut.

Penjaga galeri itu, merasa sedikit lega karena kemarahan terselubung itu tidak meledak, buru-buru menjawab.

"Anak itu... dia menyebutkan dengan jelas bahwa dia berasal dari Desa Mushan."

"Desa Mushan?"

Pengajar Kekaisaran mengulangi nama itu, seolah mengujinya di lidah. Tangan halusnya menggerakkan kipasnya dengan hentakan tegas, sebuah isyarat yang jarang ia tunjukkan.

Matanya memicing tajam ke arah lebih selatan, menembus batas-batas Prefektur Selatan, seolah-olah ia sudah bisa melihat desa terpencil itu dari tempatnya berdiri. Jelas sekali, tujuan selanjutnya sudah ditentukan.

Tidak ada keraguan atau penundaan. Misi untuk menemukan asal-usul lukisan yang membawa malapetaka itu kini menunjuk pada satu lokasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!